
Makasih ya kaka yang sudah bersedia nunggu kelanjutan Zona Berondong.
Jangan bosen untuk cuap-cuap di kolom komentar, maafkan Senja yang kadang gak bales, soalnya ngejar ngetik aja biar gak telat upnya.
Makasih...
HAPPY READING
Tengah malam berdua di tengah sunyi dan berselimut sepi. Hana dan Andre sedang duduk di ruang tengah, dalam kondisi
sama-sama diam.
“Kamu tadi mau ngomong apa?” tanya Andre membuka suara.
“Aku cuma ingin tahu kesungguhan kamu. Aku takut jika aku terlanjur percaya tapi…”
“Tapi?” ulang Andre.
Hana membalasa tatapan Andre. Mereka kembali bungkam beberapa saat lamanya. Hana melihat lagi mata Andre dalam posisi ini. Ia masih mencoba mencari jawaban dari keraguan yang ia rasakan.
Andre terlihat tenang, matanya menatapku lurus. Semestinya ini adalah tandanya orang sedang serius dan tak dalam kondisi menyembunyikan sesuatu. Apa Andre benar-benar tak lagi mempermainkanku saat ini?
“Hana, sabarku bisa habis juga kalau kamu semenyebalkan ini. Sebenarnya kamu mau ngomong apa sih, lama sekali
mikirnya.”
Hana menghela nafas. Ia tak punya cukup energy untuk menghadapi kemarahan Andre saat ini. Ia memutuskan kontak
yang semula dibuat. Ia menatap ke sembarang arah sebelum akhirnya menunduk ke bawah.
“Ndre, aku takut Ndre.”
Andre menghela nafas dan meraih kedua tangan Hana. “Apa yang kamu takutkan?”
“Apa aku membuatmu takut?” tanya Andre lagi.
Hana mengangkat wajahnya sejenak kemudian menunduk lagi.
“Sebenarnya untuk apa kamu menahanku?” lirih Hana.
“Apa maksud pertanyaanmu?!” Suara Andre terdengar beda. Tak lagi hangat dan terdengar dingin seketika.
Hana mendesah kecewa. Tuh kan, sudah berubah lagi cara bicaranya. Tuhan, aku harus bagaimana?
Andre mengepalan tangannya. Ia ingin marah, tapi saat melihat Hana yang pasrah ia jadi tak tega. Apa aku keterlaluan?
“Hana…” Andre berusaha menurunkan intonasinya.
“Kalau ngomong yang bener. Setahun bekerja sama-sama dan hampir sebulan tinggal bersama seharusnya kamu paham kan aku nggak suka sesuatu yang bertele-tele,” ujar Andre dengan kesabaran yang sedikit dipaksa.
Hana menghela nafas. Iya juga ya. Ya pantas saja Andre gampang marah, akunya saja ngomongnya nggak jelas.
“Aku takut kamu cuma mempermainkanku.”
Setelah menyelesaikan ucapannya, Hana menunduk semakin dalam.
“Masih saja soal itu?” tanya Andre memastikan.
__ADS_1
“Ya emang soal itu belum teratasi sampai saat ini,” lirih Hana.
Andre masih terus berusaha bersabar. Ia sekarang baru sadar, jika ia mahir dalam banyak hal namun tak handal dalam memahami dan mengontrol dirinya sendiri.
“Hana, jika semua ucapanku memangtak berhasil membuatmu percaya, biarlah waktu yang membuktikan semuanya.”
“Maafkan aku. Kamu sudah sangat baik padaku saat ini…” ucapan Hana terdengar menggantung.
“Aku sudah paham. Takdir memang mempermainkan kita,” lanjut Andre sebelum Hana menyelesaikan ucapannya.
“Kamu menyalahkan takdir?” tanya Hana.
“Ya bagaimana lagi. Takdir membuatku menjatuhkan kamu, sedangkan sekarang aku justru tak bisa jauh dari kamu. Apa ini namanya tak dipermainkan?”
Keduanya saling menatap.
“Apa kamu menyesal dengan kehidupanmu yang sekarang?” tanya Andre.
Hana tak langsung menjawab. Iya justru menatap lekat Andre yang baru saja menanyainya.
“Ndre…”
“Apa?”
“Apa aku masih harus sembunyi di belakang kamu?” tanya Hana hati-hati.
Andre mengernyit. “Setelah kejadian kemarin, aku benar-benar takut jika ada orang yang tahu ada kamu bersamaku.”
“Bukankah katamu aman?”
“Siapa yang bilang?”
Andre menatap Hana. Seandainya saja kamu tahu, hal ini bukan pertanda aman tapi pertanda akan munculnya masalah
besar.
“Andre,” panggil Hana saat melihat Andre tiba-tiba melamun.
“Bersabarlah dulu. Aku akan memastikan semuanya aman sebelum aku mengakhiri masa kurunganmu.”
Andre berbicara Andre seolah bercanda, tapi tidak demikian dengan ekspresi wajahnya. Hana sadar itu, namun ia tak paham maksudnya.
“Wajahnya kenapa seperti ini?” tanya Hana sambil menangkup wajah Andre.
Andre melakukan hal yang sama pada Hana. “Karena aku takut tak ada yang aku peluk saat kamu pergi.” Andre tak bisa
mengatakan yang sejujurnya, bahwa ia mencemaskan keselamatan Hana saat di luar sana tanpa ada dirinya.
“LIsten, kalau kamu ingin aku tinggal bersamamu aku tak akan masalah, setidaknya ijinkan aku bekerja, punya kegiatan, bisa melihat dunia luar.”
Andre manatap Hana dengan serius. “Tapi aku tak bisa melewati kuasa Restu Andika. Kamu lupa apa yang sudah aku lakukan padamu dengan kuasanya?”
Baru saja Hana merasa bahagia, semua langsung sirna seketika. “Aku tak bisa kerja di perusahaan mana pun ya?”
Andre mengangguk mengiyakan. “Selain itu, mungkin aku juga tak akan lagi bisa bekerja di Surya Group jika ketahuan
menyembunyikan ancaman perusahaan.”
__ADS_1
Hana ingat betul tujuan awalnya menjebak Andre malam itu. Ingin mencoba menghancurkan Surya lagi melalui sekertaris CEO ini. Ia baru akan mendapat pengakuan penuh dari papanya jika sudah berhasil melakukan misi besar untuk perusahaan, sehingga Hana bertekat akan mewujudkan itu dengan berbagai cara. Tak tahunya ia justru menyerah dengan
semengenaskan ini.
Hana mengulas senyum di wajahnya. “Aku akan bekerja apa pun asal tak hanya diam di rumah.”
“Apa yang akan kamu kerjakan?”
“Belum terpikirkan. Setidaknya dengan begitu aku merasa lebih berguna.”
Andre merangkul Hana dan mendekatkan kepala keduanya.
“Tapi jangan mulai sekarang ya. Biarkan aku memastikan semuanya aman,” ujar Andre kemudian.
Entahlah apa yang dirasakan Hana sekarang. Ia bahagia tapi was-was diwaktu yang sama. Mengingat banyaknya kesalahan yang dirinya lakukan, ia masih sulit percaya jika Andre bisa dengan tulus sebaik ini padanya.
Saat orang yang ia sebut sebagai papa, yang ia yakin akan menjadi satu-satunya tempat untuk berlindung dan minta pertolongan justru mendorongnya pada jurang berbahaya demi memuluskan tujuannya. Dan kini justru ia merasa dilindungi oleh orang yang semula akan deperalatnya. Sesungguhnya takdir seperti apa yang Tuhan gariskan untuknya ini.
Hana dan Andre masih terus bertahan dalam posisinya. Mereka tak ada yang ingin melakukan lebih atau pun melepaskan diri. Hingga tak terasa keduanya mulai memejamkan mata.
***
Seorang pria dengan banyak tato keluar dari mobil hitamnya. Ia berjalan dengan santai dan menghampiriseorang wanita cantik di meja resepsionis.
“Maaf Pak, anda cari sapa?” sapa wanita itu ramah.
“Saya Melvin. Pak Restu yang meminta saya untuk ke sini,” jawabMelvin dengan sedikit merendahkan tubuhnya.
“Sebentar…” resepsionis ini segera menghubungi seseorang. Tak lama kemudian ia kembali menatap Melvin. “Baik, Anda sudah ditunggu pak Restu di ruangannya.”
“Terimakasih.”
Melvin segera melanjutkan langkahnya. Penampilannya yang cukup berbeda dengan kebanyakan orang di kantor ini membuat ia langsung menjadi pusat perhatian. Ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menggoda wanita yang dilaluinya. Sebenarnya Melvin cukup tampan dengan wajah bulenya, hanya saja tato yang tersebar di tubuhnya membuat yang melihatnya ngeri dan underestimate terhadap dirinya.
“Hai…”
Rahma nyaris berteriak saat Melvin tiba-tiba berhenti di depannya.
Rahma memandang Melvin takut-takut. “Kam, kamu…”
“Ehm, ehm…”
Spontan Hana dan Melvin menoleh ke arah suara.
Melvin menegakkan tubuhnya dan mengurungkan niatnya menggoda Rahma. “Baru juga mau mulai, Pak Restu yang
terhormat sudah muncul saja.”
“Apakah kamu naik tangga dan tak menggunakan lift yang ada?”
Melvin tak bereaksi dan justru melipat tangannya di depan dada.
“Setelah hampir setengah jam menunggu, kamu baru tiba di sini sekarang. Ayo masuk.”
Dika segera membuka pintu dan masuk kemudian.
“Bye cantik,” Melvin melambaikan tangannya pada Rahma dan mengikuti Dika masuk ke ruangannya.
__ADS_1
Bersambung…