
...*HAPPY READING*...
Dedi sepertinya juga langsung pulang setelah Dika dan yang lainnya jalan terlebih dahulu menggunakan mobil. Terbukti kini dia sudah tiba bahkan saat para wanita belum menyelesaikan mandinya.
"Wah, dan sampai aja kamu?" tanya Dika saat Dedi tiba dan langsung menghampirinya.
"Iya, mau jelajah kampung doang tadi."
"Terus nemu apa?"
"Nemu kebun strawberry. Kayaknya Rista bakal suka kalau pinkik di sana."
"Ck, Rista mulu ya isinya otak situ."
Dedi terkekeh. "Ya kalau di kantor mikirinnya kerjaan, kalau sama kamu mikirin gimana memuluskan jalan yang mau kamu lalui, kalau ada Rista ya mikirin dia, udah boleh kan Om?"
Rudi yang merasa ditodong pertanyaan sontak memutus perhatian dari ponsel pintar di tangannya.
"Boleh, asalkan tahu batas dan tidak berlebihan," jawab Rudi
"Nah kan," timpal Dika sambil menggerakkan telunjuknya. "Dah sono mandi, bau banget an**r."
"Eh, aku tadi udah mandi ya, baru jam 7 pagi udah mau mandi buat yang kedua, kurang idaman apa coba."
Dedi segera kabur saat melihat Dika hendak menendang bokongnya.
"Ayah jadi ingat Hendro. Kami juga bersahabat seperti kalian, hanya saja dia lebih dominan dari saya," kata Rudi dengan mata menerawang.
"Maksud Ayah?"
"Dia smart dan percaya diri. Jika kalian bisa berdiri dengan tegak di tempat masing-masing dan dengan kemampuan masing-masing, sementara Ayah dulu selalu berlindung di bawah kharismanya."
Dika diam sejenak.
"Apa itu yang membuat Ayah merelakan mama?"
"Entahlah. Yang jelas takdir kami seperti ini."
Rudienjeda ucapannya.
"Apa kamu tahu bagaimana Hendro memanggilku?"
"Papa memanggil Ayah Dika, buka Rudi seperti kebanyakan orang sekarang."
Mata Rudi terbelalak. "Bagaimana kamu bisa tahu?"
"Saya pernah bilang kan, mana mungkin saya bisa menerima Ayah begitu saja jika saya tak tahu apa-apa."
Rudi geleng-geleng menatap anak tirinya. "Sepertinya saya harus ekstra hati-hati saat berhadapan dengan kamu."
"Tapi jujur saya bahagia saat kamu nyaman dipanggil Dika, jadi ingat saya di masa muda."
"Saya juga terkejut saat anda datang dengan nama belakang seperti nama saya dan kemudian pergi membawa mama saya."
Wajah Rudi sontak berubah.
"Maafkan saya."
Dika tersenyum. "Apakah perkataan saya kurang jelas, bahwa saya sekarang adalah anak anda, itupun jika anda mau mengakui saya."
Wajah Rudi mendadak sumringah. "Tentu. Kamu adalah putra kebanggaan saya."
"Apa ada rencana untuk memberitahu Rista rahasia tentang dirinya?"
Rudi menggeleng.
"Saya takut dia merasa hina karena kesalahan orang tuanya. Padahal setiap anak yang lahir ke dunia dalam keadaan suci dan tak perlu menanggung dosa orang tuanya meskipun itu menyangkut dirinya."
"Otak saya belum mampu mencerna Yah..."
"Rista punya rahasia apa emang?"
Wajah Rudi mendadak pasi.
Dika juga sama namun tak seberapa lama ia segera menetralkan ekspresinya.
"Beneran mau tahu?" tanya Dika dengan menatap tajam adik kesayangannya itu.
"Engg...." Rista nampak ragu.
"Nah, pas banget nih, pelakunya juga muncul."
Spontan Rista menoleh, mengikuti arah pandang Dika yang menajam ke belakangnya.
Rista membelalakkan mata dan menutup mulutnya yang menganga. Ia kembali menatap kakaknya dan entah untuk apa, ia menggelengkan kepala.
__ADS_1
Dedi yang merasa ditatap meneruskan langkah dan berhenti di sebelah Rista.
"Pada kenapa kalian?" tanya Dedi kemudian.
Dika tersenyum miring menatap adiknya sambil menaik-turunkan alisnya.
Rista mundur dan kemudian berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
Dedi menatap punggung Rista sebelum menghilang dan kembali melayangkan tatapan bertanya pada Dika. Dia melanjutkan langkahnya dan berhenti di dekat Dika.
"Rista kenapa?"
"Entah lah." Dika merangkul bahu Dedi.
"Lihat mama dan Rina di dapur yuk."
Dedi masih diam di tempat. Membuat Dika mengernyit menatapnya.
"Aku susulin Rista ya."
"Big no, bisa..."
Dika menggantung ucapannya saat ingat jika Rudi masih berada di sana.
"Biar Dedi susulin adik kamu."
Dika menelan ludah bersama kata-kata yang semula ingin diucapkannya.
"Iya. Aku ajakin dia turun segera."
Dedi berjalan menyusuri tangga dan berhenti tepat di depan kamar Rista.
"Ta..."
Dia segera masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Rista hanya menoleh dan kembali menatap pantulan dirinya di depan cermin.
"Kaaakkkk...."
Rista meraih tangan Dedi yang bertengger di pundaknya.
"Kakak udah tahu ya?"
"Tahu apa?"
"Ya kita..."
"Kita apa?"
Dedi merapikan rambut Rista dan menyelipkannya di belakang telinga.
Rista memeluk pinggang Dedi dan menenggelamkan wajahnya di sana.
"Tahu apa maksud kamu?"
Dedi menjauhkan wajah Rista dari perutnya. Ia meraih tangan Rista berjongkok di hadapannya.
"Ngomong yang jelas," pinta Dedi
"Ya kalau kita lagi berdua..."
Dedi menghela nafas dan mengangguk pelan.
"Ya Tuhaaannnn......"
Rista menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Gimana kalau papa mama tahu..." Rista menatap Dedi dengan wajah sendu.
"Aku udah janji buat terus jaga kamu dari apapun bahkan diriku sendiri."
"Sama mama papa?"
Dedi meraih kedua tangan Rista dan menggenggamnya.
"Sama Dika."
"Kakak nggak marah sama kita."
"Marah, dia sangat marah."
"Terus gimana Kak?"
"Ya itu tadi, aku janji buat jaga kamu lebih baik lagi."
__ADS_1
Rista mengernyit.
"Intinya kita tetap boleh jalan, tapi..."
"Tapi apa Kak?" tanya Rista tak sabar.
"Just hug without kiss," kata Dedi dengan menyentuh bibir Rista dengan ibu jarinya.
Dedi segera bangkit.
"Turun yuk."
Rista segera mengikuti Dedi dan berjalan bersama dengan tangan saling mengenggam.
"Kak..."
Tiba-tiba Rista menahan langkahnya saat Dedi hendak menarik gagang pintu. Dedi berbalik dan menatap Rista.
"Kenapa?"
"Pengen peluk aja."
Dedi membalas pelukan pacar kecilnya dengan suka cita.
"Dah yuk turun."
Rista sejenak mengeratkan pelukannya sebelum kemudian ia lepaskan.
"Love you..." ucap Dedi sebelum mencium puncak kepala Rista.
Mereka pun berjalan keluar dan menurun tangga bersama.
"Hmm, yang mau di ajak battle baru keluar," kata Santi begitu melihat putrinya yang baru muncul.
"Ih Mama," kesal Rista karena merasa disindir mamanya.
"Aku ke Dika sama om Rudi dulu ya," pamit Dedi pada Rista.
"Mau kemana, kita di sini," kata Dika yang muncul dari dapur dengan membawa piring berisi makanan.
"Kamu ngapain?"
"Lagi nyangkul," jawab Dika asal.
"Nggak lihat apa ini yang lagi dibawa," lanjut Dika sambil meletakkan bawaannya di meja makan.
"Ya maaf, si Rista ngambek tadi."
"Ngambek? Lu apain dia?"
"Lah, kan gara-gara kata-kata lu tadi an**r."
Spontan Dika menoyor Dedi.
"Sama calon kakak ipar sopan dikit dong."
"Haha," Dedi langsung menutup mulutnya. "Masa kudu dari sekarang manggil kakak iparnya?" lanjut Dedi dengan nada tak biasa.
"Kagak juga sih. Umurnya kan tuaan elu," lanjut Dika disusul tawa keduanya.
"Seru banget sih, nggak ada rencana buat ngajakin gitu?"
"Ngajak ke KUA, hayuk, aw...!!"
Belum saja ucapannya terjeda, Dika langsung mendapat hadiah cubitan dari Rina.
"Kok di cubit sih sayang."
Blush
Wajah Rina langsung memerah.
"Mulut jaga tuh mulut," ketus Rina sambil berusaha menyembunyikan wajahnya.
"Emang nggak mau?"
"Ya nggak sekarang juga bocah..."
Dika menatap tajam Rina.
"Maaaaaa, Rina ngajak nikah Maaaaaa!!"
"Diikkaaaaaa!"
Dika langsung melompat dan berlari menghindari amukan Rina dengan centong ditangannya.
__ADS_1
Ia terus berlari dengan sedikit tertatih karena kaki yang terkilir tadi pagi. Meski demikian, Rina masih kesulitan untuk mengejar Dika hanya untuk mendarat kan centong di kepalanya.
TBC