Zona Berondong

Zona Berondong
Pemuda Luar Biasa


__ADS_3

...*HAPPY READING*...


Jika hari minggu sebelum-sebelumnya digunakan Dika selalu menyempatkan waktu untuk bertemu dan jalan-jalan untuk melepas rindu dengan Rina, namun kali ini berbeda.


Dika dan Dedi sedang menjalani homeschooling marathon. Mereka benar-benar berpacu karena ingin segera memperoleh ijazah.


Beruntung keduanya memiliki otak yang cerdas. Mereka dapat melahap dengan cepat materi yang sempat tertinggal bahkan melangkah ke materi yang belum diajarkan jika mereka masih berada di bangku sekolah reguler.


"Ded, masih sanggup lu?" tanya Dika di jeda belajar keduanya.


"Masih. Kapasitas otak gue masih cukup buat ngehabisin materi kelas XII pun."


"Sombong amat."


"Gue nggak sombong, cuma ngomongin fakta Bos."


Guru mereka kembali dari kamar mandi.


"Saya yakin sebenarnya kalian bisa belajar sendiri tanpa saya."


"Tapi kita nggak akan belajar kalau nggak ada anda," balas Dika.


"Saya juga nggak akan belajar sama anda kalau nggak dibayarin dia," imbuh Dedi.


"Hahahahaha....!"


Tiga laki-laki ini tertawa dengan scene balas kata dari ketiganya.


"Rehat bentar ya. Otak cerdas saya serasa kehilangan harga diri saat berhadapan dengan dua jenius seperti kalian."


"Saya mah udah ngerasa lelah, tapi bisa jatuh harga diri saya kalau sampai kalah dari otak robot kayak dia," timpal Dika terhadap candaan gurunya.


Dika kemudian ngobrol dengan Herman, guru kedua mereka hari ini. Sedangkan Dedi memilih bangkit dan berjalan ke ruang kerja Dika.


"Mas Dedi ke mana ya."


"Mau meriksa kerjaan Pak," jawab Dika sambil meminum cola di tangannya.


"Wah..., hebat ya."


Namun raut wajah Herman nampak berbeda dengan tutur kata yang keluar dari mulutnya. Ada cemas di sana, namun tak ada yang tahu untuk apa kecemasan itu.


"Entahlah. Sebenarnya saya suka cemas memikirkan dia. Namun sejauh ini tidak pernah ada masalah yang dia alami terkait kerja otaknya yang berlebih itu."


"Mas Dika sudah lama kenal mas Dedi?"


"Lumayan Pak. Saya kenal dia sejak masuk SMK. Saya masuk sekolah itu dengan nilai tinggi dan uang milik orang tua saya, sedangkan dia masuk dengan kecerdasannya tanpa uang dan bahkan mengandalkan beasiswa."

__ADS_1


"Bagaimana nilainya di sekolah?"


"Nyaris selalu sempurna jika tak terkendala praktikum yang tak pernah memberi nilai sempurna pada siswanya."


"Jangan lupa, kami sekolah di SMK Pak, bukan SMA yang menitik beratkan teori dan minim praktik."


Herman mengangguk.


"Jadi ini nanti langsung mau ke materi kelas XII?"


"Iya Pak."


Dika masih berbincang dengan Herman sambil sesekali berbalas pesan dengan Rina.


...***...


Rumah Rina masih ramai. Dekorasi yang menjadi saksi pengikatan janji Dika dan Rina untuk bersama suatu saat nanti kini sudah tak tersisa lagi.


Bagaimana kisah Rina dari awal mengenal Dika hingga akhirnya tadi malam pria itu melamarnya sudah dikupas tuntas di depan kedua nenek dan tante-tantenya.


Tentunya hanya garis besarnya saja. Bukan kegiatan nikmat penuh dosa yang mereka perbuat dan latar belakang Dika secara gamblang. Jika hal itu sampai tahu, semua termasuk orang tua Rina dipastikan akan kejang seketika.


"Kamu nggak takut apa, kalau sampai..." Rahma menggantung ucapannya kemudian memukul-mukul kepalanya.


"Amit, amit. Amit, amit..." lanjutnya berulang entah berapa kali.


Rina hanya mengurai senyum.


"Pasti, kita akan selalu berdoa yang terbaik, ya kan Nek Ida?"


Ida ibu Ririn hanya mengangguk setuju.


"Tapi pesen Nenek cuma satu, kalau ada apa-apa lagi jangan dadakan ngasih tahunya."


"Iya Nek...."


"Ngobrolin apa sih, sampai peluk-pelukan gitu."


Ririn datang dan bergabung bersama mereka.


"Baru menyelesaikan sesi introgasi nih Mbak, kita penasaran orang seperti apa yang berani-beraninya ngelamar ponakan kita yang belum lulus SMA," jawab Rahma.


"Ternyata?"


"Ternyata dia pemuda yang luar biasa. Tapi sayangnya itu masih sebatas versi Rina, semoga aslinya nggak bikin kita kecewa," timpal Vanti.


"Doain yang baik-baik ya buat anak Mbak."

__ADS_1


"Pasti Mbak," serempak Vanti dan Rahma.


Lama tak bertemu membuat para wanita ini ingin mengobrol lama-lama. Para pria juga sama, hanya temanya saja yang berbeda.


Hingga adzan asyar berkumandang, mereka segera menjalankan kewajiban sebagai umat islam.


...***...


Malam hari di rumah Dika.


"Ded lu nggak pengen istirahat?"


Dedi membenahi kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.


"Tanggung, bentar lagi kelar."


Dika menatap khawatir sahabatnya. Akhir-akhir ini mereka memang jadi makin dekat. Awalnya ia tak masalah bahkan begitu senang saat Dedi bisa menghandle banyak hal dengan nyaris sempurna. Kecerdasannya memang tak diragukan lagi, ditambah dengan daya ingatnya yang luar biasa.


Namun akhir-akhir ini dia didera cemas. Bagaimanapun Dedi adalah seorang manusia yang kapasitas otaknya punya batasan.


Memory dalam system komputer saja harus diganti dan diistirahatkan jika penuh, tapi bagaimana dengan memory pada otak manusia?


Belum ada teknologi yang bisa memindahkan memory yang penuh pada otak manusia kecuali dengan menghapusnya atau membuatnya lupa.


Tapi sepertinya Dedi berbeda. Ingatannya terlalu tajam dan nyaris tak pernah lupa.


Dika sudah terlelap di atas sofa ruang kerjanya saat Dedi menyelesaikan pekerjaannya.


Ada peran penting Dedi dalam setiap kesuksesan proyek Dika. Ide dan keputusan memang dari Dika namun tanpa Dedi mungkin Dika tak akan mampu mengerjakan banyak hal dalam satu waktu, karena akan rancu dan tertukar satu sama lain. Berkat kemampuan Dedi, semua berjalan tanpa ada yang tercampur dan tertukar antara satu proyek dengan proyek lainnya.


Dedi menatap lekat sahabatnya.


Apa ada diantara kalian yang membayangkan bahwa Dedi akan mengangkat Dika dan memindahkannya ke kamar?


Itu adalah pikiran konyol. Sebenarnya tak mustahil, namun Dedi jelas tak mau mempersulit diri.


Meskipun tinggi badan keduanya hampir sama, namun perawakan Dika lebih berisi. Jadi jelas saja memindahkan tubuhnya ke kamar itu bukanlah hal yang mudah.


Dedi meninggalkan ruang kerja dan menuju salah satu kamar yang kini ditinggalinya. Ia sudah tak lagi menyewa tempat kos untuk tinggal, melainkan ikut Dika tinggal di rumahnya.


Ia menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu. Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Ia ingin melaksanakan sholat isya'nya yang tertunda dan berlanjut sholat malam yang mulai jadi rutinitasnya.


Ia merasa benar-benar beruntung karena sudah berhasil menjadi Islam, dimana keyakinan barunya ini mampu memberinya ketenangan yang telah lama ia dambakan. Dan ini semua tak bisa lepas dari peran penting sahabatnya.


Dika terbangun dari tidurnya dan mendapati Dedi sudah tak ada di meja kerjanya. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju kamarnya.


Ia sempat melirik kamar Dedi, dan didapatinya kamar itu telah gelap tanpa cahaya.

__ADS_1


"Istirahatlah kawan," gumam Dika sebelum menghilang di balik pintu kamarnya. Tanpa ia tahu Dedi di dalam masih larut dalam setiap doa dan sujudnya.


TBC


__ADS_2