
HAPPY READING
“Apa kalian benar-benar belum menemukan Raihana?”
“Belum Tuan. Kami sudah memeriksa perbatasan dan memperketat penjagaan, tapi tak ada satu pun dari kami yang melihat Nona pergi meninggalkan kota ini.”
“Kalau dia tidak keluar kota, seharusnya kalian sudah bisa menemukannya.”
Dua orang berperawakan besar itu menunduk. Namun salah satunya memberanikan diri untuk menegakkan wajahnya.
“Nona tak pernah muncul lagi setelah malam itu. Apa mungkin...”
Pria tua ini menggeleng. Ia menolak pikiran anak buahnya sebelum mampu diucapkan.
“Dia tak mungkin mati segampang itu.”
Dua pria itu menunduk semakin dalam.
“Cari dia segera. Temukan ia secepatnya. Jika memang kalian yakin Hana belum keluar, cari di berbagai sudut kota, jika perlu ke kolong jembatan sekali pun. Yang jelas kalian harus membawanya pada saya.”
Galih menghela nafas. Ia mengacungkan jari telunjuknya. “1 minggu. Hanya satu minggu. Jika lebih dari itu, kalian harus merelakan kepala kalian untuk terpen**al.”
“Baik Tuan.”
Kedua pria itu segera meninggalkan Galih di ruangan besarnya. Tak berselang lama masuk lagi seseorang dengan anak kecil yang berjalan di sampingnya. Anak kecil itu melepas pegangan tangannya dan berlari menghampiri pria tua di sana.
“Opaaaaa….!”
Bocah tampan dengan pipi gembul itu langsung naik ke pangkuan Galih.
“Papa apa kabar?” sapa Rio pada Galih Rahardja, ayah kandungnya.
“Papa sudah mulai tua, tapi masih belum punya calon penerus perusahaan,” sarkas Galik pada anak laki-lakinya.
“Pa…”
Rio menarik kursi dan duduk di sana.
“Rio bisa Pa kalau memang Papa sudah lelah. Nggak perlu Papa cari orang luar untuk mengelola apa yang telah Papa perjuangkan sejak lama.”
__ADS_1
“Opa, Opa…”
Galih urung berbicara saat bocah tampan ini memegangi wajahnya dengan sembarang. Dia adalah anak kedua Rio yang belum genap berusia tiga tahun.
“Rangga kangen sama Opa?” tanya Galih pada cucu tampannya ini.
“Tangen, Angga tangen ama Opa…” ujar anak laki-laki ini dengan gaya cadelnya.
Galih menggendong Rangga dan meninggalkan Rio sendirian di ruangnya.
Sejak kelahiran Rangga hubungan Rio dengan papanya mulai membaik. Bertahun-tahun Indah mendesaknya, akhirnya ia mau untuk mengucap maaf kepada sang papa. Meskipun ia tak merasa sepenuhnya bersalah dalam perselisihan mereka, namun Galih tetaplah orang tuanya. Orang tua yang harus dihormatinya. Orang tua yang telah membesarkannya dengan penuh cinta. Jadi apa pun yang terjadi, menjaga keharmonisan dengan orang tua adalah keutamaan. Rio tak boleh terus menjadi anak durhaka lebih lama lagi.
Bukan maksud Rio yang tega membiarkan saja saat perusahaan papanya bermasalah, namun ia ingin papanya menyerah dan menjalankan bisnis dengan cara yang lebih sehat. Memang perusahaan yang ia jalankan belum cukup besar, namun hasilnya sudah lebih dari cukup untuk hidup. Ia ingin membuat papanya yakin bahwa dengan menjadi baik itu tak akan membuat diri kita rugi.
Namun sayang, tiba-tiba muncul sosok wanita yang mendadak papanya banggakan. Sosok anak perempuan yang sewaktu kecil pernah dikenalkan papanya sebagai adiknya. Ia tak masalah dengan adik perempuan, namun masalahnya dia tak
lahir dari perempua yang sama dengannya. Tanpa banyak berfikir Rio langsung menolak waktu itu. Ia bertekat tak akan pernah menerima anak kecil itu sampai kapan pun. Entah sebagai adik atau sebagai apapun. Ia yakin jika Hana membawa pengaruh buruk untuk papanya, sebagaimana mamanya merayu papanya hingga lahir Hana dari hubungan gelap keduanya.
Saat ini tiba-tiba wanita ini menghilang. Rio tak ingin membuang kesempatan untuk membawa papanya kembali ke jalan yang benar. Ia berusaha keras membuat Galih percaya akan kemampuannya. Sehingga mempercayakan semua padanya. Ia benar-benar tak mau Hana mengambil tempat sedikit pun dalam keluarganya.
Rio berjalan keluar untuk menyusul sang papa. Saat ini Galih ternyata sedang bermain bersama Rangga dan Rida di taman belakang. Ada juga Mustika yang asik bermain dengan cucunya.
Sudah lama sebenarnya Mustika tak suka dengan apa yang Galih kerjakan. Puncak kekecewaannya adalah saat tahu Galih punya simpanan. Ia yang sakit hati mencari dan mengejar rival Galih dalam bisnis untuk membuat suaminya kesal. Dia adalah Hendro Eka Surya, almarhum papa Restu
Sempat Mustika ingin pergi, namun Hatinya tak bisa berpaling dari suami kejamnya. Sehingga ia harus menahan sakit demi bersama dengan pria yang dicintainya.
“Indah ke mana Ma?” tanya Rio pada mamanya.
“Mama suruh istirahat. Indah sepertinya kurang sehat, apa tak sebaiknya kamu bawa dia ke dokter untuk memastikan,” usul Mustika.
Rio mengertnyit. “Kok bisa, sepertinya tadi pagi dia baik-baik saja,” ujar Rio menanggapi.
Prang!!
“Tuan, Nyonya! Non Indah pingsan!"
Rio melesat untuk menemukan istrinya. Galih langsung menggendong Rangga bersama Rida dan Mustika mengejar Rio. Belum juga mereka sampai, Rio sudah muncul dengan Indah di gendongannya.
“Ma, Pa, titip anak-anak, biar Rio bawa Indah ke rumah sakit,” ujar Rio agak panik.
__ADS_1
“Mama kenapa Pa?” Rida mulai menitikkan air mata saat melihat mamanya tak sadarkan diri. Sementara Rangga sudah meraung dan ingin ikut mamanya.
“Rida sama adik di sini dulu ya, biar Papa bawa Mama ke dokter. Baik-baik ya sayang.”
Galih dan Mustika kini berusaha menenangkan kedua cucu mereka, sementara Rio tak ingin membuang waktu dan menunda untuk memeriksakan kondisi istrinya.
***
Dika dan Rina baru tiba di rumah sakit. Mereka telah membuat janji dengan dokter Halima untuk konsultasi dan memulai program hamil untuk Rina. Rina yakin kondisi psikisnya sudah jauh membaik, jadi ia merasa siap untuk memulai treatment.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan lobi. Seorang pria keluar dengan menggendong seorang wanita yang tampak tak sadarkan diri.
“Sayang, itu Rio sama mbak Indah bukan,” Ujar Rina yang tak sengaja melihat keduanya.
Dika menoleh. Kemudian keduanya menghampiri Rio.
Rio harus berhenti saat ia tak bisa ikut masuk bersama sang istri. Ia terlihat linglung dan menyandarkan punggung di tembok. Ia memasukkan sebelah tangannya di kantong celana dan menengadah menatap apa pun di atas sana.
“Rio…”
Rio mendongak menatap Dika yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Setelah ia menatap lebih baik ia baru sadar jika ada Rina juga di sana.
“Kalian ngapain di sini?”
Dika menatap istrinya. “Kita lagi ngunjungi Ayah…”
Rio nampak berfikir. Oh iya, ini kan rumah sakit milik ayah tiri Dika.
“Mbak Indah kenapa?” tanya Rina akhirnya.
Dika mengajak Rio untuk duduk. Setelah duduk, Rio tak langsung bicara. Ia menyatukan kedua tangan dan memainkannya.
“Are you okay?” tanya Dika lagi.
Rio menghela nafas. “Semua baik-baik saja. Kami sedang ada di rumah papa, kami sedang memperbaiki hubungan yang tak baik selama ini, dan tiba-tiba Indah pingsan. Aku bener-bener nggak ngerti," jelas Rio panjang lebar.
Rio menyugar rambutnya dan menyandarkan punggungnya. Rina menyentuh lengan Dika dengan ujung jarinya. Dika menoleh dan sedikit merendahkan tubuhnya.
“Aku perlu cari minum nggak?” bisik Rina.
__ADS_1
Dika mengangguk dan Rina segera bangkit dari sana.
Bersambung…