Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Pria Luar Biasa


__ADS_3

Hai, hai, selamat siang...


HAPPY READING


“Ada kabar apa kamu menghubungiku sepagi ini?” tanya Dika saat menanti Rina bersiap-siap di kamarnya.


“…”


“Apa ada hal yang curigakan?”


“…”


Dika menyandarkan punggungnya dan mendengar dengan seksama apa yang diucapkan oleh seseorang di seberang sana. Penjelasan yang diberikan nampaknya cukup panjang, sehingga Dika nampak membenahi posisinya beberapa kali selama memperhatikan penjelasan orang di seberang sana.


“Terus awasi. Jika ada yang mencurigakan segera kabari saya.”


“…”


Dika menutup ponsel pribadinya dan meletakkannya lagi. Ia kembali memusatkan perhatiannya pada gadget yang satunya lagi untuk melihat apa saja agendanya hari ini.


“Kayaknya sekarang kamu sering nerima telfon di luar jam kerja deh?” tanya Rina sambil membenahi riasannya.


Dika mendongak dan menatap Rina. Kemudian ia mengangguk tanpa suara.


“Siapa?” tanya Rina lagi.


“Melvin.”


“Melvin?” ulang Rina.


Kembali Dika menjawab dengan anggukan. Rina menghela nafas. Pasti ada hal serius kalau suaminya mendadak irit bicara seperti ini.


“Apa ada yang serius? Perasaan kamu sudah lama tak berhubungan dengan Melvin?”


Dika menghela nafas dan meletakkan tabnya.


“Melvin masih sering berhubungan dengan Surya, hanya saja biasanya Andre yang menghandle,” terang Dika


"Jadi karena Andre libur, harus kamu sediri yang menghandlenya?"


Sekali lagi Dika mengangguk.


Rina menangkup wajah suaminya. “Capek ya?”


“Enggak sih, kan ada kamu.”


Rina melingkarkan lengannya di leher Dika. “Peluk.”


Dika membalas pelukan istrinya dan tanpa aba-aba menelusupkan lengannya di bawah lutut Rina secara tiba-tiba.


“Mau di bawa ke mana?” kaget Rina.


“Mau sarapan.”


Perasaan Rina tak enak. Suaminya benar-benar terlihat lapar. “Eh eh eh…”


***


Rencana mau berangkat pagi, sekarang matahari bahkan sudah tinggi. Dika sibuk dengan gadgetnya, sedangkan Rina bersandar di bahunya dengan memejamkan mata.


Ponsel Rina terus berdering, namun Dika acuhkan karena ia sendiri sedang sibuk dengan dua ponsel miliknya.

__ADS_1


“Pak, mampir ke minimarket depan ya…”


“Iya Tuan…”


Dika meminta supirnya untuk membeli buah potong untuk istrinya. Rina suka sekali ngemil, tapi sekarang demi menjaga kondisinya, Dika berusaha membantu istrinya dengan menyediakan buah sebagai pengganti cemilan yang biasanya kurang sehat.


Hingga tiba di kantor, Rina masih saja bertahan dengan matanya yang terpejam. Tak ingin membangunkan, akhirnya Dika putuskan untuk menggendongnya saja.


“Tolong bawakan semua ini ya Pak.” Ujar Dika dengan menggendong tubuh terlelap istrinya.


Semua menunduk hormat saat Dika lewat.


“Ya Tuhan, beruntung banget jadi Non Rina. Like a prince banget pak Restu kalau kayak gitu.”


“Kalau dipikir-pikir apa lebihnya Non Rina coba. Perasaan dia B aja deh, cantik ya cantik sih tapi ya kalau nggak terawat nggak tahu deh gimana? Fashion style juga biasa. Terkenal? Dia bukan siapa-siapa jika bukan karena istri seorang Restu Andika.”


“Orang kaya mah beda. Saat kita berjuang keras untuk bisa terkenal, mereka rela membayar mahal agar tidak sampai dikenal."


“Masa iya?”


“Iya lah."


“Btw non Rina sakit apa gimana ya, kok digendong gitu?”


“Iya, kalau sakit kenapa nggak di rumah aja.”


“Nggak tega kali ngebiarin suami gantengnya di kantor sendiri kali.”


“Eh, mereka udah lama nikah kan, kok belum punya anak juga?”


“Mandul mungkin, makanya sekarang ngintilin suaminya terus biar nggak ditinggal kawin.”


Dan banyak sekali kasak-kusuk yang beredar diantara karyawan saat melihat Dika yang sesiang ini baru tiba di kantor dan dengan menggendong istrinya. Tak tahu kah mereka jika tadi keduanya baru ibadah pagi makanya bisa telat seperti ini.


“Elis, tolong ikut saya,” ujar Dika begitu ia melewati jajaran staf sekertarisnya.


“Iya Pak,” jawab Elis sebelum berdiri dan mengikuti bosnya. Sementara dua yang lainnya masih bertahan di posisi hormatnya.


“Non Rina kenapa Pak?” tanya Elis setelah berada di dalam ruangan Dika bersama supirnya tadi juga.


“Tidak apa-apa, dia hanya kelelahan dan butuh istirahat. Tolong kamu rapikan ranjang di ruang istirahat saya.”


Elis segera masuk tanpa menjawab.


“Sudah Pak,” ujar Elis setelah keluar dari sana.


“Terimakasih, silahkan lanjutkan pekerjaan kalian."


“Baik Pak Restu,” serempak Elis dan sopir Dika. Kedua segera meninggalkan ruang Dika setelahnya.


Baru saja tubuhnya dibaringkan, Rina langsung membuka mata. Dia langsung duduk dan menatap sekeliling.


“Udah di kantor?” tanya Rina pada Dika yang duduk di sampingnya.


“Iya.”


“Ya ampun, kok nggak dibangunin sih?” keluh Rina sambil mengencangkan otot-otonya.


“Nggak apa-apa sayang.”


“Ya kan pasti semua pada ngeliatin.”

__ADS_1


“Biarin aja lah, mereka kan punya mata.”


“Pasti diomongin juga nanti.”


“Ya punya mulut ya nggak masalah lah. Asal nggak keterlaluan aja.”


"Kenapa harus serisau itu sih. Mulut mereka kan banyak, sedangkan kita cuma punya dua tangan. Daripada pusing dengan apa yang mereka bilang, mending tangannya buat tutup kuping ketimbang berusaha membuat mereka diam."


Rina diam sejenak. “Ya tapi nggak enak jadi akunya sayang.”


Dika merapatkan tubuh Rina di dadanya. “Kenapa kamu gampang sekali merisaukan apa kata orang, toh mereka nggak kasih makan kita, malah sebaliknya.”


“Hmm, bapak sombongnya kumat…”


“Ya nggak masalah. Sombong pun tak berlebihan dengan posisiku sekarang.”


“Iya,iya…”


Rina menyamankan pelukannya. Ia juga melingkarkankedua lengannya di pinggang Dika.


“Jadwal yang kamu cancel tadi gimana?” tanya Rina yang masih bertahan di pelukan suaminya.


“Sedang diurus Riza.”


Rina menghela nafas.


“Kenapa kamu?” tanya Dika saat menyadari ada yang tak biasa dengan istrinya.


Rina menggelengkan kepalanya. “Ya baru tiga hari Andre libur, tapi aku sudah keteteran seperti ini.”


”Ya gimana lagi, kalau nggak aku kasih libur dia juga nggak pernah minta libur.”


“Kalau libur gini dia nggak bisa dihubungi sama sekali ya?”


“Ya bisa sih, tapi aku nggak pengen ganggu dia. Biar dia menyelesaikan urusannya.”


“Urusan?” ulang Rina. “Jadi kamu tahu Andre ada kepentingan makanya kamu kasih libur meskipun dia nggak minta?” lanjurt Rina sambil mendogak menatap suaminya.


“Kurang lebih.”


“Andre cerita sama kamu?”


“Sebenarnya enggak, tapi ya aku tahu pokoknya.”


Jika tadi Rina hanya menarik kepalanya, sekarang ia bahkan menarik tubuhnya. “Wah, jangan-jangan kamu bisa baca pikiran orang ya?”


“Emm. Kenapa kamu kayak gelisah gitu, lagi nyembunyiin sesuatu ya?” ujar Dika sambil memicingkan matanya.


Rina menggeleng takut-takut.


Dika menarik kedua sudut di bibirnya. Dan kembali menarik tubuh RIna ke dalam dekapannya. “Aku dan Andre selalu bersama selama 5 tahun terakhir. Kita dekat tak hanya sebagai rekan kerja, tapi juga sebagai sahabat. Kita lebih banyak melewati waktu-waktu yang tak enak daripada enaknya, sehingga secara otomastis kita mulai memahami satu sama lain.”


Dika menghela nafas dan Rina masih bertahan di posisinya sambil terus mendengarkan suaminya.


“Dan sekarang aku tahu dia sedang dalam masa-masa sulit, makanya aku ingin membiarkan dia menyelesaikan masalahnya sebagai mana dia selalu memberiku ruang saat aku mengalami masa sulit."


Rina menarik diri lagi dan menegakkan tubuhnya. Ia memandang kagum suami tampannya. “Wah kamu luar biasa…”


Dika kembali tersenyum menanggapi pujian istrinya. “Jika aku tak memanfaatka isi kepalaku dengan baik, mana mungkin aku bisa bertahan di posisi seperti ini.”


Rina menarik leher suaminya dan mengecupnya sekilas di pipi. “Proud of you. Ayo kerja.”

__ADS_1


Rina segera turun dari ranjang dan merapikan penampilannya. Ia berjalan menuju mejanya meninggalkan suaminya yang masih duduk di tepian ranjang.


Bersambung…


__ADS_2