Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Di Rumah Dian


__ADS_3

HAPPY READING


“Hhhhhaaaaaaaaiiiiiiii…”


Dian menyambut kedatangan sahabatnya dengan tangan terbuka dan senyum lebarnya. Dari belakang muncul sesosok pria tampan yang muncul dengan celana selutut dan kaos oblongnya. Dan jangan lupa, rambut basah nan acak-acakan sempat membuat fokus Rina dan Dika teralih padanya.


“Hadduh…”


“Kenapa sayang…” Dika langsung memegangi Rina saat istrinya ini nampak melepaskan diri dari pelukan sahabatnya.


Dika kemudian membimbing Rina untuk duduk di sofa yang berada tak jauh dari mereka.


“Sayang, are you okay? Apa kamu capek? Perut kamu sakit?” tanya Dika beruntun dengan kepanikan tercetak jelas di wajahnya.


Ken dan Dian yang berasal dari arah yang berbeda pun segera menghampiri Rina dan duduk di sofa yang sama.


“Kamu kenapa Rin?” sebenarnya Dian tak tahu apa yang terjadi, namun melihat wajah panic Dika ia jadi ikut panic juga.


Sementara Ken masih diam tak tahu harus berbuat apa di samping Dian.


Rina hanya menggeleng. “Aku…”


“Bentar aku ambilin minum.”


“Aku aja.” Ken menahan tubuh Dian yang hendak berdiri. Ia kemudian menggantikan kekasihnya untuk mengambil air untuk Rina.


Dian hanya mengangguk dan membiarkan Ken membantunya.


“Aku nggak apa-apa…” ujar Rina


“Terus kenapa kamu tadi mengaduh?” tanya Dika khawatir.


Dika menghela nafas. Ia kemudian berjongkok di depan istrinya dan mencoba meraba perut Rina yang masih rata.


“Sayang, kamu baik-baik ya, jangan bikin mama susah jangan bikin mama sedih,” lirih Dika tepat di depan perut istrinya


Rina menarik tangan suaminya dan membawa ia duduk di sampingnya. “Jangan dimarahin terus ah,” ujar Rina kemudian


Dika tak menjawab. Ia masih setia mengusap-usap lembut perut Rina.


“Ini.” lirih Ken sambil menyerahkan segelas air putih kepada Dian.


“Makasih” jawab Dian tanpa suara. “Ini kamu minum dulu,” ujar Dian sembari menyerahkan segelas air putih yang Ken ambilkan untuk Rina.


Rina meminumnya sedikit sebelum kemudian meletakkan di meja.


“Sebenarnya kamu kenapa sih?” tanya Dian khawatir. Ia ke Beijing tak sampai dua minggu, tapi sepertinya ia ketinggalan banyak kabar terkait sahabatnya ini.


“I’m okay. Dan aku kangen masakan kamu,” ujar Rina dengan santainya.


Dian mengernyit. “E tunggu deh, maksud Dika ngusap perut elu dan bilang mama tadi...”

__ADS_1


Rina mengangguk tanpa menunggu Dian menyelesaikan ucapannya.


Dian menutup mulutnya yang terbuka lebar. “Selamat…”


Dian menarik tangan Dika dan menyingkirkan tubuh pria jangkung yang menjadi penghalang saat ia ingin memeluk sahabatnya. Dan setelah berhasil, ia benar-benar memeluk Rina dengan erat.


“Kalian kompak bener, sampai mau punya anak aja barengan.”


Celetuk Ken yang langsung membuat Dian dan Rina melepaskan pelukannya. Dika pun yang semula menatap kesal Dian sekarang menatap Ken dengan tatapan bertanya.


“Kamu ngomong apa sih?” tanya Dian penasaran.


Ken menelan ludah. Ia merasa keceplosan. Jika di China mungkin bukan hal yang taboo jika kehamilan terjadi diantara pasangan yang belum melangsungkan pernikahan, tapi berbeda di sini. Ini Indonesia yang mayoritas penduduknya beraga islam sehingga jika hal ini terlanjur terjadi, akan menjadi aib yang harus ditutup rapat-rapat.


Jangan-jangan belum ada yang tahu lagi kalau Andre ngehamilin Hana. Duh, pake keceplosan lagi. Ken merutuki kecerobohannya.


“Kenzo," panggil Dian dengan nada rendah.


“Hai Dian…” jawab Ken sambil melambaikan tangan dan mengembangkan senyum lebarnya yang menawan. Berharap dengan bagini semua akan lupa apa yang baru saja tak sengaja ia katakan. “Aw, aw, aw…”


Perut berotot Ken cukup sulit untuk Dian cubit. Karena tak ada lemak yang bisa dicubit, makanya cubitan Dian hanya kecil dan justru membuat Ken kesakitan.


“Udah dong…” Ken mengenggam tangan Dian dan menahannya erat agar tak ada anggota tubuhnya lain yang menjadi korban cubitan Dian.


“Ya jelasin dulu tadi ngomong apa?!” desak Dian dengan ketusnya.


“Ehm…” Ken berdehem sesaat setelah mengemas senyum yang sebelumnya ia gelar. Ia menatap Dika di tempatnya dan ganti ke Rina kemudian.


“Astaga. Kamu kok malah ikutan sih sayang…” gerutu Rina saat menyadari suaminya justru bermain mata dengan pacar sahabatnya.


“Ya habis gimana, si Ken ngajak telepati, tapi aku sama sekali nggak ngerti,” jawab Dika dengan santainya.


“Oke, oke, oke. Udah jangan cubit.” Ken menyerah saat melihat tangan Dian bersiap mencubitnya lagi.


“Gitu kek.” Dian melipat tangannya di depan dada. Ia menunggu apa yang akan kekasihnya ucapkan.


“Andre…” hanya satu nama yang mampu Ken ucapkan. Ia takut Andre akan mengalami kesulitan jika dia langsung mengungkapkan apa yang tak sengaja ia ketahui.


Dika sempat melempar pandangan ke sembarag arah sebelum kembali fokus pada Ken lagi. Dari mana Ken tahu? Batin Dika dalam hati.


“Andre…” serempak Rina dan Dian. “Andre kenapa?” lanjut Dian sementara Rina masih berusaha mencerna keadaan.


Rina menghela nafas saat baru saja ia paham apa yang sedang dibicarakan ini. “Oh, iya, iya…”


"Kamu paham Rin? Andre kenapa?" tanya Dian penasaran.


Rina tak menjawab. Ia justru menundukkan kepala.


“Dika, lu tahu sesuatu?” tanya Dian pada Dika yang lebih banyak diam.


“Udah kenal Hana kan?” tanya Rina pada Dian tiba-tiba.

__ADS_1


“Pacar Andre?” tanya Dian memastikan.


Rina mengangguk. “Btw Ken tahu dari mana? Perasaan kamu tak pernah akrab dengan mereka?” bukannya menanggapi kebingungan Dian, Rina justru lebih penasaran dari mana Ken bisa tahu hal ini.


“Dih. Sebenarnya ada apa sih? Dari tadi muter-muter melulu. Aku sampai lupa kita lagi bahas apa? Sekarang aku malah jadi penasaran dengan kabar Andre," kesal Dian karena merasa ia paling tak paham dengan situasi saat ini.


Saat Rina ingin menjelaskan, tiba-tiba datang seorang perempuan yang Rina ketahui adalah art di rumah sahabatnya ini.


“Permisi Nona, masakan yang tadi Nona minta sudah siap semua…” ujar wanita ini.


Dian menghela nafas. Sepertinya ia harus mengubur sejenak rasa penasarannya. “Makasih Bi.”


Dian kembali menatap Rina setelah artnya pergi. “Makan dulu ya. Tadi semua aku yang menyiapkan. Semua adalah makanan yang kamu inginkan, hanya saja aku takut tak selesai jadi minta bantuan Bibi untuk memasaknya.”


“Makasih…” Rina kembali memeluk Dian.


“Tapi setelah makan jangan sampai lupa cerita…” ancam Dian.


“Apa kamu masih memikirkan Andre?” tanya Ken tiba-tiba.


“Jelas lah. Dia sahabatku Ken,” jawab Dian dengan nada lelah.


“Yakin sahabat?”


“Ken please…”


“Iya, iya aku tahu. Aku cuma bercanda.” Ken menarik Dian dari Rina dan merangkulnya. “Maaf, dia milikku sekarang…” ujar Ken kembali cengengesan.


Dian hanya mampu mengusap-usap dahinya untuk mengurangi rasa malu. Ia pasrah saja saat Ken menariknya ke ruang makan.


“Rina ayo…!” teriak Dian saat sadar ia melupakan Rina dan Dika yang masih di ruang tamu.


Bukannya berjalan, Rina justru menatap Dika dan merentangka kedua tangannya.


“Kamu ngapain?” tanya Dika yang tak paham dengan tingkah istrinya.


“Gendong,” ucap Rina dengan manja.


“Ke ruang makan?” tanya Dika memastikan.


Rina hanya mengangguk dengan senyum berbinar. Dika menarik kedua sudut dibibirnya dengan lebar. Hanya dalam satu gerakan, kini ia sudah mampu mengangkat tubuh istrinya dengan sempurna.


“Apa nanti jika sudah hamil tua aku masih bisa begini?” tanya Dika saat mulai membawanya berjalan.


Dika tampak menimbang. Rina langsung cemberut melihat wajah suaminya seperti ini.


Dika tak menjawab dan lebih memilih terus berjalan membawa Rina ke meja makan.


Aku tak mengatakan apa yang belum terjadi, yang jelas apa pun keadaanmu, aku akan tetap mencintaimu.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2