Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Buaya Pemakan Daging


__ADS_3

HAPPY READING


“Kalian kenapa jadi pada diam seperti ini? Lanjutkan saja mengobrolnya,” ujar Andre karena sejak ia datang para wanita ini tak ada satu pun yang bersuara. Padahal jelas sekali mereka nampak asik mengobrol sebelum ia putuskan untuk menghampiri tadi.


“Atau jangan-jangan kedatangan saya mengganggu ya?” tanya Andre dengan nada segan.


“Tidak, tidak, tidak…”


Ketiga wanita ini saling menyahut dan berkata tidak.


“Kamu tadi sama siapa?” tanya Hana akhirnya.


“Aku sama Elis. Tadi kebetulan ada meeting di sini…”


"Terus sekarang dia dimana?"


"Pulang kali."


"Nggak kamu antar?"


"Buat apa, biar kamu cemburu..." Goda Andre dengan memajukan kepala sehingga wajahnya berada sangat dekat dengan Hana.


"Tck..." Hana berdecak kemudian mendorong Andre agar kembali ke posisi semula.


“Tadi meetingnya dimana, kok aku nggak tahu?” lanjut Hana.


“Sejak kapan aku bisa meeting di tempat ramai seperti ini. Ada ruang VIP di belakang.”


“Oh, aku nggak tahu.”


“Kapan-kapan aku kasih tahu. Atau sekarang kita pindah saja ke sana, biar tak terlalu ramai seperti ini,” usul Andre.


Hana menatap rekan-rekannya dan semua serempak menggelengkan kepala.


“Kami lebih nyaman di sini,” ujar Hana menyuarakan pikiran rekan-rekannya.


“Oh. Oke…” Andre menerima keputas Hana begitu saja. Ia lantas mengeluarkan gadgetnya dan kembali focus pada data.


“Masih belum selesai pekerjaan kamu?” tanya Hana saat melihat Andre mulai focus dengan benda kotak di tangannya.


“Belum." Andre sejenak meninggalkan gandetnya dan mengalihkan pandangannya pada Hana. "Tumben tanya, bukankah aku sudah biasa seperti ini?”


Hana membulatkan mata saat melihat Andre berkata dengan santai sekali menyiratkan seberapa dekat mereka. Sementara tiga wanita di sana nampak terkejut dan menatap satu sama lain. Sudah jelas ini mereka sedang sibuk menyusun berbagai macam praduga terkait hubungan keduanya.


“Ehm… ya sudah lanjutkan…”  ujar Hana yang salah tingkah saat merasa pemilihan topiknya kurang tepat.


Tak berselang lama seorang pelayan datang dengan membawa pesanan Andre.


“Astaga…”


“Kamu kenapa?” tanya Andre saat mendapati keterkejutan Hana.


“Kamu cuma pesan ini?”


“Iya. Ini yang paling praktis di makan, soalnya…” Andre menunjukkan gadget ditangannya seakan berkata tangannya sedang digunakan untuk bekerja.


“Tck…” Hana mendengus.


“Saya mau nambah pesanan…” ujar Hana pada pelayan yang masih bertahan di sana.

__ADS_1


“Baik…” setelah meletakkan pesanan Andre, pelayan tersebut bersiap dengan note dan pulpen. Ia mencatat setiap item yang Hana pesan. Setelah Hana selesai, ia segera pergi untuk menyiapkan pesanan yang baru saja diminta.


“Udah jarang makan buah, makan sayur susah mau sehat


darimana coba…” omel Hana sambil menyingkirkan makanan yang Andre pesan sebelumnya karena Andre baru saja memakan obat kunyahnya.


“Kenapa harus marah sih, buktinya aku sekarang kan sehat…”


“Sekarang iya. Yang kesakitan sampai nggak kuat nyetir kemaren siapa…”


Haktjing!


Risma meringis, kala suasana mendadak kaku setelah ia tak mampu menahan bersin yang sudah berada di ujung hidung.


Hana langsung sadar jika sekarang ia tak hanya berdua dengan Andre. Bahkan ketiga kawan yang sejak tadi bersamanya terus saja memandangi dalam diam.


“Maaf…” ujar Risma dengan kepala tertunduk.


“Tck. Kamu sih…” Haning menyikut Risma karena tingkah konyolnya.


Risma mengangkat wajahnya sambil meringis.


“Udah, udah. Nggak apa-apa. Meski pun belum sempat mengakui, tapi saya yakin kalian sudah paham kami punya hubungan istimewa.”


Andre kembali membuat semua terperangah dengan pengakuannya yang sebenarnya sudah menjadi praduga semua yang ada di sana.


Andre meraih tangan Hana dan menggenggamnya. Ia sengaja menunjukkan hal ini pada rekan-rekan Hana. Hana mengalihkan pandangan dari ketiga rekannya kepada Andre yang bersikan begitu manis terhadapnya.


“Sayang, aku yakin ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan pada mereka sekarang. Go on, ngomong aja,” ujar Andre pada Hana yang tengah menatapnya.


“It’s getting hard Andre,” ujar Hana dengan kepala perlahan tertunduk.


“Is it something big?”


“Your problem with them,” ujar Andre menunjuk rekan-rekan Hana dengan ekor matanya.


Hana menggeleng. “Bukan dengan mereka.”


“So?”


“My time with them is over.”


Andre mengernyit. Sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat untuk ia menayai Hana. Ia lantas mengkodekan agar Hana segera menyampaikan apa yang ingin dibicarakan dengan rekan-rekannya.


“Mereka ngomong apa sih?” bisik Eka pada Risma.


“Kagak tahu. Ngerti gua yes sama no doang,” balas Risma dengan cara yang sama.


“Permisi…”


Dan kekakuan terjeda lagi saat seorang pelayan datang mengantarkan pesanan Hana untuk Andre.


“Silahkan…” ujar Hana sambil mengurai senyum pada


rekan-rekannya.


Pelayan tersebut mohon diri selesai menata makanan.


“Makan dulu Andre,” kata Hana memperingatkan Andre yang nampak mengacuhkan makanannya.

__ADS_1


Andre menunjukkan gadgetnya. “Ini masih banyak Hana…”


Hana menatap tajam kekasihnya ini sebelum mendadak tersenyum kaku kala melempar pandangan pada rekan-rekannya.


“Tangan kamu nganggur kan?” tanya Andre tiba-tiba.


“Nganggur. Kenapa?”


“Ngobrol sambil nyiapin makananku bisa kan…” pinta Andre tanpa mengalihkan pandangannya.


Hana mendengus. Ia kemudian menatap rekan-rekannya seakan mengadu.


“Kamu bantu Pak Andre saja Han, kita juga belum kelar makan kan ya…” ujar Risma sambil beradu pandang dengan rekan-rekannya bergantian.


“Ya udah deh…” Hana akhirnya meraih makanan Andre hasil pesanannya.


Maksud Andre membantu bukanlah membantu menyiapkan makanan dalam arti sebenarnya, karena makanan yang disediakan di hadapan mereka sudah siap dimakan. Sehingga Hana kini mulai menyuapinya.


Andre pun menerima suapan Hana dengan focus tetap penuh pada gadgetnya dan sesekali menempelkan ponsel ditelinga untuk berbicara dengan seseorang dalam lingkup bisnisnya. Ketiga wanita yang Hana bawa hanya bisa makan dengan pelan sekaligus memperhatikan drama romance yang terjadi secara nyata di hadapan mereka.


Mereka hanya bisa menahan rasa penasaran terkait hubungan Hana dan Andre, terutama Haning yang sebenarnya tak pernah bisa diam saat penasaran. Sayang sekarang ia tak berani untuk sekedar bertanya karena ini menyangkut Andre yang merupakan orang besar yang membuat ia benar-benar segan.


“Kenapa yang kamu kasih rumput semua Hana, aku kan bukan kambing,” protes Andre saat Hana hendak menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


“Ini isinya daging Andre, nih…” Hana menunjukkan makanan yang hendak ia suapkan. “Emang kamu buaya maunya daging doang,” ketus Hana sambil menggulung lagi makanan untuk Andre.


“Iya, daging kamu tapi.”


Hana mendengus dengan mata membulat. Ia memasukkan dengan paksa makanan yang sudah di tangannya sejak tadi. “Makan nih daging…”


Tak ayal pemandangan ini berhasil mengundang gelak tawa dari semua yang ada di sana. Terutama Haning yang biasanya punya tingkat kekepoan yang sangat tinggi. Pikirannya sudah traveking kemana-mana terkait daging yang menjadi favorit Andre.


“Makan sendiri lah. Siapa yang suruh ke sini tadi…” Hana menjauhkan makanan Andre dari hadapannya. Ia kemudian beralih meraih minumannya yang sejak tadi ia acuhkan saja.


Andre sama sekali tak bereaksi dengan sikap Hana ini, bahkan saat semua makanan dimulutnya sudah habis ditelan, ia masih sibuk dengan pekerjaannya.


Hana yang geram akhirnya kembali meraih makanan makanan itu. Meski wajahnya nampak kesal, ia masih tetap menyuapi Andre dengan telaten. Sampai tak terasa semua makanan yang tadi di pesan sudah berpindah tempat setelah tertelan.


“Udah, udah. Aku udah nggak kuat…”


“Emang udah habis.”


“Ya udah. Lanjut gih ngobrolnya. Aku tinggal ke kamar mandi.”


Andre bangkit dan sempat mencium puncak kepala Hana sebelum pergi. Hana hanya mampu meringis karena malu dengan teman-temannya.


“Maaf ya semua. Acara kita jadi keganggu gara-gara Andre,” ujar Hana setelah Andre menghilang dari hadapan mereka.


“Nggak apa-apa Han. Kita juga merasa terhormat lagi bisa bergabung dalam satu meja dengan pak Andre,” ujar Haning.


Hana sebenarnya takjub dengan penuturan Haning yang terlihat bijak dan berbeda sekali dengan yang biasa ia hadapi saat di toko.


“Kamu sudah sangat dekat ya dengan beliau?” tanya Haning lagi.


Diam-diam Risma penasaran dengan apa yang akan Hana katakanan. Ia makin terkejut lagi saat ternyata tanpa ragu Hana menganggukkan kepala.


“Sebenarnya ada yang mau aku bicarain ngajak kalian semua ke sini,” ujar Hana dengan nada serius.


Tiga orang rekannya tak ada yang menjawab. Mereka hanya diam seakan menunggu apa yang hendak Hana katakan.

__ADS_1


“Aku mau pamit…”


Bersambung…


__ADS_2