Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Diantar Ke Tempat Kerja


__ADS_3

HAPPY READING


Setelah mereka mensepakati semua keruwetan dalam hubungan mereka, akhirnya Andre membawa Hana kembali ke rumahnya. Saat mereka selesai berbincang waktu hanya menyisakan satu setengah jam sebelum adzan subuh berumandang. Hal ini membuat Hana setuju menerima ajakan Andre untuk kembali ke rumahnya sembari menunggu fajar.


Andre berhasil memaksa Hana menerima semua pakaian yang ia belikan dan kembali menggunakan ponsel agar lebih mudah berhubungan. Meskipun keduanya tak lagi terlibat hubungan seperti sebelumnya, tapi mereka tetap butuh komunikasi bukan?


“Kamu mau ngapain?” tanya Andre saat melihat Hana


sedang berdiri di area dapur rumahnya.


“Mau masak,” jawab Hana sambil mengocok telur. “Eh…” tiba-tiba Hana dikejutkan dengan adanya sebuah tangan kekar yang melingkar di pinggangnya.


“Kita nikah yuk…” bisik Andre tepat di belakang telinga Hana.


“Ndreeee… jangan mulai deh…” ujar Hana sambil berusaha menjauhkan telinganya.


“Mulai apa? Aku nggak yakin dengan diriku yang bisa nahan semua dengan baik semuanya?”


“Harus Ndre harus, kecuali kalau kamu siap kehilangan


aku untuk selamanya."


“Memang kamu mau kemana?” tanya Andre sambil melepaskan rengkuhannya.


Hana meletakkan mangkok yang semula ia pegang dan memutar tubuhnya hingga persis berhadapan dengan Andre. “Aku nggak mau selamanya hidup di tengah orang-orang yang benci dan sakit hati karena aku.”


"Tak semua orang seperti Rio Hana. Aku akui mungkin aku juga akan membencimu jika aku ada di posisi Rio, tapi yakinlah, Rio punya Indah sebagai pasangan yang tepat, dan aku yakin sebentar lagi hatinya akan berhasil kita luluhkan."


Hana sama sekali tak menanggapi. ia kembali sibuk memotong sayuran.


“Apa keberadaanku yang mencintaimu kurang cukup?” tanya Andre untuk memecah kediaman Hana.


“Aku nggak mau orang yang aku cintai menjadi orang yang tahu balas budi. Terlebih itu adalah orang tua. Mereka orang tua kamu Andre.”


“Tapi kita manusia biasa Han. Kita nggak mungkin mengabulkan semua keinginan orang lain terhadap kita,” ujar Andre dengan mantabnya. Kalimat ini dengan kuat ia yakini setelah Ken mengucapkan padanya tempo hari.


“Orang tua kamu bukan orang lain Andre…”

__ADS_1


Glek!!


Andre Andre kehilangan kata. Keyakinannya pada kalimat ini sirna sudah berganti dengan keraguan yang langsung mengambil kuasa atas hatinya. Sepertinya ia harus mengkaji ulang nasehat Ken pada dirinya yang baru saja ia kutip dan katakan pada Hana, karena apa yang baru saja Hana ucapkan juga dapat diterima dengan mudah oleh hati dan pikirannya.


Hana melanjutkan acara memasaknya sementara Andre berjalan ke meja makan. Di sana ia ingin benar-benar merenungi jalan kehidupan yang ia lakoni ini. Apakah prinsip Ken benar-benar bisa diterapkan untuk hidupnya atau tidak, karena jujur saja yang membuatnya bertekat ingin membawa Hana kembali ke dalam dekapannya adalah keyakinan yang pedoman hidup pria berdarah Tionghoa ini.


Yang Ken permasalahkan adalah neneknya, dimana yang menjadi alasan ketidak setujuannya pun adalah perkara bisnis, bukan perkara prinsip atau bahkan kesalahan fatal seperti yang Andre lakukan dengan Hana. Jadi Ken dengan percaya diri mampu berpegang teguh pada pedoman hidupnya dan menentang perjodohan yang tak dapat diterima hati dan logikanya. Sedangkan dia. Semua serba salah. Dilihat dari sudut pandang mana pun yang ia lakukan dengan Hana adalah sebuah kesalahan meski keduanya melakukan kesalahan itu dengan bermodalkan rasa cinta yang menggelora. Tapi sekali lagi, yang mereka lakukan tetaplah salah baik dinilai dengan hati maupun dengan logika.


“Pagi-pagi jangan ngelamun…”


Saking larutnya Andre berdiskusi di dalam otak, hingga ia tak sadar jika Hana sudah selesai memasak. Ia menarik kedua sudut di bibirnya untuk tersenyum menyambut Hana yang datang dengan sepiring makanan dan segelas susu yang telah ia hangatkan sebelumnya.


“Makasih…”


“Cepet makan. Kamu harus terlebih dahulu mengantarkanku ke tempat Risma sebelum bekerja.”


“Ngapain ke tempat Risma, kan kamu bisa langsung ke toko.”


“Aku harus ganti baju dulu Andre, karena setiap hari kita harus ganti warna baju seperti yang telah disepakati.”


“Terus hari ini jadwalnya baju apa?” tanya Andre sebelum memasukkan satu sendok nasi goreng yang tadi Hana buatkan.


“Dengan bawahan rok sependek itu lagi?” protes Andre sambil manatap paha mulus Hana yang hanya tertutup separonya saja.


“Ini nggak pendek sebenernya Ndre,” elak Hana.


“Mataku masih bisa melihat dengan jelas Han, mana rok pendek mana rok panjang. Rok kamu itu kalau duduknya nggak hati-hati isi di dalamnya bisa langsung kelihatan,” ujar Andre dengan frontal dan tanpa sensor.


Jika tidak ingat mereka baru saja baikan, mungkin Hana sekarang sudah memukul Andre yang bicaranya sembarangan. Alhasil ia hanya mendengus dan melengos untun membuang kesal yang ia rasakan.


“Aku tahu Han, selain karena kemampuan marketingmu yang bagus, para pria yang datang ke toko itu juga sangat suka memandangimu. Kamu tahu kan betapa risihnya aku?”


“Tapi tak pernah ada perlakuan tak menyenangkan yang


aku terima selama kerja di sana Ndre.”


“Apa kamu menunggu ada perlakuan tak menyenangkan kamu dapatkan baru kamu mau mengikuti ucapanku?”

__ADS_1


Hana meletakkan sendok makannya. “Ndre, aku harus nunggu gajian untuk bisa beli pakaian, bukan seperti kamu yang mau apa saja tinggal tunjuk dan tekan.” Akhirnya Hana harus mengatakan yang sebenarnya. Karena uang yang bagi Andre tak seberapa namun bagi Hana dan mereka yang berada di link sosialnya sekarang sangat lah berarti.


“Kamu bisa seperti itu kok kalau kamu mau, bahkan kamu tak perlu bekerja sekasar itu kalau kamu bersedia menerima bantuanku.”


Hana menggeleng.


“Nahkan, sekarang siapa yang susah dikondisikan.”


Hana tak menjawab. Ia meraih kembali alat makannya dan melanjutkan makan dengan hati yang kesal. Begitu pula dengan Andre. Sejoli ini kembali membisu hingga tandaslah makanan di masing-masing piring mereka.


Akhirnya Hana harus terima Andre antarkan langsung ke tokonya sementara masalah baju Hana harus mengganti bajunya dengan salah satu dari baju yang Andre belikan sebelumnya.


“Kenapa kamu segelisah itu? Apakah memalukan jika ada


yang melihat keberadaanku bersamamu?”


“Bukan gitu Ndre. Aku takut kalau ditanya macam-macam kalau rekan-rekanku tahu aku bisa datang bersama pria yang memborong hampir semua baju wanita di toko ini.”


“Mamangnya apa masalahnya kalau mereka tahu, kan kamu tinggal bilang kalau aku pacar kamu .”


“Ya tapi kan…”


“Hana…”


Spontan Hana menoleh untuk melihat siapa yang baru saja memanggilnya. Hana segera mengurut dada saat tahu Risma yang datang dengan kunci di tangannya. Ia lega dengan begini akan lebih mudah baginya untuk menghadapi semuanya.


“Kamu semalam di mana?” tanya Risma sambil sesekali


menatap Andre nampak gagah saat bersandar di mobilnya. Terlebih ketika pria ini nampak sibuk dengan gadget di tangannya.


“Buka dulu pintunya, aku harus ganti baju,” desak Hana sambil mendorong tubuh Risma.


Saat Risma hendak memasukkan kunci ke lubangnya, tiba-tiba ia urungkan dan malah memutar badan menatap Hana yang berdiri menjulang di belakangnya. “Kok kamu bisa sama dia, bukannya kemaren…”


“Udah nanti aja aku cerita, pokoknya sekarang cepat buka pintu biar yang lain nggak lihat aku datang sama Andre.”


Risma yang tubuhnya di putar paksa hanya bisa mengikuti permintaan Hana. Ia tak boleh julid dulu karena bagaimana pun juga ia bisa tidur nyenyak dan tenang kerjanya karena bantuan Hana. Ia tak lagi perlu berurusan dengan para penagih hutang yang sering muncul sebelumnya.

__ADS_1


Setelah Risma membuka pintu, Hana langsung melesat ke arah gudang, ia yakin semua baju itu disimpan di sana. Ia harus segera menemukan atasan berwarna putih sesuai yang Andre mau sebelum semua rekannya datang.


Bersambung…


__ADS_2