
HAPPY READING
“Kok masih utuh makanannya? Kalian nggak makan ya selama kami tidak ada?” tanya Hana saat melihat masih banyak makanan yang masih untuk di atas meja.
“Makan, tapi kami sengaja menunggu kamu,” ujar Rahma mewakili kedua rekannya.
“Oh…” dengan senyum terbingkai di wajahnya, Hana kembali ke tempatnya semula. "Yuk lanjut makan..." ujar Hana sambil mengambil kain untuk ia kenakan di atas pahanya..
“Pak Andre ke mana?” tanya Rahma saat melihat Hana kembali seorang diri.
“Sedang kencan…” Hana tertawa kecil sambil mengambil makanan.
“Kencan?” pekik Elis.
“Eh itu. Maksudku sedang tak sengaja bertemu dengan rekan bisnisnya, jadi karena mereka sedang asik ngobrol, jadi aku tinggal pergi saja,” jelas Hana.
“Oh, aku kira…” kini Riza yang bersuara.
“Beliau nggak marah?” tanya Elis hati-hati.
“Marah kenapa?” tanya Hana tak mengerti.
“Sepertinya pak Andre benar-benar tak bisa jauh dari kamu,” imbuh Elis memperjelas maksud pertanyaannya.
Iya, bahkan tinggal terpisah saja dia tak rela, lanjut Hana dalam hati. Ia hanya meringis sebelum membungkam mulutnya dengan makanan.
“Hana. Sekali lagi maafkan aku ya soal tadi. Aku benar-benar tidak tahu kalau pak Andre sudah…” ujar Elis yang entah sejak kapan sudah tak memegang alat makan.
Hana tak langsung menjawab. Ia masih berusaha mengunyah makanan yang sudah ia masukkan ke dalam mulutnya. “Sudah lah…, lagian aku hanya pacarnya, bukan istrinya. Semua masih mungkin terjadi…” ujar Hana setelah berhasil menelan semua makanannya.
“Sepertinya kamu harus diikat ya, biar tak bertingkah
lagi…”
Hana nyaris tersedak saat Andre tiba-tiba muncul di ruangan tersebut.
“Ehm, sudah selesai. Tumben sebentar…” ujar Hana sembari bangkit untuk menyambut kemunculan Andre dari balik pintu.
“Iya, Ken tadi lagi beli makanan buat Dian. Dia lagi ngidam jadi Ken buru-buru pulang,” jelas Andre sembari membuka kancing terbawah jasnya.
“Wah… senangnya…” ujar Hana dengan mata berbinar.
__ADS_1
Andre meraih dagu Hana dan membawa wajah ayu kekasihnya ke hadapannya. “Kamu mau juga…?”
Krik krik krik
“In, ini. Ini coba deh…” Hana yang mendadak gugup mengambil makanan secara asal dan menyuapkannya pada Andre secara brutal. “Kamu harus banyak makan, biar nggak sering sakit perut lagi.” Belum puas dengan suapan yang pertama, Hana kembali menyuapkan jenis yang lain lagi ke mulut kekasihnya. Andre harus menahan tawa melihat kesalah tingkahan Hana. Ia tahu semua yang dilakukan wanita cantik ini hanya agar ia tak terus berbicara, karena membahas masalah sensitive yang menjadi aib bagi keduanya.
“Ayo lanjut lagi makannya, nanti tertunda lagi kesempatan pulang cepatnya,” imbuh Hana pada ketiga rekannya.
Tiga wanita dengan pakaian rapi ini sebenarnya ingin sekali mengabadikan kejadian langkan dimana Andre nampak dikuasai wanita. Namun apa daya, mereka tak mau masa karir mereka hancur karena hal sepele seperti ini.
Saat Hana sudah puas menjejali kekasihnya dengan makanan, tiba-tiba Andre harus meninggalkan Hana sementara karena ada sebuah telfon yang harus dijawabnya. Sebenarnya dia bisa saja langsung menjawab di tempat, namun ia ingin memberi ruang pada para wanita untuk lebih banyak berbicara.
“Hana nanti rencananya mau ke mana?” tanya Rahma setelah Andre meninggalkan mereka.
“Nanti kapan?” Hana balik bertanya untuk memastikan.
“Ya selesai makan siang…”
“Oh… mungkin pulang,” jawab Hana ragu. Jelas lah ia ragu, karena pulang sama dengan masuk kandang macan. Tapi yang jelas Andre yang tahu rencana selanjutnya karena dominasi Andre yang sangat sulit untuk dipatahkannya.
“Aku pikir kamu akan kencan dengan pak Andre,” timpal Elis yang masih nampak berusaha untuk rela dengan kebahagiaan mereka.
Hana tertawa kecil sambil mengaduk minumannya. “Kita bukan ABG yang selalu kencan saat waktu luang. Karena saat jalan-jalan pun aku hanya jalan sendiri sedangkan Andre selalu sibuk dengan ponsel dan pekerjaannya,” jelas Hana menggambarkan qtime dengan kekasihnya.
“E em…” Hana mengangguk sembari menyedot minuman sebelum didorongnya sidikit ke tengah meja. “Kadang aku memimpikan kehidupan di drama, tapi sayangnya dunia nyata tak akan bisa seperti itu.”
“Iya sih. Pak Andre memang sepertinya punya jam kerja lebih padat dari pak Restu…” balas Elis.
“Nggak bisa dibandingin juga sih. Tapi pak Restu kan pemilik, sedangkan Andre kan bekerja buat beliau. Tapi emang iya. Andre hampir tak pernah punya waktu lepas dari pekerjaan. Bahkan jam tidurnya pun sering kali ia gadaikan untuk menyelesaikan pekerjaan.”
“Kamu sudah lama sama pak Andre ya, sepertinya kamu sangat paham dengan beliau?” tanya Rahma penasaran.
“Ehmm, susah jawabnya…” Hana meringis diakhir kalimatnya. Ia meraih lagi minumannya dan meminum sedikit untuk melegakan tenggorokannya.
Kenapa pula harus membahas jam tidur, jadi traveling kan pikiran mereka, gerutu Hana dalam hati.
“Kepo dikit boleh nggak sih?” desak Rahma yang nampak paling aktif sekarang. Riza tak begitu ambil pusing masalah percintaan Hana sedangkan Elis harus sekuat tenaga menahan diri karena baru saja mengalami patah hati.
“Apa?” tanya Hana ragu.
“Kalian sudah lama diam-diam saling suka ya?” tanya Rahma dengan nada rendah dan menggoda.
__ADS_1
Hana menghela nafas lega karena ternyata content yang ditanyakan mantan rekan kerjanya bukan masalah dewasa yang sangat ingin ditutupinya. “Hubungan kami dimulai setelah aku tak di perusahaan. Kalian nggak lupa kan kalau bahkan Andre yang mendepakku dengan cara yang…,” Hana kembali memasukkan sedotan ke dalam mulutnya untuk mengurangi rasa tak nyaman saat menyinggung masa kelamnya.
“Sebenarnya apa sih Han yang terjadi pada kamu saat itu? Jujur kami sangat kehilangan saat kamu pergi. Kamu yang paling tangkas dan cekatan diantara kami. Kemampuan berbicara kamu juga yang paling baik meski kamu yang datang paling akhir diantara kami,” jelas Riza panjang sekali.
“Susah Mbak jelasinnya. Ini masalah aib yang harus aku timbun rapat-rapat. Yang jelas aku melakukan semuanya atas dasar perintah seseorang?”
Meski dalang kejahatannya sudah jelas, namun Hana sedikit tak rela menyebut nama sang papa.
“Untuk menghancurkan Surya Group?” terka Riza.
Hana mengangguk mantap sebagai jawabannya.
“Kok kamu mau sih?” tanya Elis.
Hana kembali menghela nafas. “Aku nggak bisa nolak,” jawab Hana kemudian.
“Pasti dia bukan orang sembarangan. Siapa sih Han?” tanya Rahma penasaran.
Hana tersenyum lagi. “Nggak penting siapa beliau. Dunia bisnis memang seperti itu. Hitam dan putih susah dipisahkan karena mereka satu kesatuan. Rekan bisa jadi musuh, lawan bisa jadi kawan. Ini mungkin yang membuat pak Dedi enggak terjun ke dunia bisnis dan memilih untuk menjadi dokter.”
“Kenapa tiba-tiba bahas pak Dedi,” sahut Rahma cepat. Sepintas memang mirip protes, namun sejujurnya ia sanget tertarik membahas dokter tampan nan jenius ini.
“Ya karena Andre, pak Restu dan Dedi merupakan tiga remaja yang sama-sama dipaksa dewasa sebelum waktunya,” jelas Hana setelah mengumpulkan logikanya.
“Yakin banget kamu bilangnya. Tahu dari mana?” tanya Rahma lagi.
Hana masih belum bisa mencerna dengan baik kenapa bisa Rahma bereaksi seperti ini. Padahal sepertinya ia berbicara seperti biasa. Tak tahu saja Hana jika Rahma telah menaruh hati pada salah satu orang dekat kekasihnya ini.
“Tahu dari Andre. Tapi mungkin aku salah…” Hana lebih memilih cari amannya saja. Baru saja ia minta maaf, masa sudah mau menciptakan konflik lagi dengan mereka.
“Eh Han, bisa bantu tanya ke pak Andre nggak. Kita benar benar diijinkan pulang sekarang kan?” tanya Riza menyela. Ia harus segera mengalihkan pembicaraan sebelum Rahma makin menggila.
“Iya Mbak. Kan tadi dia sudah bilang sendiri,” jelas Hana karena Andre tadi sudah mengatakannya hingga beberapa kali.
“Coba tolong tanyain ya. Jangan-jangan kita yang salah tanggep. Soalnya ini kali pertama buat kita bisa pulang pas baru jam makan siang,” lanjut Riza.
“Emangnya kebiasaan Andre sudah berubah ya sekarang?” tanya Hana.
“Kebiasaan apa?” sahut Elis cepat karena ia merasa menjadi yang paling paham dengan bosnya, meski kini harapan untuk memiliki sudah hampir tak ada lagi.
“Dulu saat aku masih di perusahaan, dia tak pernah suka kalau ada yang menanyakan sebuah pertanyaan yang kita sudah tahu jelas jawabannya.”
__ADS_1
Tepat saat Hana menyelesaikan kalimatnya, pintu ruangan pun terbuka.
Bersambung…