
HAPPY READING
“Kalian darimana sih?” tanya Lutfi begitu Risma dan Bayu muncul dari balik pintu dan kembali bergabung bersama mereka.
“Minta Bayu anterin ke kamar mandi, soalnya aku takut nyasar di tempat sebesar ini.” Risma berdalih berusaha agar tak menimbulkan tanya oleh semua yang ada di sana.
“Dih. Kamu hidup di tahun berapa sih Ris, kan tinggal nanya. Apa susahnya?” sarkas Lutfi. Pasalnya di tempat ini sudah ada keterangan dengan jelas terkait tempat seperti kamar mandi, kasir bahkan musholla.
“Iya. Makanya kamu ajarin baca ya pulang nanti…” Risma ikut saja apa kata Lutfi, ketimbang harus berdebat dengan tetangga dosennya ini.
Andre dibuat tertawa dengan guyonan kenalan kekasihnya ini. Tak heran Hana nyaman di sana karena ternyata dua pria ini sepertinya tak genit seperti yang ia takutkan selama ini.
Tanpa ada yang tahu, sebenarnya tadi Risma pergi bukan untuk ke kamar mandi tapi untuk memberi tahu Bayu agar tak menceritakan terkait pertemuan awalnya dengan Hana. Termasuk kenyataan bahwa Hana pernah mengalami accident penusukan yang membuat Risma harus membawanya pulang.
Risma tak tahu keputusannya ini salah atau benar. Yang jelas ia merasa kehidupan Hana terlalu rumit sehingga ia merasa tak baik membicarakan apa pun tentang Hana jika bukan Hana sendiri yang memulainya meskipun itu juga tentang dirinya.
Saat semua sedang bercanda, tiba-tiba Andre meringis dan memegangi perutnya.
“Sayang kamu kenapa?” panik Hana saat menyadari ada yang tak beres dengan kekasihnya.
Andre masih diam. Ia hanya mengangkat wajahnya dan membalas tatapan khawatir Hana.
“Perut kamu sakit lagi…” tebak Hana.
Masih dengan wajah yang nampak tak nyaman, perlahan Andre menganggukkan kepala.
“Duh. Bawa obat nggak?”
“Ada di mobil…” jawab Andre masih sambil memegangi perutnya.
“Butuh bantuan aku nggak?” tanya Bayu. Meskipun ia bukan dokter, setidaknya di sana ia merasa menjadi orang yang paling paham perkara medis.
“Mana kuncinya, biar diambilin Bayu ya…” ujar Hana sambil berusaha memeriksa di mana Andre menyimpan kunci mobilnya.
“Akh…," Tiba-tiba Andre merintih membuat Hana kian panik. “Nggak usah Han. Kita pulang dulu saja ya, sepertinya aku harus segera istirahat…” lanjut Andre kemudian.
“Apa kamu kuat nyetir?” tanya Lutfi yang juga ikut khawatir. Meskipun dia agak somplak, tapi untuk masalah yang seperti ini, ia punya empati yang cukup tinggi.
“Hana bisa…” Jawab Hana sambil membantu Andre berdiri.
“Kita duluan ya,” pamit Hana sambil memapah Andre.
__ADS_1
“Kita juga balik aja kali ya,” lanjut Risma.
“Kalian lanjut saja. Sayang ini…” Hana sengaja menggantung ucapannya dan menatap Andre yang kini merangkul bahunya.
“Sudah…” singkat Andre yang sudah paham maksud Hana.
Lutfi yang sempat ikut bangkit segera duduk lagi di tempatnya. “Makasih ya Andre. Kamu cepat sembuh, awh…” Lutfi mendesis dan langsung bangkit lagi kala sebuah cubitan mampir di perut one pack nya. Lutfi memang bukan figure pria gendut, namun dengan aktifitasnya yang cukup padat di kampus, membuatnya tak sempat melakukan olahraga untuk membentuk otot di perutnya. Ia kemudian meringis dan terdiam menanggapi Risma yang mendelik ke arahnya.
“Enjoy ya. Maaf aku harus pulang dulu,” pamit Andre sembari menundukkan kepala.
“Terimakasih Pak Andre.” Risma menunduk hormat diikuti Bayu dan Lutfi.
Selepas Andre dan Hana keluar, Bayu nampak menghembuskan nafas lega. Ia kemudia meraih gelas di hadapannya untuk meminum air di dalamnya.
Risma tertawa kecil melihat tingkah Bayu. Sementara Lutfi hanya melayangkan tatapan bertanya saat tanpa sengaja ia bertemu tatap dengan Risma.
“Kena mental Bay…” goda Risma dengan suara rendah sebelum menyuapkan sesuap besar makanan ke dalam mulutnya. Lutfi pun ikut cekikikan karena meski lirih ia masih dapat dengan jelas mendengar apa yang Risma katakan.
“Apa Ris?” tanya Bayu.
“Yuk makan. Malu kalau harus dibawa pulang,” kata Risma mengalihkan pembicaraan.
Ketiganya melanjutkan makan dalam diam. Hanya sesekali Lutfi yang bersuara mengajak Risma bercanda, namun tak terlalu ditanggapi oleh perempuan ini. Sementara Bayu yang kali ini nampak lebih sering diam masih mempertahankan kesenyapannya. Pikirannya kusut setelah melihat Hana datang dengan pria pujaan hatinya. Ia jadi kesulitan menahan rasa yang selama ini dengan rapi ia simpan.
“Apa?” jawab Bayu enggan.
“Ngomong dong. Jangan diem terus. Ngeri tahu nggak,” ujar Lutfi lagi.
“Kenapa harus ngeri, gua nggak apa-apa.”
“Ya diem terus. Kalau kesambet repot tahu bawa baliknya.”
Bayu hanya menarik kedua sudut di bibirnya dengan enggan. Ia malas menanggapi karena sungguh ia tengah serba salah saat ini.
“Kalian sudah selesai apa belum sih?” tanya Risma yang nampaknya sudah tak mampu lagi menampun makanan pesanan Andre yang sangat banyak ini.
“Sudah. Iya sudah…” jawab Lutfi yang sedikit terkejut dengan selaan Risma yang tiba-tiba.
“Ya udah. Kita balik…” putus Risma sepihak.
Risma bangkit terlebih dahulu dan diikuti Bayu dan Lutfi di belakangannya. Saat berjalan, Lutfi segera mengambil tempat di samping Risma sementara Bayu mengekor di belakang. Ia terus menatap Risma yang nampak cekikikan saat bercanda dengan Lutfi. Ada rasa tak nyaman saat melihat wanita yang sudah menjadi temannya beberapa waktu terkahir nampak akrab dengan pria lain di depan matanya seperti ini.
__ADS_1
Aku tidak boleh terus seperti ini. Aku harus berani mengambil sikap. Dengan begitu aku akan lebih mudah menentukan batas. Batin Bayu dalam hati.
“Bay…”
Lamunan Bayu bubar seketika saat mendengar suara Risma memanggilnya. Ia segera membalas Risma dengan tatapan tanpa suara.
“Kalau kamu patah hati cerita sama kita,” ujar Risma lagi tanpa opening yang jelas sebelumnya.
“Ngomong apa kamu?” tanya Bayu tak mengerti.
Ketiganya sekarang duduk di trotoar sembari menunggu taksi online yang baru saja Lutfi pesan.
“Kamu emang yang sudah banyak bantu Hana. Kita tahu kok kalau kamu kecewa karena ternyata Hana sudah punya tambatan hati, bahkan calon suami…” jelas Risma mengungkap isi kepalanya.
Bayu menarik kedua sudut di bibirnya lebar saat paham apa yang sedang Risma bicarakan. “Jangan sotoy kamu. Aku nolong ya nolong aja, bukan punya maksud apa-apa,” Bayu menjelaskan disela tawa.
Namun Risma dan Lutfi tak menanggapi reaksi Bayu sebagai canda. Lutfi bahkan dengan wajah prihatin meletakkan sebelah tangannya di pundak Bayu. “ Jangan dipaksa tertawa kalau hatinya kecewa. Kamu malam ini benar-benar nggak seperti biasa. Kita ngerasa banget sebagai orang yang sudah cukup lama mengenal kamu,” ujar Lutfi kemudian.
Krik krik krik!
Bayu menyimpan tawanya, meski di hatinya memang tak ada luka. “Aku nggak apa-apa, yakin. Atau jangan-jangan kamu lagi yang patah hati…” Bayu menaikkan alisnya sembari menatap Lutfi.
“Yee, kagak lah…”
“Kagak percaya. Play boy kayak kamu pasti demen yang kaya Hana.” Capek menjelaskan keadaan dirinya, Bayu ganti menuduh Lutfi yang sebenarnya patah hati.
“Enak aja play boy. Aku itu orang yang berdedikasi.”
“Berdedikasi mengagumi makhluk cantik ciptaan Tuhan iya, ha ha ha…” Bayu ingin balas menggoda, karena nyatanya memang tak ada yang sakit dalam dirinya terkait kemunculan Andre yang menandai Hana sebagai miliknya.
“Udah, udah. Aku tahu kalian sama patah hatinya. Kenapa harus saling mengatai sih bukannya saling menguatkan satu sama lain.” Risma coba melerai kedua teman yang menurutnya sama-sama menyimpan nyeri di dalam dada.
“Aku nggak patah hati…!” serempak Bayu dan Lutfi satu suara.
Dengan mulut menganga dan mata membulat sempurna, Risma mengangkat kedua tangannya. Pasalnya dua pria ini serempak menyangkal dengan pemilihan kata yang sama.
“Santai-santai,” lanjut Risma sembari menurunkan tangannya perlahan.
Lutfi dan Bayu sempat beradu tatap sebelum serempak menatap tajam Risma.
“Kamu salah…?!”
__ADS_1
Risma sempat membulatkan mata sebelum meringis kala dua pria yang kini bersamanya kembali mengungkapkan rangkaian kata yang sama.
Bersambung…