
^^^Say all that you want.^^^
^^^Itu akan menjadi amunisi kehaluan saya.^^^
^^^Saran visual masih ditunggu.^^^
^^^-Happy reading-^^^
"Besok langsung balik apa gimana?" tanya Panca pada kedua rekannya.
"Serah si bapak aja," jawab Tommy.
Bapak yang mereka maksud adalah Guru yang kini mendampingi mereka selama perlombaan.
"Tapi pak Will tadi udah pesen sama gue, kalau mau ke mana gitu kita diijinin sebelum balik."
"Ngikut ajalah." Kembali Tommy yang menjawab.
Dika sejak tadi memilih diam. Dia tak habis pikir dengan Rina. Untuk apa Rina menghubunginya sebanyak itu tapi ketika Dika mencoba menghubunginya kembali, dia malah tak mau menjawab. Dika meraih benda kotak di kantongnya. Dibuka perlahan dan diambil sebatang untuk dinyalakan.
"Eh, Andika ngerokok?" tanya Panca yang terkejut melihat Dika menyulut sebatang rokok.
"Akhir-akhir ini iya." Dika menjawab dengan santai sembari menghembuskan asap rokok yang baru dihisapnya.
Tommy menatapnya tak percaya. "Gue kira selama ini lu anak baik-baik."
"Emang kalau ngerokok nggak jadi anak baik lagi?" tanya Dika dengan tawa kecil di mulutnya.
"Ya nggak gitu juga." Tommy menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Dika kemudian duduk di kursi panjang yang ada di area kampus teknologi terbaik di Indonesia ini. Dia menyodorkan kotak berwarna putih berisi gilingan tembakau itu.
Panca meraihnya dan mengambil satu dari sana.
"Lah, elu juga?"
"Hehehe, sesekali iya. Itung-itung ngerayain kemenangan ya nggak."
Panca dan Dika kini sama-sama bergumul dengan asap putih di tengah pekatnya malam. Sementara Tommy memilih untuk melakukan video call dengan pacarnya.
***
"Kaaakkk, ini gimana?"
"Apa sih Ta..."
"Ikannya marah sama Rista...!!!"
Dedi dan Rista kini tengah memasak di rumah Dika. Sudah makan seafood di luar, tapi Rista bersi keras untuk mengajak Dedi memasak seperti yang ia saksikan di YouTube.
"Itu apinya ke gedean."
"Maaf, lagi-lagi Rista cuma nyusahin," ucap Rista dengan wajah sendu.
"Kamu duduk aja gih."
"Tapi Rista pengen belajar."
Dedi menghela nafas. "Ya udah nih pegang." Dedi menyerahkan spatula yang dipegangnya kepada Rista.
"Tapi jangan teriak-teriak, nanti tetangga kamu pada dateng lagi."
"Paling jam segini mereka udah tidur Kak..."
"Maka dari itu, kalau mereka sampai kebangun gara-gara dengar teriakan kamu, bisa-bisa pada kesini dan ngehajar aku."
"Kok Kak Dedi yang di hajar?"
__ADS_1
"Karena..." Duh, masa gini aja nggak ngerti sih Ta. "Karena, ya..." Gimana jelasinnya ya Tuhan.
"Karena apa Kak?"
"Karena ikannya bisa gosong kalau nggak cepet di balik, tuh, tuh..."
Dedi meraih tangan Rista yang memegang spatula dan membantunya membalik ikan yang sedang mereka goreng di atas penggorengan.
Dedi menelan ludah. Berada dengan jarak sedekat ini dengan Rista membuat jantungnya berontak ingin keluar dari tempatnya. Waktu seakan berhenti berputar. Tak ada suara lain selain hembusan nafas keduanya, tak ada aroma lain yang menguar selain dari tubuh gadis yang berada dalam kungkungannya.
***
Bangun dengan mata sembab, itulah yang dialami Rina saat ini.
"Dika aku kudu gimana..."
Rina menatap foto dirinya dan Dika saat masih bersama. "Aku pergi dari sini saja kali ya..."
"Rinaaa."
Tok tok tok
"Bangun sayang, udah siang nih."
"Iya Ma, bentar lagi turun...!"
"Mama tunggu di bawah ya..."
"Yaaa!!!"
Rina bangkit dari tempat tidurnya dan melakukan ritual pagi secara kilat. 15 menit kemudian ia sudah bersiap dengan tatanan rambut yang baru yaitu poni yang beberapa menit lalu ia pangkas.
"Hahhh, jadi kayak bocah kan?" Rina mengomentari sendiri penampilannya. Ia terpaksa memangkas poni yang coba ia singkirkan, atau mata sembabnya akan jelas kelihatan.
Setelah merasa siap, ia pun keluar menyusul papa mamanya untuk sarapan.
"Pagi sayang," jawab Ririn sambil menuang susu di gelas Rina.
"Hari ini ke sekolahnya gimana?" tanya Papa.
"Bareng Dian Pa."
Reno mengangguk. "Jangan sendiri dulu yang penting ya."
"Iya Pa." Rina nampak memikirkan sesuatu. "Pa, Rina boleh nanya nggak?"
"Apa?"
"Kemaren malem boleh tahu nggak apa yang Papa obrolin sama Dika?"
Reno menghentikan aktivitas tangannya. "Apa yang kamu tahu tentang Dika?" Reno balik bertanya.
"Dia, emm." Rina ragu. Ia takut Dika tak berkenan kalau ia memberi tahukan semua tentangnya pada Reno.
"Kamu takut Dika kecewa kalau kamu beritahu Papa?"
Tebakan Reno tepat sekali. Rina mengangguk sebagai jawabannya.
"Kalau begitu Papa cuma mau bilang 1 hal sama kamu, jika suatu saat kamu bertemu dan jatuh cinta dengan laki-laki, entah itu Dika atau yang lainnya, pesan Papa, cintai apa adanya dirinya, jangan karena hal-hal yang menyertainya."
"Maksud Papa?" Rina tak paham dengan maksud dari ucapan papanya.
"Dika sepertinya lebih nyaman jika kita mengenalnya sebagai apa adanya Dika. Jadi cukup kenali diri dia tanpa perlu menghiraukan segala hal yang ada kaitannya dengan dia."
"Rina masih nggak ngerti Pa."
"Suatu saat kamu akan mengerti. Cepat selesaikan sarapannya."
__ADS_1
Rina sudah tak berani bertanya jika Reno sudah berkata demikian. Ketiganya kemudian makan dengan di selingi obrolan ringan. Rina harus menunda sejenak rasa penasarannya. Dan tak lama setelah sarapan, mobil Dian sudah sampai di pelataran.
"Om, Tan." Dian menyalami Reno dan Ririn.
"Masuk bentar yuk, sarapan."
"Makasih Tan, tapi kita langsung berangkat aja deh, takut telat soalnya. Ya kan Rin?"
"Iya Ma." Rina kemudian menyalami Reno dan Ririn secara bergantian.
"Hati-hati di jalan ya, jangan kebut-kebutan," ucap Ririn saat kedua gadis itu bersiap berangkat.
"Iya Tan, kita berangkat dulu," pamit Dian.
Rina juga melambaikan tangan pada kedua orang tuanya.
"Dika lombanya gimana?" tanya Dian dari balik kemudi.
"Dia belum ngabarin aku," jawab Rina dengan wajah sendu.
"Ya udah lah ya, doi sibuk kali."
"Masak iya..."
"Jangan suka nyimpulin sesuka hati lagi Rin," potong Dian cepat.
"Aku takut Di..."
"Takut kenapa?"
"Takut nggak bisa sama-sama Dika lagi."
"Udah coba jujur dan minta maaf sama dia?"
Rina mengangguk. "Udah."
"Reaksinya?"
"Dia maafin aku."
"Terus apa yang kamu takutin??"
"Rumit Di, semua serba sulit."
Dian menghela nafas. "Asal kamu juga berusaha memperbaiki diri, semua pasti bisa dihadapi."
Keduanya melanjutkan perjalanan dalam diam. Hingga tiba mereka di parkiran, Nita sudah stand by dengan wajah tak sabaran.
"Rin, buruan ikut aku Rin..."
Nita langsung menarik Rina begitu Rina keluar dari mobil Dian.
"Ada apa sih?" tanya Dian yang ikut penasaran.
"Ayo ikut ke mading." Nita berusaha menarik Rina agar berjalan lebih cepat.
"Ada apa sih?" tanya Rina yang harus berlari sepagi ini.
"Rio, Rin, Rio. Kamu nggak bakal nyangka dia kayak gini.
Degh!
Rina kehilangan oksigen untuk bernafas. Kenapa dia ingkar janji, padahal aku sudah menyanggupi permintaannya.
TBC
Say something dear.
__ADS_1