Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Masuk Jebakan


__ADS_3

HAPPY READING


“Kamu kenapa sih?”


Rina yang datang dengan kopi di tangannya langsung disambut dengan sikap tak biasa suaminya. Dika yang biasanya sangat serius saat bekerja, kini terlihat asik tertawa sambil memandangi ponselnya.


Dika meletakkan ponselnya dan beralih menatap istrinya.


“Aku bener-bener penasaran sama pacarnya Andre,” ujar Dika tiba-tiba.


“Kenapa emang? Kamu nggak biasanya loh sebegitu pedulinya sama orang,” heran Rina.


Dika kembali tertawa kecil yang membuat istrinya makin heran.


“Ehm,” Dika berdehem untuk meredakan tawanya. “Aku barusan telfon Andre.”


“Terus?” tanya Rina penasaran.


“Coba tebak…” bukannya menjawab, Dika justru meminta istrinya balik bertanya.


“Sayaaanng. Kerjaan kamu segunung tuh, masih aja ngajak bercada.”


“Bercanda itu penting sayang. Come on, can you guess what's on my mind?”


“Ck apa sih.” Rina nampak berfikir sambil mengetuk-ngetuk jarinya di meja. “Laki-laki kalau bahas soal wanita pasti ada something nih.”


Rina mulai memicingkan mata menatap suaminya. “Jangan bilang Andre…”


“Hmm…” Dika menaikkan alisnya seakan meminta Rina menyelesaikan hipotesisnya.


Rina berjalan memutar. Ia berhenti persis di depan suaminya. Ia mulai mengamati mata Dika dengan jarak sangat dekat. “Aku mencium ada bau-bau kemesuman dari mata lelakimu.”


“Hmm…” Saat ini dengan sengaja Dika menaik turunkan alisnya.


“Iya kan. Terus maksudnya Si Andre udah...” Rina menegakkan tubuhnya. “Wah nggak beres ini. Jangan-jangan


kerjanya suka kacau akhir-akhir ini karena masalah ini?” tebak Rina.


Dika melipat tangannya di depan dada. “We’ll see sayang. Sebentar lagi dia akan datang.”


Rina mendesah. “Sayang. Kamu nggak pengen negur dia apa? Kalau dibiarin terus kan bahaya buat perusahaan,” ujar Rina.


“Ya ini aku mau negur dia.”


Tok tok tok


Baru saja Rina hendak bersuara, sudah ada yang mengetuk pintu dari luar.


“See.” Ujar Dika sambil menunjuk pintu.


Rina mengangguk paham. Ia kemudian berjalan dari dekat kursi kerja suaminya menuju sofa di ruangan yang sama.


“Masuk.” Dika mempersilahkan orang yang mengetuk pintu itu untuk segera masuk.


Pintu terbuka dan muncullah Andre di sana. Wajahnya menampakkan rona namun kantung matanya menegaskan bahwa ia kekurangan waktu untuk memejamkan mata.


“Permisi Pak.”

__ADS_1


Setelah menutup pintu Andre berjalan menghampiri Dika. Ia kemudian berhenti di depan meja bosnya.


“Maaf Pak. Saya benar-benar tidur seperti orang mati,” ujar Andre tanpa ditanya. nampaknya ia tengah mempersiapkan pembelaan diri.


Dika menyeruput kopinya dan meletakkan di atas meja setelahnya.


“Dia nggak bangunin kamu?”


“Dia juga kelelahan Pak.”


Jeng jeng jeng!


Andre mengepalkan tangannya. Ia telat menyadari bahwa Dika sedang menjebaknya. Suasana menjadi hening seketika. Rina pun kini menutup mulutnya dengan mata membola.


Jadi ini yang dimaksud Dika tadi. Batin Rina.


“Ehm…” Dika berdehem dan meraih kopinya. Ia tak puas dengan jawaban Andre. Ia masih penasaran kenapa wajah orang kedua di perusahaannya ini sering kacau akhir-akhir ini.


“Jadi?”


“Jadi apa Pak?” suara Andre terdengar pasrah.


“Sudah ada yang menemani sekarang?” tanya Dika dengan wajah datarnya.


Andre menelan ludah. Kenapa Dika harus menanyakan ini


ya Tuhan.


“Ehm…” Andre sudah berdehem tapi ia masih sulit mengeluarkan suaranya.


Jangan-jangan Dika sudah tahu kalau aku sama Hana?


Dika kali ini berbicara dengan serius dan menatap lurus sekertarisnya. Melihat Andre yang diam saja, ia kemudian bangkit dan mendorong kursinya. Setelah tak ada lagi penghalang, Dika mulai berjalan meninggalkan tempatnya.


Andre perlahan menunduk dan enggan membalas tatapan bosnya. Ia sadar banyak kesalahan yang ia lakukan akhir-akhir ini. Terutama terkait pekerjaan yang tidak tuntas bahkan


tak sempat ia tangani sama sekali. Ia akui keteledorannya. Tak heran Dika yang begitu baik padanya selama ini bisa sangat kecewa kali ini.


Saat ini Dika berhenti tepat di belakang Andre. Andre sadar betul dimana posisi bosnya. Namun ia tak cukup berani untuk bergerak dan memutar badan.


“Ikut saya.”


Andre segera berbalik dan mengikuti langkah Dika. Ternyata bosnya ini mengajaknya untuk ke sofa.


“Duduk.”


Masih dengan kepala menunduk, Andre duduk di sudut berbeda dengan Dika dan istrinya. Saking tertekannya,


bahkan Andre sama sekali tak menyadari jika sejak tadi ada Rina juga di sana.


“Sekarang katakan pada saya sebenarnya apa yang sebenarnya terjadi. Saya hanya tak ingin sampai salah mengambil keputusan hanya karena saya tak tahu benar duduk permasalahan yang terjadi sebenarnya.”


Ya Tuhan. Apa karirku di Surya akan berakhir sampai


di sini. Papa pasti sangat kecewa kalau hal ini sampai terjadi.


“Ndre. Speak up please. Kita tidak sedang berada

__ADS_1


di pengadilan, tapi saya hanya sedang ingin tahu kebenaran.”


“Sebenarnya…”


“Saya tak ingin menghakimi kamu.”


Andre menelan ludahnya. Baru saja mau ngomong tapi udah


keburu dipotong.


“Sekali lagi saya tegaskan, saya hanya ingin tahu apa yang terjadi sama kamu.”


“Saya…”


“Katakan saja. Bukankah kita sudah saling kenal dengan baik cukup lama.”


Andre kembali menelan ludah. Setiap ia hendak berbicara Dika selalu memotongnya. Tak tahukan Dika jika Andre sekarang rasanya ingin menangis saja. Sayangnya di masih punya malu. Masa iya berani menyembunyikan gadis tapi begini saja sudah menangis.


“Apa saya boleh bicara?”


“Tentu,” sahut Dika cepat. “Saya sejak tadi sudah berkali-kali bertanya, tapi anda masih diam saja. Kenapa sekarang malah berlagak minta ijin berbicara.”


Saya minta ijin agar anda tak memotong ucapan saya


lagi bapak. Andre mulai kesal dalam hati. Ia tahu ia salah, tapi kenapa Dika saat ini begitu menyebalkan. Mencerca Andre


dengan pertanyaan tapi tak sedikitpun memberi kesempatan untuk memberi jawaban.


Andre kembali menghela nafas. Saat Dika hendak kembali menyela, tiba-tiba Rina menahan tangannya. Dika menurut dan tersenyum panya Rina setelahnya.


“Benar, semalam dia menginap di tempat saya. Ada sesuatu yang membuat saya tidak mungkin memulangkannya.”


Dika tampak serius mendengarkan, bersama Rina yang juga sama dengannya.


“Saya berjanji jika saya telah menyelesaikannya, saya tak akan ceroboh lagi dalam bekerja.”


“Apa masalahnya serius?” tanya Dika sungguh-sungguh.


“Bagi saya iya,” jawab Andre lugas.


Andre mendongak saat merasa ada tangan yang diletakkan di bahunya. Setelah dilihat ternyata itu adalah tangan bosnya. Wajahnya cerah dan sama sekali tak ada gurat marah. Jika tadi Andre merasa takut sekarang ia langsung dibuat bingung.


Apa maksud tatapan ini? Batin Andre yang sama sekali tak paham perubahan sikap Dika.


“Jangan berfikir saya akan memecatmu. Kamu dan pak Edo adalah dua orang terpenting di perusahaan. Saya cuma berharap kamu bisa cerita kalau memang ada masalah. Jangan dipendam sediri. Karena dengan bercerita meskipun saya tidak bisa membantu apa-apa setidaknya saya bisa membantu pikiranmu agar lebih lega.”


Dika melepaskan tangannya dan menyandarkan punggungnya.


“Dan satu lagi, jangan sampai salah pilih wanita, terlebih jika ia tahu kamu punya posisi setinggi ini,” lanjut Dika sambil merangkul istrinya.


“Apa kamu tidak ada rencana mengenalkan secara resmi kepada kami?” ujar Rina tiba-tiba dengan senyum cerahnya.


Andre masih belum dapat mencerna kondisi yang ia alami. “Jadi saya tidak dipecat?”


Dika beradu pandang dengan istrinya sebelum akhirnya keduanya tertawa. Dika merasa geli saat melihat Andre terombang-ambing begini.


Akkhhhh.... sepertinya saya baru dipermainkan lagi.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2