
^^^Hai, hai, hai... ^^^
^^^Apa kabar semua. ^^^
^^^Semoga pada baik-baik saja. ^^^
...*H A P P Y R E A D I N G*...
"Taksi mana sih. Mana Hp mati..." Rina merutuki nasibnya yang semalam lupa mengisi daya HP.
Rina berjalan perlahan menyusuri jalan dengan berpayung langit senja. Di seberang jalan ia melihat sejoli yang tengah berhenti di samping motornya. Laki-laki itu nampak memasangkan helm untuk gadis yang sepertinya adalah pacarnya.
Diam-diam Rina merindukan saat-saat ia dan Dika berkeliling dengan menggunakan motornya. Motor matic berbody besar dan motor sport dengan kok belakang yang tinggi. Dulu ia selalu menggerutu kala Dika memboncengnya, tak tahunya sekarang ia begitu merindukan momen seperti itu.
Jalan-jalan dan jajan di pinggir jalan. Dika tak pernah sedikitpun memperlihatkan bahwa ia adalah orang kaya, hingga akhirnya Rina sempat merasa resah saat baru saja ia yakin atas cintanya namun Dika harus berkata bahwa ia harus bekerja untuk menyambung hidupnya.
Sempat pesimis namun Rina berusaha mengikuti kata hatinya. Ia akan terus berada di samping Dika saling support untuk memperjuangkan masa depan bersama-sama.
"Rina..."
Sayup-sayup ia mendengar ada yang memanggil namanya. Namun ia kembali acuh. Ngarep banget ya Dika sekarang nyamperin. Batin Rina.
"Rina kan?"
Rina merasa bahunya ditahan oleh seseorang yang membuatnya spontan menoleh untuk dapat melihat dia siapa.
"Awan..." gumam Rina saat mengenali siapa orang yang telah membuatnya berhenti berjalan.
Yang dipanggil Awan itu tersenyum. "Kamu ngapain jalan di sini sendirian?"
"Aku mau pulang, tapi nunggu taxi nggak ada yang lewat," jujur Rina.
"Taxi emang jarang yang lewat sini, kenapa nggak pesen taxi online?"
"Hp mati," jawab Rina sambil kembali meneruskan langkahnya.
"Gue anter ya..."
"Emm, nggak deh."
"Mau jalan sampai rumah?"
Rina terdiam. Kalau pakai mobil aja kurang lebih butuh setengah jam, kalau jalan bisa-bisa tengah malam aku masih di jalan. Batin Rina.
"Kenapa, mau ngitung jarak apa ngitung ongkos?" tanya Awan sambil terkekeh.
"Iya sih."
"Iya apanya?"
Rina tersenyum lebar. "Mungkin menjelang pagi aku baru sampai rumah."
__ADS_1
"Makanya, aku anter ya."
"Oke." Rina mengangguk dengan senyum cerianya. Senyum menawan yang membuat Awan sulit move on dari pesonanya.
"Tapi temenin gue makan bentar ya."
Rina mendongak menatap Awan yang berjalan di sampingnya.
"Udah ayo..." Awan meraih tangan Rina dan menariknya. Ia terus menggandeng tangan Rina sepanjang menyeberang jalan.
"Si merah udah kangen dan pengen banget boncengin kamu," ucap Awan sambil mendekati motor sport merahnya.
Rina diam saja. Ia sama sekali tak ingin menjawab ocehan Awan. Ia menerima helm yang Awan ulurkan dan segera memasangnya di kepala. Awan segera naik ke motornya di susul Rina di belakangnya.
"Aku nggak pernah boncengin cewek setelah kamu mutusin aku." Ucap Awan sebelum mulai melakukan motornya.
Rina tak memberikan tanggapan sama sekali.
"Kamu udah punya pacar Rin?"
Rina masih diam. Aku sudah sering membahas masa depan dengan Dika, tapi sekalipun belum ada kesepakatan untuk balikan. Batin Rina.
"Kamu jomblo ya?" tebak Awan.
Rina menghela nafas. "Kamu dulu kayaknya biasa bawa motor kenceng deh?" Rina coba mengalirkan pembicaraan.
"Emm, kamu kangen aku ajak kebut-kebutan ya?" Awan balik bertanya.
Senyum Awan mengembang di balik helm full facenya. "Kamu pegangan ya."
Rina segera menuruti Awan. Ia berpegang pada sisi kanan dan kiri jaket Awan.
"Pegangnya yang bener dong."
"Ini udah paling bener. Dan kamu konsen aja bawa motornya," ketus Rina tanpa basa-basi.
"Oke..." Awan mengalah dan mulai menambah laju motornya. Sedikit kasar karena ia berharap Rina akan melingkarkan lengannya di perutnya.
Rina tersentak saat Awan memacu motornya dengan kasar. Namun ia masih tetap bertahan untuk tak memeluk tubuh pemuda yang sempat menjadi pacarnya beberapa waktu lalu.
Awan, dia mantan pacar Rina yang berawal dari pertemuan tak sengaja di rumah Nita. Dia adalah tetangga Nita yang tak sengaja bertemu saat Rina bermain ke sana. Mengaku sepantaran tak tahunya masih anak kelas 3 SMP. Mereka jadian saat Rina masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Dan kini Awan sudah kelas 1 SMA.
Awan membawa motornya berbelok di sebuah resto fastfood.
"Kita makan di sini aja ya..." ucap Awan saat baru saja menghentikan motornya.
"Terserah. Aku nggak lapar," bohong Rina. Karena faktanya ia sudah merasa lapar sejak masih di rumah Dika.
Saat menjalan masuk, Rina mendadak berhenti untuk menyingkirkan tangan Awan yang merangkul bahunya.
"Napa sih Rin. Kita dulu kan biasa gitu."
__ADS_1
"Dulu, dulu. Kita itu ada di masa sekarang, bukan masa lalu. Aku nggak nyaman tahu nggak."
Awan mengangkat kedua tangannya. "Oke, aku nggak akan sentuh kamu."
Keduanya berjalan beriringan memasuki area resto. Setelah menemukan tempat, akhirnya mereka duduk dan mulai memesan.
"Rina..."
Rina terkejut dengan kedatangan Dika yang begitu tiba-tiba. Saking terkejutnya, ia hingga menjatuhkan menu yang berada di tangannya.
"Santai dong bro, jangan bikin cewek ketakutan," kata Awan sambil memungut menu yang baru saja Rina jatuhkan.
Rina langsung bangkit dan menatap Dika takut-takut.
"Kamu masih mau makan?" tanya Dika dingin.
"Aku sebenarnya mau pulang," cicit Rina.
Awan meletakkan menu yang ia pegang. "Dia siapa sih?" tanyanya pada Rina.
"Dia..." Rina bingung harus berkata apa.
"Saya tak perlu menjelaskan siapa saya," jawab Dika lugas. "Rina mau pulang sama saya atau masih mau sama dia?" tanya Dika dengan suara rendah namun begitu dingin bagi Rina.
"Awan, aku balik dulu." Rina pamit tanpa menjawab pertanyaan Dika.
"Permisi." Dika meraih tangan Rina dan segera membawanya pergi dari sana.
Tak ada suara antara keduanya. Dika terus berjalan dengan mengenggam tangan Rina. Hingga mereka tiba di depan mobil, dia segera membuka pintu dan membiarkan Rina masuk di sana.
Sementara itu di dalam Awan hanya menatap hampa. Baru saja dia kembali menyusun harapan untuk kembali dekat dengan Rina, namun dalam sekejap Rina sudah dibawa pergi oleh seseorang yang sama sekali tak dikenalinya.
Di dalam mobil, Dika dan Rina bersama dalam diam. Tak ada satu pun yang berniat membuka suara.
Hingga tiba di depan rumah Rina, Dika bukannya menghentikan mobilnya, justru ia malah menambah lajunya.
"Dika!"
Rina yang kalut meneriakkan nama Dika. Berbagai perasaan berkecamuk dalam benak Rina membuatnya merasa takut dan marah secara bersama.
Dika sempat melirik Rina yang duduk di sampingnya. Ada takut di sorot matanya yang membuat Dika menginjak pedal remnya dengan tiba-tiba.
Dika mencengkeram kuat setir di hadapannya berusaha menyalurkan segenap emosinya di sana.
"Dika, kamu jangan gini..." lirih Rina.
Dika diam dan tak bereaksi.
"Kalau kamu marah ngomong aja marah, nggak suka ya bilang aja nggak suka, kalau kamu nggak ngerti itu tanya, jangan diam aja dan kayak gini..."
TBC
__ADS_1