
^^^Harsa diumpetin dulu ya, tapi jangan dilupain. Dia akan muncul lagi di sekuel Zona Berondong yang akan rilis setelah novel ini End.^^^
...*HAPPY READING*...
Hari ketujuh bulan madu pasangan pengantin baru Dika dan Rina. Saat ini mereka tengah dalam perjalanan pulang ke Indonesia.
Kali ini Rina tak hanya melewatkannya dengan memejamkan mata karena tak ada lembur yang ia lakukan bersama Dika yang membutuhkan tenaga ekstra. 2 hari yang lalu tamu bulanannya datang dan akhirnya 2 hari terakhir mereka habiskan dengan berbelanja dan jalan-jalan.
"Nanti tiba di Indonesia kita langsung ke rumah sakit ya?"
"Ngapain?" tanya Rina yang tak paham dengan maksud suaminya.
"Ketemu sama dokter kandungan?"
Rina mengernyit. Aku kan nggak hamil, terus meriksain apa ke dokter kandungan.
Ctak
"Awwhh....." Rina mengusap kening malangnya yang baru saja disentil Dika.
"Kamu kok jahat sih..." desis Rina dengan tatapan tak suka.
"Ya abis kamu diajak ke rumah sakit aja mikirnya lama banget," ujar Dika dengan santainya.
Rina menghela nafas.
"Aku kan nggak hamil sayang, apanya yang mau diperiksa."
"Ini nih, kebiasaan buruk kamu."
Dika membenahi duduknya.
"Gini ya, buat kamu dan para wanita di luar sana, kalau nggak paham itu nanya, jangan main menyimpulkan aja. Apa lagi sama pasangan. Bisa sia-sia tenaga dan waktunya kalau sampai berantem cuma karena hal yang belum jelas."
Spontan Rina terdiam. Pikirannya berkelana ke beberapa waktu lalu, dimana ia mengira bahwa Dika berselingkuh, padahal yang saat itu bersamanya adalah Rista, adik kandung Dika.
"Nah kan, ngelamun. Lagi mikirin apa, hmm?"
Rina menatap Dika dan menarik paksa kedua sudut di bibirnya untuk menampakkan deretan gigi putihnya.
"Aku tuh cuma pengen konsultasi tentang metode pencegahan kehamilan yang baik buat kita, yang paling aman dan minim resiko."
"Kamu serius?"
Dika mengangguk.
"Menunda punya keturunan tak hanya karena kamu masih punya banyak agenda, tapi mempertimbangkan usia kamu juga. Sistem reproduksi yang kamu miliki saat ini belum matang untuk mengalami proses kehamilan, karena jika terjadi akan rentan dan terlalu banyak resiko yang harus dihadapi. Pengaruhnya tak hanya terjadi pada diri kamu, tapi pada janin yang kamu kandung nanti. "
__ADS_1
Rina menghulum bibirnya dan memeluk erat Dika.
"Iihhhhhh...., suami aku kok bisa pinter banget gini ssiiihhhh...."
Dika tersenyum lebar dan membalas pelukan istrinya.
"Punya kamu yang mau stay disampingku aja aku udah bahagia, jadi apa pun yang akan terjadi dalam hidup kita kedepan, aku akan berusaha mempertimbangkan pendapat kamu sebelum menetapkan keputusan."
"Makasih sayang."
"Jangan ditahan kalau kamu merasa tertekan, kita cari jalan lain sebelum kembali melanjutkan perjalanan."
Rina merasa begitu bahagia mendapat sosok suami seperti Dika. Pria tampan yang begitu sempurna. Bisa mengayomi meskipun faktanya berusia lebih muda darinya. Saat itu ia pasti sedang gila, memilih Rio dan meninggalkan Dika hanya karena masalah yang belum jelas sebenarnya.
Di sisi lain, Dika masih harus berjuang mendamaikan hatinya. Ia ingin memiliki keturunan segera, lebih awal dari kebanyakan pasangan lainnya. Melihat anak-anaknya tumbuh dewasa sebelum ia tua. Namun ia sadar, kehidupan rumah tangga ini tak hanya miliknya, tapi juga Rina yang ada untuk mengarungi bahtera berdua.
Untung saja kemampuannya mengendalikan ekspresi yang ia miliki sudah sangat terlatih. Ia terbiasa memasang wajah tenang meski hatinya kerap kali tak demikian. Hal ini sering ia lakukan saat bertemu dengan lawan bisnis yang tak semua peduli akan baiknya hubungan kerja sama dan hanya memikirkan keuntungan semata.
***
"Ded, ini gimana?"
Dedi menghela nafas."Kamu cek ulang bagian penawaran."
"Bagian mana?"
"Ndre, kamu yang akan berada di posisiku setelah semua project yang aku tangani selesai. Jadi please belajar percaya sama kemampuan kamu, jangan semua menunggu keputusanku."
"Tapi aku nggak punya kemampuan sebagus kamu Ded."
Dedi melepas kacamata yang ia kenakan dan memijat pangkal hidungnya.
"Hanya satu anugerah Allah yang menjadi kelebihanku dan tak kamu miliki, yaitu hyperthymesia."
"Tapi aku juga nggak yakin mau nyebut ini anugerah apa musibah, mengingat banyaknya resiko yang bisa muncul kapan saja, jadi aku harus mengantisipasi sebelum resiko ini membuat semuanya kacau."
"Ndre, aku ingat betul bagaimana nyambungnya kamu saat pertemuan awal dengan Dika, pengetahuan kamu yang luas tentang dunia bisnis dan ketertarikan kamu di bidang ini."
"Jangan sampai kelebihan kamu itu tenggelam begitu saja hanya karena bertemu dengan pengidap hyperthymesia seperti aku."
"Aku tak punya iq tinggi, aku hanya punya daya ingat yang terlampau tinggi," imbuh Dedi.
Andre menyadarkan punggungnya di kursi sementara Dedi berjalan ke arah kaca besar di ruangannya. Menatap luasnya dunia dari balik jendela.
***
Setibanya di tanah air, Rina memutuskan untuk ikut Dika pulang kerumahnya. 10 hari selalu bersama sebagai suami istri, membuat Rina merasa tak nyaman untuk tinggal terpisah dengan Dika. Sebenarnya Dika mengizin Rina untuk tinggal bersama orang tuanya sementara ia harus mengerjakan banyak hal di rumahnya.
__ADS_1
Namun ini lah manusia. Hanya bisa berencana namun kenyataan hanya Tuhan yang tahu dengan pasti skenarionya. Rina yang bersi keras ingin menyembunyikan pernikahan dan tinggal terpisah dengan Dika setelah sah namun sekarang ia tak bisa barang sejengkal pun untuk berpisah.
"Kamu yakin nggak mau pulang ke rumah papa mama?"
"Yakin sayang. Kok kamu kayak nggak suka gitu aku ngikut pulang ke sini?"
"Ya nggak gitu Rin, tapi aku cuma pengen kamu tahu kalau aku nggak masalah sesekali kamu tinggal di sana seperti mau kau sebelumnya."
"Itu kan sebelumnya, kalau sekarang beda. Aku maunya sama kamu aja. Boleh?"
Dika menyambut bahagia keputusan istrinya.
"Ya boleh lah. Boleh banget malah. Apa lagi sebentar lagi Dedi bakal pergi, jadi aku akan kesepian tinggal sendiri."
Pasangan suami istri ini berjalan beriringan memasuki rumah.
"Rista udah tahu?"
"Entahlah. Aku kan sama kamu terus akhir-akhir ini, jadi aku nggak tahu apa aja yang terjadi di sini."
Rina mengangguk paham.
"Kamu mau ngapain abis ini?"
"Sepertinya aku pengen ke kantor setelah mandi. Kamu mau ikut apa di rumah aja?"
"Emang ikut boleh?"
Dika tersenyum dan meraih pinggang Rina.
"Siapa yang ngelarang sayang," ucapnya sambil mencium kilat bibir istrinya.
"Kalau ada yang mikir aku macam-macam gimana?"
"Ya kamu maunya gimana?" bukannya menjawab Dika malah balik bertanya.
"Emmm...."
"Udah jangan terlalu dipikirin. Masalah status aku ngikut sama kamu. Mau di unpublish oke, di publish juga oke. Yang terpenting kamu bahagia di sampingku."
"Makasih sayang..."
Dika kembali menyambar bibir Rina, namun tiba-tiba ditariknya saat ia ingat saat tak mungkin masuk dalam ronde permainan.
"Aku mandi dulu," ucap Rina sebelum berlari meninggalkan suaminya yang harus menelan kecewa.
TBC
__ADS_1