Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 First Impression


__ADS_3

Mana nih asupan nutrisinya?


Jangan lupa ngejejak ya.


HAPPY READING


“Novi kalau capek bisa pulang saja. vitamin yang harus aku minum sudah siap kan?”


“Tapi belum jam pulang Nona.”


“Nggak apa-apa. Saya sudah mengizinkan…”


“Tapi saya sudah tanda tangan kontrak dengan pak Andre.”


Hana menghela nafas. “Ya sudah kalau begitu. Kalau kamu capek, bisa kok istirahat di kamar depan.”


“Tidak apa-apa Nona, saya di sini saja.”


Tiba-tiba bibi datang dengan membawa sebuah paket di tangannya. “Permisi Nona, ada paket untuk anda,” ujar bibi setelah tiba di samping Hana.


“Paket apa Bi?” tanya Hana berusaha duduk setelah sebelumnya berbaring di atas ranjang.


“Saya kurang tahu Nona.”


Bibi pun menyerahkan bingkisan berbentuk kotak itu pada Hana. Karena penasaran, Hana pun segera membukanya tanpa menunggu lebih lama.


“Bisa tolong ambilin gunting nggak Bi…” pinta Hana saat ia merasa kesulitan membukan kemasan paket dengan tangan kosong tanpa bantuan.


“Sebentar Nona…”


Bibi pun pergi meninggalkan kamar Hana dan tanpa menunggu lama, ia pun sudah kembali dengan sebuah gunting di tangan kanannya.


“Hp,” gumam Hana saat membuka bungkus luarnya.


Tanpa aba-aba, bibi dan Novi menengok bersama-sama menunggu barang apa yang akan muncul dari balik dosbook HP yang berada di tangan Hana. Novi merupakan perawat yang dibayar Andre untuk merawat Hana. Sebenarnya di dalam kontrak disebutkan bahwa Novi harus menjaga Hana selama 24 jam. Namun sepertinya kontrak itu tak akan berjalan dengan semestinya karena Hana nampak tak nyaman


selalu ditunggui seperti ini.


“Eh, beneran HP loh,” ujar Rina sambil mengangkat HP dari ponsel itu.


“Itu ada suratnya,” ujar Novi saat melihat ada secarik kertas yang jatuh saat Hana mengeluarkan ponsel dari dalam boxnya.


Hana meletakkan lagi posel di tangannya yang segera meraih selembar kertas itu untuk dibaca.


Hana, aku sudah kasih pelajaran buat Andre


Gila ya, kamu bisa diam saja saat dia seenaknya seperti itu.

__ADS_1


Segera aktifkan ponsel ini dan hubungi aku segera.


Rina


Hana menutup mulutnya dengan sebelah punggung tangannya. Antara tak percaya dan tertawa geli melihat isi surat ini. Di bagian paling bawah, Rina tak lupa mencantumkan nomor ponselnya.


“Kenapa Non?” tanya Novi penasaran melihat ekspresi tak biasa dari Rina.


“Ini yang kirim bu Bos.”


“Bu Bos?” ulang Novi penasaran.


“Iya. Wanita cantik yang sama bibi menemani saya di rumah sakit kemarin,” ujar Hana pada perempuan paruh baya yang selalu bersamanya beberapa hari terakhir.


“Oh Nona Rina.”


Hana mengangguk. “Dia ngirimin saya ini,” ujarnya sambil menunjukkan ponsel yang baru ia dapat sekali lagi.


“Ini di kasih?” tanya Novi tak percaya. Pasalnya ini ponsel mahal dengan harga belasan juta. Dia belum pernah memegangnya bahkan ini kali pertama untuknya melihat ponsel ini secara langsung di depan mata.


Hana membolak-balik paket yang baru saja ia terima tadi. Ia mencari barang kali ada bon yang harus ia bayar setelah ini. Ternyata setelah membolak-balik isinya, ia tak menemukan kertas atau semacamnya yang berisi tagihan.


“Sepertinya iya,” jawab Hana akhirnya.


“Ya ampun, ini kan ponsel mahal.”


Hana tertawa kecil melihat reaksi Novi. Ia bukan orang kaya, bahkan sepeserpun ia tak punya uang. Namun ini bukan benda mahal pertama yang ia miliki, tapi mungkin ini cukup berlebihan jika orang biasa yang melihatnya.


Meskipun tak ada kata kasar atau tak pantas yang Novi ucapkan, tapi ia merasa reaksi yang ia berikan cukup berlebihan.


“Saya hanya terkejut melihat barang semewah ini dijadikan hadiah,” jujur Novi mengatan isi hatinya.


Hana menggeleng dengan senyum indah terpatri di wajahnya. “Aku juga kaget, hanya saja aku tak punya cukup tenaga untuk mengungkapkan keterkejutanku.”


Tentunya Hana tak serius dengan kata-katanya. Ia memang terkejut, namun bukan karena jenis hadiahnya melainkan karena Rina lah yang memberi hadiah ini untuknya.


Kenapa aku dulu bisa-bisanya berbuat jahat pada perempuan sebaik kamu Rina. Karena begitu ingin diakui, akhirnya membuatku buta, sehingga aku bisa menyakiti perempuan yang tak pernah berdosa padaku.


“Nona, anda menangis? Apa isi surat itu menyinggung Anda?”


Cepat-cepat Hana menyeka air mata di kedua sudut matanya. Ia kembali mengangkat wajahnya dan menatap dua perempuan beda usia yang sejak tadi berada bersamanya.


Hana menghela nafas. “Rina ini baik sekali. Dulu dia adalah atasan saya sebelum saya berhenti bekerja.”


“Nona pernah bekerja?” tanya Novi.


“Ya pernah. Bisa makan dari mana saya kalau tidak bekerja.”

__ADS_1


“A, em, maksud saya.”


Novi salah tingkah sendiri. Tidak mungkin ia mengatakan apa yang ada di dalam kepalanya. Novi berani bertaruh jikalau pun orang lain yang berada di posisinya, pasti lah akan berpikiran miring tentang Hana seperti dia.


Hana merupakan penggoda yang berhasil menjebak orang kaya seperti Andre untuk menghamilinya. Ia tak punya kemampuan selain mengandalkan wajah cantik dan kemolekannya. Setidaknya itulah first impression Novi terhadap Rina.


Dan Rina siapa? Jangan-jangan ia wanita yang sama dengan Hana ini sehingga begitu perhatian padanya. Dan apa tadi dia bilang, bu bos? Ya Tuhan, berarti pria yang berhasil digodanya lebih kaya dari pada pak Andre. Apakah para pria kaya itu sekarang tak peduli lagi dengan wanita baik-baik dan lebih mementingkan wajah cantik. Lalu apa kabar aku yang berusaha banting tulang mencari uang dengan jalan yang benar. Lingkar mataku menghitam karena sering begadang saat malam, kulitku kering karena terlalu lelah dan tak pernah merawat diri. Ya Tuhan, bagaimana nasib orang-orang kami.


“Novi, apa kamu lelah?”


Novi baru sadar jika ia sudah melamun terlalu lama. Bahkan kini ia tinggal berdua bersama Hana karena bibi pun entah sejak kapan sudah pergi dari sana.


“Tidak Nona.”


“Terus kenapa bengong seperti itu tadi?”


“Emmm…” Novi membasahi bibirnya yang kering sembari mencari alasan. Namun hingga seluruh permukaan bibirnya basah, ia belum juga menemukan alasan. Kemudian ia berusaha menelan ludah sembari mengorek isi kepalanya untuk mencari alasan atas ketidak fokusannya.


“Masih terkejut masalah HP ini?” tebak Hana.


Novi mengangguk saja. Lebih baik ia membiarkan Hana bermain dengan praduganya.


“Saya biasanya memberi hadiah seharga belasan ribu pada teman saya, nah ini Nona mendapat hadiah belasan juta. Maafkan pikiran kampungan saya Nona.”


Akhirnya Novi bisa menemukan alasan logis atas ketidak fokusan yang terjadi padanya kali ini.


Sementara Hana masih menunggu pemasangan beberapa aplikasi di ponselnya, ia memandang lurus menatap perawatnya.


“Jangankan kamu, saya sendiri juga terkejut.” Akan lebih terkejut lagi saat kamu tahu hal buruk apa yang sudah saya lakukan pada Rina. Lanjut Hana dalam hati.


“Emm, Novi. Saya ingin tahu tentang kamu. Bisa kamu ceritakan sedikit tentang siapa kamu sebenarnya?”


Hana sengaja mengajak Novi membahas masalah lain. Ia yakin dalam diamnya perempuan ini tak berhenti memikirkan berbagai dugaan tentang dia. Ia tak bisa menyalahkan Novi, karena dirinya memang akan terlihat salah dilihat dari sisi mana pun juga.


“Saya anak sulung dari tiga bersaudara Nona. Orang tua saya penjual mi ayam, sementara kedua adik laki-laki saya sekarang SMA dan yang satu masih kuliah.”


“Mi ayam? Di mana jualannya?” tanya Hana antusias.


“Jualan keliling Nona. Mau sewa tempat belum ada cukup modal.” Novi menunduk malu di akhir ujarannya.


“Kamu sekarang tinggal di mana?”


“Saya ngekos Nona, biar bisa ngirit ongkos dan uangnya bisa ditabung untuk membantu biaya pendidikan adik-adik saya.”


Novi mengerjap cepat saat merasa ada yang merangsek keluar dari kedua matanya.


“Maafkan saya Nona. Saya suka melankolis kalau sudah membahas keluarga.”

__ADS_1


“Nggak apa-apa.” Hana tersenyum tulus membiarkan perawatnya ini mengekspresikan perasaannya.


Bersambung...


__ADS_2