
^^^Spam komen ya dear, biar author semangat ngehalunya.^^^
^^^-Happy Reading-^^^
"Dik, Dika..." Rina menggoyang-goyangkan lengan Dika karena panggilannya diacuhkan sejak tadi.
"Apa...?"
"Kamu ada masalah sama Rio?" tanya Rina akhirnya.
Dika menggeleng. "Aku bahkan merasa tak pernah mengenal dia sebelumnya."
Mereka dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Aku nggak ingat, sama sekali nggak ingat."
"Atau mungkin Rio salah orang."
Dika menghela nafas. "Jika dia hanya mengenalku sebagai Restu atau Andika, masih ada kemungkinan salah orang. Tapi kalau dia mengenalku sebagai Restu Andika Putra Surya, nampaknya dia memang sudah banyak tahu tentang aku."
"Aku kudu gimana?" gumam Rina.
"Rin." Dika memegang erat kedua bahu Rina, namun hanya sebentar sebelum akhirnya dilepaskan. "Argghh!" Dika mengacak rambutnya frustasi.
"Kenapa? Kamu bisa cerita sama aku, barang kali aku bisa bantu kamu."
Dika menatap Rina dengan tatapan yang sulit diartikan. "Hhuuffhhh." Dika menghembuskan nafasnya kasar dan membawa kepalanya menengadah. "Nggak bisa, aku nggak bisa." Dika bergumam dengan kepala menggeleng.
"Apanya yang nggak bisa?"
Dika bangkit tanpa menjawab pertanyaan Rina. "Kita pulang ya, aku masih banyak kerjaan."
"Dika..."
Dika berjalan tanpa menunggu Rina. Maaf Rin, terlalu rumit saat ini.
Di dalam mobil, Dika masih saja diam. Dia mencengkeram erat setir di hadapannya.
Rina tak berani menatap Dika secara langsung, hanya sesekali melirik tanpa berani bersuara.
"Rin, I've told you something."
"Apa?"
"Mungkin aku tak akan menemuimu beberapa hari kedepan."
Degh!
Apa maksudnya Dika tak bersedia memberiku kesempatan lagi?
"Dan untuk hari-hari kedepan mungkin tak akan banyak waktu untuk berdua jika kita masih bersama."
Seakan mendapat asupan udara, Rina dapat kembali bernafas lega. "Maksudnya?" akhirnya dia berani bersuara untuk bertanya.
"Besok aku akan berangkat olimpiade, dan mungkin itu juga akan jadi momen terakhirku di sekolah."
"Maksudnya. Kamu akan pergi, benar-benar pergi?" Rina tiba-tiba di dera rasa cemas.
Dika menatap Rina tanpa suara.
"Kamu, kamu..." tangis Rina pecah. Dia menghambur ke pelukan Dika. "Aku nggak bisa apa-apa, aku bukan siapa-siapa, tapi izinkan aku peluk kamu untuk yang terakhir kalinya."
__ADS_1
Dika tertawa geli melihat kelakuan gadisnya. Bolehkan dia ku sebut gadisku? Meskipun belum balikan, tapi kita masih saling sayang.
Dika membiarkan Rina memeluknya hingga puas. Sesekali ia mengelusnya sayang.
"Dik, Dika, apa se, se, setelah kamu pe, pergi, ki, ki, kita mas, masih...., hwaaaaa. Ng, ng, nggak bisa ngom, ngomong."
Dika tertawa geli melihat wajah Rina yang kacau. Pipinya basah, matanya bengkak, hidungnya merah, bahkan ingusnya pun nampak meleleh di bawah hidungnya.
"Kamu sayang sama aku?"
Rina yang sesenggukan mengangguk.
"Cinta sama aku?"
Kembali Rina mengangguk.
"Suatu saat mau nggak jadi istri aku?"
Rina yang sesenggukan mengangkat wajahnya. Dia menatap Dika seakan bertanya.
"Katanya sayang, tapi pas ditanya diem aja. Sayang beneran nggak?" Dika tak mampu menyembunyikan senyumnya, bahkan kini ia tengah menggoda gadisnya.
Rina segera meraih botol air mineral yang ada di mobil Dika. Ia juga menyambar tissue untuk membersihkan air mata dan ingus di wajahnya.
Hik
Dia cegukan karena terlalu lama menangis.
"Masih susah ngomong, hik." Meskipun sudah berusaha bicara cepat, cegukan itu masih muncul di saat yang tak tepat.
Dika meraih hidung Rina dan menjepitnya kuat.
"Aw, sakit, awaw, ssaakkkiiiiittt.....!" Rina berusaha melepaskan hidungnya.
"Lancar banget ngomongnya. Nggak cegukan lagi?"
"Eh, kok sembuh ya? Itu tadi mencet Idung maksudnya biar cegukanku sembuh?"
Dika mengangguk.
"Ih..." Rina memukul bahu Dika. "Ih, ih, ih, ih..." Rina menghujani Dika dengan pukulan ke sembarang arah.
Bukannya mengaduh, Dika justru tertawa mendapat perlakuan seperti itu dari Rina.
"Kok diem aja, nggak ngelawan." Rina merasa capek sendiri karena Dika pasrah saja saat ia menghajarnya.
"Kalau pukulnya pake cinta tuh nggak sakit rasanya."
Blush
"Kamu blushing ya, coba sini lihat." Dika menganggat wajah Rina dan mencium kedua pipinya.
"Jadi maksudnya apa?" lirih Rina.
"Yang mana?" tanya Dika.
"Yang katanya mau pergi..."
Dika menghela nafas. "Rin, dengerin ya, Papa udah nggak ada, dan Mama udah sama suami barunya." Dika menjeda ucapannya. "Sebenarnya bisa saja aku sama Rista ikut mereka, uang Om Rudi nggak bakal habis hanya gara-gara ngasih makan kita, tapi..., aku nggak mau gitu. Aku nggak mau apa yang udah Papa perjuangin selama hidupnya di kelola orang lain. Jadi aku memutuskan untuk terjun ke perusahaan sekarang."
"Terus sekolah kamu?"
__ADS_1
"Iya, aku tetep sekolah, tapi aku home schooling."
"Jadi maksud kamu olimpiade ini adalah momen terakhir di sekolah itu maksudnya..."
Dika mengangguk. Meski kalimat Rina tak lengkap, tapi Dika sangat paham maksudnya.
Rina menghela nafas lega sembari mengurut dadanya.
"Setakut itu ya kamu kehilangan aku?"
Rina tak sanggup menjawab. Dia benar-benar merasa malu saat ini.
"Aku juga sayang banget sama kamu." Dika menarik Rina ke dalam pelukannya.
"Aku juga." Rina membalas pelukan Dika.
"Kalau aku sibuk, kamu jaga diri baik-baik ya..."
"Eh tunggu deh," Rina melepaskan diri dari pelukan Dika saat teringat sesuatu yang penting.
"Apa?"
"Emmm, masalah aku sama Rio..." ucapan Rina menggantung.
Dika diam sejenak. "Kalau kaitannya denganku, kamu tenang aja, aku akan cari tahu." Dika meraih tangan Rina untuk digenggamnya. "Kalau yang kaitannya sama kamu, aku juga belum tahu."
Rina mendesah kecewa. "Terus kamu gimana?" tanya Rina ragu.
"Sebenarnya yang paling terancam itu diri kamu sendiri, selain itu Om dan Tante. Mereka pasti terluka kalau Rio memang melakukan ancamannya."
Pandanga keduanya kembali beradu.
"Kalau aku..., bohong kalau aku nggak marah, tapi udah kejadian, mau gimana lagi. Asalkan kamu mau janji bahwa tak akan ada lagi cerita semacam itu di kemudian hari."
"Dika, aku janji. Aku janji nggak bakal bertindak bodoh lagi."
Dika kembali membawa Rina dalam pelukannya. "Janjinya jangan demi aku ya, tapi demi diri kamu sendiri." Dika menatap Rina sejenak. "Tahu nggak kenapa aku ngomong gitu?"
"Kenapa emang?"
"Karena aku juga manusia biasa."
Rina mendengus. "Siapa bilang kamu dewa."
"Maksudnya nggak gitu sayang." Dika mengelus rambut Rina. "Aku juga bisa salah, bisa juga khilaf. Jadi jangan diam kalau aku berbuat terlalu jauh, kayak kemarin."
"Aw! Kok dicubit sih!" protes Dika yang tiba-tiba merasa sakit di perutnya.
"Habis kamu ngomongnya gitu."
"Aku jujur sayang. And see, baru gini aja yang di bawah udah bertingkah." Dika menunjuk bagian tubuh yang di maksud pada Rina.
"Iihh, mesum!" Rina menarik tubuhnya dan membenahi posisi duduknya.
"Makanya, kamu tahan ya kalau aku kelewatan."
Rina mengangguk.
"Aku berharap kita bisa saling menjaga dan menyerahkan semua saat waktunya tiba. Apa kamu keberatan dengan pernikahan di usia muda?" tanya Dika sungguh-sungguh.
TBC
__ADS_1
Say something dear.