
HAPPY READING
Hana masih membeku bahkan saat wanita paruh baya yang ia hindari selama ini dengan hangat memeluknya seperti ini.
“Kamu kemana saja selama ini? Kamu sehat kan?” tanya wanita ini setelah lepas pelukannya.
“Ss, ss, sehat Tante…” jawab Hana terbata.
“Kenapa masih panggil Tante, bukannya papa sejak kamu datang dulu sudah diminta untuk memanggil saya Mama?”
Ucapan Mustika berhasil membawa pikiran Hana berkelana.
Flashback 8 tahun yang lalu
Seorang gadis cantik yang baru saja lulus SMA datang ke sebuah rumah besar nan mewah bersama seorang pria yang mengkalim dirinya papa. Di sana, ia disambut oleh seorang wanita berparas cantik berperawakan sedang dan pemuda dengan paras rupawan berkulit putih seperti dirinya.
“Hana, dia Mustika dan kamu harus memanggilnya Mama, dan yang ini adalah Rio kakak kamu,” ujar Galih memperkenalkan anak dan istrinya kepada Hana.
“Rio anak tunggal Pa. Rio nggak punya adik karena Mama tak pernah melahirkan selain Rio,” ujar Rio dengan menatap sinis Hana.
“Rio, Rio!!!”
Setelah gagal memanggil Rio, Mustika segera berlari untuk mengejar anak laki-lakinya ini.
Dan sejak saat itu Hana tak pernah punya keberanian dan rasa percaya diri untuk muncul di depan dua orang ini. Damun dalam diamnya, ia sungguh ingin mendekat dan menghampiri RIo, dimana Rio terlihat begitu menyayangi dan melindungi Mustika. Ia sungguh ingin berada di dekat Rio merasakan kasih sayang dan perlindungan seorang kakak kala ia lelah dengan tekanan hidup ditambah tuntutan tinggi yang Galih berikan.
Flashback off
“Hana…” Mustika mengulang panggilannya pada Hana saat wanita cantik bertubuh tinggi ini hanya diam saja meski telah ia ajak bicara sejak tadi.
“Apa Tante tidak keberatan saya panggil Mama?” tanya Hana takut-takut. Meski ia senang tapi Hana takut jika tadi ia salah dengar atau bahkan sedang berhalusinasi.
Mustika menggeleng. “Panggil saya Mama…” ucapnya sekali lagi.
“Mama…” ujar Hana dengan bibir bergetar.
Hana tak dapat menahan lagi. Air matanya kembali pecah. Ya Tuhan, ternyata semudah ini? Hanya seperti ini kenapa sejak dulu aku tak berani. Racau Hana dalam hati.
Hana kini tak ragu lagi. Ia menenggelamkan tubuhnya dalam pelukan Mustika. Andre tak mau mengganggu momen ini. Ia meminta salah seorang asisten untuk menunjukkan kamar Rida. Setelahnya ia ingin menidurkan bocah ini di sana.
__ADS_1
Hana tak dapat menjelaskan perasaan macam apa yang kini dirasanya. Satu lagi beban dalam hidupnya berkurang dengan mudahnya, bahkan sebelum ada maaf yang terucap dari mulutnya. Ia sendiri bingung jika memang mengucap maaf itu harus ia lakukan, karena ia tak bisa menyebutkan kesalahan yang ia lakukan. Hanya saja ia merasa sejak awal kehadirannya adalah sebuah kesalahan. Sehingga ia menarik kesimpulan dengan hadir saja salah sehingga apa pun yang ia lakukan akan bermakna salah juga.
“Ehm…”
Cepat-cepat Hana menghapus air matanya saat mendengar Andre berdehem tak jauh darinya.
“Nak Andre, maaf Tante sampai lupa tidak menyapa…” ujar Mustika pada Andre.
Mustika memang sering bertemu dengan Andre di berbagai jamuan bisnis saat mendampingi Galih, namun ia tak menyangka pria dingin ini begitu sederhana saat muncul di luar lingkungan kerja.
“Nggak apa-apa Tante. Hananya saja yang cengeng…”
Mendengar interaksi Andre dan Mustika Hana menarik lebar kedua sudut di bibirnya. Namun demikian, air matanya tak juga berhenti mengalir dari kedua sudut matanya.
“Oh, iya Indah gimana? Tadi Rio sudah mengabari kalau Indah mau melahirkan…” Mustika bertanya pada Andre dan Hana.
“Ketubannya sudah pecah, terus eenng…, itu…” Andre yang semula ingin menjelaskan kini meringis dan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. “Andre nggak paham Tante,” lanjut Andre dengan raut wajah yang tak ada wibawa-wibawanya sama sekali.
Mustika tertawa geli sambil sesekali mengusap-usap punggung Hana yang masih sesenggukan karena terlalu lama menangis sebelumnya.
“Rio juga minta Andre untuk membawakan perlengkapan Indah sekarang…” imbuh Andre.
“Kok sekarang, terus Rangga sama Rida gimana?” tanya Hana susah payah. Ia belum lancar benar berbicara karena masih cegukan bersampur sesenggukan. Namun Andre paham bukan Rida dan Rangga yang Hana khawatirkan, melainkan dirinya yang belum percaya diri saat harus bersama Mustika tanpa Andre di sampingnya.
Hana menatap Andre dengan memelas. Apa yang ditakutkan ternyata benar-benar mengancam.
“Kalau saja tadi Rio bilang, kan bisa papa kamu bawakan,” ucap Mustika lagi.
“Papa?” ulang Hana sambil menunjuk dirinya.
“Iya Papa,” jawab Mustika.
“Papa Hana?” tanya Hana lagi.
“Iya. Papa kamu dan papa Rio juga…” ujar Mustika menjelaskan.
“Astaga…” lirih Andre sambil menepuk dahinya. Bagaimana tidak. Susah payah Hana mengemas tangisnya, ia sekarang sudah kembali banjir air mata. Andre yakin ini karena Mustika yang dengan mudahnya menyamakan Rio dan Hana sebagai anak Galih, suaminya yang telah punya Hana dari perempuan lain di dalam pernikahannya.
“Hana sekarang suka gini ya?” tanya Mustika pada Andre.
__ADS_1
“Ya gitu deh Tan…” Tak ada iba-ibanya Andre menatap Hana, ia justru nampak geli melihat kekasihnya yang ingusan.
“Padahal dulu pas tinggal sama Tante dia jarang sekali bersuara. Batuk, bersin, kentut dan semacamnya aja Tante nggak pernah dengar, apa lagi sampai nangis kejer seperti ini, sama sekali tak pernah Tante bayangkan…”
Biarlah Andre dan Mustika menertawakannya, yang penting Hana sangat bahagia sekarang. Masalah Galih ia tak khawatir karena meskipun kejam, pria ini sudah menganggapnya sejak dulu. Hanya saja yang jadi masalah, apakah Galih mau memaafkannya setelah ia berontak dan tak mau menjalankan perintah Galih demi mendapat pengakuan sebagai anak yang baik. Ia justru pergi dan bersembunyi dibelakang Andre hingga saat ini.
Sejak tiba tadi Hana memang masih bertahan di halaman, depan sehingga sekarang Mustika membawa sejoli ini untuk masuk ke dalam. Rangga juga sudah aman bersama baby sitternya dan sekarang sepertinya juga tengah tidur seperti Rida.
“Hana udah kan?” tanya Andre pada Hana yang baru tiba di ruang tamu setelah sebelumnya membersihkan muka di kamar mandi.
Hana mengangguk dan duduk di samping kekasihnya.
“Aku tahu ada banyak hal yang ingin kamu bicarakan dengan tante Mustika, tapi Rio baru saja menghubungi lagi kalau Indah sedang bersiap untuk dioperasi…” Andre menjelaskan apa yang baru Rio katakan padanya.
“Iya terus gimana tadi?” tanya Mustika karena tadi ia tak dapat mendengar dengan jelas pembicaraan Andre dan Rio meski Andre menerima panggilan anaknya di depannya.
“Dia minta tolong saya mengantarkan segala persiapan yang sudah Indah kemas sebelumnya.”
“Dimana?” tanya Mustika.
“Katanya suruh tanya Mbak yang di rumah ini…” jawab Andre berdasarkan keterangan yang Rio berikan.
“Mbak….”
Tanpa basa-basi, Mustika segera bangkit dan meninggalkan ruang tamu tempat Andre dan Hana berada saat ini.
“Gimana? Masih takut?” tanya Andre setelah di sana tinggal ia dan Hana berdua.
Hana tersenyum lebar dan merebahkan kepalanya di bahu Andre. Selain ia merasa bersyukur karena memiliki kekasih seperti Andre, ternyata takut sedih dan bahagia di waktu yang sama itu cukup menguras tenaga. Sehingga kini ia inggin sejenak menyandarkan kepala untuk sedikit menawarkan rasa lelahnya.
“Ini juga rencana kamu?” tanya Hana dari posisinya.
Andre menggeleng. “Aku tidak tahu menahu masalah ini. Aku hanya punya keyakinan kalau apa pun keadaannya harus kamu hadapi dengan berani. And see, semua teratasi bahkan saat kamu belum bertindak sama sekali.”
“Iya sih…” Hana benar-benar setuju dengan Andre kali ini.
“Makanya, apa-apa itu dicoba dulu biar tahu hasilnya.”
Hana yang semula tersenyum merengut seketika. Baru saja ia menyanjung Andre setulus hati, sekarang kekasihnya ini sudah kembali menyebalkan seperti ini
__ADS_1
Baru saja Andre bisa bicara lembut kepadanya, sekarang ia kembali menggunakan gaya bicara seenaknya sendiri. Jangan lupakan matanya. Mata tajam yang mampu menusuk relung hati Hana paling dalam, kini mulai nakal mengulik sedikit tabir gelap keduanya.
Bersambung…