
HAPPY READING
“Pa…”
“Apa kamu lelah?”
“Maafin Hana Pa…”
“Maafkan Papa Nak…”
Bibir Hana bergetar, matanya memanas. Dan tak perlu menunggu lama, banjir itu segera membuat aliran di wajah cantiknya.
“Maafkan Hana Pa, maafkan…” ujar Hana di sela isaknya.
Hana menelungkupkan wajahnya di atas pangkuan sang papa. Ia memangis sejadi-jadinya. Galih sesekali mengusap lembut kepala Hana dan sesekali menepuk-nepuk bahunya yang bergetar.
Erika, maafkan aku yang tak bisa menjaga anak kita. Sesal Galih di dalam hatinya. Ia sebenarnya kecewa mengapa Hana bisa seceroboh ini dan tak bisa menjaga dirinya. Tapi apa boleh buat, ia sendiri tak menjaga dengan baik anak gadisnya.
Galih membiarkan Hana menumpahkan seluruh tangisnya. Kalau diingat-ingat lagi ini adalah kali pertama ia melihat langsung Hana yang seperti ini. Selama ini ia hanya tahu Hana sebagai anak gadisnya yang kuat dan sangat patuh terhadapnya. Apa pun yang Galih perintahkan, akan beres di tangan Hana kecuali saat terkahir Andre yang berhasil menghancurkannya.
Galih begitu marah saat harus menerima kabar kekalahan Hana. Ia lupa akan banyaknya yang Hana korbankan demi membantunya mencapai berbagai tujuan hanya karena sebuah kesalahan. Apakah itu yang disebut papa?
“Nak, apa kamu mencintai Andre?” tanya Galih begitu tangis Hana mereda.
Hana mengangguk. “Iya Pa.”
“Lalu apa kamu yakin kalau Andre juga mencintai kamu?”
Hana tak dapat langsung menjawab. Ia sejenak terdiam dan mengumpulkan seluruh ingatannya tentang apa yang sudah ia alami bersama Andre.
Semua kepahitan, semua intrik, semua strategi licik sudah merekalakukan, hingga akhirnya keduanya punya keyakinan penuh atas cinta masing-masing insan yang pernah berusaha saling menghancurkan.
“Hana yakin Pa,” jawab Hana akhirnya.
Galih menghela nafas. Ia menegakkan tubuh Hana dan membawa tubuh kurus anak gadisnya ke dalam pelukannya.
“Kita tak bisa melawan takdir. Tapi jika memang Andre itu jodoh kamu, maka tinggal tunggu bagaimana Tuhan menyatukan kalian.”
Air mata Hana turun lagi. Namun bedanya tak ada isak yang menyertai seperti tadi. Ia membiarkan air matanya turun di pelukan sang papa.
Hana tak menyangka, Galih bisa setak berdaya ini dan tak sedikit pun mau berupaya untuknya. Apa sebenarnya sang papa tak benar-benar ingin melihatnya bahagia?
“Nak…”
“Iya…”
“Apa yang Edo katakan tadi benar tentang hubungan kamu dan Andre?” tanya Galih setelah sekian waktu ayah dan anak ini melakukan perjalanan dalam diam.
Hana tak menjawab. Mengakui bahwa ia sudah tak suci bukan perkara mudah. Antara malu dan merasa hina dominan dalam persaannya. Terlebih jika ia harus bicara di depan papanya.
“Tak usah dijawab. Papa sudah mengerti.”
Hana tak sanggup bertemu pandang dengan papanya. “Maafkan Hana Pa…”
“Nak…, kamu itu anak Papa. Apa pun yang terjadi, kamu tetaplah anak Papa. Maafkan Papa yang tak bisa menjaga dan melindungi kamu dengan baik.”
“Pa…” lirih Hana. Di tengah kepahitan hidupnya yang sulit sekali mempertahankan hubungannya dengan Andre, Hana merasa ada setitik cahaya bahagia dari papa dan kakaknya.
__ADS_1
“Kalau ada masalah,ingat. Kamu masih ada Papa…”
Galih mengusap-usap punggung anaknya yang kembali bergetar.
“Tapi untuk masalah Andre, Papa minta kamu bersabarlah. Semua memang tak mudah sehingga kamu tak boleh gegabah.”
Galih menghela nafas untuk menatap putrinya yang nampak kacau.
“Papa bukan orang baik, Papa juga punya begitu banyak dosa. Tapi Papa ingin yang terbaik untuk anak-anak Papa. Untuk kamu dan juga untuk Rio.”
Galih pun malam ini membawa Hana untuk pulang ke rumahnya. Tak mungkin ia membawa Hana ke rumah sakit saat ini, meski Mustika masih ada di sana untuk menemani Indah yang baru akan pulang esok hari.
Dan di tempat Dian, Andre masih bertahan. Pasutri ini kualahan menemani Andre yang mabuk sekarang. Semula Ken tak punya pikiran macam-macam saat Andre menanyakan stok wine yang kerap Ken konsumsi. Ken bukan pemabuk, tapi ia suka minum sesekali.
“Sayang, kamu istirahat ya,” pinta Ken pada istrinya.
“Kamu yakin bisa membereskan dia?” tanya Dian yang iba dengan suaminya.
“Tidak masalah, paling sebentar lagi Andre akan tidur karena kesadarannya sudah tipis sekali. Tck, nggak bisa minum pake gaya-gayaan tadi...”
“Dia memang tidak pernah minum sejak dulu,” ujar Dian memberitahukan perihal Andre dalam belasan tahun pertemanannya.
“Bukan kah anggur itu memang dilarang dalam kepercayaannya?”
“Iya. Selain itu dia memang nggak mau.”
“Dasar bocah tengik. Gimana mau kerja besok kalau gini keadaannya.”
“Entah lah. Padahal perusahaannya tak pernah memberi jeda bahkan sekedar untuk tidur lebih lama,” timpal Dian terhadap ucapan suaminya.
“Ya udah. Intinya kamu tidur ya. Nanti kalau Andre bikin ulah, aku akan panggil orang untuk mengurusnya.”
“Nggak bisa minum lagaknya kayak jago minum. K’O kan…” gerutu Ken sambil menatap kesal Andre yang tergelak tak berdaya
“Hana, sebentar lagi kita juga akan punya anak Hana,hiks hiks. Hana, jangan pergi, Haannnaaa….!!!”
“Hana lagi mandi,” ujar Ken asal.
“Mandi ya. Kamu lelah ya. Salah sendiri tubuh kamu begitu…”
Bugh!
“Udah mabuk mesum pula. Ngidam apa sih mama kamu dulu,” kesal Ken setelah berhasil membuat Andre berhenti mengoceh dengan melempar bantal tepat di wajahnya.
“Hug, hooeeeggkk….”
Ken berkacak pinggang. Ia mendesah dengan mata terpejam. Ia segera pergi meninggalkan Andre, untuk memanggil orang agar bisa segera membersihkan muntahan yang sekarang Andre keluarkan.
Keesokan paginya di kantor pusat Surya Group.
Dika dan Rina baru saja tiba dengan disambut hujan sapa dan salam hormat dari segenap staf yang dilaluinya.
“Apa Hana sudah datang?” tanya Rina pada tiga staf sekertaris yang kini dilaluinya.
“Belum Nona. Pak Andre juga belum datang…” jawab Riza yang tahu jika Andre juga pasti akan dicari.
Dika menghela nafas dan mengajak Rina masuk ke dalam.
__ADS_1
“Ada apa mereka ini?” gumam Dika mengungkap tanya entah kepada siapa.
“Sepertinya kemaren Andre sudah tak marah lagi terkait Hana yang menjadi model untuk Happy Ice Cream.” Rina juga ikut-ikutan menggumam seperti suaminya.
“Aku juga nggak ngerti. Coba kamu hubungi Hana,” pinta Dika pada istrinya.
“Bentar…”
Rina mengutak-atik ponselnya sejenak dan menempelkannya di telinga kemudian.
“Halo…”
Tak perlu menungga lama panggilannya sudah tersambung. Namun saat itu juga Rina justru menjauhkan poselnya dari telinga untuk sekali lagi memastikan ia tak sedang salah menghubungi orang.
Dika menahan diri untuk bertanya pada Rina dan meminta istrinya untuk melanjutkan apa yang sedang dilakukannya.
“Ha, ha, halo…” sekali lagi Rina bicara.
“Halo, Rina…” bahkan suara pria menjawab panggilan Rina untuk Hana juga mengetahui namanya.
“Maaf. Apa ini benar nomor Hana?” Rina yang ragu akhirnya menayakan ini juga.
“Iya. Saya Galih Papanya Hana.”
“Oh. Maaf Om, apa Hana ada?” tanyaRina setelah tahu ia kini bicara dengan siapa.
“Hana semalam demam, dan maafkan saya karena tadi tak langsung memintakan izin untuknya,” jelas Galih sekaligus mengutarakan permintaan maafnya.
“Demam?” kaget Rina. Pasalnya kemarin Hana terlihat biasa-biasa saja. Mana mungkin tiba-tiba demam begitu saja.
“Iya. Sebenarnya sekarang sudah tidak lagi, tapi saya minta dia libur hari ini. Mohin pengertiannya ya.”
“Tidak apa-apa Om.”
“Apa ada pesan mungkin? Nanti kalau Hana sudah bangun akan saya sampaikan.”
“Oh itu, nanti kalau Hana sudah baikan, tolong minta dia segera menghubungi saya. Itu saja Om. Terimakasih.”
“Baik. Akan saya sampaikan.”
“Sekali lagi terimakasih Om, selamat pagi,” ujar Rina mengakhiri panggilan.
“Sama-sama. Selamat pagi.”
Setelah panggilannya terputus, Rina masih diam sambil memandangi layar ponselnya.
“Kenapa?” tanya Dika setelah Rina tak lagi terikat panggilan.
“Itu tadi papanya Hana,” jujur Rina apa adanya.
“Galih Rahardja?” tanya Dika memastikan.
Rina mengangguk tanpa membuka mulutnya.
“Kenapa? Deg-degan ngobrol sama mantan calon mertua,” goda Dika pada istrinya
Rina mendengus. Ia lantas pergi sambil menghentakkan kaki.
__ADS_1
Bersambung…