
HAPPY READING
Hana sedang bersantai di teras samping rumah. Ia sedang duduk sendiri sambil menunggu Andre yang belum pulang juga hingga selarut ini.
“Kenapa Andre belum pulang ya, tumben,” gumam Hana pada dirinya sendiri.
Karena terlalu fokus menunggu Andre pulang, Hana hingga tak sadar jika sekarang Novi sudah berdiri di belakangnya.
“Maaf Nona, ini sudah malam, sebaiknya anda istrirahat di dalam,” ujar Novi mengingatkan. Ia sekarang sudah tinggal di sini bersama Andre dan Hana.
“Saya tidak apa-apa Nov. Saya masih ingin menunggu Andre di sini,” tolak Hana.
“Tapi angin malam tak begitu baik untuk kondisi Anda Nona.”
Hana menoleh untuk dapat menatap Novi. Posisi Novi yang berdiri membuat Hana terpaksa mendongak agar dapat bertemu pandangan dengan perawatnya ini.
“Kamu tenang saja ya. Saya tahu kondisi tubuh saya. Saya akan segera istirahat kalau saya merasakan sesuatu yang tak baik terjadi pada diri saya,” ujar Hana meyakinkan.
Novi tak punya pilihan selain mengiyakan. Ia kemudian mengambil tempat di salah satu kursi yang ada di dekat Hana.
“Kenapa Nona tak coba menghubungi Pak Andre. Siapa tahu beliau sedang ada urusan atau bahkan tak pulang malam ini…”
Hana baru ingat kalau dia punya ponsel. Beberapa waktu terakhir kehidupannya hanya berputar di sekitar Andre. Ia tak mau apa pun bahkan tak butuh apa pun dan tak menginginkan apa pun asalkan ia masih dapat menjangkau Andre.
“Apa perlu saya ambilkan ponsel Nona?” tawar Novi setelah memperhatikan bahwa Nonanya ini tak membawa apa-apa.
Hana menggeleng. “Saya bahkan belum sempat menyimpan nomor Andre…” ujar Hana sambil tertawa kecil.
Novi menutup mulutnya yang terbuka. Di saat yang sama matanya pun membola namun ia biarkan karena tak mungkin ditutup juga.
Hana tertawa kecil melihat reaksi Novi. Meski sudah berusaha ditutupi namun hal ini tak bisa menghalangi pandangan Hana.
“Kamu heran pasti ya?” tebak Hana.
“Maaf Nona…”
Lagi-lagi Hana menarik kedua sudut bibirnya. Novi yang semula belingsatan karena merasa terlalu lancang, kini ia malah dibuat terpukau dengan ciptaan Tuhan di hadapannya.
Si Nona ini memang cantik sekali, jadi nggak heran kalau pak Andre yang tampan dan rupawan benar-benar bertekuk lutut padanya. Bahkan keberadaan surga dan neraka pun tak bisa mencegah kelakuan mereka. Dan parahnya aku juga mengais makan di tengah hubungan penuh dosa keduanya. Oh Tuhan. Apa kah aku termasuk mengais uang dengan cara haram pula?
__ADS_1
Novi harus rela lamunannya pecah berantakan setelah sebuah deru mobil terdengar memasuki pekarangan rumah ini. Tak berselang lama terlihat sososk Andre yang keluar dengan tergesa. Spontan Novi bangkit saat Andre menghampiri Hana yang ada tak jauh darinya.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Andre sambil memegang kedua pundak Hana.
Hana yang bingung melihat Andre yang baru muncul dalam keadaan panic. Ia hanya manggut-manggut sebagai reaksinya atas pertanyaan Andre.
“Kamu kenapa?” tanya Hana.
Hana meraba wajah Andre. Ia menemukan lembam di pelipisnya.
“Bibi mana?” tanya Andre yang nampak melihat kesana-kemari.
“Bibi pamit pulang tadi,” jawab Hana.
“Kamu sekarang masuk mobil ya.” Andre mambantu Hana untuk berdiri. Ia membawa wanita ini untuk masuk ke dalam mobilnya.
“Ini kenapa? “ bingung Hana.
“Sudah nanti aku ceritakan,” jawab Andre cepat.
Novi masih mematung di tempatnya. Ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi saat ini, tapi perasaannya tak enak dan jantungnya pun sudah melakukan orchestra dengan ritme cepat di dalam dadanya.
“Sekarang masuk mobil!” bentak Andre saat melihat Novi hendak masuk ke dalam rumah.
“Tap, tapi barang-barang saya Pak.”
“Tidak ada waktu untuk berdebat!”
Melihat wajah Andre yang terlihat siap membunuh siapa pun yang menghalanginya, Novi tak punya pilihan selain mengikutinya saja.
Andre segera melaju kencang bersama dua wanita ini bersamanya. Saat melintasi gerbang depan, Novi tak sengaja melihat 3 orang yang biasanya bersiaga sudah tergeletak tak berdaya. Jantungnya berdegup kencang, menduga-duga apakah raga itu masih bernyawa atau mereka baru saja meregang nyawa.
Ya Tuhan, ini sebenarnya ada apa…
***
“Kenapa bisa gagal…”
“Maaf Tuan Muda…”
__ADS_1
Brak!!!
Rio menggebrak meja untuk meluapka kekesalannya. “Kalian boleh pergi.”
Rio duduk di ruangan ini sendiri. Ia benar-benar kehilangan ide untuk menyingkirkan Hana. ia tak sejahat itu dengan mengambil hak hidup untuk adik tiri yang tak pernah diakuinya ini, tapi ia benar-benar tak rela melihat Hana bahagia terlebih ketika papanya masih terlihat begitu menginginkannya. Gara-gara Hana ia kehilangan keutuhan keluarganya. Gara-gara kemunculan Hana pula ia dan mamanya harus menanggung beban di hati mereka.
Rio segera bangkit meninggalkan ruangan sederhana yang menjadi tempat ketiganya setelah kantor dan rumahnya. Ia sesekali ke sini jika ada urusan yang tak mungkin ia bahas di kantor atau di rumahnya. Termasuk tentang misi menyingkirkan adik iparnya ini.
Rio tak ingin lebih lama berada di rumah kecil sederhana ini. Ia ingin segera kembali ke rumahnya, karena yakin sekarang Indah dan kedua anaknya sedang menunggu kepulangannya.
Baru saja ia membawa mobilnya berjalan, dering panggilan langsung mengusiknya.
Rio menghela nafas saat melihat siapa yang kini tengah menelfonnya. Orang itu tak lain dan tak bukan adalah Indah, istrinya. Ia mengambil headset dan segera memasangkannya di telinga.
“Halo sayang…”
“Mas, kamu dimana?” tanya Indah di seberang sana.
“Ini sedang dalam perjalanan pulang, kenapa? Apa kamu ingin dibawakan sesuatu?” tawar Rio. Sebenarnya ini hanya alibi nya saja agar Indah tak curiga ia pulang terlambat. Ia bukan ahli dalam membohongi istri, jadi ia harus berfikir ekstra agar istrinya tak curiga. Indah bukan tipe istri yang suka dibawakan buah tangan saat suaminya pulang kerja. Ia lebih suka suaminya segera tiba di rumah dari pada dibawakan oleh-oleh yang hanya akan membuat jam pulang suaminya tertunda.
“Kamu nggak lagi nutupin sesuatu dari aku kan?”
Nah kan, sudah coba membuat Indah tak curiga karena ia ada urusan lain setelah pulang bekerja, tapi nyatanya istrinya justru tergiring untuk mencurigai sang suami.
“Ya banyak lah yang ditutupin. Badan juga masih ditutupin,” elak Rio.
Terdengar helaan nafas di seberang sana.”Ya udah, apa pun itu kamu cepat pulang ya.”
“Iya. Tapi beneran kamu nggak pengen dibawain apa-apa?” Rio berusaha konsisten dengan tawarannya. Berharap dengan demikian Indah tak akan curiga jika ia tengah menyembunyikan sesuatu seperti yang sudah Indah sangkakan.
“Enggak Mas. Cepet pulang ya, aku tunggu di rumah…”
“Iya sayang…”
Rio melepas headsetnya begitu Indah memutuskan panggilannya. Ia tahu Indah tak pernah suka dengan tindakannya ini, karena bagaimana pun juga Hana tak pernah minta di lahirkan oleh siapa dan dalam keadaan bagaimana. Toh menurut Indah, Hana tak pernah sengaja membuat masalah dengan Rio atau pun ingin mengambil alih tempat Rio sebagai anak kebanggan Rahardja. Ia hanya ingin punya masuk dan memiliki keluarga.
Namun tetap saja Rio merasa Hana telah menghancurkan kebahagiaan keluarganya.
Bersambung…
__ADS_1