Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Pemutaran Iklan


__ADS_3

HAPPY READING


“Tapi aku nggak biasa di make upin, aku biasanya pakai make


up sendiri,” kekeh Hana yang berusaha menolak Ivan untuk meriasnya.


Hana begitu kekeh ingin meloloskan dirinya dari sentuhan tangan halus Ivan ini karena begitu geli dengan pembawaannya yang gelumai dan kemayu. Ia benar-benar geli meski tahu kemampuan Ivan sudah banyak diakui.


Namun sepertinya Hana gagal bahkan saat sebelum sempat melakukan perlawanan.


“Tapi kali ini kamu harus nurut!”


Baru saja Hana ingin meloloskan diri namun Ivan dengan gerakan gesit menahannya. Dan hanya dengan sekali dorong, Hana berhasil dibuat duduk tak berdaya. Ivan memang kemayu dan gemulai, tapi jangan lupa dia tetaplah laki-laki yang punya tenaga lebih besar dari pada wanita.


“Kamu diem kamu manut. Kamu harus jadi gadis manis sekarang,” ujar Ivan sambil menggerakkan telunjuknya seolah ia adalah mama yang sedang mewanti-wanti anaknya.


“Rin, kamu habis ini ya, sepertinya Hana harus dipermak ekstra,” ujar Ivan dengan mata persis seperti peran antagonis di dalam drama.


“Aku nggak mau menor,” ujar Hana pasrah akhirnya.


“Tenang saja, aku ahlinya membuat look make up yang sempurna tanpa kelihatan kalau banyak printilan yang diaplikasikan,” ucap Ivan percaya diri. Bukan hanya omong kosong memang, karena Ivan memang punya banyak sekali pengetahuan dan pengalaman.


Hana hanya bisa pasrah. Sebenarnya ia memang bisa urusan make up, tapi kalau harus dibandingkan dengan kemampuan Ivan yang memang seorang make up artist yang sangat terkenal di kalangan selebritis tentu Hana tak ada apa-apanya. Sebagus apa pun kemampuan make up Hana, pasti lah tetap tak sebaik Ivan yang merupakan pakarnya.


“Ya ampun calon imam aku…” pekik Ivan tiba-tiba saat Dika juga muncul di sana. Di ruangan ini memang banyak orang, tapi dengan tinggi badan Dika yang di atas rata-rata maka kehadirannya akan mudah sekali disadari. Terlebih saat ia selalu bersinar di berbagai suasana dan kesempatan seperti ini.


“Apa sih Van, jijik dengarnya.” Dika bergidik sambil menghindari tatapan teman istrinya ini.


“Jangan gitu lah bos, namanya juga cari kesempatan,” ujar Ivan masih dengan nada kemayu andalannya.


“Tck. Bisa dikira beneran nggak doyan perempuan kamu kalau terus begini,” ujar Dika memperingatkan.


“Nggak apa-apa, belum usia 30 juga. Nanti kalau sudah waktunya, aku juga bakal jadi pria sempurna dengan sisi maskulin yang tak bisa dikemas rapi,” ujar Ivan dengan kepercayaan diri eksta.


Ivan perlahan mulai memoles Hana. Ia mengacuhkan pasutri yang selalu manis ini.


“Kamu lahirannya kapan sih Tsay?” tanya Ivan di sela menggarap wajah Hana.

__ADS_1


“Emm, kurang dari dua bulan,” jawab Rina sebelum menerima suapan dari suaminya.


Dika ke sana memang bukan untuk menemui Ivan atau melihat apa yang pria ini lakukan, tapi mengecek kondisi istrinya yang biasanya akan lapar setelah beberapa waktu tak makan apa-apa.


“Anak kamu cewek deh kayaknya, habis kamu kinclong banget sekarang.”


“Makasih…” ujar Rina dengan senyum lebarnya.


“Emang kapan istriku nggak cantik Van…” protes Dika tak terima.


“Iya, iya Bos. Gitu aja sewot…” ujar Ivan dengan jemari terus saja menari di wajah ayu Hana.


Dan Ivan pun tak main-main dengan ucapannya. Ia berniat untuk membuat Hana menjadi yang paling bersinar malam ini. Rina yang nantinya akan Ivan rias juga tak perlu semendetail Hana, karena selain ia bukan menjadi bintang untuk produknya tapi juga karena ia sedang hamil tak bisa asal menempelkan make up di wajahnya.


Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Hana sudah Ivan sulap menjadi tuan puteri sekarang. Jika biasanya Hana sudah cantik, kini auranya sungguh berbeda. Tak salah memang semua mengelu-elukan kemampuan Ivan dalam menyulap penampilan orang terutama wanita.


“Han, ayo keluar…” ajak Rina saat Hana hanya diam saja sambil menatap dirinya dalam pantulan kaca. Kali ini Rina juga tak menggunakan kursi roda, karena ia sudah menahan diri untuk tak berjalan seharian ini.


“Rin, nanti kamu saja ya…” pinta Hana yang nampaknya mulai cemas menjelang acara.


“Ya mana bisa, orang iklan sama poster gambar kamu semua.”


“Udahlah. Ayo…”


Saat Rina masih belum dapat meyakinkan Hana, kini Andre muncul di sana bersama Dika yang tadi sempat keluar untuk menyapa undangan yang hadir dalam acara mereka.


“Kenapa?” tanya Dika saat Andre menahan langkahnya.


Andre menggeleng, namun matanya begitu nyata terpaku pada Hana.


“Gimana? Cantik kan?”


Ivan sudah seperti hantu saja. Ia yang semula tak ada kini muncul begitu saja dan bahkan sudah merangkul Hana.


“Nggak lu turunin gua potong ya,” ancam Andre yang langsung melangkah dengan tergesa. Ia segera menghempas tangan Ivan dari bahu Hana yang mengenakan gaun terbuka dibagian bahu dan punggung atasnya.


“Eh, eh eh, ye siape. Mentang-mentang Hana sudah jadi princess sekarang mau dikekepin,” kesal Ivan yang merasa lebih berhak berada di dekat Hana.

__ADS_1


“Sebelum kamu cemongin dia sudah aku kekepin...”


Andre terlihat menahan ucapannya saat Hana tiba-tiba mencubit lengannya.


Andre lantas mendelik sembari melepaskan cubitan Hana. ia kemudian tanpa ragu mengenggam tangan kekasihnya. “Apa sih Sayang. Dia ini buaya. Bentukannya aja gemulai tapi kalau ada yang bibirnya merah dikit aja langsung digasak sama dia,” ujar Andre mengatai Ivan yang memang sudah cukup lama saling kenal dengannya.


“Tapi kalau ngomong jangan suka asal, kan malu dengernya,” omel Hana dengan suara pelan.


“Aku nggak asal, aku kan cuma pengen dia tahu kalau kamu itu milik aku.” Sengaja sekali Andre berbicara keras seperti ini. Sepertinya ia ingin membuat Ivan tahu bahwa ia tak bisa menjadikan Hana targetnya.


“Enak aja ngaku-ngaku!” Ivan kemudian menatap Rina dan Dika berharap pasangan ini mau bicara bahwa Andre tak ada apa-apa dengan Hana “Eh, emang bener ya.” lanjut Ivan saat kalimat yang ia nantikan tak kunjung ada yang mengucapkan.


“Benar, dan tidak lama lagi kami akan jadi suami istri,” ujar Andre dengan penuh percaya diri.


“Si Andre kelamaan jomblo jadi halu ya.” Ivan masih berusaha tak mempercayai ucapan laki-laki ini.


“Udah, udah. Emang mereka pacaran.”


Setelah bicara, Dika segera meraih tangan Rina dan membawanya keluar dari sana. Andre pun melakukan hal yang sama dengan Hana dan meninggalkan Ivan yang masih diam tak percaya.


“Hebat juga Andre ini. Aku pikir dia tak doyan wanita, tahunya masih bisa lihat ada yang mening juga,” gumam Ivan sebelum ikut keluar mengikuti empat yang lainnya.


Acara ini memang sangat meriah. Banyak media yang dihadirkan untuk keperluan promosi dan iklan. Belum diluncurkan saja produk ini sudah berhasil menggaet acara untuk disponsorinya. Tentu hal ini akan menunjang penjualan saat produk sudah meluncur di pasaran.


“Baiklah hadirin sekalian, mari kita saksikan bersama-sama peluncuran iklan resmi secara serempak di berbagai media. Kita hitung sama-sama ya… sepuluh, sembilan,” pembawa acara mulai menghitung dan semua undangan mulai mengikuti.


“Delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu…”


Wajah ayu Hana langsung menghiasi layar besar yang memang disiapkan sebelumnya. Semua mata yang melihat takjub dengan iklan yang digarap dengan baik meski produk yang dijual hanya es krim dengan harga ekomonis yang menyasar berbagai kalangan usia dan ekonomi.


Setelah kagum dengan konsep dan kualitas iklan, semua mulai mengomentari wajah ayu model tunggal yang ada di sana. Wajah wanita di dalam iklan nampak begitu cantik namun asing di layar kaca. Memang Hana bukan selebritis yang bahkan sedikit sekali orang yang mengenalnya.


Hana yang merasa mulai dibicarakan mulai merasa tak nyaman, terlebih saat ingat sebentar lagi ia akan naik panggung sebelum akhirnya melakukan wawancara tebuka dengan awak media bersama Rina dan Dika tentunya.


Mata sipit Hana mulai bergerilya, mencari keberadaan Edo dan istrinya.


Apa sekarang mereka datang?

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2