
HAPPY READING
“Maksud kamu apa?” tanya Rista yang nadanya sudah naik lagi.
“Ya, saya sudah lama kagum sama Nona,” jawab Lili masih dengan terus memandangi Rista.
Rista menggeleng tak percaya.
“Kalau boleh saya juga ingin memeluk Nona.”
“Nggak, nggak, nggak.” Rista bangkit dari tepat duduknya. “Kamu gila ya, kamu…” Rista tak mampu melanjutkan kata-katanya. Ia mencak-mencak sambil menunjuk-nunjuk wajah Lili tanpa peduli sekarang ia sedang ada di mana.
Merasa situasi berubah tak baik, akhirnya Rina bangkit dan memegangi pundak adik iparnya yang sangat tinggi ini. Tak berhasil membawa tubuh ramping ini duduk kembali, akhirnya Rina pun mengusap-usap punggung adiknya berharap dengan begini emosinya akan mereda.
“Udah, udah. Malu dilihat orang?” lirih Rina yang berharap akan didengar oleh adik iparnya ini.
“Tapi Kak…”
“Ayo duduk dulu…”
Rista menolak saat Rina mengajaknya untuk kembali ke tempatnya.
“Ayo… Malu dilihat banyak orang,” lirih Rina lagi.
Rista tampak memperhatikan sekitar. Kedai ini tak terlalu ramai, namun pengunjungnya cukup banyak hanya sekedar untuk mempermalukan diri. Akhirnya ia duduk meski dengan perasaan terpaksa.
“Sebenarnya ada apa?” tanya Rina pada dua manusia ini.
Lili yang sebenarnya bingung tampak memperhatikan Rista yang sedang berapi-api.
“Sebenarnya kalian kenapa? Apa kalian sebenarnya saling kenal dan pernah ada masalah?” tanya Rina yang benar-benar dengan situasi tak nyaman yang muncul secara tiba-tiba ini.
Rina diam setelah menyelesaikan ucapannya. Sepertinya tak ada link yang memungkinkan Rista dan Lili saling mengenal satu sama lain? Range usia jauh, jadi tak mungkin mereka satu sekolah, lingkungan social juga beda, lantas apa? Batin Rina.
“Diantara kalian siapa yang mau bicara terlebih dahulu?” desak Rina sekali lagi.
“Biar Lili aja yang ngomong. Biar Kak Rina dengar langsung dari dia,” ketus Rista.
Spontan Lili mengangkat wajahnya. Ia terkejut dengan ucapan Rista lengkap dengan nada tak sukanya.
Apa Nona Rista tahu aku adalah penggemarnya? Apa dia marah gara-gara aku yang hanya penggemarnya dengan lancang memakai pakaiannya?
Lili memperhatikan penampilannya lagi.
Tahu gini aku tadi menolak permintaan Nona, ya walau pun aku akan dikenai denda atau potong gaji, setidaknya idolaku tak marah seperti ini.
“Ngomong kamu!”
Bentakan Rista berhasil mengembalikan kesadaran Lili. Ia kembali menunduk dihadapan dua nonanya ini.
__ADS_1
“Sebenarnya saya…”
Lili mengangkat sedikit wajahnya, namun segera ia tundukkan lagi setelah tak sengaja bertemu pandang dengan idolanya.
“Ayo katakan,” desak Rista.
Rista mengernyit. Sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka berdua ini.
“Saya…”
Lili benar-benar sedih. Kenapa dia harus bertemu idolanya dalam situasi seperti ini.
“Ayo katakan saja,” ujar Rina meyakinkan
“Tapi saya tak enak Nona,” jawab Lili atas desakan Rista.
Rista menghela nafas. “Asal kamu jujur, kami tidak apa-apa?”
“Apa anda yakin?” tanya Lili hati-hati.
“Iya. Asal kamu jujur kami pasti bisa menerima.”
“Dan juga kamu tahu diri dengan batasan-batasan yang akan kami tetapkan nanti,” lanjut Rista saat melihat Lili hendak membuka mulutnya.
Lili menghela nafas.
“Saya sebenarnya…” Lili kebali mengirup nafas untuk mengisi rongga di dalam paru-parunya.
“Sebenarnya apa?” tanya Rina yang sudah penasaran.
“Sebenarnya saya…”
Saking gugupnya, Lili hingga dapat mendengar detak jantungnya sendiri. Ia menghirup nafas dan menghembuskannya kasar. Ah sudahlah, meskipun seorang Rista Andini akan membenci fansnya yang bernama Eliza Khoir, setidaknya aku merupakan fans yang sudah sangat beruntung bisa bertemu secara langsung dengan idolanya.
Kakak beradik ini sedang menatap lekat perempuan yang sejak tadi lebih banyak diam ini. Dan yang ditatap pun mulai memberanikan diri untuk membalas tatapan keduanya.
“Saya sebenarnya adalah penggemar berat Nona Rista Andini…”
“Apa?!”
Dua wanita ini mengeluarkan kata-kata yang sama, namun ekspresi yang digambarkan sungguh berbeda. Sama-sama membulatkan mata, Rina dengan ekspresi takjubnya, sedangkan Rista mulutnya menganga tak percaya.
“Kamu jangan bercanda di situasi yang seperti ini,” ujar Rista karena apa yang Lili ucapkan ini benar-benar di luar perkiraannya.
“Benar Nona. Saya adalah subscriber di chanel youtube Nona, saya juga follower di instagram Nona, di twitter juga, meskipun Nona jarang memposting foto close up yang menampakkan wajah, tapi setiap postingan Nona adalah semangat untuk saya…”
Rista masih mengerjap tak percaya. Sementara Rina sudah kegirangan karena tak menyangka adik iparnya punya penggemar berat seperti Lili ini.
“Gila, gila, gila. Nggak nyagka loh kakak. Ternyata adik tercinta
__ADS_1
punya penggemar juga.”
“Ada banyak Nona. Bahkan ada fanbasenya. Kami menamainya Risdi Lovers.”
“Kok Risdi?” tanya Rina.
Rista juga merasa sama. Sebagai tanda persetujuan, ia pula
menganggukkan kepala.
“Itu singkatan Nona,” jelas Lili dengan berbinar. Ia sangat senang karena Rista yang semula nampak sangat marah padanya, kini api yang menyelimutinya entah sudah hilang kemana.
“Singkatan?” kaget Rina lagi.
Sementara kakak iparnya penasaran, dirinya jedag-jedug membayangkan apa yang akan Lili ucapkan nantinya.
Risdi. Kenapa Risdi? Apa orang di luar sana tahu hubungan masa laluku dengan Dedi?
“Risdi itu singkatan dari Ris yang merupakan nama depan Nona, dan Di diambil dari Andini. Kami merasa nama ini unik, dan karena Nona tak pernah mau berinteraksi dengan kami sehingga kami mensepakati nama ini setelah melalui prose votting. Maafkan kami Nona.”
Rista menarik sudut bibirnya lebar. Tak lupa ia mengurut dadanya lega. Ia juga mengisyaratkan bahwa ini tak masalah dengan menggelengkan kepala.
“Eh… Itu wajah kenapa?” tanya Rina yang menyadari perubahan wajah adiknya ini yang semula cemas kini terlihat lega tiba-tiba tanpa tahu penyebab pastinya.
Lili juga sama. Ia baru tahu kalau idolanya ini moody sekali. Sebentar-sebentar marah, sebentar-sebentar sedih, sebenatar-sebentar bahagia. Tapi ia tetap mengidolakan Rista Andini.
“Enggak,” jawab Rista dengan senyum lebarnya. Ia kemudian mengambil salah satu es krim secara acak dan mulai memakannya. Melihat dua orang yang tengah memandanginya ini, Rista hanya nyengir sambil terus memakan es krim yang tadi diambilnya. Ia bahkan tak sadar mengambil rasa pisang yang sama sekali tak ia sukai selama ini.
Dih. Dasar bocah. Tinggal ngaku apa susahnya sih. Saking salah tingkahnya ngambil es krim rasa pisang juga tetep di makan. Batin Rina dalam hati.
“Jadi penasaran kalau kalian tiba-tiba ketemu gimana ya.”
“Nggak mau,” Rista spontan menyahut ucapan Rina.
“Ha ha ha ha.” Buru-buru Rina membungkam mulutnya yang menyemburkan tawa tak elegan miliknya. “Nyaut lagi,” lanjutnya sebelum kembali tertawa namun tak sepecah tadi.
Rista yang kembali dibuat salah tingkah segera mengambil satu sendok es krim dam memasukkan ke dalam mulutnya.
Lili langsung mendekat saat nonanya mengisyaratkan.
“Kamu tahu nggak Rista paling nggak suka apa?” tanya Rina begitu Lili berada dalam jarak cukup dekat dengannya.
“Setahu saya sih pisang,” jawab Lili sedikit ragu. Pasalnya selama ini belum ada seorang fans pun yang mampu berinteraksi secara langsung dengan Rista, jadi fakta ini belum dapat dipastikan kebenarannya.
“Kamu lihat,” kata Rina sambil menunjuk Rista yang sepintas nampak asik dengan es krimnya.
“Ya makanya itu, saya ragu informasi yang saya dapat valid apa tidak…” jawab Lili yang juga fokus dengan es krim pisang di tangan Rista.
“Ha ha ha ha…”
__ADS_1
Rina tak menjawab. Ia justru kembali menyemburkan tawa tak elegan yang tak tertahankan.
Bersambung…