
^^^Enjoy this part ya.^^^
^^^Saran visual masih ditunggu.^^^
^^^-Happy reading-^^^
Tok tok tok
"Permisi Pak..."
Semua menoleh ke arah pintu yang menampakkan Rina yang tengah berdiri di sana.
"Dari mana kamu? Apa tidak dengar tadi ada bel masuk?" tanya guru yang tengah mengajar di kelas Rina.
"Maaf Pak, tadi saya sakit perut, jadi saat bel saya masih di toilet." Rina terpaksa berbohong karena ia tak mungkin mengatakan yang sejujurnya.
"Kalau masih sakit saya ijinkan ke UKS sekarang."
"Terimakasih Pak, saya tadi sudah sempat minta obat ke UKS". Dan beginilah kebohongan. Sekali mencipta, maka akan muncul kebohongan lain untuk menutupi kebohongan yang sudah ada. Begitu seterusnya hingga tak ada yang tahu kapan ujungnya.
"Kalau begitu silahkan duduk."
Rina membungkuk ketika melewati gurunya.
"Kamu beneran sakit?" tanya Nita dengan berbisik.
Rina mengangguk. Dia masih harus berbohong agar temannya ini tak menanyainya macam-macam.
***
"Andika!"
Dika menerima botol air mineral yang baru saja dilempar oleh kakak kelasnya itu. Kenapa mereka terus memanggilku Andika, padahal sudah aku bilang namaku Dika.
"Untung tadi kamu cepat bertindak, kalau nggak kita bisa langsung pulang setelah babak penyisihan," ucap Tommy yang duduk di sebelahnya.
"Namanya juga Tim, jadi ya kudu saling menyempurnakan." Dika membuka botolnya dan menenggaknya perlahan.
"Tapi beneran deh, bakal langsung kesingkir kita tadi kalau kamu nggak segera nemuin kesalahan dan cepat memperbaikinya sebelum penilaian." Panca yang melempar botol tadi segera bergabung bersama keduanya.
"Lu yakin bakal ninggalin sekolah abis turnamen ini?" tanya Tommy.
"Ha?! Mau kemana?" Panca terkejut mendengar pertanyaan Tommy untuk adik kelasnya ini.
Dika tersenyum dan kembali menenggak minumannya hingga tandas. "Aku dan adik buruh biaya, jadi kudu kerja Kak."
"Kerja apa kamu, dimana. Terus sekolah kamu?" tanya Panca penasaran.
"Nerusin usaha kecil-kecilannya almarhum Papa. Sekolah aku homeschooling."
"Homeschooling kan nggak murah ogeb," Panca menoyor kepala adik kelasnya ini.
"Ya tapi kan bisa nyambi kerja."
"Kerja apa sih kamu?" tanya Tommy.
__ADS_1
"Cuma nerusih usaha peninggalan almarhumah Papa."
"Mobil lu, rumah lu? Masa nggak ngecover biaya kehidupan lu sampe lulus SMK seenggaknya." Panca berbicara dengan nada serius.
"Yang namanya warisan kan ada habisnya. Masa iya aku baru mikir kerja kalau udah nggak punya apa-apa."
"Eh Res, Mama kamu kan masih ada. Dia nikah lagi sama dokter deh kayaknya...."
"Selama aku bisa kenapa aku harus bergantung sama mereka." Dika menyela ucapan Tommy. Ia tak ingin membahas Mama dan ayah tirinya. Ia masih merasa sakit hati terhadap mereka.
Panca dan Tommy menyadari beruban raut wajah Dika. Mereka segera merangkul Dika dari sisi kiri dan kanan.
"Kita hargai keputusan kamu, kita kayak gitu cuma karena kita merasa sayang harus kehilangan orang secerdas kamu di sekolah," kata Tommy.
"Kalau kamu repot dan butuh bantuan, kamu bisa calling kita. Ya siapa tahu nanti kalau usaha kamu itu udah maju bisa rekrut kita-kita jadi karyawan, ya nggak."
"Yo i." Tommy menimpali.
"Thanks Kak. Makasih juga udah bimbing aku selama ini."
Ketiganya kemudian kembali ke hotel untuk persiapan babak selanjutnya yang akan dilaksanakan nanti malam.
***
"Bocah kok cemberut aja?"
Kini Dedi dan Rista sedang dalam perjalanan menuju kos Dedi. Dia harus mengambil beberapa perlengkapan sebelum nanti menemani Rista menginap di rumah Dika.
"Nih." Rista menunjukkan layar ponselnya pada Dedi. Di sana nampak Rista tengah melakukan outgoing call kepada kakaknya.
"Sama sekali nggak ngasih kabar Kak dari pagi."
"Sabar ya cantik."
Rista yang cemberut segera menyimpan ponselnya kembali. Dedi pun berbelok di sebuah bangunan kos-kosan dan berhenti di sana.
"Kamu mau ikut apa mau nunggu sini aja?" tanya Dedi ada Rista.
"Kakak lama nggak?"
"Emm," Dedi nampak berfikir.
"Sini aja deh."
"Oke."
Dedi pun keluar dari mobil dan menuju kamar kosnya ya tak jauh dari sana.
Baru saja Dedi keluar, ada sebuah mobil yang datang dan parkir tepat di sebelahnya. Dari dalam keluarlah seorang laki-laki dan perempuan yang berjalan memasuki bagian los yang lebih dalam.
"Itu kan pacarnya Kak Rina. Jangan-mereka udah putus," gumam Rista dengan riang. Rista yang penasaran segera keluar mengikuti mereka.
Rio dan Indah terus berjalan melewati kamar Dedi. Rista masih diam-diam mengikuti mereka hingga tepat saat hendak menginjakkan kaki di anak tangga pertama, ia merasa ad seseorang yang menahan tubuhnya.
"Kakak," ucap Rista saat mengetahui Dedi adalah pelakunya.
__ADS_1
"Kamu mau kemana? Kamar aku dah kelewatan tuh."
Langkah kaki lain yang terlebih dahulu menaiki tangga itu berhenti. "Siapa sih?" Rio hendak berbalik namun Indah mencegahnya.
"Paling juga penghuni kos lain."
"Jangan-jangan mereka ngikutin kita," ucap Rio sambil menyingkirkan tangan Indah.
"Jangan GR, penghuni kos ini banyak Lo."
Rio nampak berfikir. Ia mengurungkan niatnya untuk kembali dan meneruskan langkahnya ke kamar Indah.
"Ih, Kakak..." Rista yang merasa rencananya gagal segera mendorong tubuh Dedi hingga masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu tadi ngapain?" tanya Dedi sambil menatap Rista yang tengah menutup pintu kamarnya.
"Ngikutin pacarnya Kak Rina. Mungkin mereka udah putus, buktinya laki-laki itu ke sini sama cewek."
"Kalau belum putus gimana?" Dedi menyerahkan 1 buah teh kotak kepada Rista.
"Ya tinggal aku fotoin biar diputusin sama Kak Rina."
"Biar apa?"
"Biar diputusin lah Kak, terus balik sama Kak Restu. Gitu aja nggak ngerti." Rista segera membuka sedotan yang terbungkus kertas itu dan segera meminum teh kotak di tangannya.
"Kamu ngerti apa emang tentang orang pacaran?"
Rista terdiam dengan menggigit ujung sedotannya. "Cowok dan cewek saling suka, eh sayang ding." Kembali Rista terdiam untuk menimbang. "Saling cinta juga, terus cowoknya bilang sama cewek, kalau dia suka cinta dan sayang." Rista terus berbicara terkait teori pacaran yang ia ketahui membuatnya tak sadar kalau Dedi kini terus memperhatikannya dengan jarak yang sangat dekat.
Tuhan, rasa ini ada karena-Mu. Ijinkan hamba membiarkan rasa ini tumbuh.
"Terus kalau ceweknya udah bilang iya dan mereka punya perasaan yang sama, akhirnya mereka pacaran...."
Cup
Rista terkejut karena ada benda basah dan kenyal yang menempel di sudut bibirnya. Hanya sekejap namun membuat Rista melupakan susunan kata yang siap ia presentasikan.
Dedi mendadak dirundung rasa bersalah. Apa yang sudah aku lakukan?! Dedi merutuki tindakan bodohnya. Ia segera bangkit dan melayangkan bogeman ditembok yang tak jauh darinya.
Melihat itu, Rista segera bangkit dan meraih tangan yang memerah itu.
"Kenapa tembok di pukul sih Kak?"
"Kamu nggak marah?"
"Untuk?" Rista melonggarkan kepalan tangan Dedi dan meniup-niupnya.
"Maafin Kakak ya." Dedi meraba sudut bibir Rista yang sempat di kecupnya.
Rista mengerjap-ngerjapkan matanya. Aku kok deg-degan sih.
TBC.
Say something dear.
__ADS_1