Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Apa bisa?


__ADS_3

HAPPY READING


“Saya tidak setuju. Bagaimana pun juga kita juga harus mempertimbangkan kemampuan Nona Hana. Masa iya sakaliber Surya Group asal comot untuk model produk terbaru kita. Apa kata dunia.”


Andre yang biasanya lebih banyak diam dan bicara seperlunya saat rapat kini justru terlihat menjadi vokal dalam pertemuan ini.


Kenapa Andre tiba-tiba bisa seperti ini?


Sebenarnya ini bukan sesuatu yang tiba-tiba. Ada alasan dibalik sikap Andre yang tak biasa. Alasannya apa? Ya apa lagi kalau bukan Hana.


Hana meremat tangannya. Diam-diam tatapan tajam ia hujamkan untuk Andre yang berada sedikit jauh darinya. Ia kesal tentang penilaian Andre terhadapnya yang ungkapkan secara gamblang di dalam ruang rapat. Ia ingin bilang itu salah. Tapi kalau dipikir-pikir lagi Andre sekarang sedang membantunya.


Bisa. Sebenarnya Hana sangat bisa jika hanya menjadi model atau bahkan brand ambassador untuk es krim yang ia garap bersama Rina. Namun ia tak mau. Sehingga ia harus rela saat Andre tanpa canggung mengungkapkan penilaian buruk  terhadap dirinya.


“Tapi tak ada yang lebih baik dari Hana Pak Andre. Kalau memang menurut anda Hana tidak bagus, tolong anda berikan saran atau option lah setidaknya tentang siapa yang tepat untuk menempati posisi ini?”


Baru saja Hana lega karena penilaian terhadapnya turun, Rina membuat namanya terombang-ambing lagi. Di satu sisi ia tak mau, namun jika sampai ada masalah proyek yang ia lembur siang malam selama dua bulan penuh ini mengalami kendala, maka usahanya akan sia-sia.


“Tapi Nona, Hana ini bukan seorang profesional yang bisa mengerjakan ini. Jadi ya jangan dipaksakan lah. Produk sudah bagus, semua sudah berjalan semestinya, masa tinggal promosinya saja kita asal-asalan menggarapnya…” ujar Andre yang dihadiahi anggukan oleh beberapa orang di sana.


Mendengar Andre berbicara, Hana kembali bisa mengangkat kepalanya. Meski sedikit sakit karena diremehkan, tapi tak apa lah. Itu lebih baik daripada harus dikenal orang. Bukannya Hana terlalu percaya diri karena akan menjadi terkenal hanya karena menjadi brand ambassador es krim, tapi posisinya yang merupakan kekasih Andre, pasti akan membuat namanya gampang diingat.


Andre memang hanya sekertaris Dika, tapi namanya cukup terkenal karena punya banyak bisnis sampingan yang hyping sekarang. Selain itu ia juga punya nama di dunia investasi yang kian menambah pundi-pundinya. Sehingga nama Andre sering wara-wiri di media meski ia bukan selebrita melainkan karena kesuksesannya di usia yang masih begitu muda.


Tak hanya masalah hubungannya dengan Andre, tapi Hana juga akan lebih mudah dikenali karena ia dengan mudahnya masuk dan bergabung di perusahaan besar seperti Surya Group.


Dua faktor tersebut diantaranya yang akan dengan mudah


menimbulkan tanya tentang siapa Hana sebenarnya. Jika rasa penasaran sudah naik, maka identitasnya akan diburu dan diangkat ke media. Ini yang paling Hana tidak mau. Ia yang tengah memperjuangkan restu orang tua Andre dan pengakuan Galih bisa-bisa meledak sebelum mencapai tujuannya.


Katakan lah Hana terlalu over thinking, tapi memang ini lah yang paling ditakutkannya.

__ADS_1


“Ehm…”


Hanya dengan satu deheman, ruang rapat langsung berhasil dibuat tenang. Setelah semuanya diam, perhatian terpusat pada satu tujuan yaitu Dika sebagai pemegang kendali rapat kali ini.


“Sejak tadi sepertinya anda sekalian hanya membahas bagaimana sebaiknya, dan seperti apa tidak baiknya. Tapi di luar itu, kita lupa melibatkan Nona Hana dan mendengarkan pendapatnya,” ujar Dika menengahi kegaduhan dan perang pendapat di hadapannya.


“Benar. Saya rasa apa yang dikatakan Pak Restu memang ada benarnya. Nona Hana, apa pendapat Anda jika Anda harus menjadi model brand ambassador Happy Ice Cream?” tanya seorang anggota rapat.


“Saya rasa mau atau tidaknya Nona Hana bisa ditangguhkan urgensinya. Tapi yang terpenting, bisa atau tidak beliau melakukan pekerjaan ini,” sahut Andre cepat sebelum Hana menjawab pertanyaan yang dialamatkan padanya.


Dika menghela nafas. Ia tahu Andre tak setuju jika Hana mengabil pekerjaan ini, tapi bagaimana pun juga jika sudah seperti ini profesionalisme kerja menjadi harga mati untuk semua.


“Pak Andre, tolong sementara waktu anda menahan diri, dan berikan waktu agar Nona Hana dapat bicara,” ujar Dika bermaksud membungkam mulut sekertarisnya.


Andre lerlihat menghela nafas dan dihembuskan lewat mulutnya untuk sedikit mengurangi kesal yang ia rasa. Mungkin jika tidak ada banyak peserta lainnya, ia akan memilih untuk baku hantam dengan bosnya saat menyangkut kekasihnya.


“Baik. Maafkan saya. Silahkan Nona Hana…” ujar Andre dengan berat hati. Di sini ia dan Hana adalah rekan kerja. Meski semua juga tahu mereka adalah sepasang kekasih, saat di sini mereka tak boleh membawa serta romansa. Terlebih saat Dika sudah menunjukkan dominasinya, ia tak bisa berbuat apa-apa.


Andre mendadak bingung dengan apa yang Hana katakan. Sayang ia tak mungkin menyela seperti halnya saat mereka sedang berdua.


“Tapi apa yang Pak Andre katakan benar. Saya bukan professional di bidang periklanan terlibih saat harus melakukan sesuatu di depan kamera. Saya benar-benar tidak bisa,” ujar Hana dengan nada tegas dan penuh keyakinan.


Samar-samar Andre menarik kedua sudut di bibirnya. Pandai sekali kamu Hana. Membuat orang mengumpulkan segenap perhatian terhadapmu untuk kemudian kamu lempari bom waktu yang sudah siap dengan powernya.


“Tidak bisa?” ulang Rina. “Apa pernah ada riwayat kegagalan sebelumnya?” tanya Rina yang paling tak terima saat Hana melawan inginnya.


Hana menggeleng. “Sama sekali saya tidak ada pengalaman dan pengetahuan tentang pekerjaan ini, sehingga hal ini bukannya gagal lagi, tapi saya benar-benar tak tahu cara untuk melakukan,” ujar Hana dengan intonasi yang sama seperti sebelumnya.


“Nah, itu dia…”


Suara renyah Rina berhasil merebut perhatian di ruangan ini yang semula terpesona dengan pembawaan Hana.

__ADS_1


“Nona Rina ada ide?” tanya seorang peserta rapat.


“Ada jelas ada. Kenapa kita tak melakukan uji coba saja terhadap Hana,” ujar Rina lugas.


“Rin, kenapa kamu maksa banget sih… Ehm Nona Rina maksudnya…” Saking kesalnya Andre sampai lupa dimana sekarang dia berada. Sehingga ia memanggil Rina layaknya mereka sedang berada di luar area kerja.


“Karena lebih simple saja,” jawab Rina dengan mudahnya.


“Mana bisa alasan itu diterima.” Andre masih berusaha mencegah Rina menetapkan Hana sebagai modelnya.


“Nona Rina, sepertinya keinginan anda butuh alasan yang jelas untuk menguatkan. Jadi di depan semua audience, tolong anda paparkan alasan kenapa harus Nona Hana yang menjadi brand ambassador Happy Ice Cream kita,” pinta Dika yang menanggalkan posisinya sebagai suami dan mengenakan posisinya sebagai orang nomor satu di perusahaan ini.


“Baiklah…” ujar Rina menerima permintaan suaminya.


Hana yang berada di sampingnya membantu Rina untuk berdiri. Sambil memegangi perut besarnya, Rina mulai membuka suara.


“Pertama, saya ingin segera meluncurkan produk ini ke pasaran. Kenapa segera? Karena perut saya sudah sebesar ini dan saya tak ingin cuti dengan pekerjaan yang tertunda atau belum tuntas. Kedua, karena ini segera maka harus memilih orang yang sudah paham benar tentang produk ini. Sehingga ia bisa menjelaskan berdasarkan apa yang ia pahami, bukan sekedar yang ia baca. Dan untuk hal ini tentunya tidak ada yang lebih memahami dari pada kami tim penggarap.”


Semua anggota rapat mengangguk setuju dengan alasan yang baru saja Rina ungkapkan.


“Dan dari keseluruhan tim, saya rasa hanya Nona Hana yang paling pantas muncul di depan kamera? Apakah alasan saya ini belum bisa diterima?” tanya Rina pada semua yang ada di sana.


Semua tim inti Happy Ice Cream memang ada di ruangan itu. Tanpa diminta semua mulai memandangi satu-persatu anggota. Dan setelah semua selesai saling mengamati, memang Hana yang menjadi pemberhentian mata mereka.


Menyadari hal ini, Rina kembali bersuara. “Dulu sebelum Nona Rista memutuskan untuk mundur, dialah yang saya gadang untuk menjadi brand ambassadornya dan beliau sudah setuju. Namun sayangnya karena suatu alasan beliau harus mundur dan saya menemukan Hana yang bertalenta untuk menyelesaikan semua keruwetan yang kala itu belum mampu kita atasi.”


Seluruh anggota tim menganggukkan kepala setuju tentang hal ini. Mereka ingat benar betapa ruwetnya project dua bulan lalu pasca mundurnya Rista karena selain cantik gadis ini juga cakap dalam bekerja. Dan setelah Hana bergabung semua dengan mudahnya teratasi tanpa membutuhkan waktu yang lama.


“Jujur awalnya saya tak sedikitpun ingin menjadikan Nona Hana pengganti Rista hingga sejauh ini, namun sepertinya masalah ini saya juga harus menaruh harapan yang sangat besar pada anda Nona…” ujar Rina menjatuhkan pandangannya pada Hana.


Hana menghindari kontak yang hendak dibuat Rina. Jujur ada senang di hatinya saat ia bisa memberikan manfaat dan merasa dibutuhkan seperti ini. Tapi apa bisa?

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2