Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Trap


__ADS_3

...*HAPPY READING*...


Cklek!


Rina masih berusaha menetralisir keterkejutannya saat tiba-tiba seseorang mendorongnya dan mengunci dirinya di kamar mandi.


Ada apa ini. Siapa yang kurang kerjaan di kantor ini mengerjaiku. Apakaah ia merasa sudah cukup cerdik dengan cara seperti ini. Batin Rina sambil meraih ponsel di sakunya.


Brak brak brak


Rina sempat memggedor pintu, namun tak ada respon dari luar. Ia menahan diri untuk berteriak karena rasanya akan percuma. Ia yakin jika tak ada orang lain di luar selain pelaku yang tak mungkin menolongnya.


Saat hendak menghubungi seseorang, tiba-tiba lampu mati.


Rina punya cukup takut dengan kondisi ini, namun ia masih bisa bertahan untuk tak menangis dan mengubah saat ini.


Dia berusaha menghubungi Dika untuk segera mendorongnya. Setelah tak ada jawaban, Rina baru ingat kalau suaminya sedang rapat.


Dia memutar otak untuk menghubungi siapapun yang bisa menolongnya. Bisa saja ia langsung menghubungi bagian keamanan, namun ia tak ingin membuat pelakunya sadar dan pergi sebelum Rina temui.


"Lukman." Ia mengingat nama itu kemudian. Sayang ia tak punya nomor Hpnya. Yang Rina ingat hanya satu, Lukman bekerja di bagian keuangan.


Rina berusaha menghubungi seseorang yang ia hara bisa menghubungkannya dengan Lukman dan got it, sekarang Rina tengah berbicara dengan Lukman.


Lukman adalah salah seorang yang Rudi bantu hidupnya, tak ayal hal ini membuat ia sedikit banyak tahu siapa Rina secara pribadi.


Tak lama kemudian Lukman muncul bersama pintu yang terbuka. Rina lega saat pemuda berperawakan kecil ini menolongnya.


"Alhamdulillah. Makasih banyak Lukman."


"Iya Nona."


Rina segera keluar bersama Lukman.


"Siapa yang ngerjain Nona Rina kayak gini?"


"Saya juga nggak tahu pasti. Yang jelas dia adalah orang yang merasa tak suka dengan keberadaan saya di sini."


Di persimpangan Rina berhenti.


"Makasih banyak Man, kamu udah mau menolong saya."


"Jangan sungkan Nona, ini tak seberapa dengan pertolongan yang telah diberikan Pak Rudi untuk keluarga saya, jadi sudah sepantasnya saya menjaga anda sebagai menantunya."


"Sekali lagi terimakasih banyak. Saya harus segera pergi dari sini sebelum ada yang menatap aneh kita."


Lukman membukukkan badan saat Rina melaluinya. Ia kemudian kembali ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.

__ADS_1


Lukman Hakim adalah 1 dari sekian banyak orang yang hidupnya mendapat bantuan dari Rudi. Dulu ia adalah pemuda penjual air mineral yang tak sengaja di temui Rudi di jalan. (Kalau yang lupa bisa cek part keberangkatan Dedi ke Amerika).


Beberapa hari setelah bertemu dengan Rudi di jalan, Lukman benar-benar mendatangi tempat sesuai yang tertera di kartu nama Rudi. Dan bertemulah mereka di rumah sakit.


Di sana Rudi mengajak Lukman berbincang dan barulah Rudi tahu jika Lukman baru saja lulus SMA. Sayang ia tak punya uang untuk meneruskan ke perguruan tinggi, jadi ia memutuskan mencari nafkah dengan mengasong di jalan.


Melihat Lukman merupakan anak yang jujur dan baik, ia menawarinya bekerja di rumah sakit. Ia juga menyarankan Lukman untuk kuliah agar kelak bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Berkat dorongan Rudi Lukman juga berhasil meraih beasiswa untuk kuliahnya dan hasil dari bekerja di rumah sakit sebagai pengantar makanan digunakan untuk biaya hidup dan sesekali membantu keluarganya.


Dari situlah Lukman merasa Rudi sangat berjasa dalam hidupnya. Jika tanpa arahan Rudi, mungkin hingga saat ini ia masih menjadi pedagang asongan di jalan dan belum mampu memberikan kehidupan yang layak pada orang tuanya.


Orang tua Lukman yang awalnya pemulung dan tinggal dipemukiman kumuh, kini sudah punya rumah kecil dan berjualan makanan di rumah.


Beruntungnya lagi saat Lukman melamar di perusahaan Dika, ia di terima sebagai staf bagian keuangan. Lukman berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan bekerja sepenuh hati untuk Dika dimanapun ia ditempatkan.


***


Saat ini Rina berada di ruang CCTV bersama dua orang security


"Pak, Pak. Coba ulangi beberapa menit."


Security itu melaksanakan apa yang Rina minta.


"Pause Pak."


Rina mengamati dengan sesama sosok wanita yang dicurigainya.


"Bisa Nona."


Rina mengernyit saat merasa ia mengenal siapa yang menjadi pelaku pengunciannya di kamar mandi. Memang ia tak apa-apa, ia juga tak terluka, tapi yang semacam ini tak boleh dibiarkan begitu saja.


Rina takut pelaku akan mengulangi tindakan buruknya jika tak diberikan efek jera.


"Buatkan salinan ini untuk saya Pak."


"Tapi peraturan perusahaan tak mengizinkan tindakan ini Nona, kecuali ini permintaan dari pihak berwajib."


"Apa menurut kalian menunggu benar-benar ada korban sehingga kita bisa lapor polisi untuk mengatasi masalah ini?"


Dua orang security itu saling beradu tatap.


"Bukankah akan lebih baik jika perusahaan kita tak perlu terlibat dengan polisi untuk masalah seperti ini?"


Rina tersenyum miring saat kedua security ini tampak terintimidasi. Sepertinya kemampuan Dika sedikit demi sedikit sudah ditularkan pada sang istri.


" Bagaimana? "


Rina terus mendesak saat dua orang ini masih sibuk dengan pikirannya.

__ADS_1


" Baik Nona, tapi siapa yang akan bertanggung jawab masalah ini."


"Saya."


Jawab Rina dengan begitu tegas dan tanpa ragu. Akhirnya Rina berhasil mendapatkan rekaman CCTV yang di dalamnya terekam dengan jelas siapa orang yang sudah berani bermain-main dengannya.


"Terimakasih Pak. Saran saya jangan sampai kalian lengah menjaga keamanan kantor ini, jika tak mau pekerjaan ada bermasalah dikemudian hari. Permisi."


Rina pergi segera meninggalkan ruang CCTV. Ia bergegas untuk kembali ke ruangannya.


Ia melewati deretan staf sekretaris sebelum memasuki ruangannya. Ia sempat menyapa seperti biasa sebelum menghilang di balik pintu.


Ini belum saatnya. Ia masih menahan diri untuk bertanya pada pelaku apa maksudnya mengunci dirinya di kamar mandi. Untuk saat ini ia tak mau konsentrasinya terbagi. Ia inginemyelesaikan semuanya sebelum pertengahan tahun ini.


Tak berselang lama Dika pun datang dan langsung menuju kursi kebesarannya.


"Apa ada masalah?" tanya Rina saat melihat wajah tak biasa suaminya.


"Kita sempat kecolongan, untung Andre gerak cepat, jadi bisa segera diatasi."


"Kecolongan apa sayang."


"Kecolongan data perusahaan. Rancangan kita untuk project pengembangan game sempat dicuri. Ada peretas yang bisa menjebol pertahanan kita, untung Rio dan timnya segera sadar ada kejadian ini. Mereka tak menarik data kembali tapi membiarkan saja karena masih dalam proses percobaan. "


Dika memutar kursinya dan menghadap Rina.


" Dan kamu tahu siapa pelakunya? "


Rina menggeleng.


" Rahardja. "


Rina membulatkan mata.


" Rahardja? Ini kan... " ucapan Rina menggantung.


" Benar. Itu adalah perusahaan ayahnya Rio. Gila memang!"


Dika tampak kesal saat menceritakan hal ini.


"Aku pikir perseteruan Rahardja dan Surya selesai setelah Rio bekerja sama dengan kita," ujar Rina


"Aku juga pernah berfikir seperti itu," timpal Dika.


Dika menghela nafas. "Aku jadi kasihan sama Rio."


Rina mengernyit. "Dia harus bersaing dengan ayahnya sendiri."

__ADS_1


TBC


__ADS_2