
Gemes nggak, gemes nggak?!!
Gemes dong. wkwkwkw
Jangan lupa**supportSenja terus ya.
Akan ada tanda cinta untuk lima orang terpilih dari Senja yang akan diumumkan diakhir bulan ini.
**Big hug, kiss, kiss, kiss.
HAPPY READING
Andre sedang berada di rumah sakit sekarang. Ia tengah berusaha mencari jejak kepergian Hana. Ia benar-benar tak tenang, terlebih mengingat kondisi Hana pasca mengalami keguguran.
“Permisi Om…”
“Masuk Andre,” ujar Rudi saat melihat Andre diambang pintu ruangannya. “ Silahkan duduk…” ujar Rudi kemudian.
“Terimakasih Om.”
Andre menarik kursi dan duduk di hadapan Rudi.
“Andre, saya minta maaf atas kejadian kemaren.”
Rudi merasa perlu meminta maaf meski kejadian hilangnya Hana terjadi di luar kuasanya sebagai pemilik rumah sakit, tapi ia tak bisa cuci tangan begitu saja.
“Tidak Om. Harusnya malah saya yang meminta maaf karena telah membuat kekacauan di rumah sakit ini,” jawab Andre.
Rudi menghela nafas. “ Bagaimana, apa sudah ada kabar tentang Hana?”
Andre menggeleng. “Saya kesini mau minta ijin sama Om. Apa saya boleh memeriksa cctv yang ada di rumah sakit ini untuk mencoba menemukan petunjuk kemana saya harus mencari Hana?” tanya Andre to the point.
“Tentu.” Rudi kemudian bangkit. “Mari saya antarkan ke ruang security.”
Andre mengikuti Rudi tanpa menjawab lagi. Semua harus ia lakukan dengan cepat sehingga ia benar-benar menghindari apa pun yang bisa menghambat pergerakannya termasuk berbincang dan basa-basi lebih lama dengan Rudi.
Ruang keamanan memang menjadi salah satu tempat di rumah sakit ini yang hampir tak pernah Rudi datangi. Sehingga saat orang nomor satu di rumah sakit ini datang, semua petugas keamanan dibuat kocar-kacir tak karuan.
“Kalian santai saja. Saya maklum jika ruang ini tak se bersih ruang rawat pasien atau ruang para pekerja media,” ujar Rudi saat melihat para penjaga keamanan sibuk menyembunyikan sampah dan kotoran yang ada di beberapa bagian.
Di tengah keruwetannya, Andre dibuat tertawa dengan tampang-tampang panic para pria berperawakan kekar ini. Ada beberapa diantaranya yang terlihat pucat saat berdiri di depan pria yang masih terlihat tampan di usianya yang sudah matang.
“Saya hanya ingin kalian membantu anak Andre untuk melihat rekaman cctv.”
__ADS_1
“Baik Dokter,” serempak beberapa orang.
“Baik Andre, saya tinggal ya.”
“Terimakasih banyak Om atas bantuannya.”
“Sama-sama.”
Rudi bersiap pergi meninggalkan ruang keamanan ini, namun belum juga melangkah ia kembali memutar tubuhnya.
“Kalian memang tak berhubungan langsung dengan pasien, namun saya tak mau jika kalian yang harusnya menjaga keamanan justru sakit karena tak bisa menjaga kebersihan,” ujar Rudi sebelum benar-benar meninggalkan ruangan.
Semua yang ada di sana tak ada satu pun yang menjawab dan bahkan hanya menundukkan kepalanya dengan dalam.
“Pak, bisa saya lihat rekaman cctv……….”
Andre mengawali investigasinya dengan mengecek CCTV yang berada paling dekat dengan kamar Hana. Ternyata setelah semua diperiksa, Hana memang keluar sendiri. Tak ada orang yang dengan paksa membawanya seperti yang Andre sangkakan sebelumnya. Ia bahkan baru sadar jika kemarin ia pulang tanpa jas yang ia kenalan sebelumnya. Karena ternyata jas itu Hana kenakan saat kepergiannya.
Andre kembali merutuki keposesifannya pada Hana hingga tak memberikan alat komunikasi padanya sama sekali. Jika ada ponsel setidaknya ia masih ada cara untuk mengetahui keberadaannya. Bahkan ponsel yang Rina berikan pun ia anggurkan dan tak pernah ia gunakan. Dan sekarang berakhir di tinggalkan begitu saja di rumah yang sempat ia tinggali dengan Hana.
“Terimakasih Pak…” ujar Andre pada dua orang operator yang ia mintai bantuan barusan. Ia ingin mencoba mencari jejak Hana dengan datang ke tempat-tempat yang mungkin Hana datangi saat ini.
Sebelum meninggalkan rumah sakit ini, ia tak lupa menemui Rudi terlebih dahulu untuk sekedar mengucapka terimakasih atas bantuan dan kebaikan ayah dari bosnya ini.
Tok tok tok
“Siapa?”
“Aku Risma…”
Hana bangkit perlahan dan berjalan menuju pintu.
Cklek!
Setelah pintu terbuka muncullah Risma dengan membawa dua kantong kresek di tangan kanan dan kirinya.
“Maaf ya aku minta kamu ngunciin pintu, soalnya ini kosan campur, aku khawatir kalau sampai ada penghuni cowok yang godain kamu…” ujar Risma sambil berjalan masuk melewati Hana. Bukan tanpa alasan Risma berkata seperti ini, karena meskipun tanpa riasan, kecantikan Hana sangat sulit untuk disembunyikan.
“Nggak apa-apa kok. Aku malah makasih banget sama kamu karena kamu sudah mengijinkan aku untuk tinggal di sini sementara,” ujar Hana sugguh-sungguh sambil menutup pintu.
Hana berjalan perlahan mengikuti Risma. “Ada yang bisa aku bantu nggak?”
“Nggak usah, nggak usah,” cegah Risma saat Hana hendak meraih kantong yang baru saja ia letakkan. “Kamu kalau mau bantu aku cukup dengan cepat sembuh saja,” lanjutnya.
__ADS_1
Dengan berat hati Hana berjauh dari Risma. Ia berjalan menuju sebuah kursi dan duduk di sana. Dengan kondisinya sekarang memang ia merasa kesulitan untuk duduk lesehan.
Mungkin aku harus cepat sembuh dan lekas pergi dari sini. Aku yakin Risma tak nyaman dengan keberadaanku, karena bagaimana pun juga kami tak saling kenal sebelumnya. Batin Hana.
“E Han, kamu sudah mandi belum?” tanya Risma sambil mengeluarkan satu-persatu isi kantong dan menatanya di atas meja.
“Sudah,” singkat Hana.
Mendengar jawaban Hana, Risma sejenak menghentikan gerakan tangannya. Ia spontan menatap ke arah Hana dan memperhatikan penampilannya. “Baju kamu kok nggak ganti,” ujarnya kemudian.
“Aku kan…”
“Astaga, maaf ya. Kok kamu nggak ambil di lemari sih,” potong Risma cepat saat sadar pertanyaan yang baru saja ia ungkapkan.
“Ya kan aku belum ijin…”
“Astaga Hana, cuma baju doang juga.”
“Tapi kan sebelumnya kita nggak saling kenal Risma. Setelah kamu mengijinkanku tinggal masa iya aku mau ngelunjak dengan ngacak-acak barang kamu.”
“Hana, kalau kamu nggak nolongin aku, ponsel sama uang aku yang akan hilang, dan tentunya itu nggak seberapa dibanding harga baju aku yang akan kamu pakai.”
“Makasih ya Ma.”
“Ma, ma. Kamu pikir aku mama kamu?”
Dua wanita ini serempak menyemburkan tawa. Namun Hana tak berani terlalu kencang, karena luka tusukan di perutnya terasa begitu nyeri jika tawanya tak ia tahan.
Risma meninggalkan bungkusan-bungkusan makanannya dan berjalan ke arah lemari yang ukurannya tak terlalu besar ini. Ia membukanya dan mengambil beberapa dari sana.
“Nih. Sekarang kamu mandi dulu,” ujar Risma sambil menyerahkan beberapa lembar pakaian.
Hana bangkit dari tempat duduknya dan menerima apa yang Risma ulurkan. “Makasih ya…”
Dengan memegangi perut, Hana berjalan menuju kamar mandi. Ia beberapa kali berhenti sambil meringis menahan nyeri.
“Bisa nggak?” tanya Risma khawatir.
“Bisa kok…”
Risma menghela nafas. Apa benar Hana orang baik?
Bersambung…
__ADS_1