Zona Berondong

Zona Berondong
Papa Andre


__ADS_3

...*HAPPY READING* ...


"Rin, cowok lu kayaknya sibuk banget sih..."


Rina berkali-kali melihat Dika di tempatnya. Tak banyak berubah, jika tak fokus dengan tabnya pasti ada Dedi yang datang dan pergi membawa dokumen-dokumen yang Rina tak tahu itu apa.


Teman-teman sekelasnya tengah mengerubunginya Rina. Bertanya ini itu terkait calon suaminya. Mereka begitu terkesima saat tiba-tiba muncul seorang pria muda yang mengaku sebagai tunangan teman sekelasnya.


"Eh, eh lihat deh. Yang mondar-mandir itu kayaknya cakep juga deh. Dia siapa Rin?"


"Dia temen Dika..."


"Wah, jomblo gak. Kenalin dong..." pinta salah satu yang lainnya.


"Dia pacar adiknya Dika..."


"Waahhh, kenapa udah nggak jomblo," canda gadis itu dengan wajah sedihnya.


Semua melanjutkan acara dengan bercengkrama dan menyanyi bersama. Dika benar-benar membiarkan Rina menghabiskan waktu dengan teman-temannya.


Ia sudah cukup bahagia bisa melihat Rina sembari bekerja.


Di meja lain tak jauh dari Dika, Dedi nampak tengah serius membaca buku. Dia memang telah menyelesaikan kewajiban kerjanya dan tinggal menunggu Dika mengecek ulang dan membubuhkan tanda tangan. Dedi sengaja menyelipkan beberapa berkas kurang sempurna, berharap Dika akan menemukannya dan menjadikan hal terbebut sebagai bentuk kelalaian Dedi.


Ia ingin Dika tak terlalu bergantung padanya. Ia yakin Dika mampu meski tanpa dia karena ia tak tahu sampai kapan bisa bertahan di sisi sahabatnya.


"Ded, Rista udah waktunya pulang kan?"


Dedi melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Iya."


"Nggak pengen sesekali ngasih surprise dengan tiba-tiba datang dan jemput dia?"


"Kamu nggak keberatan?"


"Aku udah lihat bagaimana kamu melindungi adikku. Aku percaya sama kamu."


Dedi langsung menutup buku tebalnya. Dia bangkit segera dan pergi meninggalkan area restoran.


Tak lama setelah kepergian Dedi, datanglah orang yang bukan bagian dari IPA 1. Karena merasa acara inti sudah usai, Sigit pun meminta kepada teman-temannya untuk mengundang teman-teman terdekat mereka di sekolah. Terlebih karena Dika yang bersedia pasang badan untuk membayar tagihan.


Kini Dian sudah bergabung bersama Rina dan Nita sedangkan Dika sudah ditemani Andre dan Miko.


"Papa..."


Dika dan Miko serempak menoleh saat Andre menyebut seseorang yang datang menghampiri mereka dengan sebutan papa.

__ADS_1


...***...


Pak Edo tugasnya memang banyak berkurang, terlebih saat Dika masuk bersama Dedi ke dalam perusahaan. Masih menduduki posisi tinggi di perusahaan namun dengan beban pekerjaan yang sudah tak seberat dulu.


Meski ada Dedi yang selalu ada di samping Dika, namun ia juga menjadi orang yang tak perlu membuat janji atau menunggu izin siapapun untuk bertemu dengan orang tertinggi di perusahaannya ini.


Dia turun dari mobil saat tiba di sebuah restoran mewah di kotanya. Ia melangkah tanpa ragu karena sudah tahu Dika sedang ada acara di dalam.


"Pak Edo, apa kabar..." sapa Rudi yang tak sengaja berpapasan dengan Edo.


"Baik Pak. Bapak tumben jam segini di sini?"


"Iya, Dika meminta saya ke sini."


"Sepertinya Bapak sangat memprioritaskan mas Restu."


"Saya memprioritaskan keluarga saya Pak. Oh ya maaf, saya buru-buru harus segera kembali ke rumah sakit."


"Dika ada di lantai 2. Saya permisi Pak Edo."


Rudi segera pergi setelah sebelumnya sempat berjabat tangan. Dan Edo kembali melanjutkan langkahnya.


Ia sempat berhenti diambang pintu untuk dapat menemukan terlebih dahulu keberadaan Dika di ruangan itu. Ruangan besar dengan puluhan muda-mudi berseragam putih abu-abu. Namun ada satu orang yang nampak mencolok karena mengenakan celana bahan berwarna hitam, tengah berbincang dengan dua orang pemuda.


Edo berjalan mendekati Dika.


"Papa..."


Spontan Dika dan seorang lainnya menoleh.


"Pak Edo, Andre..."


Dika menatap 2 laki-laki beda generasi ini.


"Lu kenal sama Papa?" tanya Andre pada Dika.


"Pak..." sapa Edo sambil menunduk hormat.


Jika tadi Dika yang kaget karena Andre mengenal Edo, kini giliran Andre yang cengo karena papanya menunduk hormat pada Dika.


"Jangan gitu Pak kalau di luar. Saya tidak nyaman," kata Dika.


"Maaf. Saya hanya ingin menunjukkan berkas ini dan mohon anda tanda tangani sebelum saya bawa bertemu clien siang ini."


Andre menelan ludah. Ternyata Dika adalah bos dari papanya.


Wajah Dika berubah serius saat membolak-balik tiap lembaran kertas di tangannya. Andre melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana papanya begitu hormat pada pemuda yang usianya bahkan lebih muda darinya ini.

__ADS_1


Hingga Dedi tiba, Dika masih belum juga selesai memeriksa berkasnya. Dedi meminta Rista untuk menunggu sementara ia membantu sahabatnya.


Andre lebih terperangah lagi, saat sepertinya Dedi juga punya posisi lebih tinggi dari papanya. Terbukti dari papanya yang juga nampak menyapa dengan hormat saat Dedi tiba.


Mereka berdua ini anak muda macam apa sih. Racau Andre.


Di sudut lain para gadis tengah kagum melihat wajah serius Dika dan Dedi yang begitu bersinar meskipun berada di sudut ruangan. Mereka memandang penuh damba walau mereka tahu kedua pemuda ini tak mungkin dimilikinya.


Rina hanya mampu bersungut-sungut melihat kelakuan para gadis teman sekelasnya ini. Jelas-jelas ada dia di sana, kenapa masih saja mereka memandang Dika dengan penuh damba.


Setelah melihat pria dengan setelan jas hitam itu pergi, Rina buru-buru menghampiri Dika yang masih nampak berbincang serius dengan Dedi.


"Sayang..."


"Hai..." Masih dalam posisi duduk, Dika meraih pinggang Rina dan merapatkan ke tubuhnya.


Dedi bangkit dari tempatnya.


"Inget, di sini gak cuma ada kalian berdua," ucap Dedi sebelum berlalu meninggalkan Rista.


"Dedi marah ya?" tanya Rina sambil memainkan rambut Dika yang tepat di depan dadanya.


Potek sudah hati para gadis di sana. Terlebih saat Dedi terlihat asik mengambil makanan bersama Rista tanpa mempedulikan sekitar mereka.


Awalnya hanya Sigit yang patah hati, namun kini sepertinya Sigit tak sendiri.


"Kamu kenapa sih sayang?" tanya Dika saat melihat kelakuan tak biasa dari gadisnya.


Biasanya Rina akan malu jika nampak mesra dengan Dika saat banyak orang. Namun kali ini bahkan Rina yang menghampiri Dika dan terlebih dahulu memeluknya.


"Kamu kalau nggak ada aku gimana?"


"Maksudnya?"


"Lihat tuh."


Rina menunjukkan bagaimana teman-temannya kerap kali curi pandang ke arah Dika.


"Padahal di sini ada aku, gimana jadinya kalau nggak ada aku?"


Dika membawa Rina yang mukanya cemberut ke pangkuannya.


"Ini lah salah satu alasan kenapa aku ingin cepat-cepat menikah sama kamu. Ini bukan tentang aku saja tapi tentang apa yang aku punya. Aku punya uang yang bisa bikin banyak wanita mendadak ingin jadi penggoda. Jadi kalau kamu sudah jadi istriku, aku pengen ada kamu yang selalu ada di sampingku. Biar dunia tahu, kalau aku sudah punya wanita sempurna, jadi tak perlu mencari lagi di luar sana."


Rina tiba-tiba merasa melayang. Ribuan kupu-kupu berkerubung dan terasa menggelitik di perutnya. Ia jadi bingung saat pandangannya bertemu dengan Dika, hingga akhirnya ia lebih melilih untuk mengalihkan tangan di leher Dika dan menyembunyikan wajahnya di sana.


TBC

__ADS_1


__ADS_2