Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Aktor Profesional


__ADS_3

...*HAPPY READING*...


Menjadi kekasih Dika adalah gelar tak terlulis yang disandang Rina kini. Mereka tak peduli selagi kerja mereka tak terganggu akan hal ini.


"Bagaimana hasil penyelidikan kalian?"


"Maaf Nona, kami selalu kehilangan jejak saat membuntuti mereka."


"Dasar kalian. Apa tidak ada orang di sekitar mereka yang bisa kalian jadikan informan?"


"Kami belum berhasil menemukan orang yang seperti itu Nona. Hanya saja..."


"Hanya saja apa?"


"Hanya saja yang saya lihat pak Restu seperti tak tertarik menjalani hubungan dengan wanita. Bahkan ia begitu trauma untuk dekat dengan orang. Untuk penyebab traumanya saya tak tahu pasti."


"Omong kosong. Jangan kebanyakan mengarang kalau kalian memang tak mampu bekerja."


Hana yang geram langsung mematikan ponselnya. Di seberang sana seorang pria dengan pakaian serba hitam sedang duduk di atas kursi dengan todongan senjata laras panjang di kepalanya. Dan Andre duduk manis sambil melihat dari jauh.


"Terima uang ini dan berhenti bekerja untuk Hana, atau kembali pada Hana tapi aku tak bisa menjamin sampai kapan tubuhmu masih memiliki nyawa."


Pria kekar itu gemetar. Ia menerima amplop itu yang menggenggamnya erat.


"Mulailah kerja yang baru, jangan mengerjakan pekerjaan yang merugikan orang lain seperti ini."


"Selain berbahaya, sampai kapan kamu membiarkan hidupmu tak tenang dan keluargamu terancam."


"Ba, baik Pak."


Andre meninggalkan ruang gelap itu begitu saja.


Ia sudah lama mencium gelagat aneh dari sekertarisnya. Selama ini kerjanya bagus, ia juga cerdas, sayang otaknya picik. Dia punya maksud lain saat melamar bekerja di kantor. Apa lagi kalau bukan mendekati Dika dan menguasai semua miliknya.


Hana bukanlah orang biasa. Memiliki nama asli Rihana. Ia merupakan anak Galih Rahardja hasil hubungan gelapnya dengan seorang wanita.


Hana muncul saat Rio memutuskan untuk membangun perusahaannya sendiri. Namun kini perusahaan Galih terancam hancur saat mereka sering kali gagal dalam menjalankan kerjasama dengan perusahaan lain karena reputasi buruk mereka yang perlahan terungkap.


Salah satu yang mendapat keuntungan dari masalah ini adalah Surya Group karena mereka yang selalu menjunjung tinggi sportifitas dan kredibilitas dalam berbisnis sehingga kepercayaan publik maupun rekan bisnis sangatlah tinggi.

__ADS_1


Hana yang identitasnya belum begitu terlalu tersorot publik berusaha mencari jalan untuk menjatuhkan Surya dan mengembalikan keadaan untuk Rahardja. Namun begitu masuk dan bergabung dengan Surya niatnya berubah. Ia begitu terpikat oleh pesona Dika yang kharisma dan kemampuannya begitu matang diusia yang begitu muda. Jadi kalau ia bisa memenangkan hati Dika, perusahaan akan selamat dan ia juga akan menemukan kebahagiaan untuk dirinya.


Namun semua hancur saat tahu ada Rina yang begitu dekat dengan Dika. Gadis pendek yang jika dilihat sekilas jauh dibawah standar dirinya. Hana tak menyerah akhirnya memutuskan untuk mendekati Andre. Bukan ia merubah target dari Dika menjadi Andre, tapi mendekati Andre untuk dapat mendekati Dika.


Namun Hana lupa jika Andre bukan orang biasa yang gampang dibodohi. Setidaknya dia adalah sekretaris utama Surya Group, yang dari situ saja dapat disimpulkan bahwa ia juga luar biasa bisa menduduki posisi setinggi ini sejak usia belasan.


Hana yang awalnya ingin mengorek informasi dari Andre justru ia yang kecolongan banyak informasi saat ini. Andre bertindak cepat tanpa perlu minta izin pada Dika, karena masalah seperti ini bukanlah menjadi hal penting yang perlu Dika ketahui.


Andre berjalan dengan tenang melewati staf-stafnya termasuk Hana. Ia tersenyum miring saat melihat wajah kacau Hana yang sialnya masih terlihat cantik.


Saat ini Rina sudah jarang di kantor pusat. Tak ada yang berani mendebat dengan jabatan asisten pribadi ia justru tampak sibuk sendiri di luar. Andre pun tak masalah akan hal ini, dan ia terus melaksanakan tugasnya seperti biasa.


"Andre, tolong kamu ke ruangan saya."


Andre yang baru akan duduk langsung memenuhi panggilan Dika.


"Ada apa Pak Restu."


"Apa kamu bisa memantau sejauh mana progres Rina."


"Sebentar."


"Untuk bangunan sudah 90% tapi untuk produksi ini saya yang kurang tahu. Untuk managemen kita sudah menempatkan ahli di sana, dan semua berjalan dengan semestinya. Saya rasa 6 bulan dan sudah sampai di tahap ini itu luar biasa."


"Iya, Rina memang luar biasa."


"Ehm, maaf apakah saya boleh mengajukan pertanyaan yang bersifat pribadi?"


Dika menatap Andre dan menguatkan tanpa suara.


"Apakah saat pameran anda tak ingin mengambil peran?"


"Tentu. Menggunting pita bersama Rina tak akan saya wakilkan kepada orang lain termasuk kamu."


"Bukan itu maksud saya."


Andre sedikit ragu untuk mengungkapkan ini, tapi ia rasa hal ini perlu dilakukan. Selain demi kebahagiaan bosnya, juga demi citra perusahaan.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan Andre Putra Laksana."

__ADS_1


"Ehm..." Andre kembali berdehem untuk meredakan kegugupannya.


"Resepsi kejutan untuk Rina. Maaf bukan maksud saya lancang, tapi kalau mempublish pernikahan lewat konferensi pers, itu akan menimbulkan banyak spekulasi tapi jika ada resepsi akan lebih luwes rasanya saat mengatakan bahwa anda berdua telah lama menikah dan telah sah secara administratif dan agama. "


Dika masih menatap serius sekertarisnya ini.


" Saya, saya tahu anda tak peduli dengan image atau pun berita yang beredar tentang anda, tapi kalau ada cara terlihat baik dan kenyataannya memang baik kenapa hal ini tidak diungkap secara baik. Toh ini adalah hal baik yang sejak awal hingga akhir diharapkan selalu baik. "


Dika bangkit dari kursinya yang berjalan perlahan menghampiri Andre.


Andre mendadak merasa terintimidasi saat Dika mendekat ditambah tatapan yang tajam menusuk ulu hati.


Dika berhenti di depan Andre dan memegang bahu rekannya ini.


" Lain kali kalau mau berbicara dengan saya, pilih kata-kata sederhana yang mudah dimengerti. Jangan menggunakan pilihan kata yang membuat sesuatu yang sederhana menjadi rumit dan tak mudah dicerna."


Andre perlahan memberanikan diri mengangkat wajahnya.


"Terimakasih sarannya. Saya percayakan pada kamu untuk mengurus teknisnya."


Dika berjalan kembali ke tempatnya.


"Dan satu lagi, jangan sampai Rina tahu soal ini."


"I, iya Pak."


Andre menarik kursi dan duduk begitu saja tanpa menunggu dipersilahkan oleh Dika. Ia tertawa sambil sesekali menggelengkan kepala.


"Butuh obat penenang?"


Andre makin tak segan tertawa.


"Kok bisa-bisanya saya mikir kamu bakal bikin saya mati hanya karena ngasih ide resepsi kejutan untuk Rina. Ya Allah..."


Andre masih tak habis pikir dengan pikiran bodohnya. Sedangkan Dika hanya tersenyum simpul dan kembali biasa melihat polah Andre.


Ia memang biasa seperti ini, memberi tekanan, mengintimidasi, membuat lawan merasa terancam, tiba-tiba berubah menjadi sosok yang mengayomi. Itulah Dika. Dia memainkan berbagai peran setiap hari, bak aktor profesional di tv.


Jadi ia tak keberatan sekali-kali mengerjai orang terdekatnya seperti Andre hari ini.

__ADS_1


TBC


__ADS_2