Zona Berondong

Zona Berondong
Misteri Box 3


__ADS_3

^^^Visual masih dalam tahap audisi dear, hehehe^^^


^^^Dukung terus ya.^^^


^^^-Happy reading-^^^


"Kenapa kamu tidak tanya langsung saja sama mama kamu?"


"Saya..." Haruskah aku mengatakan ketidak haromonisanku dengan mama?


Reno melihat ada keterombang-ambingan di wajah muda Dika. "Kalau kamu nyaman bertanya pada saya, akan saya jelaskan sebatas pengetahuan saya."


"Makasih Om."


Reno bangkit dan meraih album foto yang sempat ia perlihatkan pada Dika sebelumnya.


"Saya saksi kedekatan mereka semasa SMA. Saya sebenarnya berada di kelas yang sama, namun saya berasal dari kalangan yang berbeda."


"Maksud Om?"


"Saya berasal dari kalangan biasa, sedangkan mereka adalah anak dari orang kaya."


Dika menyimak baik-baik apa yang akan dikatakan oleh Reno selanjutnya.


"Keduanya sama-sama pintar dan idola pada masanya." Pandangan Reno menerawang mengenang masa mudanya.


"Namun satu hal yang berbeda dari keduanya, yaitu Dika pendiam sedangkan Hendro cukup pandai bergaul dan jiwa leadership sudah nampak sejak saat itu. Papa kamu memang ditakdirkan jadi orang sukses sepertinya," Reno meletakkan sebelah tangannya di pundak Dika. "Dan saya yakin hal itu ia wariskan kepada kamu."


"Dika, Om tadi bilang..." Dika menggantung ucapannya karena tak paham.


Reno mengangguk. "Di SMA Rudi lebih dikenal dengan sebutan Dika. Apa kamu terkejut?"


Dika menarik paksa senyum di wajahnya. "Akhir-akhir ini saya banyak sekali mendapat kejutan Om, jadi kejutan kali ini tak membuat saya lari lagi."


Reno teringat kejadian 2 hari yang lalu, dimana Dika pergi begitu saja saat ia tahu papa dan ayah tirinya dulu bersahabat.


"Apa kamu siap menerima kejutan lainnya?" ucap Reno dengan wajah jenaka.


"Tentu Om, kue kering ini bisa jadi mood booster saya." Dika kembali memasukkan kue kering itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya perlahan.


"Hahaha, habiskan saja. Kue Ririn lebih nikmat buat saya."

__ADS_1


"Uhuk..." Om-om ini sengaja sepertinya membuat aku salah tingkah.


Reno terkekeh saat ia berhasil membuat Dika salah tingkah dengan kalimat multi tafsirnya. "Ini diminum dulu."


Dika menenggak air putih yang juga ada di depannya. "Makasih Om."


Reno tersenyum. Dia kemudian kembali menghela nafas, intermezo sepertinya telah usai. Dika pun kembali memasang wajah seriusnya, bersiap menerima fakta selanjutnya yang akan ia dapatkan.


"Sejak SMA Hendro sudah merintis usaha. Dia membuka rental komputer, dan juga wartel. Wow sekali bukan untuk ukuran anak SMA?" Reno melirik sejenak wajah Dika. Ternyata wajah anak itu biasa saja. "Setelahnya ia membuka toko ATK, dan menjelang kelulusan aku dengar ia membuka toko baju dengan menggaet pengrajin lokal. Nama Hendro terus melambung dan Rudi selalu berada di belakangnya sebagai investor, bukan mitra. Apa kamu tahu kalau Rudi yang sedemikian kaya tidak punya satu pun perusahaan?" tanya Reno pada Dika.


"Saya hanya tahu Pak Rudi seorang kepala rumah sakit, punya hotel, resto, dan cafe."


"Dia punya lebih dari itu, bahkan perusahaan kamu mendapat invertasi juga dari dia."


Dika mengangguk. Dia berlagak tak tahu karena ingin mendengar cerita utuh versi Reno.


"Saya dekat dengan Rudi adalah saat kamu berusia sekitar 3 tahun, saat itu Santi sedang mengandung adik kamu. Saya tak tahu persis alasannya, yang saya tahu Rudi meminta saya menutup akses agar Hendro tak bisa menghubunginya. Dia sibuk melanjutkan study dan terus bersrmbunyi hingga 5 tahun lalu saya memaksanya keluar dari persembunyian karena Surya Group sedang terancam."


"Bagaimana Om bisa tahu kondisi perusahaan papa, dan bagaimana Om bisa tetap berhubungan dengan Pak Rudi sementara ia bersembunyi dari orang lain?" Dika tak bisa menahan rasa ingin tahunya terkain hal ini.


"Saya berada di dalam Surya Group. Selama ia bersembunyi, ia meminta saya untuk terus mengirimkan kabar tentang kamu dan Hendro. Sepertinya Rudi sangat menyayangi kamu sebagai anak sahabatnya."


Sepertinya Om Reno tak tahu masa lalu Rudi dan mama. Batin Dika.


Dika mengangguk pasrah. Tak mungkin ia menggeleng, karena ia memang ingin sekali mengetahuinya.


"Saya juga masih bingung terkait hal ini. Pasalnya mereka menikah sebelum Hendro meninggal, yang tentunya setelah papa dan mama kamu bercerai."


Dika ternyata harus menelan kekecewaan, karena informasi yang sangat ingin ia ketahui belum juga mendapatkan titik terang.


"Untuk masalah seperti ini, sebaiknya kamu tanyakan langsung sama Rudi dan Mama kamu. Karena mereka yang tahu persis apa yang sebenarnya terjadi. Jika kamu memaksa bertanya pada orang lain, saya khawatir akan ada informasi yang bergeser dari fakta yang terjadi."


Reno meletakkan tangannya di bahu Dika. "Apakah Om boleh mengajukan satu pertanyaan sama kamu?"


Dika mengangguk saat Reno meminta izin dengan tatapan serius.


"Apakan hubungan kamu dan mereka kurang baik?"


Dika mendesah. Sepertinya ia sudah tak bisa menutupinya lagi. Ia kembali mengangguk sebagai jawaban.


"Saya mengerti. Pesan saya hanya satu, suatu saat jika kamu sudah siap, kamu harus mengungkap kebenaran yang ada, agar tak lagi ada rahasia yang membuat hati tak tenang." Reno menjentikkan jarinya agar mendekat. "Baru setelahnya kamu baru boleh memikirkan masa depan dengan anak saya." Reno bangkit meninggalkan Dika yang masih membeku di tempatnya.

__ADS_1


Seseorang yang sejak tadi bersembunyi di balik pintu mendadak panik melihat Reno yang tiba-tiba berjalan ke arahnya. Hal yang kini bisa ia lakukan, yaitu memejamkan mata, diam dengan tubuh merapat ke tembok dan menahan nafasnya berharap Reno tak menyadari keberadaannya.


Hingga nafasnya habis, sosok itu perlahan membuka mata. Ia melonjak kaget saat melihat Reno, berdiri tepat di depannya. "Papa, bikin kaget aja," ucap Rina sambil merapikan rambutnya dan berlagak seolah tak terjadi apa-apa.


"Jangan banyak tingkah deh, siapa yang ngajarin kamu nguping kayak gini." Reno mengucapkan kata-kata itu tanpa sensor sedikitpun. "Kamu temenin dia." Reno meninggalkan Rina begitu saja tanpa menghiraukan ekspresi salting anaknya.


Akhirnya Rina berjalan perlahan mendekati Dika. "Dika," sapa Rina saat duduk di kursi yang tadi diduduki papanya.


"Hai..." Dika menatap Rina sekilas kemudian kembali menatap ke sembarang arah.


Keduanya terjebak dalam diam.


"Rin, aku pamit ya..." Dika bangkit dan mengusap puncak kepala Rina. Dia kemudian berjalan melewati Rina yang diam.


"Tunggu!"


Dika membalikkan badan. "Ada apa?"


"Rio tidak bisa melanjutkan magangnya di sekolah," ucap Rina tanpa memandang Dika.


"Kenapa?" Apa Rio benar-benar menyebarkan video itu? Melihat Rina diam saja Dika akhirnya kembali ke tempat duduknya.


"Ceritanya panjang, dan aku belum bisa menghubungi pacar Rio untuk menanyakan apa yang terjadi sebenarnya," ucap Rina setelah Dika kembali duduk di sampingnya.


"Kamu..." Dika tak sanggup menyelesaikan ucapannya.


"Bukan aku yang membuat Rio mendapat sanksi, tapi fotonya bersama gadis lain."


Rina mulai menceritakan kejadian yang menghebohkan sekolahnya tadi pagi. Ditambah dengan kejadian yang dialaminya kemarin.


"Dia masih ngancam kamu?" tanya Dika dengan menyelipkan rambut Rina ke belakang telinganya.


Rina menggeleng. "Setidaknya dia tak menghubungi ku lagi hingga saat ini."


"Rin..." Dika meraih tangan Rina dan menggenggamnya erat. "Apa kamu siap kalau harus menanggalkan kehidupan remaja saat ini. Tidak langsung, tapi perlahan." Dika menatap Rina dengan penuh kesungguhan.


Dalam hati Rina tertawa miris. Kenapa pertanyaan semacam ini harus dilontarkan oleh sosok yang yang selama ini aku anggap bocah?


"Beri tahu aku kalau kamu sudah bisa menjawab." Dika mengecup kening Rina singkat. "Aku pamit."


Rina mengantar Dika untuk pamit kepada orang tuanya, kemudian Dika pun pergi dengan taxi online yang sebelumnya sudah ia pesan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2