
HAPPY READING
“Tumben Nona mau ke sini?”
“Iya. Ini memang kali pertama saya ke tempat ini.”
“Bukan itu maksud saya Nona, tapi di sini sepertinya tak menjual barang branded seperti yang biasanya Nona kenakan?” ujar Lili dengan polosnya. Setelah memarkirkan mobil, di depan toko yang tak terlalu besar ini Lili kembali menatap tak percaya jika ini adalah tujuan yang dimau oleh Rina.
“Kenapa memangnya, ada masalah buat kamu?”
Lili menunduk. Ia merutuki kecerobohannya yang seenaknya berkomentar dengan pilihan Rina.
“Maaf Nona.” Meminta maaf nampaknya jadi hal yang paling aman untuk Lili lakukan sekarang. Lili segera keluar dari mobil dan berjalan keluar membukakan pintu untuk Rina.
Dari dalam Haning langsung tahu saat Rina dan Lili datang. Dengan mobil mewah dan barang-barang branded yang melekat di tubuh Rina, ia langsung tahu jika wanita yang datang ke tempat kerjanya ini bukanlah orang biasa. Jadi ia tak mau kehilangan kesempatan untuk bisa melayani customer kaya ini.
“Selamat datang di toko kami, ada yang bisa saya bantu?” sapa Haning dengan ramah begitu Rina berjalan melewati pintu bersama Lili di belakangnya.
“Saya masih mau lihat-lihat,” ujar Rina tanpa menghentikan langkahnya.
Lili yang berjalan di belakang hanya tersenyum dan mengangguk pada Haning yang menampakkan senyum lebarnya.
Haning berjalan mengikuti Rina. Dengan mata elangnya ia segera menyambar pakaian yang ia yakini tengah Rina tatap saat ini.
“Ini menjadi salah satu yang best seller di toko ini, dan saya yakin akan sangat cocok untuk anda kenakan,” ujar Haning percaya diri sebagaimana biasanya ia meyakikan pelanggan yang datang untuk berbelanja.
“Saya tidak suka,” cuek Rina sambil kembali meneruskan langkahnya.
Di jajaran baju-baju keluaran perusahaan suaminya, ia berhenti dan menatap dengan seksama. Saat baru saja ia memegang baju, tiba-tiba Haning menariknya. Padahal yang ia pegang baru ujungnya saja.
“Ini juga sangat banyak diminati Nona, terlebih karena bahannya yang adem tapi tidak menerawang jadi cocok untuk cuaca panas sekarang ini."
Rina menghela nafas. Ia merasa Haning terlalu berisik dan mengganggunya sebagai customer yang masih ingin melihat-lihat barang. “Saya gatel kalau pakai bahan ini.”
Haning mencengkeram erat kedua sisi pakaian yang sekarang ia pegang. Penolakan pertama ia anggap wajah, penolakan kedua Haning rasa ini tak boleh dibiarkan. Dengan sedikit kasar Haning mengembalikan pakaian yang ia pegang ke tempat semula.
“Sebenarnya Mbak ini lagi nyari baju yang gimana?” sarkasnya dengan wajah yang tak ramah.
“Saya nggak tahu. Karena saya belum nemu baju yang
__ADS_1
pengen saya beli.”
“Gini deh, kasih tahu Mbak punya budget berapa, nanti saya bantu cariin baju yang harganya sesuai.”
Lili membulatkan mata mendengar ucapan Haning pada Rina. Namun ia tak jadi angkat suara saat melihat pergerakan tangan Rina yang memintanya untuk diam saja.
“Gini Mbak, saya itu hobinya cuci mata di toko baju, dan biasanya saat kita ke toko baju tak ada kewajiban untuk membeli tuh. Apa lagi kalau tak ada model yang kita suka.”
Rina sebenarnya kesal dengan perlakuan Haning, jadi sekalian ia ingin bermain-main.
“Ya meskipun tak ada kewajiban untuk membeli, ya tapi etikanya dong Mbak. Masa iya lihat sana-sini pegang itu ini tapi ujung-ujungnya nggak jadi beli. Malu dong sama barang barang branded yang Mbak pakai sekarang.”
Rina nampak tak peduli dengan ucapan Haning. Ia seakan sengaja menjelajahi deretan pakaian dan membiarkan Haning tenggelam dalam rasa kesalnya.
“Astaga Mbak, aku pikir kamu orang kaya, tak tahunya cuma perempuan banyak gaya,” lirih Haning yang masih dapat didengar Rina dan orang yang berada dekat dengannya.
“Jangan-jangan yang dipakai Kw lagi.”
Hana yang sudah ditahan Lili tak bisa diam saja jika sudah seperti ini.
“Mbak Haning ke belakang saja ya, biar Nona ini sama
Haning nampak berontak saat Hana menariknya dengan paksa. “Kamu apa-apaan sih Han. Pelanggan kaya gitu harus dikasih pelajaran, kalau enggak bakalan ngelunjak dan cuma bikin kita capek Han.”
“Tapi Mbak, dia bukan orang sembarangan, dia itu…”
“Hana…”
Hana langsung menoleh saat melihat Risma yang buru-buru menghampirinya. “Ada apa?”
“Itu Mbak yang tadi minta kamu datang ke sana.”
“Bentar.”
“Nggak ada bentar Hana, dia maunya sekarang. Nggak tahu deh, akhir-akhir ini customer pada… Eh, malah cabut.”
Hana melepaskan cekalannya pada Haning. Ia berjalan melewati Risma untuk menemui Rina yang datang bersama Lili ke toko tempat ia bekerja.
“Haaannnaaaa, ya ampun kangen, kangen, kanggeeennnnnn.”
__ADS_1
Lili langsung memeluk Hana saat Hana menghampiri
keduanya. Namun ketika sadar ada Rina bersamanya, Lili langsung melepaskan pelukannya. “Maaf Nona,” ujarnya sambil menundukkan kepala.
“Nggak apa-apa. Kita kan memang datang untuk Hana,” ujar Rina dengan santainya.
“Jadi boleh peluk lagi?” tanya Lili dengan antusias.
Rina hanya menjawab dengan menarik lebar kedua sudut di bibirnya. Dan disambut dengan pelukan hangat oleh Lili dan Hana.
Sontak pemandangan ini membuat heran rekan kerja Hana dan beberapa pengunjung yang kebetulan ada di sana. Memang sampai sekarang belum ada yang mengenali Rina, tapi karena ia yang beberapa kali tampil di depan media membuat orang yang melihat merasa taka sing dengan sosok dirinya.
“Akh…” Hana langsung menarik tubuhnya setelah sempat merintih karena tangan Lili tak sengaja menyenggol bekas jahitan di perutnya.
“Kamu kenapa Han?” tanya Lili. “Apa ke…”
Hana langsung membungkam mulut Lili saat ia merasa wanita ini akan menyinggung masalah keguguran yang baru saja Hana alami.
“Hana beberapa waktu lalu tertusuk perutnya saat menolong saya.”
Spontan Lili dan Rina menoleh menatap Risma yang berdiri tak jauh dari mereka. “Apa? Terus keadaan kamu gimana?” tanya Rina dengan raut khawatir yang tergambar jelas di wajahnya.
“Saya nggak apa-apa Nona. Buktinya sekarang saya masih bisa kerja,” jawab Hana dengn senyum cantiknya.
“Andre tahu?” tanya Rina masih dengan ekspresi yang sama.
Hana menjawab pertanyaan Rina dengan gelengan kepala.
Rina bergerak dan memegang kedua bahu Hana. Ia memperhatikan dengan seksama sebelum tangannya kembali ia turunkan. “Bisa dibikin mati kalau sampai Andre tahu orang yang dengan sengaja menyembunyikan masalah seperti ini dari dia.”
Glek!
Risma menelan ludah. Ia menoleh ke kanan dan kiri, ternyata hanya ada dirinya orang lain di luar percakapan Hana dan dua perempuan ini. Ya Tuhan, aku memang miskin tapi aku belum siap kalau harus mati sia-sia. Dari awal aku sudah curiga kalau Hana memang bukan orang biasa. Dan siapa lagi Andre itu, jangan-jangan pria yang mengantar Hana tadi pagi?
“Hana, di sini bukan tempat reuni, tapi tempat kerja,” ujar Haning yang berjalan melewati mereka dengan beberapa helai pakaian di tangannya.
Risma tak bersuara. Ia hanya menatap Haning dengan tatapan iba. Apa yang selalu mengerjai Hana akan mati juga?
Bersambung…
__ADS_1