
^^^Sama mantan masih sayang, tapi terlanjur jadian sama orang.^^^
^^^-Rina Malinda-^^^
"Rin..." Nita sambil menunjuk seseorang dengan dagunya kala dia melewati kelas mereka gitu saja. "Doi beneran cowok kamu bukan sih?"
Rina hanya menatapnya acuh.
"Kamu udah putus lagi?"
"Harapannya..." jawan Rina asal.
"Ckckck...., nggak ngerti gue nggak ngertiii.....!" geram Nita lalu bangkit meninggalkan Rina untuk pergi ke kantin.
Ngapain juga bengong sendiri di kelas, mending ikut Nita. Rina kemudian bangkit dan segera menyusul sahabatnya.
Suasana kantin siang ini cukup sepi tak seramai biasanya. "Kamu cari tempat duduk aja, biar aku yang pesen," ucap Rina yang mendapat anggukan dari Nita.
"Hai..."
Suara sapaan yang cukup familiar itu berhasil membuat Rina menoleh ke arahnya. "Mas Rio."
Namun tiba-tiba seorang wanita dengan almamater yang sama seperti yang Rio kenakan datang dan menyampirkan lengannya di pundak Rio. "Hei, yang tadi kecengan baru kamu?"
Rina yang penasaran segera menajamkan pendengarannya sembari menunggu makanan.
Rio mengalihkan perhatiannya dari Rina kepada wanita itu."Yang mana?"
"Yang kelas 12 apa tadi, yang nemplok terus sama kamu," ucap wanita itu santai.
Degh!
"Oh namanya Tyas, dia keponakannya guru olahraga di sekolah ini."
Apa-apaan sih ini. Dia berbuat seenak jidat tanpa sedikitpun mikirin aku, pacarnya. Geram Rina dalam hati.
"Mau main curang lo."
Rio terkekeh menanggapinya. "Ya at least omnya jadi di lebih kooperatif sama program aku."
"Gila gila gila, untung lu cakep." Wanita itu kemudian meninggalkan Rio begitu saja untuk bergabung dengan teman-temannya.
Saat Rio hendak berbalik, dia mendapati Rina yang kini tengah menatap tajam dirinya. "Kamu jangan marah, karena ini semua cuma demi tugas."
"Ya nggak kudu deketan sama Tyas juga dong Mas!" protes Rina dengan suara tertahan.
"Aku tahu batasan." Rio kemudian pergi meninggalkan Rina begitu saja.
Rina akhirnya segera menyusul Nita setelah makanan pesanan mereka jadi.
"Aku benar-benar udah nggak tahan lagi." Saking geramnya Rina bahkan hingga meletakkan nampan itu dengan cukup keras.
"Soto gue!" Nita segera meraih soto pesanannya karena melihat kuahnya muncrat saat Rina meletakkannya di meja dengan kasar. "kalau marah sih elu, tapi jangan giniin soto gua dong!" protesnya sambil memasukkan bumbu racikan kesukaannya. "Nah kan nah kan, tuh ular keket ngapain nemplok sama cowok lu." Nita menunjuk ke salah satu meja yang tak jauh dari mereka tempat dimana Rio dan kawan-kawan sedang menikmati makan siangnya.
__ADS_1
"Tau ah. Males gua." Rina kemudian mengutak-atik ponsel pintarnya untuk segera menghubungi seseorang. Namun belum juga ia menekan tombol dial, sebuah incoming call tiba-tiba muncul tanpa diundang. Ngapain sih kamu telepon, mau pamer kemesraan. Rina menggerutu dalam hati sambil menatap Rio yang merupakan dalang dari incoming call yang mengganggunya kini. Rina pun memilih untuk mengacuhkannya.
Drrtt
Sebuah pesan WhatsApp masuk setelahnya.
^^^Rio^^^
Angkat telponnya, aku tahu kamu bawa HP.
"Ck." Rina berdecak sebal. Tak lama kemudian incoming call Rio kembali masuk. Dan Rina segera menggeser tombol hijau.
"Hallo."
^^^"Hallo Dik, kamu jadi nanti minta jemput sama Mas?"^^^
Rina mengernyit. Ini maksudnya apa sih.
^^^"Hallo. Gimana? Jadi?"^^^
"Maksudnya apa sih Mas?" tanya Rina tak mengerti.
^^^"Ya udah. Nanti kamu tunggu di tempat biasa ya."^^^
Ah, bodo amat. "Di parkiran apa di gerbang Mas?" tanya Rina akhirnya.
^^^"Di tempat biasa aja. Aku lagi males di recokin temen cabe-cabean kamu itu," kata Rio dari dalam panggilannya.^^^
"Okelah." Rina ingin mematikan sambungan telponnya. Namun urung kala ia melihat Rio langsung mengantongi HP-nya padahal panggilan masih tersambung. Nguping bentar nggak masalah kan?
Mendengar suara Tyas, Rina memicingkan mata untuk menatap apa yang dilakukan Rio dan Tyas di sana. Astaga, Tyas benar-benar nggak tahu malu ya, gelendotan sama laki-laki padahal ini di sekolah loh.
^^^"Adik aku," ucap Rio di seberang sana.^^^
Adik pala lu pitak! Umpat Rina dalam hati.
^^^"Dia seumuran aku kah, boleh dong aku nebeng, kali aja aku bisa akrab sama adiknya kak Rio. Lumayan kan kalau aku aku sama calon adik ipar umurnya samaan."^^^
Rina tak mampu lagi menahan geram.
BIP
Segera diputusnya panggilan yang sebelumnya masih tersambung itu. Dia kemudian melahap bakso di hadapannya dengan beringas.
"Lu kesambet apaan Rin, tadi diam-diam sekarang tiba-tiba makan kayak orang lagi kesurupan!"
"Kesambet wewe gombel. Siniin itu sambel!" ucap Rina dengan sewotnya.
"Duh sewot lagi," cibir Nita sambil menaruh sambal yang yang Rina minta.
Tiba-tiba Rina teringat sesuatu. Ya ampun, tadi kan aku mau nelpon Dika. Diacuhkan nya sambal yang sebelumnya diminta itu dan ia kembali meninggalkan bakso dan mengutak-atik ponsel pintarnya.
"Lhah, beneran enggak beresnya nih anak," heran Nita yang masih asyik dengan soto dihadapannya.
__ADS_1
"Kok nggak aktif sih..." Rina mengulang panggilannya. "Ck, kamu kemana sih..."
"Apa sih Rin! Ngeri tahu kalau lu terus-terusan sikapnya berubah-ubah seenak jidat gini."
"Bentar deh Nit, aku mau hubungin Dika nggak nyambung-nyambung nih," kata Rina sambil terus mengulang panggilan untuk Dika maupun mengetik pesan untuknya.
"Giliran udah mantan aja kamu peduli banget sama dia. Kemarin-kemarin kemana?" cibir Nita.
"Kamu diam deh kalau nggak ngerti. Ini beda urusannya."
"Lah emang situ kagak pernah cerita, ya gua bisa ngerti dari mana."
Dan akhirnya mereka pun sibuk dengan urusan masing-masing, hingga akhirnya bel berdering tanda bahwa waktu istirahat telah usai. Dua mata pelajaran berbeda pun berlalu begitu saja. Kini bel pulang telah berdering. Nita dan Rina berjalan beriringan menuju parkiran.
"Rio mana?" tanya Nita.
"Dah nunggu di mobil dia. Gua duluan ya." Rina segera menuju mobil Rio setelah mendapat anggukan dari Nita.
"Mas," sapa Rina saat Rio membukakannya pintu dari dalam.
"Hai sayang."
Cup
Rio mengecup sekilas pipi Rina. "Aku kangen." Dia kemudian mendekatkan wajahnya.
"Uhuk." Tiba-tiba Rina terbatuk hingga Rio harus mengurungkan niatnya untuk mencium bibir kekasihnya. "Maaf Mas, uhuk, uhuk." Aku kok mendadak geli gini sih kalau Mas Rio deket-deket.
"Kamu kurang enak badan?" tanya Rio sambil meraba kening Rina.
"Iya nih Mas. Ini nanti langsung pulang ya."
"Oke deh. Padahal awalnya aku pengen ngajak kamu jalan. Tapi lebih baik kamu pulang dan istirahat."
Rina tersenyum kecut. Yang kurang enak tuh mood ku Mas. Aku benar-benar males sama kamu.
Rio mulai menjalankan mobilnya. Di tengah jalan tiba-tiba ia berhenti pada sebuah bangunan yang mirip kos-kosan. "Rin, kamu tunggu sini ya, mau ngumpulin laporan sama Dwi di dalam."
"Aku ikut ya Mas."
"Jangan, kamu di sini aja." Rio membuka seat belt dan hendak keluar. "Inget ya, jangan sampai ada orang yang lihat kamu, apa lagi teman-temanku."
"Tapi Mas."
"Udah, nurut aja." Rio kemudian meninggalkan Rina seorang diri.
"Aku kan pacarnya, tapi kayak nggak diakuin, pake di hidden mode segala. Tapi giliran sama Tyas terus Mbak-mbak tadi kok kayak nggak masalah deketan di depan banyak orang?" gumam Rina seorang diri. "Aku nggak boleh lama-lama kayak gini!"
TBC.
Alhamdulillah, selesai juga part ini.
Rina belum bisa balikan sama Dika nih, soalnya doi belum nemu cara ngejinakin Rio.
__ADS_1
Buat yang udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terimakasih