Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Baby Blues


__ADS_3

HAPPY READING


Rangkaian acara berjalan dengan begitu khidmat. Meski belum usai semua rangkaian acara, namun semua berjalan dengan semestinya. Penjagaan begitu ketat dan tanpa  ada celah untuk sentuhan media. Bukan maksud Dika jahat, hanya saja ia tak mau acara penting ini kehilangan esensinya.


Meski tak ada media yang Dika masuk, Dika telah menyiapkan pers conference setelah acara segera di esok hari.


Namun namanya saja pemburu berita, meski Dika sudah memutuskan demikian tetap saja mereka berusaha mendapatkan informasi. Meski begitu kecil kemungkinan informasi yang mereka dapatkan, namun itu tak menyurutkan niat mereka untuk terus bertahan di sekitar kediaman restu Andika.


Rina juga sempat muncul meski tak lama, hanya saja ia tak membawa Gendis bersamanya. Hal ini bukan tanpa alasan, karena bayi memang sangat rentan dan sensitive. Kurang aman jika harus berinteraksi dengan banyak orang. Sehingga keluarga sepakat untuk membatasi pertemuan Gendis dengan orang luar untuk sementara.


Dika mengundang begitu banyak orang untuk datang. Turut memeriahkan kebahagiaan yang ia dan keluarga rasakan. Untuk itu ia harus rela meninggalkan Rina yang tak bisa terus mendampinginya untuk menyapa semua tamu dan kolega.


Saat Dika sedang larus menyapa para undangan, sesosok pria muncul dan melambaikan tangannya. Tak perlu berteriak untuk memanngil Dika, karena dengan gerakan kecilnya saja, Dika langsung menyadari keberadaannya.


Dengan senyum lebarnya, Dika balik melambaikan tangan pada pria yang sekarang begitu ia nantikan kedatangannya. Meski sering kali Dika dibuat naik pitam oleh ulah di luar nalarnya, namun ia tak memungkiri bahwa jasa yang diberikan begitu besar juga dalam hidupnya. Banyak masalah dan ujian yang mereka hadapi bersama, lebih tepatnya masalah Dika yang menyeret Andre muda untuk terjun dan berjuang bersama.


“Silahkan dilanjut ngobrolnya, saya harus permisi dulu,” pamit Dika pada beberapa kolega yang semula sedang mengobrol dengannya. “Silahkan dicicipi juga makanannya, enjoy ya…” lanjut Dika mempersilahkan tamunya untuk menikmati sajian yang telah disiapkan.


Setelah itu ia menghampiri Andre untuk membahas hal penting bersamanya.


“Tidak ingin sekedar basa-basi menawariku makan barang kali?” protes Andre karena Dika langsung membawanya pergi meninggalkan tempat acara utama.


Dika tak bergeming mendengar pertanyaan Andre. Ia terus berjalan dan Andre pun paham jika kini ia lebih baik diam.


“Apa ada masalah?” tanya Andre saat ia merasa Dika memelankan langkah.


“No…” jawab Dika yang justru kembali menambah kecepatan langkahnya.


Andre kembali diam. Sepertinya ia harus menahan diri untuk tak bicara hingga nanti Dika dipersilahkan. Ia meredam pertanyaan yang siap terlontar dengan helaan nafas di sela langkahnya.


Jika diperhatikan, sebenarnya tak ada gelagat aneh yang ditampakkan bos muda ini. Namun beda cerita jika Andre menilai dari sudut pandangnya. Jangankan gelagat, pola helaan nafas Dika saja bisa ia pahami jika memang terdapat hal yang tak semestinya. Dan itu lah yang kini Andre rasa.


Hingga terpampanglah sebuah pintu yang nampak kian dekat kala mereka terus mengayunn langkah. Dan akhirnya Dika menghentikan langkahnya di sana.


Andre juga tahu dan dengan jelas di depannya ada pintu, namun sepertinya ia masih harus menunggu. Menunggu waktu yang tepat untuk memastikan untuk apa dia dibawa ke sana.


“Ada yang lebih membutuhkanku sekarang, jadi aku mau kamu ke depan untuk menggantikanku menjamu tamu.”


Andre melongo mendengar ucapan Dika.

__ADS_1


Kalau cuma mau ngomong begini, kan bisa di sana tadi? Protes Andre. Sayangnya ia hanya bisam nggerutu dalam hati sambil coba menggali maksud lain dari kalimat yang baru saja Dika ucapkan.


Kening Andre berkerut kala menyadari sesuatu. Iya, dia tahu ada hal penting, tapi karena Andre tak punya sensor untuk membaca pikiran, sehingga ia masih belum mengerti untuk apa keberadaannya di sini. Sebenarnya ia tinggal bertanya langsung saja, namun dari nada bicaranya nampak jelas Dika belum memiliki ruang Andre untuk bertanya.


“Rina. Dia sedang tak baik kondisinya, dan aku harus berada di sampingnya,” lanjut Dika menjelaskan.


Andre manggut-manggut mendengar hal tersebut. Akhirnya ada clue juga akhirnya.


“Ohh, okey…” ujar Andre setelah sebelumnya ia dahului dengan helaan nafas lega. “Lantas apa yang harus aku katakan kalau mereka menanyakan Rina atau bayi kalian yang baru ia lahirkan?” tanya Andre memastikan.


Dika tersenyum samar. “Kamu tahu benar kalau mereka cuma menanyakan hal tersebut sebagai basa-basi.”


Andre mengatupkan bibirnya dengan alis yang terangkat, dan semua kembali ke posisi semula bersama helaan nafas yang Andre henbuskan lewat mulutnya.


Memang suka gitu sih.


“Ya, ya, ya…” ujar Andre dengan kepala yang ikut mengangguk-angguk juga.


“Sekarang nih, langsung?” sekali lagi Andre bertanya untuk memastikan.


“You know lah.”


Dika tak mau berlama-lama. Ia segera membuka pintu dan hendak masuk ke sana.


“Apa lagi. Sudah jelas kan?”


“Eeee, itu… emm…”


“A e a e, apa sih. Medadak gagu kamu,” sela Dika kala merasa Andre hanya membuang waktunya saja.


“Itu…” Andre kembali menghela nafas. Tak hanya sekali, bahkan setelah percobaan kedua ia masih belum bisa dengan sempurna mengutarakan maksudnya.


“Hana sudah pulang. Dia sudah kemari tadi siang.”


JEDDHHEERRRR!


Andre menelan ludah dengan gairah yang seketika musnah. Ia pun berbalik dan melangkah tanpa mengucap kata barang sepatah.


Hana memang tak bisa Andre temui atau bahkan sekedar dihubungi setelah pertemuannya malam itu. Sudah jelas mereka mau menikah, tapi kenapa untuk bertemu saja semua seperti mempersulitnya.

__ADS_1


Dika kasihan sebenarnya melihat Andre seperti ini, namun diwaktu yang sama ia geli juga melihat pria raja tega yang selama ini dikenalnya begitu rapuh saat berurusan dengan wanita.


Tanpa mau membuang waktu lebih lama, Dika segera masuk untuk menemani Rina.


Dika memang tak mau banyak pertimbangan untuk masalah ini. Rina dan bayinya kini menjadi prioritas utama. Itulah yang Dika lakukan sekarang yang merupakan hasil wanti-wanti Rudi selama ini.


Dika ingat betul bagaimana dulu mamanya berjuang sendiri setelah melahirkan Rista. Dika kecil yang kala itu belum tahu apa-apa hanya bisa diam dipojokan kala mendapati mamanya sering kali menangis sendirian. Bahkan tak jarang saat Rista bayi menangis, sang mama juga ikut menangis. Bukannya menenangkan atau mencari penyebab tangisan anaknya seperti semestinya ibu kepada anaknya.


Dika kecil kerap bertanya, apakah mamanya tak menyayangi Rista? Bahkan di hari-hari berikutnya, ia juga ikut diacuhkan. Hingga tiba waktu kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai, Dika memilih untuk mengajak serta adiknya untuk ikut sang papa. Karena merasa sang mama tak lagi peduli dan sayang terhadap mereka.


Dan baru dewasa ini ia tahu, ada badai besar yang menghantam mahligai kedua orang tuanya kala itu. Ditambah baby blues yang menyerang sang mama pasca melahirkan. Untung saja Rista tak sampai menjadi korban dan masih baik-baik saja sampai sekarang.


Itulah yang Dika yakini sekarang. Meski tak tahu pasti apa yang mengganggu pikiran Rina, yang jelas ia ingin berada di sampingnya dan menjadi sandaran adalah misinya sekarang. Berharap semua akan baik-baik saja, demi Rina maupun untuk Gendis putri mungilnya.


“Astaga,” lirih Dika.


Pasalnya saat pintu baru terbuka, ia langsung disambut dengan penampakan Rina yang menangis tertahan sambil memandangi dengan enggan putri kecilnya yang sedang terlelap sekarang.


Kenapa persis sekali dengan Mama kala menatap Rista saat masih bayi dulu. Batin Dika.


Dika buru-buru mendekat dengan hati yang berselimut cemas. Ya Allah,semoga semua baik-baik saja.


“Sayaaannggg…”  Rina langsung menghambur ke pelukan Dika begitu menyadari keberadaan suaminya.


Dika mengusap lembut punggung Rina. “Kenapa lagi Sayang? Bilang dong kalau ada masalah…” tanya Dika dengan penuh kasih.


Rina menarik tubuhnya hingga langsung terlepas pelukan keduanya. Dan dengan kasar menghapus jejak air mata di wajahnya selanjutnya.


“Aku keseeelll…” ujar Rina kemudian.


Dika menghapus jejak air mata yang masih tersisa di wajah ayu istrinya dan meski tangan telah menyelesaikan tugasnya, matanya tetap terpaku disana. “Siapa yang bikin kamu kesel?’ tanya Dika masih dengan nada yang sama.


“H h h h, hhuufffttt…”


Rina menarik nafas dan menghembuskan lewat mulutnya. Rina sempat mendongak dan memastikan tak ada air mata yang tersisa di wajahnya. Ia juga meraih tissue untuk membersihkan ingus yang mengganggu lubang nafasnya.


Melihat istrinya yang sibuk seperti ini, ada lega yang menyeruak di hati Dika. Rina sudah peduli pada hal-hal detail begini, yang itu tandanya ada kabar baik tentang suasana hati istrinya saat ini.


Memang benar kata Ayah, wanita itu luar biasa. Jika wanita sedang ada dilema, sebagai pasangan kita hanya perlu ada di sampingnya dan mendengarkan jika ia menumpahkan keluh kesahnya. Dengan begitu, suasana hatinya akan membaik dan dilema itu akan otomatis diatasinya sendiri.

__ADS_1


Pria tak perlu ikut pusing mencari solusi, karena solusi itu bisa datang kala hati tenang. Lantas, masihkan kita egois dan menganggap wanita itu merepotkan?


Bersambung…


__ADS_2