
"Ngapain sih Rin kamu ngajak kita ke sini!" protes Nita saat tahu kemana tujuan mereka.
"Kita bukan bocah Rin, astaga..." Dian menepuk jidat tak percaya.
"Aku udah lama nggak main ginian. Dan main kayak gini bisa ngilangin stress, dijamin."
Rina masih terus menarik ke dua sahabatnya untuk masuk ke arena timezone.
"Eh. Kok itu tutup, nggak bisa masuk dong." Rina mendesah kecewa karena melihat area timezone tutup.
Namun senyum Rina terbit kembali saat seorang pegawai datang dan menyingkirkan tulisan close yang tadi terpajang.
"Ayo lanjut." Dengan semangat berkobar Rina memasuki arena timezone.
"Mbak, tadi kenapa tutup?" tanya Dian yang duduk menyaksikan kedua sahabatnya mulai bermain.
"Ada inspeksi dadakan Mbak oleh CEO baru, kita udah panik nggak tahunya masih bocah." Jawab pegawai itu dengan disertai tawa kecil.
"Jangan gitu lah Mbak, siapa tahu dia cuma baby face. Nggak mungkin kan sembarang orang bisa jadi CEO gitu aja."
"Tapi beneran Mbak, tuh tuh tuh...." pegawai itu menunjuk segerombolan orang berjas yang lewat dengan langkah tergesa.
Dian turut menatap ke sana. Dian terperangah menatap sosok dengan postur yang tinggi menjulang yang membuatnya begitu mencolok di banding orang di sekelilingnya. Benar kata pegawai itu, dia begitu muda dan tampak gagah berkharisma dengan balutan jas hitamnya.
"Rin, Rin, Rin!" Dian memanggil Rina dengan heboh saat menyadari siapa yang lewat kini. "Rin, buruan. lu kudu kesini, Rin!"
Dian meneriaki Rina dengan tak sabar. Rina yang masih asik dengan gamesnya mengacuhkan panggilan Dian.
"Astaga!" Dian menarik paksa Rina untuk memperlihatkan apa yang baru saja lewat di sana.
"Apa sih?!" protes Rina karena merasa Dian mengganggu kesenangannya.
"Loh, kok udah ilang ya...?!"
"Apa, apa?! Ada hal menarik apa sampai gue harus ninggalin permainan yang dikit lagi menang?!"
"Ish, tadi ada Dika lewat, tapi penampilannya beda banget." Dian masih celingak-celinguk mencari kemana arah kepergian Dika dan rombongannya tadi.
"Mbak!" Dian memanggil pegawai Timezone yang ia ajak ngobrol tadi.
"CEO baru tadi jalan ke arah mana ya?" tanya Dian saat pegawai itu mendekat.
Pegawai itu menatap remeh Dian dan Rina. "Mau ngegodain dia ya?" pegawai itu tertawa remeh setelahnya.
"Ck, kita ada perlu Mbak."
"Hallah, modus ABG jaman sekarang nggak ada matinya. Jangankan yang kelihatan cakep, om-om pun di sabet kalau udah berurusan sama duit."
Tangan Dian mengepal. Ia tak terima dihina seperti ini. "Jaga baik-baik ya ucapan Mbak, Mbak bisa kehilangan pekerjaan karena nggak sopan sama kami."
"Oke, aku tunggu. Permisi ya, saya masih banyak pekerjaan." Pegawai itu berjalan meninggalkan Dian yang mulai mengomel tak jelas karena begitu kesal dengan penghinaan yang dia terima pinangan.
"Di, udah. Yuk ikut main aja." Rina mengajak Dian untuk mencoba salah satu wahana permainan di sana.
"Ogah, gue mau balik." Dian berjalan keluar area timezone tanpa menghiraukan Rina yang meneriakinya dan Nita yang masih di dalam.
"Ck," Rina berdecak frustasi. "Gue yang butuh hiburan tapi sekarang gue malah mumet."
"Ngapain di sini? Dian kemana?" Tiba-tiba Nita sudah muncul di samping Rina.
"Syukur deh kamu keluar, ayo cepat susulin Dian."
"Memangnya dia kemana?"
__ADS_1
"Udah ntar aja ceritanya."
Keduanya pun bergegas menyusul Dian meninggalkan area timezone. Beruntung, mereka dapat menemukan Dian tak jauh dari sana.
"Alhamdulillah, nemu juga." Rina menjatuhkan tubuhnya di kursi yang sama dengan Dian.
"Ngeliatin orang lebih menyenangkan daripada main nggak jelas kayak tadi."
"Emang tadi kenapa sih?" Nita yang memang tak melihat kejadian dimana Dian beradu mulut dengan pegawai timezone membuatnya benar-benar tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
"Hai. Kalian di sini?"
Merasa ada yang menyapa membuat ketiganya spontan menoleh.
"Dika."
Ketiga gadis ini kompak menyebutkan satu nama.
Dika segera melempar senyum untuk membalasnya.
"Tuh kan, aku nggak salah lihat. Tadi emang bener kamu yang lewat."
Dika menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena ketiga gadis ini tengah menatapnya.
"Beneran kamu CEO?" tanya Dian lagi.
"Kamu percaya?" bukannya menjawab, Dika malah balik bertanya.
"Emmm,...." tiba-tiba Dian ragu. "Umur kamu berapa sih?"
Dika terkekeh mendapat serangan pertanyaan macam itu. "Kalian udah makan?"
"Kayaknya disini makanannya enak." Nita langsung menarik Dian dan nyelonong memasuki food court yang berada tak jauh dari mereka.
"Ganteng banget ya aku pake ginian?" Dika turut memperhatikan penampilannya.
"Ha?!"
"Iya, sampai kamu kayak gitu banget ngelihatnya." Dika meraih pinggang Rina dan mengajaknya segera masuk.
Di dalam nampak Dian dan Nita sedang berbincang di salah satu meja.
"Gabung sana aja yuk, sama adikku juga."
"Rista juga ada?" tanya Rina.
"Iya, sama Dedi dia."
Ketiganya berjalan menuju tempat di mana Rista dan Dedi berada.
"Kak Rina!" Girang Rista saat melihat keberadaan Rina di samping Kakaknya.
"Hai." Rina melepaskan dirinya dari Dika dan memeluk Rista.
"Kalian janjian?" tanya Dedi yang masih asik dengan ponsel di tangannya.
"Nggak," Dika menarik kursi untuk Rina dan duduk di sebelahnya.
"Hai..." kompak Dian dan Nita saat Rista tersenyum ke arah mereka.
Saat itu Dedi turut mendongak karena sebelumnya tak sadar jika ada orang lain yang datang selain Dika dan Rina.
"Kenalin, ini temen-temen aku."
__ADS_1
Keempat orang itu kemudian saling berkenalan. Setelahnya mereka mulai memesan makanan.
"Ketemu dimana ini tadi?"
"Siapa?" tanya Dika.
"Ya kalian."
"Di depan tadi." Dika meraih tangan Rina dan menggenggamnya.
"Astaga, cuma dengan ngeliat aja gue udah melting." Dian berbisik pada Nita saat melihat kemesraan Dika dan Rina.
"Rina abis kejedot kali pas mutusin Dika," balas Nita. Keduanya tersenyum geli.
"Ehm, Rista kelas berapa?" tanya Nita kemudian.
"Kelas 1 Kak," jawab Rista.
"Owh jadi kalian beda setahun ya..." ucap Dian menimpali.
"4 tahun Kak, bukan 1 tahun?"
"4 tahun?" beo Dian dan Nita. Keduanya kemudian saling memandang.
"Rista ini kelas 1 SMP," ucap Rina menjelaskan.
"What?!"
Plak
"Awh!!"
Semua di sana tertawa melihat kekonyolan Dian dan Nita. Bagaimana tidak, baru saja Nita memekik karena terkejut, dia sudah dibuat kembali berteriak menahan sakit karena Dian memukul pahanya.
"Di, kamu kok jahat sih." Nita protes sambil mengelus pahanya yang terasa panas.
"Abis situ kalau teriak suka nggak lihat sikon."
"Ini spontan tau," bela Nita dengan cemberut.
"Aku pas awal ketemu Rista juga kaget kok," timpal Rina.
"Bisa dilihat kan, Kakaknya aja setinggi ini." Dika menyombongkan dirinya. Setelahnya dia kembali merangkul Rina dan mendaratkan sebuah kecupan di puncak kepalanya.
"Permisi."
Saat ini datang waiters yang membawa pesanan mereka.
"Rina/Dika..." Keduanya kompak saling memanggil.
"Kamu aja." Dika mempersilahkan Rina untuk lebih dulu berbicara.
"Aku nanti pengen ngomong, bisa nggak?"
Dika tersenyum.
"Kok malah senyum sih..."
"Aku juga pengen ngomong gitu."
Keduanya tertawa dan berlanjut dengan makan bersama di sore yang cerah ini.
TBC
__ADS_1
Say something dear.