
HAPPY READING
Lepas asyar, Nuke sudah menginstruksikan anak buahnya untuk segera menutup tokonya. Hal ini karena malam ini mereka semua harus menghadiri undangan makan malam oleh Surya Group. Untuk acara istimewa ini, mereka butuh waktu untuk bersiap-siap sehingga tak akan cukup waktunya jika mereka menutup tokonya seperti biasa.
Setelah Nuke meninggalkan toko, Haning juga ikut-ikutan meminta ijin untuk pulang meninggalkan rekan-rekannya yang harus menutup dan membereskan toko. Ia ingin ke salon untuk memastikan penampilannya sempurna malam ini.
“Duh, kita gimana dong? Masa nanti perginya polosan?” gerutu Anin saat mereka masih belum bisa segera pulang.
“Polosan gimana sih Nin?” Eka balik bertanya pada Anin yang sedang bersamanya membersihkan bagian depan.
“Ya Mbak Haning saja ke salon, sedangkan aku? Mau ikut-ikutan sayang uangnya,” lanjut Anin menjelaskan.
“Yang di depan sudah belum?! Butuh bantuan nggak?!” tanya Risma dari belakang dengan setengah berteriak.
Anin dan Eka tak langsung menjawab. Mereka beradu pandang sejenak sebelum sama-sama mengembangkan senyumnya setelah sekelebat ide muncul di masing-masing benaknya.
“Apa isi kepala kamu sama denganku?” tanya Eka pada Anin. Ia mengacuhkan teriakan Risma yang belum mereka jawab sebelumnya.
“Emang kamu mikirin apa?” Anin balik bertanya.
Dua wanita ini sempat saling tatap dengan bibir tersenyum sebelum melempar pandangannya ke bagian belakang.
“Tuh…” ujar Eka yang menjatuhkan pandangannya pada Hana yang nampak sibuk di bagian belakang.
“Sama…” ujar Anin yang kini menatap objek yang sama dengan Eka.
Keduanya memacu langkahnya secara serempak ntuk menghampiri Hana. Mereka langsung mengamit Hana di kiri dan kanannya.
“Kalian kenapa sih?” kaget Hana karena perlakuan tiba-tiba dari rekannya.
Tanpa menjawab, Anin dan Eka mengambil alih barang yang tengah Hana bereskan dan membawa wanita ini untuk didudukkan ke sebuah kursi.
“Kalian ini kenapa? Ada apa?” kembali Hana bertanya sambil menatap bergantian wajah kedua rekan yang berdiri di hadapannya ini.
Eka dan Anin menatap dengan seksama penampilan Hana, sebelum keduanya dengan gerakan serempak menganggukkan kepala.
“Astaga. Kalian ini kesambet apa gimana sih?” heran Hana karena pertanyaannya masih diacuhkan.
“Udah selesai ya beres-beresnya?” Belum juga pertanyaan Hana pada Anin dan Eka terjawab, Risma sudah datang dan nimbrung dengan ketiganya.
“Belum, dan aku malah ditahan seperti ini,” adu Hana pada Risma.
Dengan memegang sapu Risma berjalan menghampiri ketiga rekannya. “Kalau kalian capek, biar aku sama Hana saja yang melanjutkan,” uacapnya kemudian.
"Ayo Han," ajak Risma, namun langsung ditahan oleh Eka.
“Aku sama Anin lagi butuh bantuan Hana. Kamu juga nggak?” tanya Eka pada Risma.
Risma ikut-ikutan bingung dengan sikap dua rekannya ini. “Bantuan apa emang?” tanya Risma sambil melayangkan tatapannya pada Hana.
Namun respon Hana hanya berupa gelengan kepala.
__ADS_1
Akhirnya Hana menghela nafas. “Oke deh. Kalau kalian bilang butuh bantuanku kan. Bantuan apa? Cepat jelaskan karena kita tak punya banyak waktu lagi.” Hana memutuskan untuk langsung bertanya ketimbang membuang-buang waktu dengan menerka-nerka.
“Gini Han, diantara kita berempat, kamu yang paling ngerti fashion...” ujar Eka mengawali ucapannya.
"Iya, terus..." desak Hana karena Eka masih menggantung ucapannya.
"Selain selera fashion kamu yang bagus, kamu sekarang juga tampil dengan make up, berarti kamu bisa pake make up kan?" tanya Eka memastikan.
Hana mengangguk untuk mengiayakan pertanyaan rekannya. “Terus?” tanya Hana yang belum paham arah permicaraan Eka.
“Ta intinya bantu kami untuk acara nanti malam. Lihat sendiri kan mbak Haning saja bahkan sampai ke salon demi tampil pantas, lha kita…”
Otot Hana yang semula kaku mendadak lemas seketika. Hana menghembuskan nafasnya ke atas membuat beberapa helai rambut yang jatuh di di dahinya turut terdorong ke atas.
“Kenapa Han? Sepertinya kamu baru melepaskan ketegangan?” tanya Risma saat melihat kelakuan Hana.
“Ya enggak. Awalnya aku pikir ada apa, soalnya kalian kelihatan serius semua,” ujar Hana dengan tawa kecil di akhir kalimatnya.
“Ini memang soal serius Han, karena menyangkut masa
depan kita. Ya walau pun kita tahu kalau kamu yang menjadi bidikan mereka. Atau kalau memang benar kamu bisa menolak, mbak Haning lah yang menjadi kandidat terkuat setelahnya…” jelas Eka dengan sedikit nada kecewa.
“Ya jangan gitu. Kita semua sama kok, bahkan pengalaman kalian lebih banyak dari aku…” ujar Hana untuk menyemangati rekan-rekannya.
“Ya udah lah, apa pun itu, kamu mau kan bantuin kita…” pinta Anin akhirnya.
"Oke, bisa, bisa," ujar Hana menyetujui.
"Yes, makasih Han," ujar Eka.
“E tapi bentar deh...” Risma membuat langkah rekan-rekannya terhenti seketika.
“Apa lagi Ris. Hana sudah setuju, dan sekarang kita harus segera membereskan ini terlebih dahulu,” kesal Eka.
“Tapi masih ada satu masalah lagi yang harus kita hadapi,” ujar Risma lagi.
“Apa?” tanya Eka mulai gusar.
“Hana memang bisa make up, tapi salah satu diantara kita nggak ada satu pun yang punya alat make up,” imbuh Risma.
Hana tertawa kecil dengan kepolosan rekannya yang satu ini.
“Now look at me…” ujar Hana meminta rekan-rekannya untuk menatap keseluruhan penampilannya
Ketiga wanita ini serempak menatap Hana.
“What are you looking now?” tanya Hana karena rekan-rekannya hanya menatap dan tak kunjung mengatakan apa-apa.
“Cantik,” serempak ketiganya.
Sudut bibir Hana tertarik seketika. Ia tak percaya dengan kekompakan tiga orang ini yang sama-sama tak tahu apa maksudnya.
__ADS_1
“Ini, ini. Ini lihat ni, aku pakai make up kan?” tanya Hana sambil menunjuk wajahnya.
Ketiganya kompak menganggukan kepala.
“Dengan kata lain. Aku punya keperluan make up yang yang nanti kita butuhkan. Termasuk kalau kalian maunya look seperti aku.”
Kembali ketiganya hanya mengangguk.
“Intinya ayo cepat kita selesaikan semua ini dan kita ke kosan bareng-bareng,” putus Hana.
“Kos siapa?” tanya Risma.
“Ya kos kamu lah. Selain make up, nanti kita juga butuh gaun, dan seingatku ada beberapa gaun yang terbeli oleh Andre.”
Baru saja Hana hendak melanjutkan pekerjaannya, Anin sudah menahannya lagi.
“Apa lagi Nin...?” tanya Hana sebelum balik badan.
“Apa baju-baju itu muat untuk kita?” tanya Anin memastikan.
Hana balik badan dan meletakkan sebelah tangannya di bahu Anin. “Aku rasa dari sekian banyak baju itu pasti ada yang muat di badan kalian,” ujar Hana meyakinkan.
Anin dan Eka menyambutnya dengan senyum bahagia.
“Ya kalau Anin sama Eka badannya kurus, yang montok kayak aku gimana?” protes Risma yang merasa nasibnya belum benar-benar aman sekarang.
“Gampang lah nanti.”
Risma mendengus. “Kalian bisa tampil cantik, aku sepertinya harus tetap puas tampil apa adanya.” Risma meragukan ucapan Hana barusan.
“Tenang aja Ma. Aku punya skill desain juga selain skill make up yang tak perlu diragukan,” sombong Hana.
“Masa? Bisa jadi desainer dong kamu nanti,” cibir Risma.
“Mungkin, tapi nggak ada modalnya saja, ha ha ha...” Hana menertawakan ucapannya sendiri.
“Kan tinggal bilang sama And, ekh ekhm…” Risma menelan kembali ucapannya saat Hana tiba-tiba memelototinya. Ia kemudian meringis sambil berlalu sambil membawa sapu.
“Ya udah teman-teman. Ayo kita beres-beres…”
“Yo yo yo…”
Anin dan Eka menyambut bahagia instruksi dari Hana dan mereka tak sabar dengan apa yang bisa Hana lakukan untuk mereka.
Sementara Hana juga sedang memendam cemas sebenarnya. Karena hari ini belum sekalipun Andre menghubunginya. Apa yang sedang pria ini lakukan. Apa ia sudah makan, atau jangan-jangan ia melewatkan makan siangnya lagi. Bagaimana pun juga ia sedang dalam kondisi kesehatan yang kurang baik, sehingga ia harus makan sehat dan cukup istirahat. Tapi apa daya, kesibukannya tak mengijinkan Andre untuk sekedar punya jam tidur lebih panjang.
“Kita sudah selesai Han, kamu gimana?” tanya Anin yang menghampirinya.
Karena Hana bekerja dengan pikiran kemana-mana, akhirnya ia tak bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan sempurna, sehingga saat ketiga temannya selesai, ia masih menyisakan banyak pekerjaan.
“Ya udah kita bantu,” putus Risma.
__ADS_1
Akhirnya keempat orang ini bahu membahu agar Hana bisa segera menyelesaikan pekerjaannya sehingga mereka bisa segera mempersiapkan diri untuk jamuan malam ini.
Bersambung…