Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Terkuak


__ADS_3

HAPPY READING


“Kita makan dulu saja ya…”


“Lanjut kan Hana,” potong Andre cepat karena sepertinya Hana mulai ragu untuk melanjutkan bicara. “Kamu tak mau kan selera makan mereka hilang karena penasaran,” lanjutnya sembari meletakkan polsel yang sempat beberapa saat dimainkannya.


Hana tersenyum engan. Jujur ia takut di timpuk oleh mantan rekan kerjanya jika mereka tahu ia adalah Hana sang pencuri uang dan data perusahaan. Yang kini pun telah berhasil mencuri hati Andre, sang mantan atasan yang kebetulan ditaksir sang mantan rekan kerja.


Hana menraih air putih untuk melegakan dada dan tenggorokannya. Setelah merasa lebih baik, Hana mulai bersiap untuk membuka kedoknya.


“Kita memang pernah bertemu bahkan pernah bekerja sama dalam kurun waktu kurang lebih setahun lamanya,” ujar Hana memulai ucapannya.


Spontan sorot tak percaya terpancar dari mata ketiga mantan rekan kerjanya.


“Kamu jangan ngaku sebagai Raihana ya, nggak mirip…” ujar Rahma yang tanpa ragu mengutarakan ketidak percayaannya.Namun ia segera menutup mulutnya saat baru saja sadar ia sedang bicara dengan siapa. "Maaf," lanjutnya kemudian.


Hal ini spontan membuat Andre tertawa kecil di tempatnya, namun ia tetap diam karena ia bertekat untuk tidak ikut campur dalam urusan Hana.


“Saya tak mungkin menjelaskan detailnya, tapi saya memang Raihana…”


“Oke nama kamu Hana. Mungkin juga Raihana. Tapi di dunia ini tak ada dua orang yang benar-benar sama,” lanjut Rahma.


“Tapi aku memang orang itu Rahma.”


“Kami nggak percaya. Buktinya Pak Andre diam saja,” lanjut Rahma yang diikuti tatapan menyelidik oleh kedua rekannya pada Andre yang memang diam saja. Rasa penasaran Hana berhasil mengalahkan rasa takutnya berbuat kurang sopan demi menjawan rasa ingin tahunya.


“Apa maksud pandangan kalian? Sudah bosan kerja dengan saya?” lanjut Andre dengan nada pongah meski ucapannya tak nyambung dengan apa yang tengah di bahas sekarang.


“Kami hanya mau tahu Pak. Apa benar dia Raihana?” lanjut Rahma yang sudah terlanjur berkobar rasa ingin tahunya.


“Benar…” singkat Andre sambil meraih alat makan yang disiapkan di depannya.


“Kok bisa?!” serempak Elis, Rahma, dan Riza.


“Kenapa harus tidak bisa,” jawab Andre sambil memasukkan potongan daging steak ke dalam mulutnya.


Tiga wanita ini masih saling menatap tak percaya sebelum memperhatikan baik-baik wanita cantik di hadapan mereka.


“Gaya bicara dan suara kamu memang mirip,” ujar Riza yang pertama bersuara.


“Suara mah banyak yang mirip Mbak,” timpal Rahma yang masih tak percaya.

__ADS_1


Elis hanya manggut-manggut setuju dengan pendapat rekannya ini. Sayangnya ia baru saja lepas dari masalah besar karena dengan berani mengungkap perasaannya pada atasannya ini. Nyaris kehilangan pekerjaan membuat ia tak berani banyak bertingkah sekarang.


“Aku tahu Mbak Riza punya anak namanya Bilqis, suami Mbak Riza namanya Pak Eko, iya kan Mbak?”


Riza menggut-manggut tak percaya. “Iya kok tahu…”


“Tahu, kan setiap istirahat Mbak selalu membahas masalah itu, bikin kita yang jomblo suka iri kan…?” ujar Hana sambil menatap ketiga mantan rekannya ini.


“Ya kamu kenapa nggak ganti cerita tentang saya,” ketus Andre tak terima Hana mengatakan dirinya jomblo.


“Ya itu kan dulu Bapak Andre Wiguna. Anda diam saja dulu, jangan banyak menyela.”


Andre yang langsung menurut membuat Elis tak terima . Bagaimana seorang Andre yang dominan bisa takhluk hanya dengan seorang Hana. Andre biasanya tak bisa dilarang. Bahkan hanya disela pun ia sudah murka.


“Waktu itu kamu naksirnya sama pak Restu, eh,” buru-buru Elis menutup mulutnya yang mengeluarkan kalimat laknat itu. Ia seakan tak sengaja berucap, padahal ia menyusun kalimat itu dengan rapi di dalam kepalanya sebelum dengan berani dikeluarkan dari mulutnya.


Spontan Hana menatap Andre dan menggeleng sebelum kekasihnya ini marah karena ada pria lain yang disebut dalam hidupnya. Reaksi tak kalah panic juga diberika Rahma dan Riza karena Elis sudah bicara dengan begitu beraninya. Mereka tak menyangka Elis akan membahas masalah itu karena sejujurnya mereka hanya mendengar rumor tanpa tahu fakta sebenarnya yang ada.


“Maaf…” lirih Elis lagi dengan kepala tertunduk takut-takut. Kali ini ketakutannya tak pura-pura, karena ia sadar dengan siapa ia berhadapan sekarang. Hana dan Andre hanya diam, namun hal ini yang membuatnya justru kian merasa tertekan.


Tanpa diduga, Andre justru nampak santai Andre mengunyah makanan yang sudah terlanjur masuk ke dalam mulutnya.


“I know you so well Sayang. Aku tahu kamu bahkan lebih dari siapa pun di dunia ini.” Andre mencium kening Hana di akhir ucapannya.


“Jadi Anda benar Hana rekan kami dulu?” tanya Elis hati-hati. Ia sudah menyerah sekarang.


“Benar.”


Elis menunduk lagi.


“Panjang sekali ceritanya sampai saya bisa mendapatkan cinta atasan kita ini. Tapi yang jelas saya minta maaf jika selama kita bekerja, ada hal yang tak menyenangkan yang saya lakukan pada kalian. Terutama saat saya pergi. Saya bahkan pergi begitu saja tanpa sempat berpamitan, bahkan meninggalkan kesan yang sangat tak baik untuk kalian.”


Hana tertawa kecut dengan kepala perlahan tertunduk.


“Pembalasanmu sungguh kejam Hana,” ujar Andre memecah hening.


Saat orang lain akan gemetar mendengar ucapan Andre yang seperti ini, Hana justru mengangkat wajahnya yang di sana sudah tercetak tersenyum haru lengkap dengan mata yang berkaca-kaca. Dua sejoli ini saling tatap dan perlahan tangan Andre terangkat. Semula ia menyelipkan rambut Hana di belakang telinga sebelum akhirnya bertahan di rahang ramping kekasihnya.


“Aku harusnya berterimakasih. Meski awalnya sakit saat kamu melemparku dengan cara yang sangat kejam, tapi akhirnya kamu membuat aku merasakan bahagianya dicintai seperti sekarang.”


Dengan ibu jarinya Andre mengusap butiran air mata yang jatuh melewati pipi mulus Hana.

__ADS_1


“Mungkin jika kamu tak memberiku pelajaran sekejam itu, aku masih akan hidup dibawah tekanan dan terus tersenyum dalam kepalsuan,” lanjut Hana masih dengan derai air mata.


Andre menarik Hana ke dalam pelukannya. Ketiga mantan rekannya menjadi saksi bagaimana kerasnya hidup Hana.


Hana mulai terisak di dalam dekapan Andre. Hal ini membuat tiga lagi wanita di sana ikut terharu karena seolah merasakan pedih hanya dengan melihat Hana. Mereka memang tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi dengan melihat Hana seperti ini, mereka yakin apa yang pernah Hana hadapi bukanlah perkara mudah dan mudah untuk diatasi.


Meski Hana punya kecantikan yang bisa membuat laki-laki silau, tapi mereka yakin Andre bukan pria yang gampang tertipu hanya dengan digoda oleh paras cantik seorang wanita.


“Maaf…” ujar Hana setelah menarik dirinya dari rengkuhan kekasihnya. Ia tak enak karena harus membuat suasana makan siang menjadi tak enak.


“Tidak apa-apa Nona,” serempak Elis, Riza dan Rahma.


“Boleh tidak kalau saya kalian panggil Hana seperti dulu…” pinta Hana dengan tangan sibuk mengorek-orek tasnya untuk mencari sebuah benda.


Rahma yang paham apa yang Hana butuhkan, segera menyodorkan tisu yang memang selalu ia bawa bersamanya.


“Terimakasih Rahma,” ujar Hana menerima uluran mantan rekan kerjanya.


“Sama-sama… Hana…” Sedikit ragu Rahma menyebut nama Hana setelah tahu sekarang ia adalah kekasih bosnya.


“Ya sudah, kalian makan dulu,” ujar Andre mempersilahkan. “Hana, kita ke toilet ya,” ajak Andre tapa jeda dari kalimat sebelumnya.


“Apakah penampilanku seburuk itu?” tanya Hana yang tahu apa maksud di balik ajakan Andre.


“Aku pernah melihatmu jauh lebih buruk dari ini…”


Hana segera bangkit. Ia tak mau menbiarkan Andre meracau lebih banyak lagi apa lagi sampai pria ini membuka aib mereka. Setelah itu keduanya berjalan meninggalkan ruangan yang mereka gunakan untuk makan siang.


“Nggak heran ya pak Andre bisa bertekuk lutut dengan Hana, dia memang cantik dan menggoda,” ujar Rahma sambil menepuk bahu Elis. Entah apa maksudnya, untuk menyadarkan Elis atau untuk menguatkan sahabat sekaligus rekan kerjanya ini.


 


Elis menghela nafas dan sepertinya ia masih butuh waktu untuk dapat menerima ini semua. Fakta jika ia harus patah hati dan fakta yang menempati hati Andre adalah Hana, mantan rekan kerjanya yang didepak sendiri oleh Andre sebelumnya.


"E tapi kalian ngerasa aneh nggak sih. Kenapa Hana bisa seberubah ini. Cantik emang, tapi kita sampai nggak mengenalinya itu kan luar biasa. Apa mungkin dia operasi atau..."


“Sudah-sudah. Ayo kita makan, jangan bahas mereka lagi,” sela Riza. Ibu anak satu ini sepertinya tak hobi bergosip seperti kebanyakan ibu-ibu di luar sana.


“Tapi mereka memang serasi…” ujar Elis tiba-tiba.


Rahma nyaris tersedak. “Kamu ihlas ngomong itu Lis?”

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2