
HAPPY READING
“Ha ha ha ha…!!!”
Andre tertawa terbahak-bahak dengan menunjuk objek yang terpampang di depannya. Ia bahkan harus jongkok dan memegangi perutnya yang kram akibat terlalu lama tentawa. Dari sudut matanya pun keluar air mata, namun hal ini tak dihiraukannya. Sementara yang ditertawakan hanya merengut dan menggeliat seperti ular yang kekenyangan.
“Andreeeee…”
Yang dipanggil sama sekali tak peduli. Akhirnya Hana memilih untuk diam karena pusing yang tak mampu ia tahan.
“Eh, kok diem.”
Andre langsung bangkit dan kembali menggelitiki Hana.
“Aaaaaaa!!!!! Andre stop Andre. Andrreee!!!! Aaaaaaaa!!!!!”
Hana terus berteriak dengan kencang. Mereka tak peduli meskipun ini sudah hampir pagi. Andre belum puas mengerjai Hana. Hingga Hana tak mampu lagi berteriak dengan wajah yang mengenaskan.
“Andre, aku nggak tahan…” lirihnya dengan suara lemas.
Apa ada yang bertanya apa yang tengah mereka lakukan?
Setelah Hana tragedi Hana menyiramkan muntahannya pada Andre, ia benar-benar merasa akan habis malam ini malam ini juga. Ia hanya mampu menangis saat Andre terus mengerjainya dan menanggalkan satu-persatu kain di tubuhnya. Jika beberapa hari yang lalu ia menagis karena Andre yang tak sudi menyentuhnya meskipun telah melihat seluruh asetnya, kini ia menangis karena Andre nampak lapar dan ingin benar-benat memakannya.
Namun saat Hana mulai terlena dan tak mampu lagi berteriak, tiba-tiba Andre bangkit dan membiarkannya tergeletak di atas ranjang. Spontan Hana meraih apapun untuk menutupi dirinya.
Hana menatap ngeri saat Andre yang miring dan menatapnya. Tuhan,apa masih boleh aku meralat ucapan. Aku lebih baik dihina, daripada harus diperkosa dan kehilangan kehormatan.
Andre kembali bergerak mendekat dan Hana memejamkan mata dengan erat. Sudah lah, mungkin kesalahanku terhadap mereka memang tak bisa dimaafkan lagi.
Namun Hana malah merasa tubhnya mendadak ketat. Pergerakan tangan dan kakinya terhalang dan saat membuka mata, ia melihat Andre yang tengah menggulungnya dengan kencang di dalam selimut.
“Kamu apa sih Ndre?”
“Hanya berusaha menghindari dosa. Seingatku keyakinan di KTP kita sama, jadi paham kan,” terang Andre dengan santai.
“Terus kenapa kamu giniin aku?!” protes Hana sambil menggeliat.
“Aku hanya berusaha menutup auratmu. Jika aku membiarkanmu seperti tadi, aku bisa saja khilaf dan…”
Andre membungkukkan badannya. “Apa kamu lebih memilih aku mengajakmu bertarung hingga pagi?”
Spontan Hana menggeleng dan Andre kembali menegakkan tubuhnya. Pria ini berjalan mengambil bajunya di lemari dan mulai mengenakannya. Hana menghela nafas, setidaknya ia bisa tidur sekarang. Ia tak peduli pada Andre yang berjalan mendekat ke arahnya. Ia merasa sementara ini Andre tak lagi menjadi ancaman baginya. Wanita ini perlahan mulai memejamkan mata. Ia sungguh lelah ditambah dengan pusing karena minuman yang untuk pertama kalinya ia minum minuman itu selama hidupnya.
Namun tanpa pernah diduga sebelumnya, Andre ternyata masih punya cara untuk membuatnya menderita. Mata yang semula terpejam kini terbuka sempurna saat geli datang dengan bertubi menyerang tubuhnya.
“Andre jangan Ndre, Andreee!!!!!”
__ADS_1
Andre begitu bahagia mengerjai Hana dengan cara ini. Ia mengerjai Hana hingga puas dan sama sekali tak menghiraukan rengekan Hana yang minta untuk dilepaskan.
Dan beginilah mereka sekarang, Andre memeluk tubuh Hana yang lemas dan terbungkus selimut.
Tidurlah.
Dan Andre pun turut memejamkan mata.
***
“Sudah berhasil menghubungi Pak Andre?” tanya Dika pada Riza.
“Maaf Pak, nomor ponsek pak Andre sebenarnya aktif, tapi tidak ada jawaban,” jawab Riza.
“Sudah coba menghubungi nomor apartemennya?”
“Sudah Pak, tapi tidak ada jawaban juga.”
Dika menghela nafas. “Lanjutkan pekerjaan kalian.” Dika kembali menghilang di balik pintu.
“Pak Andre kenapa ya?” bisik Elis kepada Rahma.
“Entah lah. Ini bukan kebiasaan Pak Andre,” balas Rahma. “Pak Restu juga kenapa lagi. Kayaknya beliau juga kacau,” lanjutnya lagi.
“Ya Tuhan, semoga para pemimpin kita baik-baik saja.”
Di dalam Dika benar-benar kalang kabut. Dia harus bekerja sendiri, mempersiapkan segala sesuatu sendiri tanpa ada yang bisa diajak berunding dan berbagi tugas. Sebenarnya ada banyak bawahannya, namun untuk hal-hal yang bersifat crusial, ia tak bisa mempercayakan pada sembarang orang.
“Kamu kemana sih Ndre, harusnya bilang saja kalau memang ada urusan mendesak, jangan main hilang seenaknya.”
Sebentar lagi tengah hari, dan pekerjaannya masih jauh dari kata selesai.
“Rina.”
Dika ingat jika istrinya mungkin saja bisa membantunya saat ini. Tapi mengingat hubungan mereka saat ini, apakah bisa?
Dika meletakkan semua pekerjaannya. Ia menyandarkan punggungnya di kursi. Dengan mata terpejam, ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia menyandarkan punggungnya di kursi dan berusaha menenangkan diri. Dika harus bisa berfikir jernih saat ini. Masalah yang datang bertubi itu bukan untuk dihindari melainkan harus serius dihadapi.
Akhirnya ia meraih ponsel dan menghubungi Rina saat itu juga.
Senyum cerah terbit saat itu juga saat tak perlu menunggu lama panggilannya sudah di jawab oleh Rina.
“Sayang, kamu kenapa semalam nggak pulang,” suara Rina terdengar cemas di seberang sana.
“Siapa bilang?” ujar Dika sambil mengulum senyumnya.
“Ck. Sekarang kamu dimana?”
__ADS_1
“Aku di kantor. Kamu sekarang lagi sibuk nggak?”
“Sibuk apa sih Pak Restu? Urusan gallery saja kamu kan sudah suruh orang, jadi tidak ada pekerjaan yang wajib aku kerjakan,” jawab Rina sambil meminum jus buahnya.
“Kalau ke kantor sekarang bisa?”
“Emm, bisa. Apa ada hal yang penting?” tanya Rina saat mendengar nada berbeda dari ucapan suaminya.
Dika menghela nafas. “Andre hilang lagi pagi ini, dan aku benar-benar kalang kabut sendiri.”
“Terus apa yang bisa aku lakukan?”
“Kamu intinya datang saja ke sini, nanti kita lihat apa yang bisa kamu lakukan. Yang jelas aku benar-benar pusing kalau sendiri.”
“Baik lah. Aku siap-siap dulu.”
“I’ll wait you.”
“Hm.”
Sambungan terputus dan Dika kembali pada berkas-berkasnya. Dan beberapa waktu kemudian Rina datang dengan membawa rantang berisi makanan.
“Siang semua,” sapa Rina pada staf sekertaris yang ia lewati saat menuju ruangan suaminya.
Ketiga perempuan itu berdiri. “Siang Ibu Rina,” serempak ketiganya dengan kepala menunduk hormat.
Rina sempat berhenti di depan pintu ruangan Dika. Ia menghela nafas untuk mengusir risaunya. Bagaimanapun juga, seharian kemarin keduanya dalam keadaan yang tak cukup baik. Setelah yakin ia mulai memutar kenop pintu dan masuk ke dalamnya segera.
Pintu tertutup dan Rina langsung dihadapkan pada kondisi Dika yang terlihat kacau. Dasi yang longgar dan jas yang sudah tanggal. Bahkan rambutnya pun terlihat berantakan.
“Kamu kenapa?” tanya Rina yang kini berjalan menghampiri suaminya.
Dika mendongak. Senyum lega terbit di wajahnya. “Syukurlah kamu sudah datang, sekarang kamu bantu aku ya. Eemmm, ini enaknya gimana ya.” Dika melihat banyaknya hal yang harus mereka selesaikan.
Setelah sebuah helaan nafas, Rina meninggalkan Dika dan berjalan menuju meja lain di dekat sofa. Ia meletakkan rantang yang ia bawa dan mulai mengeluarkan isinya.
“Itu dipending dulu, sekarang yang terpenting kamu harus makan.”
Rina tak memperdulikan apapun. Dia menarik suaminya dan ia dudukkan di sofa. Ia mengambil piring dan menata makanan untuk Dika.
“Sayang, pekerjaanku masih banyak.”
Rina diam saja. Ia justru mengambil sesendok penuh makanan dan mulai menyuapkan pada suaminya.
“Sayang kita makan dulu. Setelah itu aku janji akan berusaha membantumu. Aku tak secerdas dan setangkas Andre, tapi aku yakin bisa meringankan pekerjaanmu.”
Setelah mendengar ucapan Rina, Dika mulai membuka mulutnya. Ia tersenyum saat melihat Rina yang begitu telaten meladeninya.
__ADS_1
Bersambung…