Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Jelas


__ADS_3

HAPPY READING


“Libur barang seminggu masa nggak bisa Nak?”


“Kok seminggu Ma, sehari saja bisa kacau semua. Apa lagi Rina baru melahirkan seperti ini, pasti Dika juga belum bisa kembali kerja. Papa juga nggak mungkin kan mau menggantikan Andre selama Andre melakukan persiapan untuk pernikahan nanti?”


Ini adalah kediaman Wiguna, dimana Andre dipaksa untuk pulang ke rumah orang tuanya selama ia dan Hana belum resmi hubungannya. Keluarga kecil ini sedang sarapan sembari memikirkan tanggal pernikahan yang belum juga terputuskan. Di sini Edo yang paling getol memaksa agar putranya segera mengikrarkan ijab kabul dengan Hana setelah pembahasan lebih lanjut bersama calon besannya.


“Ya masa Papa harus bekerja sementara anaknya sedang melakukan persiapan pernikahan? Apa kata orang,” ujar Edo sebagai wujud dukungan terhadap pendapat anaknya.


“Nah maka dari itu. Lebih baik Papa Mama tenang-tenang, kalau sudah waktunya, pasti ijab kabul akan dilaksanakan,” ujar Andre dengan santainya. Ia bahkan bisa melanjutkan makan dengan tanpa beban.


Edo menatap anak semata wayangnya dengan sorot penuh keraguan. “Tck. Melihat modelan kamu mana mungkin Papa bisa tenang…” gumamnya dengan suara tertahan.


Bukannya gentar Andre justru mengerling menggoda. “Hmmm… Papa… Modelan Andre kaya siapa coba?” ujar Andre sambil menaikkan alisnya.


Selesai dengan kalimatnya Andre langsung melompat dari tempatnya. Susu yang masih memenuhi gelas ia acuhkan. Sarapan yang masih belum banyak berkurang ia campakkan, hanya ada sepotong roti panggang yang sampat ia sambar dengan tangan, sebelum melarikan diri meninggalkan kediaman orang tuanya menuju kantor saat ini.


Setelah apa yang ia ucapkan, bertahan disana bukanlah sebuah pilihan. Menyindir orang tuanya pastilah akan berbuah serangan. Serangan keroyoan dari mama papanya yang meski itu adalah kenyataan di bagian masa lalu mereka yang cukup kelam.


Sementara itu di kediaman Rahardja…


“Kalau ke KUA saja aku kira bisa lah Pa selesai dalam sehari semua prosesnya,” usul Rio pada papanya.


Saat ini Rio sedang berada di kediaman orang tuanya. Pagi-pagi ia sudah tiba di sana untuk bisa sarapan dan ngobrol dengan sang papa, juga Hana yang menjadi subject obrolan mereka.


Galih meletakkan alat makannya sebelum membalas tatapan Rio yang menunggu jawaban darinya.


“Itu tidak mungkin Rio,” ujar Galih dengan penuh keyakinan. Nampak jelas ia sama sekali tak memberikan ruang untuk mempertimbangkan. Ia meraih kembali alat makan yang sempat diletakkan dan kembali melanjutkan sarapannya.


Rio paham, bahkan tanpa perlu Galih jelaskan., sehingga ia memutuskan untuk diam.


“Posisi Hana sekarang sudah berbeda. Publik sudah tahu bahwa ia adalah calon penerus perusahaan Papa,” ujar Galih setelah menyelesaikan satu suapan. “Kecuali kamu mau mengalah, meninggalkan perusahaan kecilmu dan melanjutkan perusahaan Papa,” ujarnya sebelum kembali menyuapkan makanan.


Makanan di dalam mulutnya dengan segera Rio telan. Ia kemudian kembali menyuapkan makanan yang tandanya ia tak berniat menanggapi ucapan papanya yang sarat permintaan.


“Tidak bisa kan?” desak Galih.


Rio hanya membalas sekilas tatapan sang papa yang terasa memojokkannya. Sementara itu Hana hanya diam tanpa berniat bergabung dalam pembahasan.


Meja makan jadi tenang. Hanya denting alat makan menjadi satu-satunya melodi di ruangan elegan. Meski ada juga Mustika selain mereka bertiga, wanita ini juga terbiasa untuk tak banya bicara saat waktu makan tiba.


Rio meletakkan lap menyusul alat makan yang ia letakkan terlebih dahulu. Ia melihat sekilas jam yang melingkar di pergelangan tangannya sebelum bersiap pamit undur diri dari sana.

__ADS_1


“Rio pamit Ma, Pa…” ucap Rio pada kedua orang tuanya.


“Mau ke kantor?” tanya Mustika memastikan.


Rio mengangguk.


“Hati-hati,” ujar Mustika.


Rio segera undur diri seusai mencium tangan kedua orang tuanya. Ia mengajak Hana ikut serta karena Indah memintanya.


Dalam perjalanan Rio dan Hana lebih banyak diam. Jujur Rio sedang khawatir dengan adiknya. Bukan tanpa alasan ia minta pernikahan Hana dan Andre cepat dilaksanakan, meski sederhana asal sah saja. Karena mereka sangat sulit dikendalikan, entah itu Andre yang ngeyel atau Hana yang pasrahan. Yang jelas Rio sungguh khawatir dengan sejoli ini jika tak segera dinikahkan.


Rio juga tak menutup mata dengan kisahnya, masa lalu orang tuanya dan juga apa yang telah terjadi pada Hana. Sehingga tak mustahil Hana juga akan meneruskan jejak yang juga sudah dimulainya. Sebelum kejadian yang lalu terulang hingga dalam rahim ada kehidupan, Rio ingin mencegah.


At Surya Group office.


“Permisi Pak…”


Elis masuk setelah Andre mempersilahkannya.


“Maaf…” ujar Elis sembari meletakkan satu cup kopi yang ia pesan dari luar untuk sang atasan.


“Kamu tidak pulang?” tanya Andre tanpa mengalihakan tatapan.


“Apa Bapak butuh bantuan?”


“Tidak,” jawab Andre singkat dan tanpa minat.


Elis nampaknya belum menyerah. Ia masih bertahan di posisinya meski telah diacuhkan atasannya. “Karena saya sadar posisi saya sebagai staf Bapak, sehingga saya coba memastikan barang kali ada yang bisa saya kerjakan untuk meringankan pekerjaan Anda.”


Andre meletakkan pekerjaannya dan menatap Elis yang sudah berhasil membuatnya kesal.


“Pekerjaan yang seharusnya kamu kerjakan, sudah ada di luar semua. Saya tak suka membuang-buang waktu membahas hal yang tak penting bersama karyawan. Saya juga tak suka ada yang sembarangan masuk ruangan tanpa tujuan yang jelas seperti yang kamu lakukan sekarang,” ujar Andre tanpa menutupi rasa tak sukanya.


Andre masih menatap tajam bahkan setelah kalimat selesai diucapkan. Elis paham ini adalah penolakan, namun ia masih berusaha mengumpulkan kekuatan untuk balik kanan.


“Saya permisi Pak.”


Elis akhirnya pamitan setelah sempat terpaku beberapa waktu. Ia cukup malu karena niat terselubungnya sama sekali tak mendapatkan jalan. Hana memang cantik, tapi ia tak menyangka jika menggoyahkan Andre jadi suatu hal yang belum pernah sekalipun berhasil ia lakukan.


Elis memang sadar kemungkinannya menggantikan posisi Hana sangat kecil adanya. Meski demikian ia tak mau menyerah untuk berusaha sebelum ijab kabul terucapkan. Namun bedanya ia sekarang menggunakan cara yang lebih elegan, bukan cara frontal dan bar-bar seperti yang sebelumnya ia lakukan.


Elis sadar Hana berada jauh diatasnya, mau dilihat dari aspek dan sisi mana saja. Namun satu hal yang ia yakini, yakni hati sering kali bekerja tanpa logika. Dan ia berharap kesempatan langka itu ada untuknya barang sekali saja. Tapi nyatanya sampai sekarang sama sekali tak ada.

__ADS_1


“Apa lagi?!” Geram Andre setengah berteriak. Alisnya berkerut dan tangannya terkepal kuat.


“Apa lagi?” ulang suara dari dalang terbukanya kembali pintu ruangannya.


Sadar bahwa suara ini berbeda dengan sebelumnya, Andre pun lantas mendongak untuk memastikan keakuratan pendengarannya.


Ketegangan Andre mengendur seketika. Wajahnya berubah cerah bahkan senyumnya pun merekah. “Sayang…,” ujarnya kemudian.


Hana melepaskan cekalannya pada gagang pintu yang menjadi pegangannya. Dengan lengkah cepat ia berjalan menghampiri kekasihnya.


Andre pun bangkit dan merentangkan kedua tangannya.


“Kok bisa di sini?” tanya Andre dengan lembut begitu Hana menghambur di pelukannya. Ia merapikan rambut gadis yang kini ada dalam dekapannya. “Ditelfon nggak bisa, tapi nggak apa-apa sih kalau langsung datang begini…” lanjut Andre masih di posisi yang sama.


Andre mengeratkan pelukannya. Ia menghirup kuat-kuat aroma tubuh Hana yang teramat dirindukannya. Bagaimana tidak, dihari pertunangan keduanya itulah hari di mana Hana resmi mengundurkan dirinya dari posisi yang ia duduki selama ini. Otomatis hal ini membuat ia dan Andre tak bisa bertemu setiap hari.


“Apa kamu sudah mulai bekerja di perusahaan papamu?” tanya Andre lagi. Melihat Hana yang hanya diam saja Andre memutuskan untuk kembali bertanya.


Hana hanya menggelengkan kepalanya yang ia sandarkan pada dada bidang Andre. Ia menikmati setiap sentuhan yang kekasihnya berikan saat ini. Mungkin saking rindunya sehingga ia sendiri tak punya cukup kosa kata untuk mengungkapnya. Andre pun ikut-ikutan tak bersuara dan menikmati kebersamaan mereka.


“Oh iya, tadi siapa yang kamu teriaki?” tanya Hana yang tiba-tiba merenggangkan pelukannya.


“Mana?” tanya Andre sambil menatap wajah Hana dengan seksama.


“Tadi pas aku baru masuk,” jelas Hana.


“Oh, Elis,” jujur Andre.


“Dia kenapa?” tanya Hana lagi.


Andre kembali membawa Hana ke dalam pelukannya, membelai rambut panjangnya, dan akhirnya berhenti di pinggang ramping wanitanya.


“Dia cukup menarik,” gumam Hana.


“Tapi tak cukup untuk bisa membuatku tertarik,” sahut Andre membalas ucapan kekasihnya.


Tiba-tiba Hana menarik tubuhnya lagi. Dan lepas sudah pelukan itu untuk yang kedua kali.


“Jadi benar?” tanya Hana dengan nada meninggi.


Andre menarik kedua sudut di bibirnya dan kembali membawa Hana ke dalam pelukannya. Sepintas Hana tampak menolak, namun bukan Andre jika tak berhasil membuat Hana menuruti apa maunya.


“Kamu sudah cukup paham Sayang, jadi aku rasa tak perlu ada waktu yang terbuang untuk menjelaskan…”

__ADS_1


Hana terdiam. Ia menelan ludah kala tubuhnya terasa meremang.


Bersambung…


__ADS_2