Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Bukan Bidadari


__ADS_3

HAPPY READING


“Kamu nakal banget sih?”


“Nakal apa sayang…”


“Aku sempet panic tahu…”


“Ciieee…. Khawatir ya,” goda Andre sambil menoel dagu Hana.


“Ya iya lah. Mau bilang enggak ya kelihatan bohongnya,” kesal Hana.


Hana sekarang sedang mencak-mencak pada Andre karena ia tadi membawa Andre dengan perasaan khawatir kala kekasihnya ini mengeluh kesakitan. Namun ternyata itu hanya akal-akalan Andre agar bisa mengajak Hana segera pergi untuk menghabiskan waktu berdua seperti ini.


“Udah buruan makan…” ujar Andre yang sejak tadi menyaksikan Hana mengocah sambil asik makan.


Hana mendengus dan mengambil makanannya. Ia memakan salad untuk makan malam, karena perutnya tak terbiasa mengkonsumsi karbo di malam hari.


Itu lah mengapa Andre buru-buru membawa Hana pergi, selain karena ingin berdua dengan kekasihnya ini, tapi juga karena tahu eating habbit yang akan membuat Hana kesulitan jika harus berhadapan dengan nasi liwet di malam hari.


“Abis ini kita pulang ya,” ujar Andre yang sudah menyelesaikan makannya. Ia memutuskan untuk bicara sementara Hana masih belum selesai dengan makanannya.


Hana hanya menatap enggan kekasihnya sebelum kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. “Emangnya aku bisa menentukan pilihan?” sarkas Hana ketika sudah tidak ada lagi makanan di dalam mulutnya.


Andre hanya meringis. Ia memilih cuek dan menyalakan sebatang rokok sembari menunggu Hana.


“Besok rencana kamu apa?” tanya Andre saat melihat Hana yang hanya mengaduk-aduk makanan tanpa ada niat untuk memasukkannya lagi ke dalam mulutnya.


Hana menghentikan gerakan tangannya dan segera mengangkat wajahnya. “Aku mau coba ngotak-atik laptop yang tadi kamu beliin…” jawab Hana kemudian.


“Buat apa? Apa ada yang bermasalah? Apa perlu beli yang baru lagi?” tanya Andre bertubi.


“Nggak ada.” Hana menghela nafas dan meletakkan peralatan makannya. “Maksudku aku mau melakukan sesuatu dengan laptop itu,” lanjut Hana menjelaskan.


“Kamu mau ngapain? Mau jadi content creator? Perlu beli kamera? Perlu kita bentuk tim?”


Sekali lagi Hana menghela nafas. Kenapa kekasihnya ini ribet sekali. Ia baru berucap satu kata, namun sudah dijawab dengan sebait paragraph panjang oleh Andre.


“Aku nggak pede untuk tampil di depan kamera Andre.”


“Kenapa nggak pede. Kamu cantik Hana.”


“Di internet banyak sekali yang jauh lebih cantik Andre.”

__ADS_1


“Tapi mereka ketolong filter Han, beda sama kamu…”


“Tapi yang jelas mereka cantik Andre. Itu yang jelas terlihat.”


“Tapi mereka cuma putih Hana, mereka nggak punya mata secantik mata kamu, hidung semancung hidung kamu, bibir seindah bibir kamu, dan…”


“Andreee…” buru-buru Hana menyela sebelum Andre berbicara lebih jauh lagi. “Apa kamu benar-benar ingin aku tampil dan berjuang menjadi popular?”


“Ya nggak sih. Aku nggak mau kamu banyak dikagumi laki-laki.”


Hana mendengus mendengar ucapan berlebihan kekasihnya. “Aku bukan bidadari Andre.”


“Tapi kamu bidadariku Hana…”


Hana kembali menghela nafas. menang debat dengan Andre memang bukan perkara mudah. Seharusnya ia sudah tahu itu.


“Intinya Andre, aku mau coba berjuang sendiri. Aku tahu hanya memberi makan, pakaian, dan tempat tinggal terhadapku bukan perkara yang susah untukmu. Tapi Andre, ijinkan aku untuk memaknai hidupku sendiri. Meski faktanya aku tetap mendapatkan campur tanganmu, tapi setidaknya ijinkan aku punya muka di hadapan orang tuamu.”


“Sepertinya kamu tak perlu seperti itu. Mereka hanya butuh waktu, aku yakin banyaknya hal baik dalam dirimu pasti bisa meluluhkan hati kedua orang tuaku.”


Hana menggeleng.


“Terus apa lagi Han.”


“Jangan kita teruskan kesalahan ini. Oke, aku tak akan lari lagi. Aku akan tetap tinggal di rumahmu. Tapi aku harap, kamu jangan tinggal bareng sama aku.”


“Jadi ya jangan berlagak bodoh dan berlagak suci dengan membenarkan kelakuan kita yang tinggal bersama,” kesal Hana karena sikap masa bodoh Andre.


Andre melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya sebelum kemudian meraih pergelangan tangan Hana. “Oke. Setelah mengantarkan kamu aku akan kembali ke apartemen,” ujar Andre sungguh-sungguh.


Hana membalas tatapan Andre sebelum ia menghela nafas dan memutus kontak. "Kita bahas nanti. Sebaiknya kia memang harus segera pulang..."


Andre tersenyum miring kala melihat Hana yang nampak goyah. “Sebaiknya kita segera menikah. Aku takut kalau tak bisa menahan rindu...” ujar Andre yang sengaja tak menatap Hana.


Andre berhasil membuat Hana tak nyaman. Ini bukan Andre yang biasa, yang berbicara tanpa menatap Hana. “Hanya sementara Andre. Jika Tuhan memang mempersatukan kita, aku akan selalu ada di sampingmu hingga tak akan ada celah untuk rasa rindu.”


Andre bangkit dari tempat duduknya untuk kemudian memeluk Hana. “Kita berjuang sama-sama ya sayang…” ujarnya sembari mengusap lembut surai panjang kekasihnya.


Hana membalas dengan anggukan di dalam posisi Andre yang mendekapnya.


“Ya udah kita pulang…”


Keduanya segera bangkit dan berjalan untuk pulang bersama-sama.

__ADS_1


***


Pagi ini Andre berjalan dengan wajah cerah memasuki kantor yang menjadi tempatnya melalui waktu sejak ia remaja. Spontan hal ini menjadi perhatian bagi beberapa karyawan yang tak sengaja melihatnya. Andre juga tak segan tersenyum dan sesakali membalas sapaan yang dialamatkan padanya padahal selama ini hampir tak pernah dia seperti ini.


Hal ini juga tak luput dari perhatian ketiga staf bawahannya yang langsung berdiri saat ia tiba. Mereka juga tak luput dari sasaran keceriaan Andre yang langsung mendapat hadiah berupa senyum dan wajah cerah atas balasan atas sapaan yang mereka berikan. Hingga akhirnya Andre menghilang di balik pintu ruangannya.


“Tuh, tuh lihat…” ujar Elis pada Rahma yang kebetulan bertemu tatap dengannya.


“Pagi-pagi nggak usah gossip…” ujar Riza memperingati karena tahu kemana arah pembicaraan kedua rekannya ini.


“Mbak Riza mau nitip nggak. Kita mau beli kopi ke kantin,” tawar Elis yang sudah bangkit dari kursinya. Rahma yang mendapat kode juga melakukan hal yang sama.


“Tck kalian.” Riza berdecak dan mengacuhkan kedua rekannya. Ia lebih memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.


“Mau nggak?” tanya Elis lagi sebelum ia benar-benar pergi.


Riza menghentikan gerakan tangannya dan tampak berfikir sejenak. “Mau deh satu,” ujar Riza akhirnya.


Dengan senang hati Elis dan Rahma berjalan meninggalkan Riza sendiri di tempatnya. Ini memang masih pagi. Mereka sudah check loc dan masih ada sekitar lima belas menit sebelum jam kerja dimulai. Sehingga kedua gadis dewasa ini ingin memanfaatkan waktu untuk bersantai sejenak untuk sekedar membeli kopi sebagai teman saat mereka bekerja nanti.


“Tadi lihat nggak?” tanya Elis pada Rahma saat keduanya sudah berada agak jau dari Riza.


“Iya, lihat… Ada hubungannya dengan wanita kemarin nggak ya?” gumam Rahma dengan mata menerawang.


“Aku berharap enggak,” sahut Elis cepat.


“Tapi kalau iya?” Rahma coba menggoda temannya ini.


“Ya sudah. Mau berbuat apa?” Elis tertawa di akhir kalimatnya. “Tapi selama belum ada yang punya, aku masih belum akan menyerah dengan begitu mudahnya.”


Rahma manggut-manggut. “Pesanku cuma satu, kamu jangan sampai bertingkah bodoh saja…”


Elis mengangkat sebelah tangannya dan mengatakan oke dengan menggunakan jemarinya.


Setibanya di kantin, keduanya segera memesan 3 cup kopi untuk mereka dan Riza juga. Setelahnya mereka segera kembali ke ruangannya untuk bekerja.


Tepat saat hendak memasuki lift, tanpa sengaja mereka berdua melihat dua lagi petinggi perusahaanyang sedang berjalan beriringan. Mereka berjalan lurus melewati salam dan sapaan dari para karyawan yang dilewatinya.


“Ya Tuhan, semoga yang ini benar-benar nggak ada hubungan lagi dengan adik bos, aamiin…” celetuk Rahma tiba-tiba.


Dengan sedikit terkejut, Elis membulatkan mata dan menoleh kepada rekan yang berjalan di sampingnya. Perasaan tadi ngingetin aku, sekarang malah kayak orang kesambet lagi kelakuannya.


“Yuk masuk.”

__ADS_1


Elis menarik Rahma untuk segera masuk ke dalam lift karena pintu sudah terbuka agar bisa sampai di tempatnya sebelum Dika dan Dedi tiba.


Bersambung…


__ADS_2