Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Bucin


__ADS_3

HAPPY READING


Saat ini Dika sedang dalam perjalanan menyusul Rina sementara Andre membereskan pekerjannya. Rina tadi sempat pamit pada staf sekertaris Andre jika ia ingin menemui temannya. Saat Dika menelfon, ternyata saat ini Rina sedang menuju tempat Dian. Jadi sekalian saja Dika susul untuk makan siang bersama.


Tiba di salah satu restoran Dian, Dika langsung memarkirkan mobilnya. Ia langsung berjalan masuk karena Rina sudah memberi tahu posisi mereka.


“Sayang, maaf ya aku tadi kabur, soalnya kamu ngobrolnya lama banget sama Andre.”


Dika menarik kursi dan duduk di samping istrinya. “Nggak apa-apa. Kita tadi langsung bahas pekerjaan soalnya, jadi lama,” bohong Dika. Ia tak bisa memberitahukan apa yang mereka bicarakan karena akan berbuntut panjang jika Rina tahu. Bisa-bisa dia baper dan tak menutup kemungkinan akan menceritakan pada orang lain termasuk Dian. Jadi lebih baik


Dika merahasiakannya, toh ini tak ada hubungannya dengan rumah tangga keduanya. Jika sudah saatnya, Rina juga akan tahu dengan versi yang lebih jelas.


“Masa? Aku kira kalian bakal bahas pacarnya Andre.”


“Ya buat apa sih sayang. Kan nggak ada hubungannya sama pekerjaan.”


“Ya tapi kan gara-gara dia Andre sekarang kacau kerjanya,” ujar Rina.


Dika menghela nafas. “Udah aku tegur kok, dia juga udah aku offkan seminggu.”


“Yaaah…, keenakan dong. Udah teledor malah di kasih libur,” protes Rina.


Dika menyentuh puncak kelapa Rina. “Udah lah, lagian Andre juga nggak biasa kayak gini. Ini juga baru pertama kali, jadi


tak ada salahnya kan kalau dia kita kasih kesempatan.”


Rina dan Dika masih terus berdebat tanpa tahu ada yang tengah meradang di hadapannya. Dia adalah Dian, orang yang masih gamang dengan perasaannya. Dian tak tahu ini cinta atau bukan, yang jelas ia tak rela jika Andre menjadi milik orang lain. Namun jika harus kembali menjalin kasih, ia tak tahu masih ada cinta atau tidak untuk sahabatnya ini.


Saat Dika dan Rina terus beradu kata, tiba-tiba Dian bangkit dari tempatnya.


Spontan pasangan suami istri ini menghentikan perdebantannya.


“Sayang, aku salah ngomong ya?” tanya Rina pada suaminya saat melihat Dian pergi begitu saja.


Dika menggidikkan bahu. “Kamu kan wanita, harusnya kamu yang lebih ngerti masalah ini.”


Rina menghela nafas. “Kamu sih paeke acara bahas Andre.”


“Ya tadi siapa yang mulai sayang…”


Rina mendengus. “Ya aku, tapi kan kudunya nggak perlu kamu ladenin.”


“Ya mana bisa,” ujar Dika sambil mencubit gemas hidung istrinya. “Kamu bakal teriak makin kenceng kalau aku nggak nyahutin apa yang kamu bilang.”

__ADS_1


Dengen bibir mengerucut, Rina menatap suaminya. “Aku suka gitu ya?”


Dika mengangguk saja.


“Nyebelin ya?” Rina makin cemberut.


Dika masih mengangguk.


“Ya udah.” ketus Rina.


“Ya udah apa?” Dika memang senang sekali mengerjai istrinya. Biasanya seorang wanita yang sedang menunjukkan


kelemahannya berharap sang pria akan bilang aku  mencintaimu apa adanya, atau kata-kata sanjungan semacamnya. Tapi hal ini tidak berlaku untuk Dika. Dia


jarang sekali merayu Rina. Dia baru berkata manis jika memang fakta itu ada. Jika tidak, dia akan berkata jujur dan menikmati setiap rajukan istrinya. Jika Rina sudah benar-benar tak bisa diajak bercanda, jurus terkahirnya adalah menyeret istrinya ke atas ranjang.


Membawa pasangan ke atas ranjang itu bukan artinya mesum ya, karena ini merupakan kebutuhan setiap orang yang


sudah berpasangan. Hal ini bukan lah dosa melainkan ladang pahala termudah yang bisa dinikmati manusia. Tidak hanya pasangan Dika dan Rina yang menjadikan ranjang sebagai arena menyelesaikan perselisihan dengan pasangan, tapi hal ini juga banyak dilakukan oleh pasangan lain di luar sana, hanya saja mungkin mereka enggan mengaku jika ditanya.


“Peluk boleh…” pinta Rina pada suaminya yang sejak tadi terus tersenyum padanya.


Dika merentangkan kedua tangannya. “Sini…”


Pasangan suami istri ini saling berpelukan hingga datanglah dua orang yang bergabung bersama mereka.


Rina segera melepas pelukannya saat menyadari ada orang lain selain ia dan suaminya.


“Ken…”


Rina mengenal orang itu setelah sempat bertemu sebelumnya.


“Iya Rina. Terimakasih sudah mengingat saya. Apa kabar Pak Restu, senang sekali saya bisa bertemu dengan anda,” sapa Ken kemudian.


Dika hanya tersenyum mendapat sapaan tersebut dari orang yang belum ia ketahui namanya. Melihat Dika yang sepertinya tak mengenalinya, akhirnya Ken mengulurkan tangan.


“Perkenalkan saya Kenzo, saya beberapa waktu lalu pernah bertemu dengan anda di perusahaan dan berhasil taken kontrak kerjasama. Saya datang membawa nama e commerse CDX.”


“Oh…” Dika menjabat tangan Kenzo. “Iya, saya baru ingat. Maaf kalau ingatan saya kurang baik.”


“Bukan, bukan. Saya tahu ada banyak hal yang harus anda pikirkan dan ingat-ingat. Jadi tak aneh jika saya dan perusahaan kecil saya cukup susah menembus pertahanan ingatan anda,” ujar Ken merendah.


“Ini acara basa-basinya belum kelar kah. Kita sudah nahan lapar sejak tadi kan Rin ya,” ujar Dian menyela.

__ADS_1


Kedua pria itu mengalah. Saat bertemu dengan Ken, Dika jadi ingat saat pertama ia bertemu dengan Andre dulu. Andre dan


Ken sama-sama gampang akrab dengan orang yang baru dikenalnya. Tapi Andre sekarang sudah lebih banyak diam dan orangnya jadi lebih serius. Mungkin karena tuntutan pekerjaannya beberapa tahun terakhir yang perlahan merubah karakternya.


“Oh pantes kamu wajah Chinanya kentel banget, emang masih pure orang China belum kecampur Indonesia sama


sekali ya,” ujar Dika setelah cukup banyak mengobrol dengan Ken.


“Iya, tapi tenang saja, jiwa raga saya itu Indonesia,” jawab Ken dengan senyum lebarnya.


“Eh Ken, orang China itu emang tinggi rata-ratanya di atas orang Indonesia ya?” tanya Rina tiba-tiba.


Ken mengernyit. “Maksudnya?”


“Ya kamu tinggi banget, terus aku lihat para actor di drama itu juga jarang ada yang tingginya di bawah 180,” ujar Rina dengan wajah polosnya.


Dika yang gemas kembali mencubit hidungnya.


“Awhh!!! Sakit…”


“Ya kamu sih, ijo banget bahas orang China,” ketus Dika.


“Ya kan cuma memastikan sayang, apa benar tinggi rata-rata mereka emang di atas orang Indonesia,” kekeh Rina.


“Ya kamu nggak lihat ini. Aku yang orang Indonesia asli punya tinggi badannya lebih dari orang China yang ada di sini,” ujar Dika sambil menunjuk Ken dengan ekor matanya.


Ken membulatkan mata sipitnya. Ia beringsut dan menyenggol bahu Dian. “Dia ini bener CEO Surya Group yang terkenal jarang senyum itu kah?” bisik Ken pada Dian.


Dian hanya mengangguk dengan mulut terkatub rapat.


“Sebucin ini kalau sama istrinya?” tanya Ken yang tak sanggup menutupi rasa terkejutnya.


Dian mesih menjawab dengan cara yang sama.


“Kita perlu ninggalin mereka nggak?” bisik Ken lagi.


“Udah sini aja. anggep kita nggak lihat mereka,” ujar Dian.


“Tapbh…”


Dian menyumpal mulut Ken dengan makanan. Ia sudah capek menjawab Ken yang berbicara tanpa jeda.


“Kunyah tuh makanan, kalau udah ketelen ambil sendiri.”

__ADS_1


Ken hanya mengangguk pasrah.


Bersambung…


__ADS_2