
HAPPY READING
Setelah Hana mendapat ganti untuk bajunya yang sudah tak ada rupa, ia dan Andre segera menuju sebuah toko peralatan bayi. Mereka ingin memberi hadiah untuk anak ketiga Rio namun keduanya belum memutuskan harus membeli apa.
“Perlu beliin buat Rida Rangga juga nggak, jangan-jangan mereka iri lagi kalau semua hanya memberi pada adiknya,” ujar Andre pada Hana yang masih sibuk memiih apa yang nanti harus mereka bawa.
“Iya juga ya. Setelah dari sini mungkin sebaiknya kita beli sesuatu juga untuk mereka,” kata Hana menyetujui pikiran kekasihnya.
Setelah berkeliling, akhirnya mereka memutuskan untuk membeli stroller saja. Sebuah stroller berwarna putih bahkan lebih mahal dari motor yang bagi sebagian orang akan sayang untuk membelinya. Namun bukan Andre namanya kalau dia tak seenaknya sendiri, mentang-mentang ia kaya raya.
“Semoga mereka suka ya,” ujar Andre sambil menyerahkan sebuah kartu berwarna hitam untuk membayar barang yang dibelinya.
“Pasti suka. Lagian kenapa sih harus beli yang semahal ini, kan pakenya juga nggak bakal lama.” Hana sebenarnya kurang setuju dengan pilihan Andre. Bukan masalah strolernya, tapi masalah pemilihan barangnya.
Jika saja ini dibelikan barang tanpa embel-embel limited edition dari brand yang bahkan tak memproduksi perlengkapan bayi, mungkin uanganya masih sisa dan masih bisa dimanfaatkan untuk hal lainnya. Tapi sudahlah, Hana bisa apa.
“Kemahalan itu kalau aku nggak ada uanganya, tapi buktinya ini ada,” kata Andre bermaksud menenangkan Hana.
Hana menghela nafas dan menatap kekasihnya. “Terserah tuan muda sajalah. Remahan rengginang seperti saya bisanya apa...”
Andre hanya menggerakkan alisnya dan cuek terhadap reaksi berlebihan Hana.
Hana yang sebelumnya memasang wajah tak minat, kini mulai merangsek dan mengamit lengan kekasihnya.
“Lagian nih ya, apa tak sebaiknya kamu lebih selektif dalam membelanjakan uang, kan sebentar lagi kamu tak hanya mengurusi diri sendiri…” ujar Hana kemudian.
“Tenang saja, aku sudah mempersiapkan semuanya.” Andre menggunakan sebelah tangannya untuk menyentuh wajah Hana.
“Ya kalau ternyata ada banyak kebutuhan yang tak terduga gimana? Kita sama-sama belum tahu bagaimana kehidupan setelah menyandang status berbeda.” Hana bicara sambil menggoyang-goyangkan lengan Andre yang diamitnya.
“Ya berarti kamu harus pandai-pandai mengaturnya mulai saat ini.” Masih santai sekali reaksi pria ini.
Hana melepas tautannya setelah Andre mendaratkan ciuman di keningnya tiba-tiba.
“Apa hakku, kita bukan apa-apa saat ini.” Hana berbicara dengan wajah sendu. Sayang ia gagal membuat Andre iba. Pria ini justru gemas dan ingin segera memakannya.
“Ayo kita jadi apa-apa sekarang.” Lanjut Andre yang nampaknya sangat sulit diajak serius saat ini.
__ADS_1
“Apa-apa gimana sih? Ngomong yang jelas dong…” omel Hana yang berusaha menahan agar tak terlalu keras berbicara.
“Ayo nikah Hana,” ujar Andre dengan cara berbisik di dekat telinga kekasihnya.
Hana menjauhkan kepalanya. “Ayo kita cari hadiah buat Rida dan Rangga ya…” ujarnya mengalihkan topik pembicaraan.
“Tck. Bisanya hanya mengalihkan pembicaraan.” Ucapan Andre terjeda saat seorang wanita mengembalikan black card yang sebelumnya Andre serahkan. “Makasih Mbak,” ujar Andre pada wanita tadi.
Wanita barusan membungkukkan badan sebelum mohon diri dari hadapan customernya.
“Ayo…” ajak Hana saat pesanan keduanya siap dibawa.
“Nikahnya gimana?” tanya Andre mengingatkan pembahasan sebelumnya.
“Kita ini di Indonesia Andre, harus banyak yang diurusi kalau mau menikah, tidak seperti di China.”
“Nikah di China aja yuk, biar cepet kayak Ken…” ujar Andre seperti diingatkan.
“Ya dia orang sana jadi gampang saja. Tapi kalau yang mau kita prosesnya akan tetap lama, karena dokumen yang harus diurus sebegitu banyaknya.” Hana yakin Andre sangat paham akan hal ini, tapi entah mengapa ia justru bertingkah bodoh begini.
“Iya juga…” kata Andre sambil memasukkan sebelah tangannya ke kantong celana.
“Kamu nanti ikut aku pulang kan?” tanya Andre saat lampu merah memaksanya menginjak pedal rem saat ini.
“Ya nggak bisa Ndre. Malu dong,” ujar Hana sambil menoleh menatap Andre di sampingnya.
“Ya kan nggak ada yang tahu…” kekeh Andre membujuk kekasihnya.
“Tapi Kak Rio sama Kak Indah pasti paham kalau aku nanti ikut kamu pergi.”
“Ya biarin. Mereka bakal ngertiin kok.” Andre sepertinya belum menyerah untuk membawa Hana pulang bersamanya.
“Tapi alangkah baiknya kalau kita bisa menahan diri Sayang…” bujuk Hana yang nampak sekali berusaha bersabar kini.
Andre menghela nafas dan meraih tangan Hana. “As you wish honey…”
Sedikit tak rela Andre mengabulkannya, namun bagaimana lagi. Karena jika dipikir baik-baik ini memang yang terbaik untuk mereka.
__ADS_1
“Makasih sayang…” balas Hana atas pengertian kekasihnya.
Dan waktunya sekarang mereka kembali melanjutkan perjalanan. Mereka ingin segera tiba di rumah Rio agar Andre pun tak terlalu larut untuk pulang. Hana dan Andre punya banyak sekali pekerjaan yang harus mereka selesaikan sebelum akhir pekan.
Lauching ice cream harus disegerakan karena kandungan Rina sudah hampir menginjak 8 bulan. Dika tak mau istrinya terlalu lelah jika proyek ini tak segera dituntaskan. Alhasil Hana dan Andre yang kini berada sangat dekat dengan Dika ketiban mandat untuk membereskan semuanya.
Keesokan harinya, pekerjaan berat menanti Hana. Ini sudah hari Jum’at dan besok malam merupakan puncak acara. Ia pontang-panting memeriksa semuanya agar tak ada kesalahan yang bisa mengganggu acara. Ia sejenak lupa polemic yang ia alami dengan orang tua Andre. Tapi ia cukup bersyukur karena ia kini punya tempat utnuk bersandar yaitu keluarga.
Galih tak serta merta melarang Hana berhubungan dengan Andre. Dia hanya memperingati putrinya agar lebih bisa mengendalikan diri karena bagaimana pun juga ia adalah anak perempuan penguasa Rahardja. Rio sekarang juga tak ribet lagi. Ia dan Indah tak lelah memberi nasehat pada adiknya agar tak melakukan kesalahan sefatal mereka.
Indah dan Rio punya banyak sekali cela dalam hubungan percintaan mereka, namun semua bisa mereka tutup rapat dari orang tua. Selain itu hubungan mereka tak banyak mendapat tentangan sehingga perjalanan mereka cukup gampang. Berbeda dengan Andre dan Hana. Sejak awal hubungan mereka begitu rumit, sehingga harus hati-hati agar keduanya benar-benar bisa bersama.
“Sayang…” Andre menahan lengan Hana saat ia berpapasan dengan kekasihnya ini.
“Makan dulu,” lanjut Andre saat bertemu pandang dengan Hana.
Hana menatap jam dipergelangan tanganya sejenak. Ia kemudian menggelengkan kepala. “Aku bereskan ini dulu…”
“Tunggu bentar.”
Andre melepaskan cekalannya pada Hana dan masuk ke dalam ruangannya tanpa menutup pintu. Tak lama kemudian ia sudah keluar lahi dan menyerahkan bungkusan yang ia ambil dari dalam untuk Hana. “Ini bisa kamu makan sambil jalan…”
Hana menerima uluran itu dan...
Chu!
Sebuah kecupan lembut mendarat di pipi Andre.
“Makasih…” ujar Hana dengan tersenyum manis pada kekasihnya.
Andre tersenyum melihat tingkah kekasihnya yang menciumnya secara tiba-tiba. Hana kemudian pergi dengan membawa apa yang Andre berikan. Ia sama sekali tak merisaukan tindakannya yang dilihat oleh ketiga staf kekasihnya. Sepertinya Hana sudah mulai terbiasa bermesraan saat ada orang.
Andre masih setia memandangi punggung Hana yang kian menjauh darinya. Sesekali ia tersenyum dan meraba bekas bibir Hana.
Sepertinya aku harus melakukan hal yang sama dengan Dika. Aku tak boleh membiarkan Hana terlalu banyak bekerja, atau dia akan seperti ini selamanya. Dia memang pintar, tapi aku harus lebih pintar agar dia bisa meluangkan lebih banyak waktu bersamaku nantinya.
Andre mengakhiri lamunannya. Ia lantas masuk ke dalam ruangannya.
__ADS_1
Tentu saja Andre yang kemarin berubah ramah dan sekarang berubah murah senyum merupakan anugerah tersendiri bagi para staf yang melihatnya. Meski mereka tahu semua itu semata karena Hana, tak masalah lah. Yang penting wajah tampan Andre bisa menyejukkan mata mereka dan mengendurkan syaraf karena terlalu banyak bekerja.
Bersambung…