Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Gugup


__ADS_3

HAPPY READING


Hana yang sebelumnya merasa harus memeriksa beberapa bagian merasa ditahan karena Rina tak mengizinkan. Memang semua sudah dilakukan berdasarkan arahan darinya, namun ia tak tenang saat tak bisa memastikan sendiri semua persiapan yang kini dilakukan.


“Rin, aku keluar sebentar ya,” pamit Hana yang merasa tak tenang karena hanya duduk saja bersama Rina.


“Buat apa, sebentar lagi temanku tiba,” ujar Rina memberitahukan pada Hana.


“Sebenarnya untuk masalah make up aku sendiri bisa, kamu tahu sendiri kan aku tak terlalu buruk masalah ini. Dan untuk gaun aku rasa juga bukan masalah. Memakainya pun tak membutuhkan waktu lama. Aku keluar ya.” Hana berusaha meyakinkan Rina bahwa ia tak perlu melakukan semua persiapan ini.


“Jangan Han. Sudah lah, coba percaya sama mereka. Aku yakin apa yang sudah kamu arahkan pasti dimengerti dengan baik. Ingat, kamu bintangnya malam ini…”


Hana mendesah pasrah. Ia kemudian menyandarkan punggungnya yang lelah. Sejujurnya bukan masalah naik panggung yang membuatnya ingin lari saat ini, tapi mengingat keberadaan orang tua Andre yang merupakan petinggi perusahaan yang pasti akan hadir nanti. Ia begitu gugup hanya dengan mengingatnya, bagaimana kalau sampai berhadapan nanti.


Jangan-jangan orang tua Andre makin tak suka dengan dia karena menganggap Hana aji mumpung dan melakukan cara instan untuk mendapat posisi tinggi. Terlebih Hana yang menjadi brand ambassador produk ini, jangan jangan ia disangka cari muka pula.


“Han!”


“Hmm…”


Sudah menggunakan nada tinggi ternyata Hana tak kaget sama sekali. Ia bahkan terdengar lemas hanya untuk menggumam tanpa ada kata yang dibentuknya sebagai jawaban atas panggilan Rina.


“Kamu ngelamunin apa sih? Jangan bilang demam panggung ya…” terka Rina dengan mata menyipit penuh selidik.


Hana merasa ada secercah cahaya yang ia temukan dari perkataan Rina. Sepertinya sekarang ia punya ide untuk menghadapi masalahnya.


“Iya. Aku demam panggung. Yakin, sekarang aku bahkan kebelet pee…” ujar Hana dengan nada dibuat semeyakinkan mungkin.


Rina mencebik. “Takut dilihat pak Edo sama tante Heni ya…”

__ADS_1


Hana mendesah kecewa. Kenapa Rina bisa paham masalah seperti ini? Bukankah seharusnya ia seorang putri yang polos dan tak gampang paham situasi. Namun kenapa ia bisa dengan mudah menerka sesuatu yang bahkan tak Hana bahas sekarang.


“Iya kan, bener kan?” desak Rina karena merasa perangkapnya berhasil mengenai mangsa.


Hana hanya menatap Rina sekilas sebelum menundukkan kepala. Sepertinya berada di sekeliling orang-orang pintar membuatnya seperti kehilangan tempat untuk bersembunyi.


“Dengerin ya Han, justru ini adalah saatnya kamu menunjukkan diri kamu sama mereka. Menunjukkan bahwa kamu layak untuk anak tunggal mereka.”


Sepertinya Rina tak sedang menggoda. Ia berbicara dengan wajah seriusnya.


“Tapi masalahnya bukan bagaimana aku Rin, tapi siapa aku?” Hana menjeda ucapannya dengan sebuah helaan nafas. “Aku anak Rahardja, pemilik perusahaan yang selalu berseteru dengan Surya, yang menghalalkan berbagai macam cara untuk menghancurkan rivalnya, bahkan keberadaanku di sini awalnya juga untuk menjadi duri dalam perusahaan ini.”


Rina menghela nafas mendengar penuturan Hana. Sepertinya ia paham dengan apa yang terjadi pada Hana saat ini.


“Tapi sekarang kamu gimana?” tanya Rina pada asistennya ini.


“Sekarang aku sadar jika semua ini salah, makanya aku ingin menebus semuanya dengan melakukan hal sebaik-baiknya,” jawab Hana dengan serius pula.


Hana terdiam merenungi ucapan Rina. Ucapan tak tuntas yang kelanjutannya tergantung bagaimana kita menelaahnya.


“Aku percaya dengan apa yang kamu katakan, dan see… Rio sekarang juga sudah menjadi partner dalam beberapa bidang. Beberapa waktu terkahir Rahardja juga tak pernah bertemu dengan Surya dalam konteks sebagai rival. Kami menang di tempat dan posisi yang berbeda tanpa bersaing dan saling menjatuhkan. Bukan kah ini ada kemungkinan jika sebenarnya dua perusahaan ini sudah tak lagi saling memperebutkan posisi?”


Hana kembali diam. Andre memang pernah bercerita bagaimana Rio juga pernah ingin menjatuhkan Dika. Dengan cara yang bahkan jauh lebih buruk dari yang Hana lakukan. Dan Rio melakukan itu saat Dika sedang berada di masa sulitnya.


“Jadi Han, tunjukkan yang terbaik yang kamu miliki, biar pak Edo lihat dan bisa menilai sendiri.” Rina memberikan nasehatnya sebagai orang yang cukup lama mengenal ayah sekertaris suaminya ini.


Hana menghela nafas dan mengangkat wajahnya. “Makasih Rina.”


“Sama-sama Hana…” Rina meletakkan tangannya di bahu Hana dan dua wanita cantik ini sempat saling menatap untuk menyalurkan ketulusan antara keduanya.

__ADS_1


“Hai, hai… Ya ampun, para ladies sudah di sini ya…”


Hana membulatkan mata saat melihat rupa kawan yang ditunggu Rina.


“Ini teman kamu yang kamu tunggu?” tanya Hana dengan suara rendah. Ia ingin memastikan jika hanya Rina yang mendengarkan pertanyaannya.


Rina tak menjawab. Ia kemudian bangkit dan mengulurkan tangan pada pria gemulai yang baru tiba di sana. Jika tadi Hana gugup karena membayangkan pertemuannya dengan kedua orang tua Andre, sekarang ia ingin lari karena geli melihat pria gemulai ini.


“Han, kenalin ini Ivan. Van ini Hana…” ujar Rina memperkenalkan keduanya.


Hana dan Ivan segera berjabatan tangan, namun Hana  segera mundur saat pria cantik ini ingin mencium pipinya. Saat Hana berusaha menghindari bertatapan langsung dengan pria ini, namun ia justru menemukan pemandangan yang membuatnya takjub juga.


Ivan tak datang sendiri. Ia diikuti segerombolan tim dengan begitu banyak properti, padahal kalau tidak salah, hanya ia dan Rina yang akan didandani.


“Aduh tsay, ini tadi diapain kok muka cantiknya bisa tegang kayak gini,” protes Ivan pada Rina saat melihat wajah tegang Hana.


“Gugup dia, mau ketemu calon mertua,” ujar Rina dengan nada jenaka.


Hal ini langsung membuat Hana membulatkan mata mengalihkan rasa kagumnya pada Ivan.


“Iya kah? Harus aku bikin jadi princess kamu malam ini…” ujar Ivan dengan semangat membara.


Ivan ingin meraih wajah Hana namun kembali Hana menghindarinya. Hana menatap ngeri pria gemulai ini. Sebenarnya ia cukup enak dipandang, tapi karena wajahnya yang terlalu terawat membuatnya jadi kehilangan ketampanan.


“Aku make up sendiri saja Rin ya…” pinta Hana sungguh-sungguh.


“E e eee. Nggak bisa. Untuk ketemu calon mertua, kamu itu harus tampil sempurna,” timpal Ivan yang masih bisa mendengar ucapan Hana.


“Tapi aku nggak biasa di make upin, aku biasanya pakai make up sendiri,” kekeh Hana.

__ADS_1


Hana merasa ia harus bisa membebaskan diri. Ia benar-benar geli berhubungan dengan pria cantik ini. Namun ada satu hal yang tak Hana sadari, yaitu kegugupannya saat harus bertemu dengan orang tua Andre menguap begitu saja karena hal ini.


Bersambung…


__ADS_2