
...*HAPPY READING*...
"Mas Rudi...!"
Rudi dan Dedi saling menatap saat sebuah teriakan menyapa indra pendengaran keduanya. Sempat saling menatap sebelum keduanya melompat dan berlari menuju ke arah sumber suara.
Derap langkah keduanya bersahutan hingga akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.
"Kenapa?" tanya Rudi begitu pintu terbuka.
Di sana ada Rista yang tergeletak dengan wajah pucat. Rudi segera mendekat untuk mengecek keadaan Rista.
"Rista abis minum langsung muntah Mas," adu Santi yang khawatir dengan keadaan putrinya.
"Masih mual?"
Rista mengangguk.
"Pusing?" tanya Rudi sambil memegang pergelagan tangan Rista untuk mengecek nadinya.
Rista hanya menggeleng. Rudi mencoba meraba perut Rista, dan spontan Dedi memalingkan wajah. Tanpa sengaja Dika melihat pergerakan Dedi namun sejurus kemudian ia kembali fokus pada adiknya.
"Rista kenapa?" tanya Dika.
"Sepertinya asam lambungnya naik."
"Mulut rasanya pahit terus tenggorokan lengket?" tanya Rudi pada Rista.
Kembali Rista mengangguk.
"Dedi bisa ambil kan air putih? Sekalian bawa sup yang kamu buat?"
"Baik Om."
Dedi segera turun. Ingin sekali Dika membantu sahabatnya karena di sini pun ia tak tahu harus berbuat apa.
"Mas nggak diobatin gitu?"
"Saya nggak bawa obat apapun ke sini selain pereda nyeri, dan Rista nggak butuh itu."
Tak lama kemudian Dedi datang dengan nampan semangkok sup dan bubur.
"Kamu buat bubur juga?" tanya Santi.
"Iya Tante, karena sejak pulang sekolah tadi dia hanya makan burger dan menolak makanan lain."
Rudi menghela nafas.
Santi mengambil alih sup yang asapnya masih mengepul itu.
Tanpa diminta Dedi segera membantu Rista untuk duduk.
"Kak, baringan aja ya..."
"Jangan Ta, kamu harus duduk biar asam lambungnya turun, ya..."
Dika lalu mengambil alih posisi Dedi. "Jangan di paksa, Ristanya lemes."
"Huwk..."
Rista membungkam mulutnya. Dan menolak saat Dika di dekatnya.
"Kakak bau rokok, aku nggak tahan."
Dika langsung mengambil jarak dengan Rista.
"Kamu ngerokok?"
__ADS_1
"Maaf Ma, hanya sesekali kalau lagi pusing."
Santi hendak menyuapkan sesendok bubur pada Rista, namun Rudi menahannya.
"Rista harus duduk kayak Dedi bilang."
"Ya udah, saya saja yang bantu ya."
Rina segera membantu Rista untuk bangun.
"Huwk... Kak Rina baunya kayak Kak Restu." Rista berucap sambil menutup hidung dan mulutnya.
Wajah Rina memerah, sementara Dika hanya mempu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ya apa boleh buat, sudah tahu itu dosa tapi menghindari skinship sangat susah untuk kedua kawula muda ini.
"Papa aja boleh?" Rudi menawarkan diri.
Rista menggeleng.
"Kalau Dedi mau?" tanya Santi.
Rista mengangguk.
Santi mencebikkan bibirnya. "Dasar kamu, untung anak Mama."
Akhirnya Dedi mendekat dan membantu Rista untuk duduk. Dia membawa tubuh lemas Rista untuk bersandar di dadanya.
"Udah?" tanya Dedi saat berusaha membuat Rista nyaman.
Rista mengangguk.
Santi mulai menyuapkan bubur kepada Rista.
"Ma, mau supnya..." pinta Rista.
"Nambah satu lagi ya..."
Santi mengambil sesendok sup dan meniupnya. Alih-alih menyuapkannya pada Rista, ia justru memasukkan ke dalam mulutnya.
"Wah, enak loh ternyata."
Santi memuji hasil masakan Dedi. Ia tak menyangka hasil masakan anak muda ini akan terasa pas dan segar sekali.
"Mama, itu kan buat Rista."
"Mama kan cuma mau tes rasa sayang, takutnya rasanya gimana gitu, nggak tahunya luar biasa nikmat."
Santi kemudian menyuapkan sup yang sudah ia tiup sebelumnya kepad Rista.
"Rina bisa masak?" tanya Santi di sela supannya.
Rina hanya menggeleng sambil memerkan deretan gigi putihnya.
"Jauh pinteran Dedi dari pada saya."
Santi terkekeh. "Perlu diprivat ini sama Rista juga, biar kapan hari bisa battle kita."
"Nggak mau Ma, nanti aku kena minyak..."
"Tenang aja, aku temenin," lirih Dedi namun masih bisa didengar oleh semua yang ada di sana.
"Kamu juga jangan takut sayang, nanti aku jagain biar nggak kena minyak," imbuh Dika dengan wajah jenaka.
"Mas, aku nggak dijagain pas masak..."
Rina membuatkan mata saat melihat sisi lain Santi. Wanita yang elegan ini merengek dengan manja yang membuat image high classnya runtuh seketika.
Dika meraih pinggang Rina agar duduk merapat padanya. "Kaget ya lihat Mama?" bisiknya.
__ADS_1
Rina mengangguk dalam pelukan Dika.
"Noh, kamu pikir sifatnya Rista yang susah diem nurun siapa?"
Rina segera menutup mulutnya karena nyaris tertawa.
Plak
Semua menatap heran pada Rina dan Dika yang nampak menahan tawa. Rina mendadak canggung saat semua memperhatikan.
"Kamu sih..." Rina hanya mampu menunduk malu sambil menggerutu.
"Restu tangannya. Belum halal, astagfirullah..."
"Cuma peluk Mama," jawab Dika dengan santainya.
"Cuma peluk, cuma peluk. Cium juga kan. Astaga Maaasss.... Pulang dari sini langsung ke KUA ya..."
Rudi hanya geleng-geleng saat sifat kekanakan istrinya muncul.
"Setuju Ma, biar Rista cepet dapat ponakan."
Meskipun tak lantang seperti biasanya, namun Rista sudah mulai ceria.
"Nggak cuma Restu, tapi kamu juga!"
Rista langsung memanyunkan bibirnya dan kembali menyadarkan kepalanya di dada Dedi. Sementara Dedi tak berani bersuara dan memilih untuk membelai lembut rambut gadisnya.
Suasana kaku dan sedikit tegang perlahan mencair. Tanpa kata maaf Dedi dan Dika juga mulai saling berbalas ejekan seperti biasa, dan Rina juga sudah mampu berbaur dalam obrolan mereka. Hanya Rudi yang masih sama karena pada dasarnya ia tak begitu suka dan pandai berbicara. Namun ia tetap ikut tertawa dengan setiap lelucon yang terlontar di sana.
"Rista baring ya Kak..."
"Jangan, nanti kamu bisa muntah karena kedorong sama asam lambung yang naik lagi..."
"Iya, bener kata Dedi. Atau kalau Rista pengen baring, bantal lehernya harus tinggi," imbuh Rudi
"Rina tatain ya." Rina bangkit dan berjalan ke arah ranjang.
Rina mulai menata bantal.
"Nggak gitu Rin, yang tinggi tu cuma leher ke kepala, percuma kalau bagian lambung tinggi juga, asam lambung tetep bisa naik."
"Masa iya?" Rina melyangkan pandangan pada Rudi dan Dika secara bergantian.
"Lu ngerti apa cuma sotoy sih Ded?"
"Dedi benar, semua tindakan yang Dedi lakukan sudah benar. Saya juga penasaran, kenapa Dedi bisa tahu banyak tentang hal ini," jawab Rudi atas keraguan Dika.
"Kenapa lu nggak jadi dokter aja?"
"Enak ya ngomong gitu sama orang miskin kayak gua." Sahut Dedi cepat atas seloroh Dika.
"Ya kalau ada orang kaya yang mau kasih gua beasiswa mungkin bisa, tapi kalau enggak, jual ginjal dua-duanya juga nggak bakal ketutup tuh biaya kuliah kedokteran," lanjut Dedi disertai tawa.
"Kalau CEO Surya Group mau merekomendasikan, saya bisa kasih beasiswanya," timpal Rudi dengan nada serius.
Dedi menelan ludah. Dia lupa kalau sekarang dia berada ditengah keluarga konglomerat yang asetnya tak mampu ia bayangkan nominalnya. Ini masih sebatas aset masing-masing saja, belum lagi kalau dijumlahkan aset milik Dika dan Rudi yang pastinya tak akan berasa jika menyekolahkan 1 orang saja.
"Saya hanya bercanda Om," ucap Dedi dengan tawa segannya.
"Tapi saya sedang tidak bercanda."
TBC.
Pas Dika abis ngerokok Rina ya langsung nemplok, jadi bau rokok semua deh, 😁😁
__ADS_1