Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Pancing Memancing


__ADS_3

HAPPY READING


Andre menggeleng dan membanting tubuhnya di sofa. Sisa mabuk samalam masih membuat kepalanya kliyengan.


“Kamu sudah makan belum? Ini Mama bawain makanan…”


Heni berjalan ke dapur dan mulai menuang makanan yang ia bawa, kemudian menatanya di atas meja.


“Kamu tidak bawa pembantu di sini, tapi dapur kamu sepertinya rapi?” tanya Heni di sela gerakan tangannya.


“Kalau Hana lagi di sini, dia suka masak untuk Andre,” jujur Andre menceritakan kekasihnya.


“Hana bisa masak?” tanya Heni tanpa menatap putra satu-satunya.


“Bisa. Masakannya enak.” Andre menjawab pun tanpa menatap sang mama.


Heni menghela nafas dan membawa sepiring makanan untuk anaknya.


“Kamu harus makan,” ujar Heni saat Andre menolak ia suapi.


“Andre sudah makan,” bohong Andre yang sekarang sama sekali tak punya selera makan.


“Jangan bohong. Gimana cara kamu memperjuangan Hana kalau makan saja masih harus Mama bujuk seperti ini.”


Semula Andre berbunga mendengar sang mama yang tak canggung menyebut nama Hana. Namun ia baru ingat saat mamanya bahkan tak suka dengan Hana, jadi mana mungkin mamanya ini akan berani melawan sang papa untuk mendukung hubungannya dengan Hana.


“Makan Nak, magh kamu gimana kalau kamu masih seperti ini…” Heni masih berusaha membujuk Andre agar mau ia suapi.


“Lambung Andre tak pernah bermasalah sejak ada hana Ma.”


Heni meletakkan makanannya di atas meja. Hana bisa seperti ini karena mereka tinggal bersama, sedangkan Heni tak mungkin mengikuti Andredan membiarkan suaminya sendiri.


Tapi melihat bagaimana Hana, Heni tak yakin jika Hana masih akan memperhatikan putra tunggalnya dengan baik setelah mereka menikah nanti. Hana adalah tipe wanita karir yang cerdas dan mau bekerja keras. Sehingga untuk urusan mengurus pasangan, yang dilakukan saat ini ia yakin hanya bersifat sementara karena mereka sedang mengadakan simulasi berumah tangga. Kan berbeda jika keduany sudah dihadapkan pada rumah tangga yang sebenarnya.

__ADS_1


“Apa kamu benar-benar mencintai Hana?” tanya Heni sungguh-sungguh pada anak lelakinya.


Andre menutup area matanya menggunakan lengan. Ia sungguh ingin memejamkan mata sekarang karena apa pun jawabannya tak akan mungkin membuat keadaan berubah dengan mudahnya.


Heni tak lagi bicara saat melihat anak laki-lakinya hanya diam saja. Ia tahu anak semata wayangnya ini sedang merajuk, tapi sungguh ini bukan tabiat Andre yang dikenalnya. Meski Andre merupakan anak tunggal, tapi sejak kecil ia tak pernah manja. Sehingga merajuk seperti ini tak akan pernah ada gunanya.


Heni dan Edo mengalami masa sulit di awal pernikahan mereka. Mereka harus hidup mandiri dengan lahirnya anak tak lama setelah pernikahan mereka.


Heni merupakan anak pemilik rumah makan yang sudah memiliki beberapa cabang, sedangkan Edo merupakan anak wiraswasta dengan banyak saudara. Orang tua mereka mendidik agar mereka mapan dulu sebelum mulai membina rumah tangga, namun karena lepas dari pengawasan orang tua, keduanya terjerumus dalam hubungan yang memaksa mereka untuk segera membina rumah tangga meski kemapanan masih jauh dari jangkauan.


Edo yang merupakan adik tingkat Hendro saat kuliah berhasil menjadi karyawan angkatan pertama Surya Group. Di awal berdirinya perusahaan ini, sering kali terjadi bongkar pasang karyawan karena Surya yang merupakan perusahaan baru belum stabil keuangannya. Sehingga bagi karyawan yang punya jalan untuk ke perusahaan lain yang lebih stabil, mereka tak akan segan untuk beralih pada perusahaan yang lebih menjanjikan perkembangan karir yang lebih baik untuk mereka.


Tentu hal ini hanya berlaku untuk mereka yang punya koneksi dan kenalan sehingga dapat dengan mudah melakukan perpindahan. Berbeda dengan Edo. Ia tak punya uang atau pun koneksi selain kemampuan yang diperoleh dari ketekunan belajar dan pengalaman bersama Hendro. Ia yang mampu bertahan di tengah formasi yang terus berganti membawanya menjadi orang kepercayaan Hendro sejak dulu hingga saat ini.


Bahkan saat Edo merasa dirinya tak mampu lagi menopang tekanan besar pekerjaan, sang anak pun ketiban posisi yang krusial menjadi wajah kedua bersama generasi kedua Surya Group yaitu Restu Andika. Sehingga jadilah Andre yang sudah berjaya sedemikian rupa di usia yang sangat muda.


Sementara itu Andre kecil harus bertahan ditengah kesibukan Heni yang belum menamatkan kuliah. Gaji Edo di masa awal bersama Surya memang tak pasti, membuat ia harus memutar otaknya yang masih muda agar bisa menyelesaikan segala urusan rumah tangga.


Heni harus berhemat agar susu Andre tidak telat dan dapat membayar jasa penitipan anak saat sesekali Andre harus ia tinggalkan untuk menyelesaikan pendidikan. Dengan kondisi keuangan Edo yang pas-pasan Heni tak mungkin membayar baby sitter. Ia juga tak mungkin menitipkan Andre pada orang tua atau mertuanya karena mereka menikah tanpa restu yang penuh juga.


Heni tiba-tiba ingin bertemu suaminya saat ini. Ia merasa permasalahan ini tak boleh ia biarkan begitu saja. Meski kecil kemungkinan bagi Andre mengalami masalah keuangan seperti dirinya dulu, tapi bukan mustahil akan ada banyak masalah yang harus anaknya hadapi jika ia membiarkan anaknya menikah tanpa restu mereka sebagai orang tua.


Yakin sebentar lagi Andre akan bangun, ia lantas menyiapkan makanan yang bisa Andre makan saat ia bangun nanti.


***


“Pulang sama siapa Han?” tanya Rina pada Hana saat keduanya sedang bersiap-siap untuk pulang sekarang.


“Naik taksi sepertinya.”  Sedikitragu, namun Hana tetap menjawab pertanyaan Rina.


“Bareng kita aja. Kamu mau pulang kemana?”


“Jangan lah. Nggak enak sama pak Restu aku,” tolak Hana lengkap beserta alasannya.

__ADS_1


“Gini aja deh, mau bareng mau enggak yang jelas kamu tunggu kita. Aku mau ngecek Dika dulu ke ruangannya.”


Rina segera berlalu meninggalkan Hana menuju ruangan suaminya. Hana yang juga sudah selesai mengemas barang-barangnya kini keluar untuk menunggu Rina di depan ruangan Dika.


“Sudah mau pulang Han?” tanya Elis yang nampak masih belum selesai dengan pekerjaanya.


“Sudah Lis,” jawab Hana dengan senyum cantiknya.


“Eh Pak Andre kemana, tumben beliau nggak kerja?” tanya Rahma tiba-tiba.


“Mungkin sakit,” jawab Hana yang tak dapat menyertakan seratus persen keyakinannya, karena hingga kini ia belum berkomunikasi sama sekali dengan pacarnya ini.


“Kok mungkin, emangnya kamu nggak dikasih tahu sebagai pacarnya?” tanya Rahma yang belum puas bertanya.


“Aku memang pacarnya tapi kan tidak 24 jam bersama,” jawab Hana berusaha tak memicu lebih banyak tanya.


“Tapi keterlaluan nggak sih kalau nggak saling ngasih kabar seperti ini.”


Rahma sepertinya sedang memancing dan Hana bertekat untuk tak terpancing.


Hana menggidikkan bahu tepat saat pintu ruangan Dika terbuka dari dalam. Tak lama berselang Dika muncul bersama Rina dan seorang pria yang tak ia sangka akan muncul di sana.


“Nggak jadi bareng sepertinya Han, kamu pasti pulang sama kakak kamu kan?” ujar Rina dengan nada tanya namun Hana juga tahu wanita cantik ini tak benar-benar sedang bertanya.


“Kakak?!” serempak Elis dan Rahma yang belum mampu mencerna informasi yang sama sekali tak pernah mereka perkirakan sebelumnya.


“Kak Rio kok di sini?”


“Kak Rio!?” kembali Elis dan Rahma melakukan paduan suara.


Belum tuntas keterkejutan Elis dan Rahma kembali ucapan Hana membuat mata keduanya kian melebar sempurna.


“Iya, ada perlu sama Dika, sekalian mau jemput kamu di suruh papa.”

__ADS_1


“Papa?!” kembali duo sekertaris melakukan kolaborasi. Untung Riza sudah pulang terlebih dahulu, jika tidak mungkin dia sudah menimpuk kedua rekannya dengan tumpukan dokumen yang tak pernah sepi dari meja mereka.


Bersambung…


__ADS_2