
Spam komen**please.
Senja nggak baperan kok, xexexe**
HAPPY READING
Andre, Hana dan Dian sedang makan bersama di satu meja yang sama. Bukannya fokus dengan makanannya, namun ketiga orang ini sedang sibuk dengan masing-masing pikirannya.
“Ndre, bisa nggak sih taruh HPnya dan makan dulu,” ujar Dian hendak merebut ponsel Andre.
Namun tangan Andre bergerak lebih cepat dan menahannya.
“Aku lagi ngurus kerjaan Di nggak lagi main-main.”
Nada bicara Andre membuat Hana tak berani bersuara, berbeda dengan Dian yang sepertinya tak gentar sedikitpun untuk kembali berbicara.
“Ya tapi kan kerja itu juga butuh makan.”
“Bisa diem nggak sih!?”
Dian terdiam saat Andre membentaknya. Jika dulu mereka terbiasa saling meneriaki, namun itu semua tujuannya adalah hanya bercanda. Berbeda dengan sekarang. Andre terlihat
benar-benar marah dan tak tertawa seperti dulu setelah berteriak meneriaki Dian. Saat berteriak pun ia tak menatap Dian, setelah berteriak pun tak peduli dengan bagaimana
reaksi yang Dian berikan.
Dian mendengus dan menatap satu orang lagi di sana.
“Kamu juga kenapa Hana. Kok nggak makan. Nggak lagi kerja juga kan?” Dian menumpahkan kekesalannya pada Hana. Ia yakin Andre harus bekerja keras seperti ini karena Hana menuntutnya terlalu tinggi. Bahkan untuk sekedar membayar
makanan yang harganya tak seberapa Hana tak mau keluar uang.
Seandainya saja Dian tahu, Hana sekarang tak hanya miskin tanpa uang, bahkan selain nyawa ia tak punya apa-apa.
Dua wanita ini terkejut saat mendengar Andre meletakkan ponselnya dengan kasar. Andre mantap tajam Hana yang berada di depannya.
“Kenapa kamu nggak makan?! Bukannya seluruh isi perut kamu sudah habis kamu keluarkan!” ujar Andre dengan nada tinggi.
“Nggak bisa Ndre,” lirih Hana sambil menundukkan kepala.
Gayanya lemah, tapi sepertinya isi kepalanya tak sepolos wajahnya. Gumam Dian dalam hati.
“Ck…” Andre berdecak. Ia menari kursinya dan duduk di samping Hana.
“Buka mulut.”
__ADS_1
Hana menggeleng.
“Buka mulutnya!” Suara Andre terdengar meninggi.
Meskipun enggan, Hana terpaksa membuka mulutnya. Andre memasukkan sesendok makanan dengan kasar. Hana terpaksa mengunyah makanan itu kemudian ditelannya.
“Ndre, kalau nggak mau jangan dipaksa, kasihan Hana,” ujar Dian menasehati. Sebenarnya ia tak sepenuhnya mengkhawatirkan Hana, namun tak terima saat Andre tak mau menurut saat ia suruh makan namun langsung turun tangan saat tahu Hana tak mau makan.
“Hana ini suka susah kalau nggak dipaksa.” Andre kembali memaksa Hana untuk membuka mulut menerima kembali sebuah suapan besar darinya.
Hana menerima suapan itu dengan wajah menahan sesuatu. Ia mengunyahnya dengan sesekali memejamkan mata. Meskipun belum cukup halus, ia berusaha keras menelannya.
Andre bersiap dengan sesendok penuh makanan lagi, namun kali ini Hana menggunakan tangannya untuk menutup mulutnya. Dia menggeleng dengan cepat untuk menolak suapan Andre.
Andre berusaha menyingkirkan tangan Hana, namun Hana lebih kuat menahannya.
“Hana.”
“Nggak tahan, hoehb…” Hana membungkam mulutnya dan langsung berlari ke kamar Andre, karena hanya ada satu kamar mandi yaitu di dalam kamar laki-laki ini.
“Hana.”
Andre meletakkan makanan yang ia pegang dan segera menyusul Hana. Andre memang jarang membawa orang untuk ke apartemennya, karena ia sendiri lebih banyak menghabiskan waktu di luar. Itu lah kenapa, ruangan huniannya ini sangat minimalis, karena ia hanya fokus pada dirinya sendiri dan tak berfikir untuk mengajak orang ke sana. Kenapa di lantai ini hanya ada dia sendiri yang menghuninya? Alasannya adalah karena ia tak ingin ada gangguan dalam bentuk apapun saat ia sedang istirahat.
Dian yang penasaran akhirnya ikut Andre mengejar Hana. Agak ragu ia masuk ke kamar Andre, karena sedekat apapun mereka, Andre tak pernah membiarkannya menyentuh ruang privasinya, termasuk kamar tidurnya. Ini lah yang membuatnya
“Tapi Hana saja bisa kenapa aku tidak,” gumam Dian. Ia memantapkan hatinya untuk menarik handle pintu kamar Andre.
Tepat saat pintu tebuka, Andre sudah muncul di sana. Andre dan Dian sama terkejutnya. Andre yang lebih dulu bisa menguasai situasi segera bergerak maju membuat Dian otomatis menundurkan badannya.
“Hana gimana?” tanya Dian saat baru saja Andre menutup kamarnya.
“Dia harus istirahat, jadi aku memintanya tidur di dalam.”
Dian menurut saat Andre mengajaknya duduk.
“Kalian sudah sangat dekat ya,” ujar Dian memecah sunyi karena sejak duduk tadi mereka sama sekali tak saling bicara.
“Hmm…” Andre mengangguk dan bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju kulkas dan mengambil dua kaleng minuman untuk dia dan Dian.
“Wow…, apa yang membuatmu punya stok minuman semacam ini?” ujar Dian yang terkejut setelah melihat apa yang Andre bawa untuk mereka.
“Kenapa? Bukankan dulu kamu selalu menolak saat aku mengajakmu untuk minum minuman semacam ini?”
“Jangan banyak bicara. Kalau mau silahkan minum, kalau tidak mau biarkan saja di situ,” ujar Andre dengan santai sambil menarik tutup kalengnya.
__ADS_1
Apakah kamu menyiapkan ini untukku? Batin Dian.
Bibir Dian melengkung saat melihat Andre benar-benar meminum isi dari kaleng yang dibukanya.
Apakan ini artinya hubungan kita selangkah lebih maju? Karena kini satu penghalang yang selalu kita perdebatkan terlah berhasil disingkirkan.
Dian melakukan hal yang sama dengan Andre. Mereka kemudian mulai mengobrol sebagai orang dekat. Entah orang dekat semacam apa yang sedang mereka perankan, sebagai sahabat atau dua orang yang pernah saling sayang. Mereka masih bimbang dengan apa yang mereka rasakan.
***
“Sayang, kamu sudah bangun Nak…”
Rina mengerjapkan mata untuk menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk ke sana. Ia menatap sekeliling untuk mengembalikan kesadarannya, tentang apa yang telah terjadi padanya, seperti apa kondisinya dan dimana sekarang ia
berada.
“Kamu tidur saja lagi kalau masih lemas,”ujar Ririn yang begitu mendengar anaknya sakit langsung datang ke sini.
“Bener kata mama kamu, sekarang kamu tidur aja lagi. Kita akan tetap ada di sini untuk menemani kamu,” ujar Santi menimpali.
“Dika dimana Ma?” tanya Rina pada kedua mamanya.
“Dika tadi harus pergi, karena ada pekerjaan penting yang harus ia tangani,” terang Ririn.
Rina meraba perutnya. Kenapa masih terasa sakit. Sebenarnya aku kenapa? Batin Rina.
“Ma, tadi dokter bilang apa? Mama berdua masih ketemu sama dokter nggak?”
Santi menatap Ririn, karena ia juga belum lama tiba di sini.
Ririn menghela nafas. Sepertinya memang ia yang harus menjelaskan.
“Mama nggak sempet bicara sama suami kamu. Tak lama setelah mama datang dia langsung mendapat telefon dan pamit setelah menitipkan kamu. Katanya nggak dia nggak akan lama perginya,” terang Ririn.
“Ayah juga nggak bilang sesuatu Ma?” tanya Rina sambil menatap Santi.
“Begitu tiba di rumah sakit, mama langsung ke sini. Jadi belum sempat menemui mas Rudi sampai sekarang.”
Rina meringis sambil memegangi perutnya saat berusaha untuk duduk. Perutnya masih terasa kaku dan sulit digerakkan.
“Kamu mau ngapain sih Nak,” ujar Ririn sambil membantu Rina untuk bangkit.
"Rina haus Ma," lirih Rina sambil menahan sakit.
“Biar Mama ambilin.” Santi meletakkan buah yang tengah dikupasnya dan mengambilkan minum untuk menantunya.
__ADS_1
Bersambung…