Zona Berondong

Zona Berondong
Saling Sayang


__ADS_3

^^^Pengen deh kasih visual untuk karakter Dika dan Dedi.^^^


^^^Kira-kira siapa ya yang cocok?^^^


^^^-Happy reading-^^^


"Dik, gue balik duluan ya, lagian Rista juga udah nggak sendiri."


"Oke, makasih banget ya."


Dedi bangkit dengan menyambar kunci motor di hadapannya.


Srett


Buru-buru Rista mengambil kunci itu dan mengantonginya.


"Bocah....."


"Apa Kakak...."


"Jangan bercanda deh, siniin kuncinya."


Rista mengacungkan jari telunjuknya. "No, no, no, no."


"Ck...."


"Ris, Dedi mau pulang tuh."


"Tapi kan...."


"Rista Andini..."


Rista segera mengembalikan kunci motor itu pada Dedi. Dia tak mungkin melawan jika Kakaknya sudah berbicara dengan intonasi yang demikian.


Dedi menatap Rista yang kini menyerahkan kunci motornya. Harus banget ya ekspresinya kayak gitu. Dedi segera meraih kunci itu. Dia sempat ragu namun akhirnya ia urung pergi dan duduk kembali.


"Nggak jadi?" heran Dika.


"Noh, udah mau mewek." Dedi menunjuk Rista dengan dagunya.


Rista beberapa kali mengerjap-ngerjap dengan melihat ke atas untuk menghalau air matanya yang nyaris jatuh.


Dedi meraih sebuah stik kentang dan menyuapkannya pada Rista. "Jangan nangis." Dedi mengusap lembut setitik air mata di sudut mata Rista.


"Kak Restu suka sibuk, dan Kak Dedi yang selalu datang nemenin Rista, jadi..."


"Jadi...?" Dedi meraih dagu Rista agar menatap wajahnya.


"Jadi Rista sering berharap bisa terus sama Kakak...."


"Rista," gumam Dika saat melihat sang adik direngkuh sahabatnya. "Maafin Kakak ya."


Rina meletakkan sebelah tangannya di bahu Dika.


"Kok jadi mellow gini?" bisik Dian pada Nita.


"Aku juga nggak ngerti," jawab Nita.


"Ehm, aku permisi ke toilet ya," pamit Dian sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Aku nemenin dia." Nita juga ikut bangkit dan pergi ke toilet bersama Dian.


Dian menghela nafas di sela langkahnya. "Ngerasa ada bawang nggak sih di adegan tadi?"

__ADS_1


"Iya. Dari yang awalnya cuma tahu Dika sebagai mantannya Rina..." Nita diam sejenak. "Mantan tapi sayang tepatnya," koreksi Nita.


Dian mengangguk.


"Kemudian tiba-tiba nemu Dika dengan kostum ala-ala esmud, dan muncul lah gadis cantik body aduhai tapi ternyata masih kelas 1 SMP ditambah cowok cakep tapi kurang ramah macam Dedi. Hhaaahhh, panjang juga narasi gua."


"Tapi belum kelar," imbuh Dian. "Dedinya jutek, Ristanya manja. Itu pacarnya apa gimana sih?"


"Nggak tahu gua...." jawab Nita dengan nada frustasi.


"Kalau belum, uumm...."


"Mikir apa lu?" tanya Nita dengan mata memicing.


"Ya, apa ya. Namanya lihat cowok cakep naksir boleh ya...?"


"Ih dasar. Mau lu dapet berondong?"


"Yakin Dedi berondong?"


Nita nampak berfikir. "Logikanya sih iya, dia temen Dika kan?"


"Ya siapa tahu, bisa aja kan temen nongkrong atau saudara mungkin."


"Kalau saudara kok nggak ada mirip-miripnya?"


"Ya kan kalau saudara sepupu atau apa gitu kan bisa aja nggak mirip." Dian mendadak diam dan tiba-tiba tertawa kecil kemudian.


Nita mengernyit. "Sehat lu?"


"Sangat." Dian menjawab dengan penuh semangat. "BTW Dika sama Dedi itu mirip loh."


"Mirip?" beo Nita.


Dian mengangguk. "Sama-sama ganteng, hahahaha."


"Lu aja yang masuk, gue nunggu di sini sekalian cuci mata," ucap Dian lengkap dengan kerlingan nakalnya.


"Dasar jomblo." Nita melenggang masuk.


"Dedi, kok aku deg-degan lihat wajah cuek kamu," gumam Dian.


Sementara itu di dalam area food court, Rista sedang berada dalam pelukan Dika.


"Maafin Kakak ya, semenjak pindah ke rumah Kakak jadi nyuekin kamu, sering pergi-pergi dan nitipin kamu sama Dedi."


"Rista ngerti Kak, cuma Rista butuh temen. Dan karena Kak Dedi sering ada buat Rista, jadinya Rista ngerasa nyaman kalau lagi sama-sama. Tadi Rista cuma sebel, masa mau pergi tapi nggak sedikitpun minta pendapat Rista, padahal dari tadi kan kita sama-sama."


Dika mengelus surai panjang adiknya ini. Dia mendengarkan dengan baik bagaimana ia mengadu dan mengeluh.


"Tapi Kak Dedi juga punya urusan lain Dik, jadi jangan terlalu bergantung sama dia ya. Kakak janji bakal bagi waktu dengan baik buat Rista."


"Gue yang salah."


Rina, Rista dan Dika serempak menoleh mendengar ucapan Dedi yang tiba-tiba.


"Gue juga kesepian, yatim piatu tanpa saudara. Sebenarnya gue juga nyaman saat sama Rista, ngerasa dibutuhin, ngerasa ada yang kudu dilindungin, dan kadang diperhatiin."


Rista menegakkan tubuhnya setelah lepas dari pelukan sang kakak.


"Aku kesal saat kamu datang, aku merasa saat-saat menyenangkan bersama Rista dipaksa selesai karena Rista akan kembali pada kamu, kakak yang sebenarnya."


"Jadi Kak Dedi nggak marah sama Rista?"

__ADS_1


Dedi menggeleng.


"Nggak sebel sama Rista?"


Kembali Dedi menggeleng. "Aku sayang sama kamu Ris."


Rista bangkit dan menghampiri Dedi. Tanpa ragu ia memeluk sosok yang membuatnya nyaman ini dengan sayang.



"Rista sayang sama Kakak."


Dedi seperti kehilangan akal. Dia hanya melihat Rista sebagai wanita, bukan sebagai adik sahabatnya ataupun gadis dibawah umur yang belum mengerti cinta. Dia menggenggam tangan Rista yang tertaut di dadanya. Ris, aku sayang sama kamu, aku akan terus melindungi kamu hingga aku dapat memanfaatkan diri untuk memintamu selamanya di sampingku.


"Yah, kok ada adegan kayak gitu."


"Hahaha." Nita segera membungkam mulutnya sebelum semua orang melihat ke arahnya. "Patah deh patah. Gimana kabar tu hati," ejek Nita pada Dian. Pasalnya baru beberapa menit yang lalu sahabatnya mengungkap ketertarikannya pada sosok pemuda tampan yang baru mereka temui ini.


"Yah, kecewa sih. Tapi its never mind. Yuk ke sana." Dian memang kecewa tapi belum ada hati yang bermain di sana, jadi tak masalah rasanya jika harus ada adegan mesra yang dimainkan pemuda tampan yang baru saja menarik hatinya.


"Yakin?"


"Yakin lah. Yuk."


Keduanya berjalan mendekat untuk bergabung dengan yang di sana.


Rista segera melepas pelukannya dan kembali duduk di samping Dedi.


"Jadi ini nanti gimana?" tanya Dian untuk memecah sunyi.


Kelima orang di sana saling beradu pandang.


"Rista baliknya sama Kak Dedi ya Kak?" Risya meminta izin pada Dika.


"Gimana Ded?" Dika ganti bertanya pada Dedi.


"Nggak masalah." Dedi memegang kepala Rista dan mengelusnya sayang.


"Aku masih ada yang perlu diomongin sama Rina."


"Pas banget tuh, Rina juga pengen ngomong sesuatu kayaknya." Nita menaik-turunkan alisnya saat pandangannya beradu dengan Rina.


Rina mendesah pasrah. "Kalau gitu aku baliknya?"


"Aku anter," sahut Dika cepat.


"So, kita balik ya." Nita kemudian melihat kesana-kemari seakan mencari sesuatu. "Mbak." Dia memanggil salah satu waiters untuk mendekat.


"Udah aku bayar." Dika berucap tepat saat waiters yang Nita panggil tiba di meja mereka.


"Wah, beneran nih? Jadi kesenengan, hehehe."


Dika terkekeh melihat tingkah konyol Nita. "Kalau gitu kita duluan ya." Dika menggenggam tangan Rina untuk diajak bersamanya.


"Kita juga mau balik kok."


Dian dan Nita juga bangkit dari tempat duduknya.


"Kita ke toko buku bentar ya Kak, nanti Kakak kabarin kalau udah mau pulang," pinta Rista.


Dika mengangguk. "Nitip ya Ded."


"Oke, jangan khawatir."

__ADS_1


TBC


Say something dear.


__ADS_2