
^^^Jadian sama temennya adik/kakak? ^^^
^^^Jadian sama adik/kakaknya temen?^^^
^^^Pernah nggak? ^^^
...*HAPPY READING*...
Rina serasa melayang bak terhempas ketengah lautan kebahagiaan saat ini juga. Ia tak mampu berkata selain tersenyum dengan iringan air mata bahagia.
Dika pun sama. Dia bangkit dan mengeluarkan benda cantik itu. "Kamu pakai ya?"
Namun tiba-tiba Rina menahan tangannya. "Apa ini nggak berlebihan?" cegah Rina saat Dika hendak memasangkan kalung bertahta berlian itu di lehernya.
"Berlebihan itu jika aku merasa keberatan, dan yang kurasa sekarang aku tak merasa terbebani sama sekali."
Kedua sudut bibir Rina tertarik. "Sombong sekali Tuan Muda ini," cibir Rina dengan bibir melengkung sempurna. Meskipun demikian, ia tak lagi menahan Dika untuk memasangkan kalung cantik dengan liontin berbentuk huruf R.
"Kok R sih? Kenapa Nggak D?" tanya Rina sambil memegang liontin yang menggantung di lehernya.
"Karena..." Dika berjalan memutar dan berhenti tepat di depan Rina. "Semua orang di sekitar kita punya R di nama depannya. Aku, kamu, om Reno, tante Ririn, Rista, papa, mama, dan ayah."
"Papa mama?"
Dika mengangguk. "Mama namanya Arsanti, dan papa Hendro. Meskipun bukan huruf pertama tapi kan tetap ada R di nama depannya."
Rina mengalungkan lengannya di leher Dika. "Makasih ya..."
Dika menatap manik mata Rina. "Makasih juga kamu mau balik jadi pacar aku."
"Karena aku cinta kamu..."
"So do I... I do love you babe..."
Rina memejamkan mata saat Dika mulai mendekatkan wajahnya.
Brak!
Sebuah gebrakan spontan membuat tubuh keduanya menjauh.
"Anjir. Kalian udah balikan?!"
"Kak, kok kayak marah gitu, bukannya bagus ya?" Rista yang langkahnya sempat tertinggal langsung melayangkan protes melihat Dedi seolah tak suka melihat kakaknya balikan dengan Rina.
"Ta lihat, kamu pikir ini semua buat apa!?" Dedi menunjukkan bawaannya yang begitu banyak.
"Kakak kamu yang rempong itu pengennya nanti malem bikin surprise dinner romantis dan mau ngajak balikan Rina di momen itu. Dan lihat, sekarang mereka udah balikan gitu aja dan ngebuat perjuanganku mempersiapkan ini semua sia-sia?!"
"Nggak juga kali Kak, meskipun udah balikan kan tetep bisa dinner."
"Tahu dah!"
Dedi meninggalkan barang-barang itu begitu saja dan membanting dirinya di kasur.
"Ded, ini kamar cewek, kita tidur di sebelah," ujar Dika mengingatkan.
"Gue capek." Bukannya menurut, Dedi justru menarik selimut dan menyelimuti dirinya.
Rista juga merebahkan diri di kasur. "Kak Dedi tidur sini aja sama aku dan Kak Rina.
"No!"
__ADS_1
Serempak Rina dan Dika.
"Sayang, pindah kamar sebelah ya."
Rina segera membawa tasnya dan mengikuti perintah Dika.
"Ris, pindah juga." Dika menarik tangan Rista agar ia bangun dan mengikuti Rina.
"Nggak mau..." Rista justru memeluk tubuh Dedi yang terbungkus selimut.
"Rista, kamu tu udah gede, jangan kayak gini deh."
"Kenapa sih Kak, kan Rista cuma pengen tiduran bentar."
"Rista! Kamu cewek dan yang kamu peluk cowok."
"Tahu Kak."
"Kalau udah tahu makanya jangan nemplok sembarangan."
Yang barusan berbicara bukan Dika, tapi Dedi dari balik selimutnya.
Dika hanya mampu mengelus dada. "Rista, jangan sampai Kakak marah ya."
Nada bicara Dika berubah dingin. Biasanya jika sudah begini Rista tak akan menunggu lama untuk menurutinya.
"Iya, iya..."
Dan benar. Rista segera bangkit dan berjalan menuju kamar sebelah sambil menghentak-hentakkan kaki karena kesal.
"Ded..." Dika tahu Dedi tak sedang tidur, untuk itu dia merasa perlu bicara padanya.
"Aku tahu kamu nggak tidur," imbuh Dika saat melihat Dedi diam saja.
"Rista suka gitu ya?"
Dedi serba salah. Ingin sekali ia jujur, namun bayang-bayang bahwa Dika akan melarang keduanya melanjutkan hubungan berhasil menghantuinya.
"Ded, kamu nggak lagi pengen menyembunyikan sesuatu dari aku kan?"
Dedi menghela nafas. "Oke, gue jujur. Rista sepertinya memang tak paham, tapi aku sangat paham. Bahkan reaksi tubuhku jauh lebih paham dari otakku. Aku selalu bekerja ekstra saat bersamanya, mengontrol semuanya agar aku tak menggila dan menodai dia. Aku membentak dia marah sama dia, hingga aku sering membuatnya mengeluarkan air mata. Aku hanya ingin dia menjaga sikap, agar aku tak merasa mendapat mangsa."
Nafas Dedi memburu. Sementara Dika hanya diam menunggu sahabatnya terus bercerita.
"Minggu lalu, aku membiarkan Rista tahu bagaimana reaksi tubuh seorang pria jika tengah menginginkan wanita."
Tangan Dika mengepal. "Kamu?!"
"Dedi nggak ngapa-ngapain sayang..."
Rina datang dengan handuk di kepalanya. Dia masuk dan duduk tepat di samping Dika.
"Aku lihat sendiri, bagaimana Dedi hanya ingin membuat Rista paham dan lebih bisa membawa diri." Rina meraih tas kecil yang masih tertinggal di sana. Dia kemudian bangkit dan hendak kembali ke kamarnya.
"Aku cuma mau ambil ini." Rina mengacungkan sebuah pouch make up kemudian perlahan melanjutkan langkahnya.
"Rina, kamu lihat semua?" tanya Dedi.
Rina langsung berhenti dan membalikkan badan sebelum menganggukkan kepala. Rina kembali berjalan saat merasa tak ada lagi yang mengajaknya berbicara.
"Aku pikir kamu juga bisa membayangkan bagaimana gejolak yang dirasa saat gadis yang kamu suka terus melakukan skinship dengan kita. Kamu tahu kan?"
__ADS_1
Dika terdiam.
"Aku membiarkan Rista berada di pangkuanku dan membuatnya tahu sisi normalku saat terus di serang ran**angan. Saat itu aku menjelaskan kenapa aku takut berada di dekatnya jika hanya berdua dan dalam waktu yang lama. Aku takut tak bisa menahan hasrat karena aku begitu menginginkannya."
Dada Dedi naik turun. Antara lega dan cemas kalau-kalau Dika berubah pikiran tentang hubungannya dengan Rista.
"Aku nggak mampu bilang nggak apa-apa, tapi terlalu egois rasanya jika meminta kalian berpisah."
Dika bangkit dan meninggalkan Dedi di sana begitu saja.
Dedi terpaku melihat tubuh tegap sahabatnya berjalan menjauh hingga menghilang di balik pintu.
"Ya Tuhan, apa aku dan Rista akan berakhir?" gumam Dedi sebelum kembali merebahkan tubuhnya.
Dika menuruni tangga dan melihat kedua orang tuanya berbincang di teras sambil menikmati pemandangan villa.
"Dika? Kamu belum jadi mandi?" tanya Santi saat melihat Dika masih mengenakan pakaian yang sama.
Dika memaksakan senyum di wajahnya. "Kamar mandinya dipakai semua Ma."
"Mau mandi di kamar Mama aja?" tawar Santi.
"Boleh deh Ma..."
Dika berjalan menuju kamar yang digunakan oleh Santi dan Rudi. Dia akhirnya memutuskan untuk membersihkan diri di sana.
"Dika kayaknya nggak bawa ganti deh Mas, aku ambilin ke kamarnya ya."
Rudi mengangguk dan Santi pun berjalan menuju kamar atas.
"Mereka tidur di mana ya?" gumam Santi saat melihat kedua pintu kamar tertutup.
Cklek
"Mama..."
Rista tiba-tiba keluar dan mendapati Santi berdiri di depan kamarnya.
"Dika sama Dedi berarti tidur di sini ya?" tanya Santi dengan menunjuk satu pintu lagi yang masih tertutup.
"Iya, kenapa Ma?"
"Mau ambil ganti buat kakak kamu. Dia mandi di bawah soalnya."
"Oh, biar Rista aja."
Rista membuka pintu perlahan karena tak ingin mengganggu tidur Dedi.
Santi menatap tubuh yang tengah terbalut selimut itu. Itu kan Dedi, padahal kata Dika tadi kamar mandinya sedang dipakai?
"Ini Ma..."
Rista menyerahkan baju ganti untuk kakaknya sebelum ia keluar dan menutup pintu perlahan.
"Kenapa Ma?" tanya Rista saat melihat tatapan mamanya yang tak biasa.
Cepat-cepat Santi menggeleng. "Enggak. Kamu nggak turun?"
"Nanti deh Ma, Rista pengen istirahat bentar sama kak Rina."
Santi mengangguk. "Mama turun dulu."
__ADS_1
TBC