
^^^Baru kenal tapi jadian.^^^
^^^Pernah kah?^^^
^^^Happy reading.^^^
"Selamat pagi semua," sapa Rio pada kelas yang diajarkannya saat ini.
"Pagiii...!"
"Baiklah, sebelum pelajaran olahraga kali ini kita mulai, mati kita awali kegiatan pagi ini dengan doa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Berdoa mulai." Semua diam larut dalam doa. "Selesai. Baiklah, pelajaran hari ini adalah bola tangan. Ada yang sudah tahu bola tangan?"
Semua saling bersahutan dengan antusias. Rio dengan kepiawaiannya di-support dengan wajah tampan dan tubuh atletisnya membuat ia tak kesulitan untuk mendapatkan atensi dari seluruh siswa.
Pelajaran berlalu dan kini tiba waktunya jam istirahat bagi semuanya.
"Hubungan kamu sama mantan tuh sebenarnya gimana sih Rin?" tanya Nita sambil membenahi alat tulisnya.
Rina hanya mendesah. Saat itu sebuah notifikasi masuk ke ponselnya.
Rio
Sayang, ke parkiran sekarang.
"Siapa Rin?" tanya Nita penasaran.
Rina tak menjawab melainkan hanya menunjukkan layar ponselnya kepada Nita kemudian ia kembali mengantongi ponselnya tersebut.
"Kamu mau ke sana?" Melihat Rina mengangguk, Nita kemudian mengajak Rina segera berdiri untuk bersama-sama meninggalkan kelas. Namun bedanya jika Nita mau ke kantin, Rina akan ke parkiran ke tempat Rio berada.
Di sana tampak Rio sudah menunggu Rina dengan menyandarkan tubuh di samping mobilnya. Begitu Rina tiba Rio langsung membukakan pintu mobil dan membawa Rina masuk ke dalamnya.
"Mau ngapain Mas?" tanya Rina yang kini duduk di jok belakang bersama Rio.
"Pengen mojok sama pacar, emang nggak boleh ya?" tanya Rio sambil memeluk tubuh Rina dari belakang.
"Mas ini di sekolah lo." Rina memperingatkan Rio yang kini sudah mendaratkan kecupan-kecupan di lehernya. Rio sama sekali tak menggubris. Tangan yang semula melingkar di perut itu kian merambat naik, me***as gundukan indah dari balik seragam Rina.
"Mas...,"
"Say my name sayang," ucap Rio di sela aktivitasnya. "****!" Rio mengumpat tiba-tiba.
Spontan Rina menjauhkan tubuhnya. "Mas Rina balik dulu." Rio sibuk dengan ponselnya sehingga membiarkan Rina pergi begitu saja.
Rina buru-buru keluar dan berjalan meninggalkan Rio di mobilnya. Masih di area parkir, Rina berpapasan dengan beberapa rekan Rio yang sama-sama PKL di sekolahnya. Rina terus berjalan hingga ia tiba-tiba ingin menoleh untuk melihat Rio, apakah ia masih di dalam mobil atau sudah keluar.
__ADS_1
Degh!
Salah seorang dari sekelompok mahasiswa tadi menghampiri Rio di mobilnya. Dan yang membuat Rina geram dia adalah seorang wanita.
"Sebenernya Rio nganggep aku apa sih!?" geram Rina yang segera meninggalkan area parkir begitu 2 buah mobil yang di kendarai Rio dan kawan-kawannya pergi.
"Ya Tuhan, aku kudu nemuin rekaman itu dan menghapusnya. Aku benar-benar nggak ngerti Rio itu manusia macam apa," lirih Rina sambil terus berjalan menyusuri koridor sekolahnya.
2 hari berlalu dengan tanpa kabar dari Rio. Rio juga tak ke sekolah bersama wanita yang sebelumnya bersamanya itu.
Tiba saatnya pulang sekolah, Rina ternyata mendapat kejutan, yaitu Rio yang sudah menunggunya di gerbang sekolah. Beruntung Dika yang sudah kembali dari luar kota tak jadi menjemputnya.
"Mas Rio mau apa?" ketus Rina saat Rio membukakan pintu untuknya.
"Mau jemput kamu lah, ayo masuk."
Meskipun enggan, Rina tetap masuk juga. "Mas, kayaknya kita perlu ngomong deh," ucap Rina ragu.
"Ngomong apa, hmm?" tanya Rio yang mulai melakukan mobilnya.
"Mas sayang nggak sih sama aku?"
Rio melirik Rina sesaat kemudian kembali fokus menatap jalan. "Perlu aku jawab ya?"
"Mas, aku ngerasa Mas itu nggak sayang sama aku. Aku ngerasa Mas itu..." Rina mendadak ragu. Aku ngerasa Mas Rio cuma cinta sama tubuh aku.
"Mas mau ngapain ngajak Rina ke sini?"
Rio melepas seat belt setelah mematikan mesin mobilnya. "Kamu tunggu di Rini. Jangan keluar!" Bukannya menjawab Rio justru kembali memperingatkan Rina seperti beberapa waktu lalu. Rio keluar begitu saja tanpa mau mendengar persetujuan dari Rina.
"Ck, aku dianggap apa sih sebenarnya!" geram Rina. Aku kok penasaran. Apa yang dilakukan Rio di dalam. Rina akhirnya memutuskan untuk keluar mengikuti Rio. Cepat-cepat ia berjalan sebelum Rio benar-benar menghilang. Rio naik ke lantai 2, situasi saat ini begitu sepi sehingga sulit baginya untuk membuntuti Rio dengan jarak yang lebih dekat. Dia harus berhenti di lorong yang sepi seperti ini. Begitu Rio berbelok Rina segera memacu langkah nya. Namun nihil. Rio tak lagi terjangkau matanya.
"Ck." Rina berdecak karena merasa usahanya gagal. Dia ingin segera berbalik ke mobil sebelum Rio tahu ia membuntutinya.
"Aaaaa!!!"
Sebuah teriakan disertai isakan berhasil menghentikan langkahnya. Rina menajamkan pendengaran dan memicingkan matanya. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah kamar yang kebetulan pintunya tak tertutup rapat. Ia mengendap-endap mendekatinya.
Rina syok hingga menutup mulutnya. Dia melihat wanita yang masuk ke dalam mobil Rio 2 hari yang lalu tergeletak di atas ranjang dengan menangis.
"Udah deh. Harusnya kamu bersyukur aku masih mau ngurusin kamu. Toh aku nggak yakin juga yang kamu gugurin kemarin itu anakku." Rio menjatuhkan tubuhnya di kursi dan mengeluarkan sebatang rokok untuk dihisapnya.
"Tapi Yo, sebulan terakhir aku cuma sama kamu!"
Rina menggeleng tak percaya.
__ADS_1
"Jangan drama, aku udah muak!" Rio menghisap rokoknya kuat. Kemudian bangkit.
Buru-buru Rina berbalik hendak pergi.
"Rio, aku bakal hancurin siapapun wanita yang udah bikin kamu kayak gini sama aku!"
Rina menegang. Jelas sekali ia mendengar apa yang wanita itu ucapkan. Tubuhnya gemetar dan rasanya ia ingin pingsan. Aku harus cepat-cepat pergi dari sini. Rina berlari sekuat tenaga. Mama, Rina takut. Rina mempercepat larinya.
Brugh!
Saking kencangnya ia berlari, hingga tanpa sengaja menyenggol seseorang yang membuatnya jatuh tersungkur.
"Dik nggak apa-apa?" seseorang itu membantu Rina untuk bangkit.
Rina bangkit namun dia yang gemetar tak mampu berkata-kata.
"Dik kok pucat?" tanya pria berwajah kalem itu.
Ria membulatkan matanya saat menyadari bahwa pria di hadapannya ini mengenakan alamamater yang sama dengan Rio. Ya Tuhan, ini kan salah satu temen Rio yang praktik di sekolah. Tanpa permisi Rina kembali berlari.
"Eh Dik, Adik cantik!" teriak pria itu. "Yah, cakep-cakep kok kabur sih." Pria itu segera melangkahkan kakinya menuju kamar yang ia sewa selama menjalani praktek mengajar di sekolah ini.
"Nama kamu ngomel sendiri?" tanya Rio yang baru saja keluar dari kamar Indah.
"Itu ada cewek cakep, ditanya malah lari kenceng, hehehe."
"Takut kali sama kamu," jawab Rio santai sambil menghisap rokoknya.
"Ngaco kamu." Pria itu terkekeh menanggapinya. "Eh, tapi seragamnya kok kayak seragam Karya Bangsa ya."
Rio tersentak. "Kamu ngomong apa?!"
"Itu cewek cakep yang aku ceritain pake seragam Karya Bangsa."
"Shi*!!" Rio menghempaskan rokok yang terselip di jarinya dan segera berlari menuju mobilnya.
"Eh Yo...., wah orang cakep hari ini pada nggak beres semua." Pria itu kembali berjalan menyusuri lorong menuju kamarnya.
Greb
Rina merasa tubuhnya malayang.
TBC
Say something dear.
__ADS_1
Alhamdulillah bisa update lagi.
Semoga suka ya.