
HAPPY READING
Makan malam telah selesai dan semua kini sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Termasuk Hana yang saat ini sudah kembali ke kosan Risma.
“Ya ampun Han, ini pergombalan mau ditaruh dimana coba?” Risma berkacak pinggang menatap hamparan paperbag milik Hana yang mereka bawa pulang dari toko.
“Gombal apa sih Ma, aku nggak lagi gombal…” ujar Hana sambil menggosok kelapanya yang masih basah.
Risma membuka salah satu paperbag secara acak dan mengambil isinya. “Nih gombal. Gombal itu maksudnya kain kalau orang jawa bilang.”
“Terus apa hubungannya ya sama gombalan para pria?” tanya Hana dengan wajah polosnya.
Kepala Risma tertunduk seketika, karena otot lehernya tak lagi mampu menopang kepalanya.
“Maa, jawab Maaaa…” Hana mengoyang-goyangkan lengan Risma yang kepalanya tertunduk lemas dengan posisi berdiri.
“Tau deh Han. Kamu kalau lagi pinter kelewat pinter, kalau lagi bolot masyaallah…”
“Ya aku kan penasaran, makanya aku nanya.”
Risma mendudukkan pantatnya di tepian ranjang. Ia memikirkan bagaimana sanjungan yang diberikan oleh pria pada wanita bisa disebut gombal. Apa hubungannya dengan gombal yang notabene arti aslinya adalah kain.
Tok tok tok!
“Jangan dibuka Han,” cegah Risma saat Hana hendak membuka pintu.
“Kenapa?” tanya Hana tak mengerti.
“Pastikan yang diluar itu memang ke sini karena ada perlu, bukan karena mau gombalin kamu.”
Tanpa menjawab, Hana langsung memundurkan langkahnya. Sementara Risma kembali mengernyit karena tanpa sadar ia menggunakan kata gombal padahal makna sebenarnya belum ia ketahui juga.
Tiba-tiba sebuah ide melintas di kepalanya. Telfon Lutfi aja lah. Dia kan dosen tuh, seenganggaknya dia kan punya cara untuk mencari jawaban pertanyaan ini. Ujar Risma dalam hati.
Risma bangkit dan mencari ransel kesilnya. Sejak pulang, ia memang belum menyentuh ponselnya sama sekali, sehingga ponselnya masih tersimpan manis di dalam sana.
Setelah berhasil menemukan kontak Lutfi, Risma segera
mendialnya.
Tok tok tok
Hana dan Risma mengabaikan ketukan pintu itu. Mereka yakin jika yang sedang mengetuk pintu itu adalah salah satu penghuni pria yang hanya ingin cari muka dan merayu Hana.
Tok tok tok
__ADS_1
“Risma, kamu di dalam nggak…!?” suara pria terdengar dengan jelas memanggil nama Risma di depan pintu.
“Eh, kok…” Risma mengecek ponselnya. Ia sedang menelfon Lutfi, tapi suara pria ini seperti sedang di depan pintu kosannya.
“Dibuka nggak?” tanya Hana saat Risma terlihat bingung.
“Risma! Hana!”
Tok tok tok
Tanpa menjawab pertanyaan Hana, Risma segera bangkit dan membuka pintu.
“Kamu gimana sih, diketuk pintunya nggak nyahut, tapi malah nelfon-nelfon nggak jelas,” ketus Lutfi sambil menerobos masuk.
“Eh…” Risma segera memutus panggilannya dan meletakkan dengan asal ponsel pintarnya.
Hana hanya melambaikan tangan dan tersenyum lebar saat Lutfi melihatnya dengan tatapan kesal.
Lutfi mendudukkan diri di atas karpet dan membuka kantong kresek yang ia bawa.
“Aku tadi habis seminar, terus ada peserta yang ngasih ginian, kalian mau nggak?” ujar Lutfi sambil mengeluarkan 1 cup besar yang masih tertutup rapat.
“Apa itu?” tanya Risma antusias.
“Nggak jelas gimana sih, ini tuh enak.” Risma langsung memasukkan sesuap besar salad buah ke mulutnya setelah dengan gerapakan cepat ia menyingkirkan penutupnya. “Hana mau?” tawar Risma saat ia baru ingat kalau ada Hana juga di sana.
“Aku kenyang Ma,” tolak Hana yang tak beranjak dari tempatnya.
“Ini itu nggak bikin kenyang Hana, cuma buah doang.”
“Ya tapi kan buah juga makan tempat di perut Ma.”
“Hmm, ribet kamu ah, sini…” Risma menggerakkan tangannya untuk meminta Hana mendekat.
Hana menggeleng. Rupanya Hana tak main-main dengan penolakannya.
“Kalau nggak mau ya udah. Pantes badan kamu kurus, makan saja sering sisa,” ujar Risma sebelum kembali menyuapkan sesuap besar salad buah ke dalam mulutnya.
“Iya Han, kamu itu kurus banget loh, berbanding terbalik sama Risma yang…”
“Apwha…” Risma melotot dengan mulut penuh. Ia segera menghalau isi mulut yang hampir jatuh kala ia berbicara.
Dengan cekatan Hana menyerahkan sekotak tissue saat melihat Lutfi tengah mencari sesuatu. Pria ini segera menerimanya dan mengambil satu helai untuk dilipatnya.
“Utututu, anak baik maemnya kok blepotan sih…” ujar Lutfi sambil membersihkan bibir Risma.
__ADS_1
Risma sama sekali tak menggubris perlakuan laki-laki ini. Ia tetap melanjutkan aktifitasnya memakan salad buah hingga tandas semuanya.
“Alhamdulillah. Sering-sering ya bawa beginian. Tapi aku suka kasihan sama mahasiswi yang suka ngasih-ngasih kamu. Pasti mereka kecewa kalau kamu malah bagi-bagi apa yang mereka berikan dengan setulus hati.”
“Ya daripada aku diemin dan mubadzir, mending aku bagi buat kamu. Kali aja bisa bantu pertumbuhan badan kamu biar nggak bantet kaya gini,” ujar Lutfi sambil menoel pipi Risma.
“Mana bantel. Aku itu chubby,” elak Risma.
Hana tertawa kecil melihat reaksi dua temannya ini. Saat melihat Lutfi yang dengan sangat naturalnya memberikan perhatian pada Risma, ia jadi ingat hari-harinya dengan Andre. Selama ini ia memang tak pernah punya teman dekat baik laki-laki mau pun perempuan. Satu-satunya orang yang dekat dengannya adalah sang mama. Sehingga kepergian sang mama membuatnya merasa benar-benar sendiri di dunia.
Namun ia baru merasa di dunia ini tak sendiri saat Andre menyeret dan memaksa Hana masuk ke dalam kehidupannya. Mereka hidup bersama dan mulai terbiasa saling berbagi dan mengasihi.
“Oh iya, kamu tadi ngapain nelfon?” tanya Lutfi saat ingat tadi Risma sempat menghubunginya..
“Oh itu…” Gara-gara salad buah Risma sempat melupakan tujuan awalnya menghubungi Lutfi. “Apa hubungannya gombal yang makna sebenarnya kain, sama gombal yang biasanya sering ditujukan pada laki-laki yang sering merayu perempuan,” ujar Risma menjelaskan maksudnya menghubingi Lutfi tadi.
“Ha?” Lutfi benar-benar tak menyangkan akan mendapatkan pertanyaan semacam ini dari Risma.
“Kamu nggak ngerti?” terka Risma. Pasalnya Lutfi baru saja menampakkan wajah kaget dan bingung secara beruntun.
“Ya nggak gitu, tapi kenapa kamu nanya hal semacam ini, nggak jelas.” Lutfi berusaha menjelaskan keterkejutannya.
“Ya jelas lah.”
“Coba kasih alasan kalau jelas?”
“Tuh, Hana yang penasaran.”
Sekali lagi Hana hanya tersenyum lebar sambil melambaikan tangan kala Lutfi kembali menatapnya setelah sebelumnya ditunjuk oleh Risma. Namun kali ini berbeda dengan tadi. Jika tadi ia menatap Hana dengan tajam karena kesal tak segera dibukakan pintu, kini Lutfi menatap aneh Hana karena pertanyaannya yang tak bermutu.
“Aku itu dosen ilmu social bukan ilmu sastra.” Lutfi kembali memperjelas disiplin ilmu yang ia kuasai.
“Ya seenggaknya dari sudut pandang ilmu social bisa juga kamu jelaskan kan?” kali ini Hana mulai berbicara untuk memperjuangkan rasa ingin tahunya.
Lutfi nampak sejenak berfikir, sebelum menatap dua wanita di hadapannya ini. “Baju kalau jumlahnya tepat menyimpannya tepat, penggunaannya tepat, akan membawa manfaat. Baik dilihat dari sudut pandang fungsi maupun estetika. Dan jika tertumpuk dan teronggok tak terorganisir, pakaian mahal pun akan dipandang sebagai gombal yang tak berharga.” Lutfi berusaha menjelaskan sejauh kemampuaannya.
“Dan gombalan itu biasanya ditujukan untuk pujian yang diberikan secara berlebihan kepada seseorang.”
Lutfi memberi jeda setelah berusaha memberika definisi terhadap penggunaaan sebuah kata yang sama namun maknanya berbeda.
“Jadi intinya?”
“Intinya Han, pujiaan itu kalau tak terlalu sering diberikan maka akan terasa manis dan menyenangkan saat didengar, sebagaimana pakaian. Jika penggunaannya tepat sesuai kebutuhan, maka akan indah dipandang. Tapi jika semua belanjaan ini dibongkar dan taruh sembarangan maka hanya akan jadi seonggok gombal yang tak berharga meski faktanya harganya mahal.”
Bersambung…
__ADS_1