
HAPPY READING
Setelah gagal sarapan pecel di pinggir jalan, Andre dan Hana memutuskan untuk berkeliling guna menemukan menu lain mungkin mereka inginkan. Namun hingga keduanya merasa lelah, tak ada satu pun yang berhasil menarik selera keduanya.
Andre juga masih kesal pada Hana yang tak sadar ada pria yang coba mendekatinya, di sisi lain Hana tetep kekeh bahwa pria tadi berada di dekatnya bukan karena ada dirinya melainkan karena keduanya tengah mengantri makanan pada penjual yang sama.
Waktu terus berjalan dan lapar pun mulai menyerang, akhirnya Andre memutuskan untuk mengajak Hana makan di rumah saja. Karena di rumah makanan terlanjur tinggal sisa, Hana memasak untuk mereka. Selain karena kasihan jika meminta bibi untuk memasak lagi, hal ini juga ia lakukan berharap agar Andre sedikit lunak hatinya.
“Kamu tadi beneran nggak nyadar kalau bocah-bocah tengik
tadi terus ngeliatin kamu sejak kamu turun dari mobil?” Andre sepertinya belum move on dari kejadian di warung pecel tadi.
Hana hanya menghela nafas. Ia memilih diam dan terus melakukan aktivitasnya berkutat membuat makanan. Ia tak ingin menjawab apa lagi membela diri. Karena jika hal ini ia lakukan justru akan memicu Andre untuk lebih marah lagi kepadanya.
“Kamu kenapa nggak mandi aja sih sayang…” ujar Hana setelah Andre tak lagi uring-uringan sendiri.
“Nggak mau. Aku mau nemenin kamu, dari pada kamu di goda laki-laki lagi.”
Hana mendengus dan kembali melanjutkan masaknya. Tadi nggak ada yang godain. Jangankan ngegoda, nyapa aja enggak, melihat pun hanya sekilas, gerutu Hana dalam hati.
Sayang ia tak mungkin mengatakan hal ini, terlebih ketika Andre sedang labil seperti ini.
“Kamu suka kering nggak kulitnya?”
“Terserah kamu…” jawab Andre masih dengan muka kaku.
Hana kembali menghela nafas. Ia sedang membuat pan seared salmon yang akan dimakan dengan mash potato yang telah ia buat sebelumnya.
“Belum selesai?” tanya Andre yang kini sudah berdiri di samping Hana.
“Sedikit lagi,” jawab Hana sambil sekilas menatap kekasihnya.
“Ada yang bisa aku bantu?” tanya Andre sembari memeluk Hana dari belakang.
“Bawa ini ke meja ya, aku mau ambil bikin jus wortel.” Cepat-cepat Hana menyodorkan dua piring berisi makanan sebelum Andre mulai melakukan lebih padanya.
“Kenapa wortel?” tanya Andre yang belum beranjak meski kedua tangannya sudah memegang makanan yang dibuat kekasihnya.
“Karena kamu nggak suka wortel…” jawab Hana dengan senyum termanisnya.
“Jahat kamu. Tahu nggak suka kenapa malah mau buat?”
“Karena wortel itu bagus buat tubuh Sayang...”
Hana meninggalkan Andre menuju kulkas. Ia benar-benar ingin membuat jus wortel sementara Andre memindahkan makanan yang baru ia buat ke atas meja. Dan tak perlu menunggu lama, Hana sudah datang dengan dua gelas jus di tangannya.
“Kok warnanya beda?” protes Andre saat Hana membawa dua gelas jus dengan warna tak sama.
“Kenapa? Kamu mau yang ini juga?” tanya Hana sembari meninggikan tangan kirinya yang memegang gelas berisikan jus berwarna hijau.
“Kamu curang. Nggak suka sama wortel juga kan?”
__ADS_1
“Suka kok. Kalau kamu mau yang ini, biar wortelnya aku yang minum.”
“Emang itu apa?”
“Ini isinya seledri, timun, sama dikasih peresan lemon, mau?”
Andre bergidik ngeri. “Itu dicampur?”
“Iya.”
“Dijadiin satu?”
“Iya.”
“Diminum bareng?”
“Iya Sayang…”
“Rasanya gimana sih?”
“Enak. Gimana? Jadi mau yang ini…”
Tanpa Andre sadari kepalanya menggeleng sendiri. Nggak usah minum jus boleh nggak sih? Sayang Andre hanya mengatakan ini dalam hati. Ia tak tega mengatakan pada Hana karena kekasihnya ini telah susah-payah membuatkan untuknya.
Akhirnya, sejoli ini sarapan bersama. Meski awalnya ogah-ogahan, Andre tetap berusaha meminum jus wortel yang Hana buatkan.
“Ini pake gula nggak sih?” tanya Andre setelah meminum seteguk jus wortel miliknya.
Hana menggeleng karena mulutnya masih berisi makanan. “Kenapa, kurang manis ya?” tanya Hana setelah menelan makanan di dalam mulutnya.
“Nggak suka ya?” tanya Hana dengan wajah iba.
“Kamu kan sudah tahu,” jawab Andre sebelum kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Hana tertawa kecil dan turut memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Mereka kembali melanjutkan makan dalam diam. Dan akhirnya Andre berhasil menghabiskan segelas jus wortel yang sangat tidak disukainya.
“Kamu mandi ya. Aku mau beresin ini dulu…”
“Kamu siapkan perlengkapanku, itu biar ini diurus bibi…”
Hana tak menjawab. Ia segera ikut Andre ke kamarnya setelah sebelumnya memanggil bibi. Meski mereka semalam tidur di kamar yang berbeda, namun semua barang-barang Andre ada di dalam kamar yang ditempati Hana. Sehingga sekarang Andre mandi di kamar yang Hana tempati.
“Kamu mau pakai warna apa hari ini?” tanya Hana
sebelum Andre masuk ke kamar mandi.
“Aku mau kamu menemaniku ke kantor hari ini.”
Hana menghela nafas. Ditanya apa balasnya apa. Hana makin kesal lagi saat Andre dengan seenaknya masuk ke kamar mandi sebelum memberikan jawaban pada Hana.
“Andre amnesia apa gimana sih. Kan dia yang nendang aku dari perusahaan, jadi kan malu kalau aku sering-sering ke sana tanpa alasan,” gerutu Hana sambil berjalan menuju ruang ganti kekasihnya. Ia ingin menyiapkan pakaian seperti yang Andre minta.
__ADS_1
“Kamu kok belum siap-siap?” tanya Andre saat baru keluar dari kamar mandi.
“Memangnya aku mau kemana?”
“Ikut ke kantor aku bilang.” Andre nampak kesal kerna ia harus mengulang apa yang telah ia katakan.
“Nggak mau, malu…”
“Malu sama siapa? Kan kamu pake baju…”
Hana mendengus mendengar ucapan ngawur kekasihnya. Untuk itu ia memilih segera menyambar handuk dan menuju kamar mandi dengan segera.
“Kenapa aku tadi nggak kepikiran untuk mandi bareng aja ya,” gumam Andre sambil menggosok dengan handuk kepalanya yang basah. “Kan bisa hemat waktu…” lanjutnya sambil menatap nanar kamar pintu kamar mandi yang tertutup.
Sepertinya Andre banyak lupa hari ini, dan PR bagi Hana untuk membantu kekasihnya ini mengingat semuanya. Komitmen untuk menjaga diri sebelum semua yang haram menjadi halal untuk mereka.
Sudah hampir satu jam, namun Hana belum juga keluar dari kamar mandi. Hal ini tentu saja membuat Andre mulai gusar menunggu di luar. Ia yang tak sabar segera meninggalkan apa yang tengah ia kerjakan. Dengan langkah panjang ia berjalan menuju pintu tempat Hana berada di dalamnya.
Cklek!
Saat baru saja Andre hendak mengetuk pintu, ternyata Hana sudah membukanya dari dalam.
“Kamu ngapain?” tanya Hana yang muncul dengan kimono dan rambut basahnya yang ia gosok dengan handuk.
“Kenapa lama sekali?”
“Lama? Biasa kayaknya…” jawab Hana sembari membuang muka.
“Kamu mau buat aku marah?”
Hana menggeleng.
“Sebenarnya ada apa sih?” tanya Andre penuh selidik.
Hana berjalan melewati Andre menuju meja rias yang ada di kamar itu. Sadar akan kondisi kekasihnya yang tak menentu, Andre memutuskan untuk menghampiri Hana dan mengajaknya bicara. Ia mengambil alih hair dryer yang baru saja Hana nyalakan dan mulai menggerakkan tangannya untuk membantu kekasihnya.
“Ngomong dong kalau ada yang nggak pas…” ujar Andre sembari mengeringkan rambut kekasihnya.
Hana memutar tubuhnya dan mendongak untuk menatap Andre yang berdiri di belakangnya. “Kamu beneran mau aku ikut ke kantor?”
Andre mengangguk sembari terus menggeakkan tangan untuk mengeringkan rambut kekasihnya.
“Buat apa?”
Andre menghentikan gerakan tangannya. “Buat kamu ada di sisi aku.”
“Tapi aku nggak akan kemana-mana Andre. Aku hanya akan di sini, di rumah kamu…”
“Tapi aku beneran pengen ada kamu Hana.”
Andre meletakkan apa yang ia pegang kemudian berjongkok di depan Hana. “Ini memang resiko pekerjaan, tapi aku benar-benar butuh kamu untuk support systemku.”
__ADS_1
Hana mendadak iba. “Terus aku kudu ngapain?”
Bersambung…