
HAPPY READING
“Nah ini dia. Yang mau punya mantu anak Rahardja masih anteng saja,” goda seseorang saat melihat Andre bersama Hana nampak berjalan untuk menemui Edo dan istrinya.
Andre menoleh sekilas dan menyalami pria yang ditaksir seumuran dengan papanya ini. Pria ini adalah bagian dari Surya Group juga namun ia lupa ada di cabang yang mana.
“Selamat malam…” Andre terlebih dahulu menyalaminya.
“Jadi kapan nih?” tanya pria dengan setelan jas rapi ini pada Andre yang baru saja melepas jabatannya.
“Doakan segera,” jawab Andre tanpa basa-basi.
“Wah hebat juga ya Nona ini. Caranya smart dibanding papanya. Jika Pak Galih dulu tak segan mengibarkan bendera perang untuk menegaskan persaingan, tapi Nona ini memilih cara yang halus dengan masuk ke Surya sebagai bentuk perlawanan. Kalau sudah jadi, otomatis Rahardja akan naik dong?”
Pria ini berbicara lancar sekali. Seakan ia tahu lebih banyak hal dibanding orang lain termasuk yang tengah menjalani.
Hana menghela nafas. Sungguh ia tak punya niat semacam itu saat ini. Memang dulu sempat ada, tapi sekarang ia sudah benar-benar menanggalkannya. Namun yang seperti ini lah yang ada di pikiran sebagian besar orang saat hubungannya dengan Andre terungkap seperti sekarang.
“Bapak…” Andre sengaja menggantung ucapannya. Ia memang lupa-lupa ingat siapa nama laki-laki ini sehingga ia tak tahu harus menyebutnya bagaimana.
“Saya Bambang dari cabang Surya Group di Palembang…” ujar pria ini memperkenalkan diri.
“Cukup jauh ya ternyata, tapi masalah seperti ini masih tahu juga. Tapi sayang, Hana sudah tidak ada sangkut pautnya dengan Rahardja. Dan kini dia adalah bagian dari Surya.” Andre dengan lugas memperjelas posisi kekasihnya. Tentu ia tak terima dengan tuduhan miring yang dialamtkan pada Hana dengan begitu lancarnya.
“Iya, saya tahu. tapi tetap saja ia calon kuat penerus Rahardja mengingat kakaknya sudah punya perusahaan yang ia rintis sendiri. Dan seperti saya bilang, caranya sungguh smart untuk menyelamatkan perusahaan,” ujar pria berbadan subur ini dengan wajah penuh kemenangan.
“Ehm.”
Andre urung bersuara kala mendengar deheman dari sang papa.
“Pak Bambang ini sepertinya perhatian sekali dengan anak saya. Apa di kantor tak banyak yang bisa dikerjakan, sehingga masih sempat membahas masalah seperti ini?” tanya Edo yang nampak tak suka dengan cara pria ini menampakkan sikap.
“Tentu tidak. Mana bisa Surya Group sepi. Meski kantor yang saya pimpin berada di luar pulau jawa, tapi saya juga tak kalah dengan pak Edo dalam performa.” Pria ini memang direktur di cabang yang dipimpinnya, sehingga meski keberadaannya jauh di luar pulau jawa, ia datang ke sini untuk menghadiri acara.
“Lantas, masih sempat saja mengurusi masalah seperti ini. Bahkan saya saja yang papanya tak pernah pusing masalah ini.” Edo memang masih nampak tenang. Tapi sungguh auranya menyeramkan.
Perbedaan cara tafsir terjadi pada Andre dan Hana sekarang. Sejak Edo buka suara, Hana dan Andre masih diam menyimak ia berbicara. Ada degub tak biasa di jantung keduanya.
__ADS_1
Yang ada di benak Andre, mungkinkan papanya telah menyerah dan tak mengusik lagi hubungannya dengan Hana? Sehingga ia tak lagi mau pusing dan mengalir saja membiarkan semua terjadi.
Namun beda dengan Hana. Ia masih khawatir, jangan-jangan Edo benar-benar tak sudi menerimanya sehingga apa pun yang Andre putuskan mereka tak peduli dan tak mau memikirkannya lagi. Entah lah, yang jelas Hana jadi galau sendiri.
Hana tersadar dari lamunannya saat sebuah tangan meraih pergelangan tangannya. Ia lebih kaget saat menyadari Andre melepas genggamannya karena tangan ini menariknya.
“Ponsel kamu nggak aktif ya?”
Hana mengerjabkan mata saat baru saja Heni berbicara padanya.
“Tadi kakak kamu nitip pesan sama Mama, kalau dia pulang duluan dan minta kamu untuk tak pulang terlalu malam. Kamu pulang ke rumah dia yang bukan ke tempat papa kamu?”
Heni tak hanya bicara lembut pada Hana, tapi juga tanpa segan menatap wajah cantik kekasih anak tunggalnya. Hana melongo. Apa dia salah dengar saat Heni menyebut dirinya dengan Mama. Atau mungkin dia sedang berhalusinasi karena terlalu cemas dengan situasi yang ia hadapi?
Tak hanya berhenti di situ. Hana juga dibuat tertegun saat merasa Edo membelanya dengan tanpa segan melontarkan kalimat-kalimat yang terdengar keras dengan Bambang yang sempat mengatainya tadi.
Apa yang sebenarnya terjadi ini?
“Hana…”
Hana menelan ludah. Apa benar ini Heni mama Andre yang selama ini tak suka padanya. Kenapa tiba-tiba bisa sebaik ini? Jangan-jangan ada hal tak baik yang akan terjadi setelah ini.
“Pak Edo sekarang sibuk apa?” tanya Rudi pada Edo setelah Dedi meninggal dua pasangan berusia matang ini.
“Perusahaan anak Anda tak membiarkan saya punya kegiatan lain Dokter. Anda sendiri bagaimana, apa belum menemukan delegasi untuk diajak pairing mengelola rumah sakit dan berbagai usaha Anda?” Edo balik bertanya karena tahu kerajaan bisnis dokter tampan ini meski ia tak pernah terlibat langsung dan muncul sebagai seorang pengusaha atau pebisnis ulung.
Rudi tersenyum menanggapi pertanyaan teman lamanya ini. “Mari…”
Rudi mengajak Rudi untuk mencari tempat yang lebih nyaman untuk berbincang sementara ia menunda jawabandari pertanyaan yang telah dilontarkan.
“Alhamdulillah, sekarang saya tidak sendiri. Saya bisa bagi tugas dan sedikit ada waktu untuk menikmati kopi,” jelas Rudi sambil menatap ke awang-awang membayangkan apa yang biasa ia hadapi sehari-hari.
“Karena dokter Dedi sudah resmi anda warisi?” tanya Edo mengungkap terkaannya.
“Warisi apa?” bukannya menjawab Rudi balik bertanya.
“Ya itu, rumah sakit…” Jadi ragu kan Edo berucap. Karena merasa isi kepala dia dan Rudi berbeda.
__ADS_1
Rudi tak lantas menanggapi. Ia meminta Santi untuk mengambilkan minum. Sadar jika itu hanya alasan Rudi agar memberikan ruang dengannya, Edo pun meminta hal yang sama kepada istrinya.
“Saya tak bisa bilang mewariskan, karena warisan itu terkadang menjadi beban. Dan saya tak ingin membebani anak saya,” ujar Rudi setelah tinggal berdua bersama Edo.
“Anak? Rista maksudnya?” tanya Edo memastikan.
“No. I mean Dedi.” Rudi menghela nafas sehingga ucapannya terjeda. “Dedi bagi saya adalah anak. Sama halnya seperti Dika, dan Rista…” lanjur Rudi menjelaskan.
“Jadi…”
Rudi tertawa kecil. Ia tahu maksud Edo yang menyinggung hubungan masa kecil Rista dan Dedi yang mungkin pria ini ketahui. Tapi memang ini yang ingin ia bahas saat ini.
“To the point saja pak Edo. Berbelit-belit seperti ini sepertinya bukan karakter Anda,” sarkas Rudi pada pria ini.
Edo mengusap tengkuknya yang tak gatal. Ia menatap segan dokter tampan di hadapannya. Ia tak nyaman bertanya tapi mau bagaimana lagi kalau sudah ditodong seperti ini.
“Apa Dedi memang anda siapkan untuk masa depan Rista?” tanya Edo setelah sebelumnya menimbang agak lama.
Rudi tersenyum. Ia nampak menunda jawabannya melihat Santi dan Heni hampir menjangkau tempatnya dengan Edo.
“Makasih…” ujar Rudi setelah menerima minuman yang baru saja Santi ambilkan.
Rudi nampak menunggu para wanita duduk di tempatnya sebelum ia mulai bicara. “Saya tidak pernah menekan anak saya, termasuk jodohnya.”
Edo menghela nafas mendengar keterangan Rudi. Meski ia tak berkata nampak sekali jika ada lega bersama helaan nafasnya.
“Kenapa sepertinya Anda ada beban sebelum saya menjawab tadi?” tanya Rudi yang menyadari apa yang terjadi.
“Tidak. Hanya saja Dedi kan… emm…, maksud saya dia kan yatim piatu. Meski dia sudah menjelma menjadi orang yang berbeda namun tetap saja untuk bersanding dengan Rista sepertinya…”
Susah payah Edo mengungkapkan isi kepalanya, namun akhirnya tetap tak tuntas juga.
“Yang terpenting untuk anak saya adalah kebahagiaannya. Terlepas Dedi atau bukan, tapi saya mengedepankan akhlak untuk siapa pun yang akan mendampingi anak saya. Mau dijadikan seperti apa kehidupannya dengan anak saya, bagaimana komitmen dia jika sudah bersama, itu saya rasa yang terpenting. Dan satu lagi, saya tak mungkin memaksa anak saya menjadi korban keegoisan saya yang merasa sempurna dan lupa kalau saya juga punya banyak cela.”
Edo terdiam. Apa aku sudah salah selama ini?
Flashback off
__ADS_1
Bersambung...