Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Bayi Cantik


__ADS_3

HAPPY READING


“Oeeee, oeeee, oeeee…”


Dengan tubuh gemetar air mata Dika luruh membasahi wajahnya, Dika terdiam tanpa kata setelah menyaksikan pemandangan yang sungguh tak pernah ia sangka sebelumnya. Ia tak menyangka ada proses seberat ini yang dilalui wanita saat meneruskan keturunan dari pria yang dikasihinya. Jika sudah melihat begini, adakah suami yang tega menyakiti istrinya atau anak yang tega menyakiti ibunya?


“Selamat Bapak Ibu. Bayi anda perempuan, cantik sekali…”


“Alhamdulillah…”


Hanya itu yang mampu Rina ucapkan. Dika sendiri hanya diam meski telinganya dengan jelas mendengar apa yang baru saja dokter katakan.


Lelah dan letih begitu ketara di wajah Rina. Meski demikian, Rina masih bisa tersenyum terlebih ketika anak yang baru ia lahirkan di letakkan di atas dada. Kesakitan yang baru ia rasakan terbayar lunas saat tubuh mungil itu berhasil ia dekap.


Dika sendiri masih sibuk menyeka air matanya dengan berkali-kali mencium kening Rina. Sembari mengusap peluh istrinya, ucapan syukur tak putus terucap dalam hatinya. Ia sama sekali belum mampu berkata-kata meski rasa bahagia membuncah tak terkira.


“Bapak mau memotong tali pusar anaknya?” tawar sang Dokter.


Dika hanya menggerakkan tangannya untuk mempersilahkan para tim medis untuk melanjutkan tindakan. Sementara ia memilih bertahan di samping istrinya. Terlebih saat ia tahu Rina masih harus mendapat tindakan yang tak kalah menyakitkan dari proses melahirkan. Dan di sini Dika bertekat untuk tak lepas memberi dukungan.


Dan benar saja. Selesai IMD Dika masih bertahan di samping Rina. Menyaksikan istrinya dijahit dan dibersihkan rahimnya. Dika sebenarnya sudah lemas tanpa daya. Tubuhnya pun kebas saking besarnya tekanan yang ia terima. Sebenarnya ia tak tahan, tapi masa ia hanya menemani saja dia harus menyerah. Padahal Rina yang sudah bersusah payah. Sejak dinyatakan positif hamil hingga melalui proses melahirkan yang berdarah-darah seperti ini.


“Alhamdulillah. Selamat Nak…”


Dika yang masih terlihat lemas di samping istri dan anaknya, hanya mampu tersenyum dengan kemunculan orang tua. Ia lantas bergeser untuk memberi ruang para orang tua menyapa malaikat cantik yag baru saja Rina lahirkan ke dunia.


“Cantik...,” ujar Santi sambil menyentuh pundak Dika.


Dika menatap sekilas mamanya yang berdiri di sampingnya dan tersenyum seakan berkata iya.


“Masih nggak nyangka kalau Restunya Mama sekarang sudah jadi Papa,” ujar Santi.


Kembali Dika tersenyum sambil menyandarkan kepalanya. Sekuat apa pun ia di luar sana, tetap saja ia adalah anak-anak di mata orang tuanya.


“Sudah kamu kasih nama?” tanya Santi lagi.


“Sudah kita siapin tapi masih mau diobrolin lagi nanti sama Rina.”


Santi manggut-manggut mendengan jawaban sang putra. ia kemudian menghampiri Ririn untuk gantian menggendong cucu pertama mereka.


“Sudah kamu adzankan?” Kini ganti Rudi yang bertanya.

__ADS_1


“Sudah,” jawab Dika singkat.


Keesokan harinya.


Masih pagi buta, tapi semua sudah dalam kondisi on. Bagaimana tidak, bayi kecil yang baru Rina lahirkan tetap terjaga semalaman dan sesekali menangis dengan kencangnya.


“Ma, dikasih susu saja ya,” pinta Rina yang merasa iba. Sepengetahuannya, bayi yang menangis itu akan diam jika disusui oleh ibunya. Tapi kini yang terjadi *********** masih terasa kosong belum terisi ASI.


“Nggak apa-apa Sayang. Kata dokter bayi yang baru lahir itu punya cadangan makanan untuk tiga hari kedepan. Jadi menunggu ASImu keluar dengan lancar, lebih baik kamu yang banyak makan dan jangan sampai ada beban pikiran,” ujar Ririn menasehati.


Rina tak membantah lagi. Ia hanya bisa menatap nanar anaknya yang bahkan belum bernama itu berusaha ditenangkan oleh Santi, mertuanya.


“Tapi kasihan Ma…” sekali lagi Rina berusaha meyakinkan sang mama.


“Tangisan bayi yang baru dilahirkan itu adalah indikasi kenormalan dan kondisi baik yang dimilikinya. Memang boleh ditenangkan, tapi tak perlu dikhawatirkan.”


Rina mendongak seketika saat terdengan jelas suara mertuanya yang tanpa ia sadari juga ada di sana. Ia hanya  mampu diam sekarang, karena untuk membantah pasti segan.


“Justru kalau anak kamu itu hanya diam dan tidur saja, itu yang perlu dikhawatirkan,” lanjut Rudi yang tahu jika menantunya masih risau dan gelisan meski sudah ia jelaskan.


“Kok begitu?”


Kali ini Rina bersuara. Karena ia merasa ada baiknya ia minta untuk dijelaskan.


“Bayi itu menangis memerlukan tenaga. Saat menangis, ia juga sedang melatih kerja jantungnya. Bayi yang kondisinya tak baik-baik saja, pasti tak punya kemampuan untuk melakukan itu semua, mengerti?”


Rina manggut-menggut kali ini. Dari kejauhan ia melihat bayinya yang mulai tenang. Ia sendiri juga sudah terlihat menanggalkan kepanikan begitu mendapat penjelasan yang mampu diterima logikanya.


“Bayi yang hanya tidur saja setelah lahir itu malah harus diobservasi dan ditindak. Karena jika tim medis lengah, naudzubillah. Nyawanya bisa…” Rudi menggerakkan tangannya sebagai isyarat kelanjutan kalimat yang tak ingin diucapnya. Meski di dunia medis hal seperti ini merupakan hal yang lumrah ditemui, tapi tetap saja akan terasa berat setiap kali dipertemukan dengan pembahasan semacam ini.


“Naudzubillah,” serempak Rina dan sang mama tanpa dikomando. Keduanya bergidik saat bayangan buruk itu mendadak mampir di benak mereka.


“Jadi lebih baik sekarang kamu istirahat, biar kami para Kakek dan Nenek yang menjaga dia untuk kalian,” ujar Reno yang entah sejak kapan berhasil mengusir kantuknya


“Tapi Rina nggak bisa.”


“Bisa. Setidaknya paksa mata kamu untuk terpejam barang sekejap. Percaya pada kami. Nanti jika kami sudah lelah, kalian juga pasti kebagihan jaga…”


Setiap Rudi yang bicara, pasti Rina akan lebih mudah menerima. Dan benar saja, meski adzan subuh berkumandang, matanya justru perlahan terpejam.


Siang hari di rumah sakit.

__ADS_1


Dika sedang mendampingi Rina yang tengah berusaha menyusui anaknya. Meski ASI belum ada, dokter berkata stimulus dari mulut anak bisa merangsang payurada untuk memproduksi ASI.


“Kok sakit…” gumam Rina.


Buru-buru Dika ingin mengambil alih anaknya dari Rina, namun Rina tahan.


“Tunggu. Aku mau lihat jangan-jangan di mulut sudah ada giginya,” ujar Rina setelah berhasil menahan gerakan suaminya.


“Ha? Mana ada? Umurnya aja belum 24 jam Sayang.”


“Tapi sakit. Beneran sakit aku nggak bohong,” ujar Rina sungguh-sungguh.


“Ya tapi…”


Dika tak melanjutkan ucapannya saat ia rasa Rina tak mau mendengarnya. Istrinya ini malah sedang berusaha mengintip bagian dalam mulut anaknya yang sedikit terbuka. Karena merasa gagal, akhirnya ia berusaha mengetahui kondisi mulut anaknya dengan menggunakan jarinya.


“Eh, eh, eh, itu mau ngapain…”


Buru-buru Rina menarik jadinya dari dalam mulut anaknya. Persis seperti anak yang tertangkap basah, jari itu lantas disembunyikannya.


“Bayi yang baru lahir itu belum punya gigi kan Ma?” tanya Dika tiba-tiba.


Rina hanya mampu mendelik dengan kelakuan suaminya. Saat ia tak ingin Ririn mengetahui apa yang tengah ia lakukan, justru Dika dengan gamblang ingin menunjukkan.


“Ya jelas belum. Kalian ngomong apa sih?” heran Ririn sembari balik bertanya. Ia baru saja dari kamar mandi, karena memang harus menunggu sesiang ini ia punya kesempatan untuk mandi. Ia lantas merebut sang cucu dengan segera, merasa tak percaya melihat kedua orang tua yang sepertinya keberadaannya justru mengancam.


“Cucu Nenek… kamu tadi diapain Nak?” tanya Ririn pada bayi yang jelas saja tak akan memberi keterangan apa-apa. Ia lantas mengambil bayi itu dari pangkuan Rina untuk kemudian diajak mengobrol


Rina dan Dika hanya mampu sejenak beradu pandang. Mereka memang banyak belum paham, tapi terlalu berlebihan jika dianggap ancaman.


“Kamu lebih baik bersih-bersih. Setelah itu istirahat,” ujar Ririn sebelum kembali mengejak ngobrol cucunya yang belum juga 24 jam usianya.


Rina hanya mengangguk. Namun baru saja sedikit bergerak, nyeri sudah menyerang bagian bawah tubuhnya.


“Masih sakit?” tanya Dika. Dengan sigap ia sega segera mengabil posisi untuk membantu Rina.


“Ma…”


“Iya, biar baby sama Mama.”


Tanpa menunggu Dika melengkapi kalimatnya, Ririn sudah tahu apa yang harus ia ucapkan. Ia tahu kedua anak muda ini masih sangat kurang pengalamannya, namun ia sungguh bahagia karena mereka saling menjaga.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2